Archive for Maret, 2008

Potensi Bunga Mawar

Tinjauan Tentang Mawar Dari Segi Historis
“Katakanlah dengan bunga”, begitulah ungkapan yang sering kita dengar. Bunga yang biasanya dijumpai dalam bentuk rangkaian sering digunakan sebagai sarana untuk berkomunikasi antar manusia baik sebagai ungkapan rasa terima kasih, rasa sayang atau cinta, penyesalan atau permintaan maaf dan bahkan untuk merayakan suatu momen penting dalam kehidupan seperti ulang tahun, pernikahan, pindah rumah atau kantor maupun hanya sebagai asesoris penghias interior ruangan karena nilai estetisnya.
Tiap jenis bunga dan juga warnanya memiliki suatu pesan tersirat yang bisa dipahami oleh tiap orang menyesuaikan dengan kepentingan, momen acara atau peristiwa. Sebagai contoh, bunga lily putih memberikan kesan suci, damai dan kasih sayang sehingga banyak dipakai sebagai penghias interior gereja. Bunga anggrek berkesan elegan, aristokrat, meramaikan suasana sehingga banyak dijumpai dalam rangkaian bunga bercampur dengan bunga lain. Bunga mawar yang terdiri dari berbagai macam warna juga mempunyai pesan-pesan khusus yang tersirat. Misalnya, bunga mawar merah tua mengisyaratkan cinta yang membara, hasrat, nafsu dan berani. Itulah sebabnya bunga mawar merah tua banyak digemari dan dipakai untuk merayakan hari Valentine di bulan Februari (14 Februari), khususnya untuk kawula muda yang sedang jatuh cinta. Bunga mawar merah muda mengisyaratkan cinta dan kasih sayang yang lembut dan penuh penantian. Bunga mawar kuning mengisyaratkan persahabatan, kasih sayang, dan permohonan maaf, sedangkan bunga mawar putih mengisyaratkan kesucian, perdamaian, ketulusan hati dan persahabatan murni.
Banyak diantara kita yang tidak menyadari bahwa sebenarnya bunga mawar sudah ada sejak lama, bahkan jauh sebelum manusia membudidayakannya atau memperbanyaknya secara komersial. Fosil bunga mawar yang ditemukan di Colorado dan Oregon (Amerika Serikat) membuktikan bahwa bunga mawar liar sudah ada sejak empat puluh juta tahun yang lalu. Beberapa kelompok ilmuwan percaya bahwa bunga mawar berasal dari Asia Tengah dan menyebar melalui belahan bumi bagian utara. Namun ada pula yang berpedapat bahwa bunga mawar berasal dari belahan bumi bagian selatan, dari Amerika Selatan menyebar sampai Eropa, Cina, dan Jepang.
Bunga mawar liar dapat tumbuh hampir di semua tempat, bahkan di kondisi yang sulit sekali pun seperti iklim Arktik yang dingin di Alaska dan Siberia maupun di daerah yang beriklim panas seperti di India dan Afrika Utara. Bunga mawar bisa ditemukan hampir di semua negara di seluruh dunia, sehingga ia dijuluki sebagai “Ratu segala Bunga (Queen of Flower)”.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa mawar liar dibawa dan dikembangbiakkan di Cina sekitar 5000 tahun yang lalu. Hal ini dibuktikan bahwa pada masa dinasti Han di Cina (sebelum era Kristiani), taman bunga mawar menjadi sangat popular pada jaman itu dan sebagian besar taman di kerajaan Cina pada jaman itu adalah taman bunga mawar, tetapi karena lahan untuk pertanian pangan semakin terbatas maka Kaisar Cina (Emperor) akhirnya memerintahkan untuk merombak sebagian taman bunga mawar untuk dijadikan menjadi lahan pertanian tanaman pangan. Pada masa yang sama, bangsa Mesir kuno telah menanam mawar untuk kepentingan bangsa Romawi (jaman kekaisaran Nero) yang dibuktikan dengan beberapa catatan sejarah bahwa bangsa Mesir kuno telah mempelopori pengiriman bunga mawar potong ke Roma (ibukota kerajaan Romawi kuno yang sekarang adalah Italia). Bangsa Romawi kuno yang terkesan dengan keindahan mawar kemudian mendukung pendirian sejumlah rumah pembibitan mawar (nursery) di Italia Selatan khususnya di daerah Paestum (pada masa sekarang adalah dekat dengan kota Salerno). Berbeda dengan bangsa-bangsa lain pada masa itu, bangsa Yunani kuno lebih suka memanfaatkan bunga mawar bukan untuk dinikmati keindahannya tetapi untuk dimanfaatkan sebagai obat dalam pengobatan tradisional (ramuan tradisional).
Pada masa sekarang ini, bunga mawar dapat diproduksi sepanjang tahun di mana produsen terbesarnya adalah negara Belanda, Italia, Spanyol, Perancis dan Columbia. Beberapa negara di dunia bahkan ada yang menjadikan bunga mawar sebagai lambang kebanggaan atau identitas seperti Bulgaria, Cekoslowakia, Inggris, Irak, Iran, Korea dan Luxembourg. Bose (1989), mengemukakan bahwa perdagangan bunga potong ternyata mencapai 45% dari total perdagangan produk florikultura (bunga) di pasaran internasional. Bunga potong yang paling banyak digemari dalam perdagangan adalah mawar, anggrek, carnation, krisan (Chrysanthemum sp) dan gladiol, di mana bunga-bunga potong tersebut umumnya digunakan sebagai hiasan atau dekorasi rumah yang telah menyatu dengan keseharian kehidupan manusia di banyak negara.

Manfaat Bunga Mawar
Menurut manfaat penggunaannya, tanaman mawar sebagai salah satu komoditi hortikultura (florikultura) dapat dikelompokkan dalam enam manfaat penggunaan, antara lain :
1.Mawar untuk tanaman hias kebun atau taman (outdoor). Tanaman mawar untuk keperluan ini lebih diutamakan bau bunganya, bentuk bunga, warna serta bentuk kanopi pohonnya, dan untuk itu harus rajin dipangkas untuk mempertahankan keindahan bentuk pohonnya, selain juga untuk merangsang pembentukan bunga. Contohnya : beberapa kelompok dari mawar kuno (Old Roses), mawar pagar (Climbing Roses), mawar Hybrid Perpetual (Hybrid Perpetual Roses), mawar teh (Tea Roses), dan mawar semak (Shrub Roses).
2.Mawar untuk tanaman hias pot (outdoor and indoor). Tanaman mawar untuk keperluan ini umumnya lebih mengutamakan ukuran pohonnya yang tidak terlalu tinggi (sehingga bisa dipakai di dalam ruangan maupun di luar ruangan), bau bunganya, bentuk bunga dan warnanya serta ukuran besar bunganya. Contohnya : kelompok mawar Polyantha (Baby Roses), beberapa kelompok dari mawar kuno (Old Roses), mawar pohon (Tree Roses) dan mawar mini atau biasa disebut sebagai mawar bonsai (Miniature Roses).
3.Mawar sebagai bunga potong. Tanaman mawar untuk keperluan ini umumnya lebih diutamakan yang memiliki tangkai panjang dan tidak mudah patah, bentuk bunganya indah, ukuran bunga proporsional, helai mahkota bunganya rangkap (sehingga helai bunga atau petal tidak mudah rontok dan tahan lama kesegarannya), bunganya tidak terlalu cepat mekar (biasanya dipanen saat bunga setengah mekar dan bukan pada saat bunga sedang mekar penuh), frekuensi berbunga dalam satu tahun tinggi atau berbunga sepanjang tahun, warna bunga serta bau bunganya. Contohnya : kelompok mawar Holland (Rosa indica fragrans hybrids) atau mawar Hybrid Tea, kelompok mawar Floribunda, dan kelompok mawar Grandiflora. Beberapa ahli ada pula yang menganggap bahwa kelompok mawar Polyantha masih bisa dianggap sebagai bunga potong, namun ada pula yang beranggapan bahwa kelompok bunga tersebut tidak memenuhi syarat sebagai bunga potong.
4.Mawar sebagai bunga tabur. Semua kelompok tanaman mawar bisa digunakan sebagai bunga tabur asalkan memenuhi kriteria syarat utama, yaitu bunganya haruslah wangi dan berwarna indah atau cerah. Sebagai bunga tabur tidaklah diperlukan tangkai bunga. Seringkali dijumpai bahwa bunga mawar tabur sudah berupa helai-helai bunga saja (petal) dan tidak lagi berbentuk bunga utuh. Contohnya : kelompok mawar Polyantha, mawar pagar, mawar Hybrid Perpetual, mawar teh, kelompok mawar kuno (Old Roses), mawar pohon (Tree Roses), mawar semak (Shrub Roses), dan bahkan mawar mini (Miniature Roses).
5.Mawar sebagai bahan baku parfum dan bahan baku obat. Hampir semua kelompok tanaman mawar bisa digunakan untuk keperluan bahan baku parfum (yaitu dengan mengekstraksi minyak mawar) maupun untuk bahan baku obat, asalkan memenuhi syarat harus berbau wangi cukup kuat (untuk bahan baku parfum) dan mengandung zat antibiotika atau senyawa kimia penting yang dibutuhkan seperti sitral, sitronelol, geraniol, linalol, nerol, eugenol, fenil etil alkohol, farnesol, dan nonilaldehid (untuk bahan baku obat ataupun jamu tradisional). Untuk bahan baku parfum biasanya digunakan mawar jenis mawar teh (Tea Roses), sedangkan untuk bahan baku obat hampir semua jenis mawar bisa digunakan.
6.Mawar sebagai bahan makanan, miuman ataupun zat aditif bagi makanan olahan. Karena kandungan vitamin C-nya yang tidak kalah dengan kandungan vitamin C pada buah jeruk, kelopak atau helai bunga mawar (petal) bisa diolah menjadi sirup, selai ataupun unsur vitamin tambahan yang ditambahkan pada makanan olahan.

Daerah Penghasil Mawar di Indonesia
Pemerintah mulai memberikan perhatian yang lebih besar terhadap tanaman hias sejak tahun 1990 dalam rangka menyambut “Tahun Kunjungan Wisata Indonesia 1991”, sehingga konsumsi bunga dimaksudkan untuk meningkatkan daya tarik kepariwisataan di Indonesia. Bahkan untuk keperluan ini dalam bebrapa kali kesempatan bangsa Indonesia telah beberapa kali turut meramaikan pawai bunga “Tournament of Roses” di Pasadena, Amerika, dengan float atau mobil pawai yang dihias dengan bunga mawar, anggrek dan bunga-bunga lain yang mencerminkan corak budaya Indonesia. Walaupun sejak krisis moneter melanda Indonesia, Indonesia tidak lagi ikut berpartisipasi dalam pawai bunga di Pasadena tersebut, namun bisnis bunga potong di Indonesia tetap saja ramai dan menjadi primadona, terutama untuk merayakan momen-momen penting negara, hari-hari besar keagamaan maupun perayaan-perayaan yang diselenggarakan di negeri ini.
Sentra produksi bunga mawar potong di Indonesia terdapat di beberapa daerah produsen bunga-bungaan seperti Cipanas, Lembang (Jawa Barat), Brastagi (Sumatera Utara), Bandungan (Jawa Tengah), Kecamatan Bumiaji di wilayah Batu dan Kecamatan Pujon (Malang – Jawa Timur). Sementara bunga mawar tabur banyak diusahakan di daerah Ambarawa, Boyolali (Jawa Tengah), Bangil (Jawa Timur), Kebun Jeruk (Jakarta), Tangerang dan Bogor (Jawa Barat). Mawar pot banyak dikembangkan dan dibudidayakan di Bandung (Jawa Barat) dan Kecamatan Batu serta Kecamatan Pujon (Malang – Jawa Timur). Dari daerah-daerah sentra produksi bunga potong mawar kemudian menular dan ditiru oleh daerah-daerah lain yang cocok kondisi alamnya serta turut pula mengusahakan bisnis bunga potong. Sasaran pemasarannya terutama adalah kota-kota besar dan juga daerah-daerah wisata di Indonesia.

Comments (8) »

Seni Batik, Sebuah Warisan Kekayaan Budaya Bangsa

Asal Mula Batik
Kata batik berasal dari sebuah kata dalam bahasa Jawa yaitu ambatik yang artinya kurang lebih yaitu menuliskan atau menorehkan titik-titik.  Dalam proses pembuatan kain batik, seorang pengrajin batik menorehkan motif-motif indah ke selembar kain mori dengan menggunakan canthing yang berisi lilin panas. Proses membatik ini dilakukan secara hati-hati dan sering kali seorang pengrajin batik harus menorehkan serangkaian titik-titik demi memperoleh sebuah motif batik yang rumit. Alat untuk membatik ialah canting. Sebuah alat yang berbentuk seperti pulpen dan terbuat dari bambu, berkepala tembaga serta bermulut sempit pada bagian ujungnya. Canting ini dipakai untuk menyendok lilin cair yang panas, yang dipakai sebagai bahan penutup atau pelindung terhadap zat warna pada saat pewarnaan.  Pada proses awal pembuatan batik, seorang pembatik menorehkan lilin di kain putih dengan menggunakan canthing. Namun sebelum dilakukan penggambaran motif dengan menorehkan lilin panas, kain mori yang akan digunakan haruslah dicelup lebih dahulu ke dalam minyak tumbuh-tumbuhan serta larutan soda, guna memudahkan lilin melekat dan agar kain bisa lebih mudah menyerap zat warna. Setiap kali kain hendak diberi warna lain, bagian-bagian yang tidak boleh kena zat warna ditutup dengan lilin, sehingga makin banyak warna yang dipakai untuk menghias kain batik, makin lama juga pekerjaan menutup itu.  Pada taraf yang terakhir, lapisan lilin yang menutupi kain mori dihilangkan dengan merebus kain dalam air mendidih setelah sebelumnya direndam dalam larutan soda abu (sodium silikat) untuk mengekalkan warna pada batik.  Sebagai hasil akhir adalah selembar kain batik dengan motif-motif indah yang mempesona.
Tehnik membatik sebenarnya sudah berumur ribuan tahun.  Beberapa orang ahli bahkan menyebut bahwa tehnik membatik mungkin berasal dari kebudayaan kuno bangsa-bangsa di Afrika, Timur Tengah (bangsa Sumeria kuno) dan beberapa bangsa kuno di Asia yang  terus menyebar hingga sampai ke Indonesia. Penyebaran tehnik dan budaya membatik ini bisa sampai ke Indonesia, rupanya berkat jasa para pedagang dari India yang sempat mengunjungi daerah-daerah di Indonesia pada beberapa abad silam.  Pada awalnya kain batik hanya dikenal sebatas lingkungan keraton atau kerajaan di mana kain batik semula hanya dipakai oleh kalangan bangsawan dan raja-raja.  Namun seiring dengan perkembangan, maka kain batik selanjutnya dikenal luas di kalangan rakyat dan terus berkembang hingga masa sekarang.  Jumlah dan jenis motif kain batik yang mencapai ribuan jenis ini mempunyai ciri khas pada masing-masing daerah di Indonesia. Walaupun terdapat jenis batik cap, namun kain batik tulis yang dibuat dan dilukis dengan menggunakan canthing masih menduduki tingkat preferensi teratas dan masih begitu diminati oleh konsumen dalam negeri maupun luar negeri. Tingkat kesulitan dan kerumitan serta jenis kain yang digunakan turut mempengaruhi harga jual. Dewasa ini kain batik tidak saja berbahan kain mori, namun juga sudah banyak dijumpai kain batik yang berbahan kain poliester, rayon, hingga sutra. Bahkan kain batik yang terbuat dari bahan sutra harganya bisa mencapai jutaan rupiah.

Penyebaran Tehnik Membatik dan Seni Membatik
Kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal secara luas sejak jaman kerajaan Majapahit dan tampaknya terus berkembang dan menular kepada kerajaan-kerajaan lain di nusantara. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-20 dan batik cap dikenal baru setelah selesainya perang dunia I atau sekitar tahun 1920-an. Bahan yang digunakan dalam pembuatan kain batik secara tradisional antara lain bahan-bahan pewarna yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri seperti kayu pohon mengkudu, pace, kunyit, tinggi, soga, nila, sementara bahan sodanya dibuat dari soda abu, dan  garamnya dibuat dari tanah lumpur.
Batik yang telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majahit, dapat ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulung Agung. Mojokerto adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Mojokerto ada hubungannya dengan Majapahit. Pusat kerajinan batik di Mojokerto terdapat di Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo. Daerah kerajinan batik yang terdekat dengan Mojokerto adalah di Jombang. Pada sekitar akhir abad ke-19 di Mojokerto, sudah dipakai bahan-bahan utama kerajinan batik seperti, kain putih yang ditenun sendiri dan obat-obat batik dari soga jambal, mengkudu, nila tom, tinggi dan sebagainya. Bahan kimia impor untuk pewarna batik baru dikenal setelah masa perang dunia I yang umumnya dijual oleh para pedagang Cina di Mojokerto. Batik cap kemudian dikenal bersamaan dengan masuknya obat-obat batik buatan luar negeri. Cap atau stempel motif batik (pada jenis batik cap) dulu dibuat di Bangil dan pengusaha-pengusaha batik Mojokerto dapat membelinya di pasar Porong Sidoarjo. Pasar Porong dahulu dikenal sebagai pasar yang ramai, dimana hasil-hasil produksi batik Kedung cangkring dan Jetis Sidoarjo banyak dijual. Saat terjadi krisis ekonomi dunia sebelum jaman Jepang dan saat penjajahan Jepang, pengusaha batik Mojoketo ikut lumpuh. Kegiatan pembatikan muncul lagi sesudah revolusi dimana Mojokerto sudah menjadi daerah pendudukan Jepang. Ciri khas dari batik Kalangbret dari Mojokerto adalah hampir sama dengan batik-batik keluaran Yogyakarta, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya coklat muda dan biru tua. Sentra kerajinan batik yang dikenal sejak lebih dari seabad lalu adalah di desa Majan dan Simo.
Meskipun pembatikan dikenal sejak jaman Majapahit namun perkembangan seni batik mulai menyebar pesat di daerah Jawa Tengah Surakarta dan Yogyakarta. Hal itu tampak bahwa perkembangan batik di Mojokerto dan Tulung Agung berikutnya lebih dipengaruhi corak batik Solo dan Yogyakarta. Pembuatan batik Majan ini merupakan warisan seni sejak jaman perang Diponegoro. Warna babaran batik Majan dan Simo adalah unik karena warna babarannya merah menyala (terbuat dari kulit mengkudu) dan warna lainnya dari tom. Salah satu sentra batik sejak dahulu ada di daerah desa Sembung, dimana pada akhir abad ke-19 para pengusaha batik kebanyakan berasal dari Solo yang datang di Tulungagung. Hingga sekarang masih terdapat beberapa keluarga pengrajin batik dari Solo yang menetap di daerah Sembung. Terdapat pula daerah kerajinan batik di Trenggalek dan beberapa di Kediri, walau  sebagian berskala kerajinan rumah tangga dan termasuk kerajinan batik tulis.
Di wilayah Jawa Timur, riwayat seni batik di daerah Ponorogo erat hubungannya dengan perkembangan agama Islam. Di daerah Tegalsari, Ponorogo, ada sebuah pesantren yang diasuh Kyai Hasan Basri atau yang dikenal dengan sebutan Kyai Agung Tegalsari. Kyai Hasan Basri ini diambil menjadi menantu oleh raja Kraton Solo. Seni batik mulai menyebar ke Tegalsari seiring dengan diboyongnya putri kraton Solo ke Tegalsari oleh Kyai Hasan Basri. Di masa itu  banyak keluarga kraton Solo belajar di pesantren tersebut. Peristiwa inilah yang membawa seni batik keluar dari kraton menuju ke Ponorogo. Daerah perbatikan di Ponorogo yang bisa kita lihat hingga sekarang ialah daerah Kauman yaitu Kepatihan Wetan sekarang dan dari sini meluas ke desa-desa Ronowijoyo, Mangunsuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok, Banyudono dan Ngunut. Waktu itu bahan kain batik masih memakai buatan sendiri dari tenunan gendong. Kain putih impor baru dikenal di Indonesia sekitar akhir abad ke-19. Pembuatan batik cap di Ponorogo baru dikenal setelah perang dunia pertama yang dibawa oleh seorang Cina bernama Kwee Seng dari Banyumas.
Daerah Ponorogo awal abad ke-20 terkenal batiknya dalam pewarnaan nila yang tidak luntur dan itulah sebabnya pengusaha-pengusaha batik dari Banyumas dan Solo banyak memberikan pekerjaan kepada pengusaha-pengusaha batik di Ponorogo. Akibat dikenalnya batik cap maka produksi Ponorogo setelah perang dunia pertama sampai pecahnya perang dunia kedua terkenal dengan batik kasarnya yaitu batik cap mori biru. Pasaran batik cap kasar Ponorogo kemudian terkenal seluruh Indonesia. Batik Solo dan Yogyakarta pada sekitar abad 17,18 dan 19, semakin berkembang luas, khususnya di wilayah Pulau Jawa. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pewarnaan batik pada masa dahulu, masih memakai bahan-bahan dalam negeri seperti soga Jawa. Polanya tetap antara lain terkenal dengan “Sidomukti” dan “Sidoluruh”.
Asal-usul batik di daerah Yogyakarta dikenal semenjak kerajaan Mataram ke-I dengan rajanya Panembahan Senopati. Daerah sentra batik pertama ialah di desa Plered. Kerajinan batik pada masa itu terbatas dalam lingkungan keluarga kraton yang dikerjakan oleh wanita-wanita pembantu ratu dan kemudian meluas diikuti oleh istri dari abdi dalem dan tentara-tentara. Pada upacara resmi kerajaan keluarga kraton baik pria maupun wanita memakai pakaian dengan kombinasi batik dan lurik. Akibat dari peperangan pada jaman penjajahan Belanda, maka banyak keluarga-keluarga raja yang mengungsi dan menetap di daerah baru seperti Banyumas, Pekalongan, dan ke daerah timur Ponorogo, Tulungagung dan sebagainya. Keluarga-keluarga kraton yang mengungsi inilah yang mengembangkan pembatikan ke seluruh pelosok pulau Jawa yang ada sekarang dan terus berkembang menurut kreativitas dan kekhasan budaya lokal.
Kain batik khas Solo dan Yogyakarta yang mulai merambah wilayah Jawa Timur selanjutnya menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulung Agung. Terus menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura. Di wilayah Jawa Barat, batik berkembang di Banyumas, Pekalongan, Tegal, Cirebon. Perkembangan batik di Banyumas berpusat di daerah Sokaraja dibawa oleh pengikut-pengikut Pangeran Diponegoro setelah selesainya peperangan tahun 1830 yang kemudian  mengembangkan batik celup di Sokaraja. Bahan mori yang dipakai hasil tenunan sendiri dan obat pewarna dipakai pohon tom, pohon pace dan mengkudu yang memberi warna merah bersemu kuning. Tehnik membatik kemudian ditularkan pada rakyat Sokaraja dan pada sekitar akhir abad ke-19 para pembatik di wilayah ini sudah menjalin hubungan dagang dengan para pembatik dari daerah Solo dan Ponorogo. Setelah perang dunia kesatu pembatikan mulai pula dikerjakan oleh warga keturunan Cina yang juga berdagang batik. Selanjutnya seni batik mulai berkembang di daerah pesisir pantai, selain di daerah Pekalongan sendiri, yaitu tumbuh pesat di Buawaran, Pekajangan dan Wonopringgo. Adanya pembatikan di daerah-daerah ini hampir bersamaan dengan pembatikan daerah-daerah lainnya yaitu sekitar abad ke-19.
Perkembangan seni dan tehnik membatik keluar dari wilayah Yogyakarta dan Solo selanjutnya semakin meluas. Sampai awal abad ke-20 kegiatan seni batik yang dikenal ialah batik tulis dengan bahan morinya buatan dalam negeri dan juga sebagian impor. Batik cap baru dikenal setelah masa perang dunia I dan mulai banyak dipakai obat dan bahan kimia untuk batik buatan Jerman dan Inggris.
Pada sekitar awal abad ke-20, di Pekajangan terdapat usaha tenun yang menghasilkan stagen dan benangnya dipintal sendiri secara sederhana. Tak lama kemudian seni batik pun mulai dikerjakan oleh para pekerja yang semula bekerja  di sektor kerajinan tenun ini. Banyak tenaga kerja pabrik gula di Wonopringgo dan Tirto beralih pekerjaan ke perusahaan-perusahaan batik, karena upahnya lebih tinggi dari pabrik gula.  Seni batik mulai dikenal di Tegal pada akhir abad ke-19. Pewarna yang dipakai waktu itu buatan sendiri yang diambil dari tumbuh-tumbuhan pace/mengkudu, nila, soga kayu dan kainnya adalah hasil tenunan sendiri. Warna batik Tegal pertama kali ialah sogan dan babaran abu-abu setelah dikenal nila pabrik, dan kemudian berkembang menjadi warna merah-biru. Batik asal Tegal saat itu sudah mulai merambah Jawa Barat dan para pedagang inilah yang konon mengembangkan kerajinan batik di Tasik dan Ciamis. Pada awal abad ke-20 sudah dikenal mori impor dan bahan kimia impor untuk pembuatan batik.
Pengusaha-pengusaha batik di Tegal masa itu lemah dalam permodalan dan bahan baku didapat dari pedagang keturunan Cina di Pekalongan dengan cara kredit dan batiknya dijual pada yang memberikan kredit bahan baku tersebut. Perkembangan kerajinan batik di Kebumen lebih cepat daripada di Purworejo. Produksinya sama pula dengan Yogya dan daerah Banyumas lainnya. Sedangkan di daerah Bayat, Kecamatan Tembayat Kebumen, yang letaknya lebih kurang 21 Km sebelah Timur kota Klaten. Seni batik di desa Bayat sudah ada sejak jaman dahulu. Pengusaha-pengusaha batik di Bayat tadinya kebanyakan dari kerajinan dan buruh batik di Solo. Seni batik di Kebumen dikenal sekitar abad ke-19 dengan dibawa oleh pedagang Islam dari Yogya yang mengembangkan batik di Kebumen. Proses batik pertama di Kebumen dinamakan tengabang atau blambangan dan selanjutnya proses terakhir dikerjakan di Banyumas/Solo. Sekitar awal abad ke-20 untuk membuat polanya digunakan kunyit yang capnya terbuat dari kayu. Motif-motif Kebumen ialah pohon-pohon, burung-burungan. Bahan pewarna yang digunakan berasal dari pohon   mengkudu dan nila tom. Pemakaian bahan kimia impor untuk pembuatan batik di Kebumen dikenal sekitar tahun 1920 yang diperkenalkan oleh pegawai Bank Rakyat Indonesia. Pemakaian cap dari tembaga dikenal sekitar tahun 1930 yang dibawa oleh Purnomo dari Yogyakarta. Daerah pembatikan di Kebumen ialah desa: Watugarut, Tanurekso yang banyak dan ada beberapa desa lainnya.
Seni batik di daerah Tasikmalaya diduga dikenal sejak jaman kerajaan  “Tarumanagara” dimana peninggalan yang ada sekarang ialah banyaknya pohon tarum di sana yang berguna untuk pembuatan batik waktu itu. Desa peninggalan yang sekarang masih ada pembatikan ialah Wurug terkenal dengan batik kerajinannya, Sukapura, Mangunraja, Maronjaya dan Tasikmalaya kota. Dahulu pusat dari pemerintahan dan keramaian yang terkenal ialah desa Sukapura, Indihiang yang terletak di pinggir kota Tasikmalaya sekarang. Produksi batik Tasikmalaya sekarang adalah campuran dari batik-batik asal Pekalongan, Tegal, Banyumas, Kudus yang beraneka pola dan warna. Pembatikan dikenal di Ciamis sekitar abad ke-19 setelah selesainya peperangan Diponegoro, dimana pengikut-pengikut Diponegoro banyak yang meninggalkan Yogyakarta, menuju ke selatan. Sebagian ada yang menetap didaerah Banyumas dan sebagian ada yang meneruskan perjalanan ke selatan dan menetap di Ciamis dan Tasikmalaya sekarang.  Motif batik Ciamis adalah campuran dari batik Jawa Tengah dan pengaruh motif dan warna dari Garut. Sampai awal-awal abad ke-20 pembatikan di Ciamis berkembang sedikit demi sedikit, dari kebutuhan sendiri menjadi produksi pasaran. Sedang di daerah Cirebon batik ada kaitannya dengan kerajaan yang ada di daerah ini, yaitu Kanoman, Kasepuhan dan Keprabonan. Ciri khas batik Cirebon sebagaian besar bermotifkan gambar lambang hutan dan margasatwa. Motif laut yang kemudian muncul banyak dipengaruhi oleh budaya Cina, dimana kesultanan Cirebon dahulu pernah menyunting putri Cina. Batik Cirebonan yang bergambar garuda banyak dipengaruhi oleh motif batik Yogya dan Solo.
Di Jakarta, seni batik dikenal dan berkembang bersamaan dengan daerah-daerah sentra batik lainnya yaitu kira-kira akhir abad ke-19. Seni batik dibawa oleh pendatang-pendatang dari Jawa Tengah dan mereka bertempat tinggal di daerah sentra batik. Daerah sentra batik di Jakarta tersebar dekat Tanah Abang yaitu: Karet, Bendungan Hilir dan Udik, Kebayoran Lama, dan daerah Mampang Prapatan serta Tebet.  Jakarta sejak jaman sebelum perang dunia kesatu telah menjadi pusat perdagangan antar daerah Indonesia dengan pelabuhan Pasar Ikan sekarang. Setelah perang dunia kesatu selesai, produksi batik meningkat dan pedagang-pedagang batik mencari daerah pemasaran baru. Pedagang-pedagang batik yang banyak ialah bangsa warga keturunan Cina dan Arab, selain sejumlah kecil penduduk lokal. Batik Jakarta sebelum perang terkenal dengan batik kasarnya, dengan warnanya yang sama dengan batik Banyumas.
Batik kemudian berkembang ke seluruh penjuru kota-kota besar di Indonesia yang ada di luar Jawa, seperti daerah Sumatera Barat misalnya, khususnya daerah Padang. Sumatera Barat termasuk daerah konsumen batik sejak zaman sebelum perang dunia kesatu, terutama batik-batik produksi Pekalongan dan Solo serta Yogya. Di Sumatera Barat yang berkembang terlebih dahulu adalah industri tenun tangan yang terkenal “tenun Silungkang” dan “tenun plekat”. Batik cap mulai berkembang di jaman penjajahan Belanda saat jumlah permintaan akan batik tulis semakin meningkat dan cenderung kewalahan untuk dipenuhi. Bahan pewarna batik umumnya dari tumbuh-tumbuhan seperti mengkudu, kunyit, gambir, damar dan sebagainya. Bahan kain putihnya diambilkan dari kain putih bekas dan hasil tenun tangan. Perusahaan batik pertama muncul yaitu daerah Sampan Kabupaten Padang Pariaman tahun 1946 antara lain: Bagindo Idris, Sidi Ali, Sidi Zakaria, Sutan Salim, Sutan Sjamsudin dan di Payakumbuh sekitar 1948, yaitu Waslim (asal Pekalongan) dan Sutan Razab.  Warna batik tulis dari Padang kebanyakan hitam, kuning dan merah ungu serta polanya Banyumasan, Indramayu-an, Solo dan Yogya. Sekarang batik produksi Padang sudah berkembang lebih maju walau masih belum bersaing sebaik kain batik buatan Jawa. Batik cap yang ada kebanyakan berupa sarung. Seni batik dari waktu ke waktu terus menyebar ke berbagai pelosok daerah di Indonesia seperti Bali, dan banyak daerah lain dengan warna-warna beragam mulai dari warna hijau, kuning, merah, biru, putih dan coklat.

Melestarikan Seni Budaya Batik di Indonesia
Kain batik merupakan kekayaan budaya Indonesia yang tidak boleh ditinggalkan begitu saja.  Sebenarnya sangat disayangkan bahwa saat ini batik tradisional khas Indonesia masih sulit untuk dipatenkan, padahal jumlah dan jenis kain batik dari tiap daerah di Indonesia kalau dihitung bisa mencapai ribuan jenis. Ragam dan corak motif yang khas dari tiap daerah merupakan sebuah kekayaan budaya yang patut senantiasa dilestarikan.  Sebagai contoh, batik pesisir umumnya memiliki corak maskulin seperti pada corak “Mega Mendung”, karena di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.  Ragam corak dan warna batik sedikit banyak juga dipengaruhi pula oleh berbagai pengaruh asing. Misalnya saja pada daerah-daerah pesisir pantai, corak kain batik menyerap berbagai pengaruh budaya luar yang dibawa  para pedagang asing. Warna-warna cerah seperti merah yang mulanya dipopulerkan oleh orang Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak burung phoenix, akhirnya juga diadaptasi ke dalam motif dan corak batik pesisir, misalnya saja batik Madura, yang sering kali diwarnai dengan warna merah, hitam, hijau, dan putih serta dihiasi oleh berbagai motif bunga-bungaan dan motif gambar burung. Batik khas Madura umumnya banyak digunakan sebagai sarung, walaupun ada beberapa yang khusus didesain untuk kemeja resmi pesta. Pusat-pusat kerajinan batik dan perdagangan batik di Madura adalah di Pamekasan dan Bangkalan.  Pedagang batik di Madura umumnya adalah warga keturunan Arab selain warga lokal yang memegang teguh budaya Madura dalam kehidupan sehari-hari.
Bangsa penjajah Eropa yang juga mengambil minat kepada batik, memberikan pengaruh besar dalam motif dan corak batik khas Indonesia, seperti motif bunga-bungaan (bunga tulip) dan aneka motif benda lain, termasuk pula warna-warna asing seperti warna biru yang mulai banyak dijumpai dalam batik-batik Indonesia. Berbagai corak batik kuno khas era penjajahan Belanda maupun batik modern buatan Indonesia bisa disaksikan di Tropenmuseum, Amsterdam, Belanda. Tampaknya kekayaan intelektual bangsa Indonesia berupa motif-motif batik tradisional, yang ribuan macam dan jenisnya ini, hari demi hari semakin  banyak dijiplak dan ditiru oleh para pengrajin dari negara-negara lain demi kepentingan ekonomi.  Bila pemerintah dan para pengrajin batik mau berusaha bersama-sama untuk berusaha lebih keras mendaftar setiap jenis motif dan kekhasan batik tradisional untuk dipatenkan secara internasional, maka hal ini jelas akan merupakan sebuah peluang yang baik bagi berkembangnya bisnis batik berpangsa pasar internasional.
Museum batik yang ada di Belanda, yaitu Tropenmuseum yang mengkoleksi ribuan jenis kain batik, selalu saja dipadati oleh pengunjung, dan ini juga berarti sarana promosi yang efektif dalam mempopulerkan tradisi busana batik khas Indonesia di tingkat internasional. Pameran batik di luar negeri, terutama di negeri Belanda senantiasa banyak diminati pengunjung.  Bahkan publikasi pameran batik di Belanda sering dimuat di majalah-majalah seperti majalah Round About dan majalah Moesson, yang tidak hanya terbit di Belanda, namun juga terbit di seluruh Eropa, Amerika, dan Australia. Batik khas Indonesia bahkan pernah diliput oleh majalah Island, Amerika. Acara peragaan busana batik Indonesia juga pernah ditayangkan oleh Fashion TV, sebuah televisi Perancis yang mengkhususkan diri pada penayangan peragaan busana dari berbagai negara.  Sungguh sayang bila berbagai kesempatan yang ada kita lewatkan begitu saja. Mari kita giatkan industri batik di tanah air!

Comments (15) »

MEREDAKAN BATUK DENGAN PEMANFAATAN BUNGA SEPATU

Di balik keindahan bunga sepatu ternyata tersimpan pula khasiatnya sebagai obat, yaitu sebagai obat batuk.  Bunga sepatu (Hibiscus rosa sinensis) yang indah dan berwarna cerah, umumnya banyak digunakan sebagai tanaman hias taman.  Hampir seluruh bagian tubuh tanaman bunga sepatu mengandung zat mucin (lender) yang bersifat menyejukkan kerongkongan dan rongga dada.  Selain itu, mucin juga bermanfaat untuk memacu lendir dalam saluran pernapasan, agar keluar bersama batuk.  Dalam bunganya, juga terdapat hebiscetin yang dapat meluruhkan lendir.  Pemanfaatan bunga sepatu sebagai obat batuk dapat dilakukan dengan dua macam cara, yaitu dengan cara panas dan dengan cara dingin.  Dengan cara panas, yaitu dengan merebus 20 gram bunga sepatu selama 15 – 20 menit, kemudian airnya disaring dan diminum setelah dingin.  Untuk menghilangkan rasa pahit, bisa ditambahkan gula atau madu.  Larutan bunga sepatu ini sebaiknya diminum sebanyak 2 sendok makan, dengan frekuensi 4 – 5 kali sehari.  Dengan cara dingin, yaitu dengan melumatkan bunga sepatu dengan penggilingan atau cobek (mortar).  Kemudian ditambahkan air secukupnya (kurang lebih setengah gelas air masak) dan diangin-anginkan selama semalaman.  Setelah itu keesokan harinya baru dapat disaring, dan ditambahkan dengan madu atau gula batu dan diminum 3 kali sehari.  Dalam waktu tidak lama, Anda akan segera sembuh dari penyakit batuk.

Comments (1) »

MAKANAN BERSERAT PENCEGAH KANKER USUS

Sebuah studi terhadap 725.000 orang selama 20 tahun telah menunjukkan bahwa seseorang akan mudah terserang penyakit kanker usus bilamana makanan yang dikonsumsinya mengandung serat kurang dari 20 gram per hari.  Untuk mencegah terkena penyakit kanker usus, seseorang setiap harinya sekurang-kurangnya harus mengkonsumsi minimal 20 gram makanan berserat.  Makanan berserat yang dianjurkan tidak hanya sayur dan buah-buahan saja, melainkan juga sereal, gandum, nasi dan biji-bijian.  Jadi tidak cukup hanya mengkonsumsi makanan berserat saja, namun jumlah minimal yang harus dikonsumsi perlu juga untuk diperhatikan agar kesehatan senantiasa terjaga dengan baik.  Seperti kata pepatah kuno,”Semua penyakit berasal dari perut”, jadi berhati-hatilah!

Tepung Ghol, Tepung Biji Teratai Putih  – Alternatif Pengganti Tepung Terigu
Oleh:  Haryo Bagus Handoko

Biji teratai putih, atau yang biasa disebut ghol, juga dapat berpotensi sebagai makanan alternatif pengganti beras, karena kandungan gizinya yang cukup tinggi.  Dalam bentuk tepung, ghol memiliki kandungan gizi yang setara dengan tepung beras, terigu dan jagung.  Pemanfaatan ghol, tentu merupakan angin segar dalam hal pemenuhan kebutuhan tepung untuk bahan olahan roti atau cake.  Mengingat selama ini kebutuhan bahan baku ketiga tepung diatas di Indonesia, masih harus dipasok dari luar negeri.
Jika diamati lebih jauh, terutama unsur kimianya, kandungan abu yang terdapat dalam ghol mencapai 0,4 persen, sedang amilosa-nya sekitar 27 persen.  Kedua unsur ini, sangat sesuai untuk proses produksi roti atau cake.  Begitu pula unsur proteinnya, yang mencapai 10,2 persen.  Angka tersebut akan menghasilkan adonan yang baik jika dibuat menjadi berbagai jenis penganan.  Selanjutnya, kandungan lemaknya yang cukup tinggi, yaitu 2,5 persen, akan berfungsi bagus sebagai penghantar panas, emulsifier, pemberi cita rasa, meningkatkan kerenyahan, serta menentukan kemampuan menahan sel-sel udara jika lemak yang terkandung di dalamnya dikocok kuat-kuat, terutama saat dicampur dengan bahan adonan kue yang lain, seperti misalnya gula dan telur.
Berdasarkan unsur-unsur di atas, tepung ghol berpengaruh mencolok jika dibuat cake.  Dalam hal warna misalnya, tepung ghol yang selama hidupnya banyak terendam air, mengakibatkan warna cake menjadi kecoklatan.  Ini cukup menguntungkan dari segi kesehatan, karena untuk mendapatkan warna coklat pada cake, produsen kue tidak lagi memerlukan zat pewarna tambahan.  Seperti yang marak terjadi penambahan zat warna tambahan yang tidak sesuai pada makanan bisa menimbulkan efek keracunan yang dapat membahayakan konsumen. Dalam hal aroma atau bau, tepung ghol ini akan memberikan aroma khas dan lebih mencolok bila dibandingkan dengan pemakaian tepung terigu dalam pembuatan kue.  Aroma khas pada cake, setidaknya dapat menambah selera makan bagi para penikmat cake.  Dari segi tekstur, kelebihan khusus dari tepung ghol adalah hamper tidak adanya perbedaan antara tepung ghol dengan terigu sehingga tidak ada alasan untuk menolak penggunaan jenis tepung ini karena alasan tekstur kue misalnya.  Tekstur kue yang dihasilkan oleh tepung ghol cukup baik terutama bila digunakan untuk pembuatan cake.  Dalam hal rasa, keunggulan tepung ghol tiada tandingannya, karena memiliki rasa yang alami dan khas.  Kedudukan inilah yang tidak dapat digantikan oleh tepung dari bahan lainnya.
Buah ghol, merupakan putik bunga teratai putih yang membesar dan berbiji.  Setelah dikupas, akan diperoleh biji-biji berwarna hijau.  Bentuknya bulat menyerupai kacang hijau, tapi ukurannya lebih kecil.  Sebelum digunakan sebagai bahan penganan, biji ghol harus disortir.  Cara yang umum adalah dengan cara ditampi/disosoh dengan menggunakan tampah.  Tujuannya untuk menghilangkan sekam yang membalut biji-biji ghol.  Rendemen biji ghol setelah terpisah dengan sekam, ternyata cukup tinggi, yaitu dapat mencapai 78 persen.
Sebelum ditampi atau disosoh, biji ghol berwarna kehitam-hitaman.  Namun secara alami akan berubah kuning setelah melalui proses penyosohan.  Permukaannya akan halus dan rata.  Teksturnya menyerupai butiran pasir (sandy), yang panjangnya antara 0,7 – 1 mm dengan lebar 0,5 – 0,7 mm.  Berat bijinya setelah disosoh berkisar 1,5 – 1,7 gram per 1000 biji.  Dengan ukuran biji yang kecil tersebut, akan memudahkan proses penepungan dan pengolahan sebagai campuran beras.
Nilai pH tepung ghol sebesar 6,2.  Sementara untuk pembuatan cake dengan hasil bagus dibutuhkan tepung yang ber-pH sekitar 5,5 – 6,5, agar tidak terlalu asam. Dengan demikian, ghol sangat tepat menjadi pilihannya.  Andai pH tepung di bawah 5 atau terlalu asam, tentu saja sangat berpengaruh dalam proses pembuatan cake.
Pemanfaatan tepung ghol sebagai pencampur tepung terigu juga cukup masuk akal.  Untuk bahan kue, perbandingan pencampuran antara tepung ghol dan tepung terigu bisa berbanding 30% : 70%, sementara untuk bahan baku cake, tepung ghol bisa digunakan hingga 60%  berbanding 30% tepung terigu.  Ini membuktikan bahwa tepung ghol merupakan sumber pangan yang potensial khususnya untuk diversifikasi pangan dan bahan baku makanan terutama dalam efisiensi penggunaan bahan dalam industri skala kecil ataupun besar.

Leave a comment »

Makanan Sehat Tanpa Daging

Banyak alasan yang menyebabkan orang ingin mengurangi atau pun sama sekali tidak mau menggunakan daging dalam pola makanan mereka sehari-hari. Ada yang mengambil keputusan ini berdasarkan alasan-alasan keuangan, ada pula yang bertolak dari motivasi etis dan ada pula yang memakai alasan keduanya.
Di negara-negara Barat telah lama ada industri pengadaan daging, di mana untuk memperoleh produksi yang besar maka hewan diperlakukan dengan cara sangat bertentangan dengan alam.  Dalam industri ini hewan hanya memiliki ruang gerak yang sangat sempit dan hampir tidak dapat meliha ataupun menghirup udara bebas.  Para penentang bio industri ini tidak dapat menolak total adanya daging dalam pola makanan mereka.  Mereka umumnya hanya menghendaki pengurangan daging yang dimakan oleh manusia  dan cara yang lebih alamiah dalam memperlakukan hewan yang diperuntukkan untuk konsumsi manusia tersebut.
Untuk produksi daging banyak diperlukan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.  Untuk ini juga dipergunakan makanan yang sebenarnya dapat dimakan oleh manusia seperti jagung dan kacang kedelai misalnya.  Hanya sebagian saja dari zat putih telur nabati yang sangat berharga itu akan berubah menjadi zat putih telur hewani yang kemudian dapat dimakan oleh manusia.  Oleh karena itu, mengingat keadaan pangan dunia, maka banyak orang menolak makan daging yang berlebihan.
Di samping itu masih banyak jenis keyakinan yang menyebabkan orang tidak mau makan daging. Untuk memenuhi kebutuhan makanan bagi orang maupun bagi hewan makan cara-cara bertani harus digiatkan, antara lain dengan pupuk buatan dan obat-obat anti hama.  Keduanya dapat merupakan bahaya bagi kebersihatan lingkungan.  Dan ada yang berpendapat bahwa manusia tidak berhak untuk membunuh makhluk lainnya.  Barang siapa yang menganut paham vegetarisme yang moderat tidak akan makan daging, ikan atau ayam misalnya karena untuk ini hewan harus dibunuh.  Susu dan olahannya, telur dan madu tidak pantang bagi mereka.  Golongan ini disebut golongan laktovegetaris (lacto= susu).  Seringkali golongan laktovegetaris ini mau juga makan keju, meskipun pada umumnya keju dibuat dengan menggunakan zat yang berasal dari lambung sapi muda yang telah disembelih.  Kaum veganis, yang hanya berjumlah kecil saja, mengikuti pola vegetarisme yang paling ketat.  Mereka tidak mau mempergunakan bagian manapun yang berasal dari hewan, baik untuk dikonsumsi maupun sekedar untuk bahan pakaian, seperti juga misalnya, susu, telur, madu, wol dan kulit.
Bagaimana bisa hidup tanpa mengkonsumsi daging?
Pola makan yang hanya mempergunakan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan saja tidak dapat dianjurkan oleh karena besar kemungkinan akan kekurangan zat-zat makanan yang diperlukan. Suatu pola makanan dimana tidak terdapat daging, ikan atau ayam akan tetapi dimana ada susu serta olahannya serta telur, dapat memenuhi semua syarat yang telah ditentukan oleh ilmu pengetahuan modern di bidang makanan.
Daging, ikan dan ayam mengandung zat-zat makanan yang diperlukan oleh setiap manusia.  Jika jenis-jenis makanan ini hilang dari pola makanan maka zat-zat makanan tersebut harus diganti oleh zat-zat makanan lainnya.  Yang dipersoalkan disini ialah: zat putih telur kadar tinggi, zat besi dan vitamin-vitamin dari B kompleks.
Zat putih telur yang berasal dari hewan memiliki nilai biologis yang tinggi.  Manusia hanya memerlukan sedikit saja dari zat putih telur ini untuk membuat zat putih telur tubuh daripadanya.  Zat putih telur yang berasal dari daging, ikan dan ayam dapat diganti dengan zat putih telur yang berasal dari telur, susu dan keju.  Zat putih telur nabati yang berasal dari kacang-kacangan dan biji-bijian memiliki nilai biologis yang lebih rendah.  Meskipun demikian maka zat putih telur yang berasal dari kacang-kacangan dan biji-bijian dapat dengan baik sekali saling mengisi.  Jika kedua macam sumber nabati tersebut dimakan bersama maka kedua macam zat putih telur itu bersama akan memiliki nilai tinggi.
Daging merupakan sumber penting daripada besi dan vitamin B1 serta B2.  Siapa yang tidak mau makan daging oleh karena itu harus makan banyak sayuran dan kacang-kacangan seperti kacang kedelai dan olahannya atau kacang merah serta beras merah atau beras tumbuk untuk dapat memenuhi kebutuhannya akan besi dan vitamin-vitamin B ini.  Susu dan keju hampir tidak mengandung besi. Hendaknya tetap menjadi perhatian bahwa telur sebaiknya dimakan 1 atau 2 kali seminggu saja, meskipun telur memang mengandung zat putih telur yang bernilai tinggi dan besi dalam jumlah yang lumayan.  Anjuran ini didasarkan atas kenyataan bahwa telur di samping mengandung zat-zat yang diperlukan juga mengandung banyak kolesterol yang merupakan salah satu unsur yang kurang menguntungkan bagi kesehatan terutama bagi mereka yang menderita penyakit jantung.
Jenis-jenis makanan yang dapat menggantikan daging.
Telur dapat direbus, digoreng atau dibuat dadar. Telur yang telah direbus atau digoreng masih dapat diolah menjadi berbagai lauk pendamping makanan pokok (nasi).  Kacang-kacangan dapat juga dimasak dengan beberapa macam cara seperti misalnya sop kacang merah, sayur asam kacang merah, sayur bayam dengan kacang hijau serta semua masakan yang terbuat dari tempe dan tahu.  Kecap dan tauco juga mengandung banyak zat-zat yang bergizi, walau kita hanya perlu mengkonsumsi dalam jumlah yang sedikit saja, yaitu sebagai bahan tambahan pelezat makanan dan bukannya sebagai sumber zat-zat makanan.     Roti, pasta, macaroni, havermut dan makanan yang terbuat dari tepung terigu juga merupakan sumber zat putih telur nabati yang baik sekali dimanfaatkan untuk melengkapi zat putih telur yang berasal dari kacang-kacangan.
Jumlah sayuran dan buah-buahan yang cukup diperlukan antara lain untuk melengkapi zat besi dalam makanan.  Seseorang setidaknya membutuhkan 200-400 gr sayuran dalam sehari, tergantung jenis sayuran yang dipilih.  Jika memilih sayuran mentah maka diperlukan kurang dari jumlah yang diberikan di atas.  Suatu kebiasaan yang baik sekali bila seseorang mau mengkonsumsi buah-buahan setiap hari.
Jumlah makanan sehari-hari yang sebaiknya dikonsumsi oleh seorang dewasa yang mengikuti pola makan vegetarian adalah sebagai berikut:
250 gr beras (sebagian dapat diganti dengan roti, kentang atau makaroni)
Sayuran secukupnya
1 potong buah segar (150 gr)
375 cc (1,75 gelas) susu
1 kerat keju (25 gr)
Makanan pengganti 90 gr daging (ikan atau ayam)
2-3 butir telur seminggu
Minyak serta margarin atau mentega seperlunya
Untuk menggantikan daging sebanyak 90 gram, maka Anda dapat makan:
Kacang-kacangan sebanyak 45 gram ditambah 4 potong roti
2 butir telur dan 1 kerat keju
75 gr keju
500 cc (2,5 gelas) susu skim
100 gr tempe
200 gr tahu
50 gr kacang kedelai
Pola makan vegetaris (vegetarian) adalah pola makanan yang sehat jika semua saran yang telah diberikan di atas mendapat perhatian sepenuhnya.

Leave a comment »

Kopi untuk Obat Sakit Kepala

Dari hasil riset penelitian terhadap 301 pasien sakit kepala yang dilakukan oleh  Dr Seymour Diamond, pendiri Diamond Headache Clinic di Chicago, terbukti bahwa kafein dalam dosis tertentu yang dikombinasikan dengan ibuprofen bisa berfungsi sebagai obat sakit kepala maupun pereda rasa sakit.  Seorang pasien sakit kepala yang diberikan sebuah pil yang didalamnya mengandung kombinasi kafein dan ibuprofen terbukti bisa sembuh satu jam lebih awal daripada pasien yang hanya mengkonsumsi pil yang mengandung ibuprofen saja. Ternyata dari hasil penelitian, diketahui bahwa kafein dapat meningkatkan kinerja dan efek dari ibuprofen.  Keunggulannya, kafein ternyata tidak harus selalu berupa pil atau kapsul, kafein juga dikonsumsi dalam wujudnya sebagai minuman kopi. Secangkir besar kopi terbukti dapat menyembuhkan rasa sakit kepala dan bahkan mengurangi efek sakit kepala akibat mabuk bila seseorang baru saja banyak menenggak minuman keras.

Comments (3) »

Kesehatan Jantung Dilihat Dari Ukuran Lingkar Perut

Para pria tengah baya dengan ukuran lingkar perut 90 cm atau lebih patut khawatir akan resiko terkena penyakit jantung koroner, “ demikian menurut Jean Pierre Despres, kepala riset institut jantung di Quebec, Kanada (Quebec Heart Institute) yang sekaligus seorang dosen bidang obat-obatan dan nutrisi yang mengajar di Laval University di Quebec City, Kanada. Menurut pakar ahli jantung ini, disebutkan bahwa tingginya konsentrasi lemak trigliserida membuat pria dengan perut besar yang tercermin dari ukuran lingkar perut tergolong beresiko tinggi menderita penyakit jantung cardiovascular yang banyak berujung kematian.  Para pakar jantung sebaiknya lebih berkonsentrasi untuk melakukan tindakan pencegahan demi mencegah terjadinya kasus penyakit jantung daripada melakukan pengobatan. Caranya tentu saja dengan memberikan penyuluhan dan penerangan kepada masyarakat bahwa salah satu cara mendeteksi resiko terkena penyakit jantung adalah dengan mengukur lingkar perut seseorang. Faktor kegemukan (obesitas) yang tercermin dari ukuran lingkar perut sangat tinggi korelasinya dengan resiko terkena penyakit jantung.

Leave a comment »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.