Arsip untuk April 21, 2008

TUTORIAL MENULIS HINGGA MENERBITKAN BUKU

*Tulisan tutorial ini disadur dan dikompilasi dari berbagai sumber (buku panduan menulis, majalah, situs atau blog pribadi para penulis, hingga beberapa sumbangan tulisan), dengan sedikit tambahan dan revisi di sana-sini. Dengan tanpa mengurangi rasa hormat kepada para penulis aslinya, tulisan ini semata-mata dimaksudkan untuk memotivasi para penulis pemula yang berkeinginan menekuni dunia tulis menulis secara profesional. Tanpa maksud komersial, tulisan ini murni mengemban misi informatif untuk semata-mata membagi ilmu dan informasi dunia tulis menulis kepada semua orang. Bukankah ilmu akan lebih bermanfaat bila dibagikan serta disebarluaskan kepada semua orang secara cuma-cuma ?

MEMBIASAKAN DIRI MENULIS

Tentu saja Anda dapat menulis di mana saja.  Ciptakanlah suasana nyaman di sekitar tempat Anda menulis sehingga Anda merasa betah berlama-lama bekerja.  Menulis sesungguhnya sama saja dengan mengerjakan pekerjaan lain.  Diperlukan konsentrasi dan stimulus lain supaya kita dapat menghasilkan “output” yang baik.  Salah satu keleluasaan yang Anda miliki jika melakukan pekerjaan menulis adalah waktunya bisa kapan saja.  Banyak orang merasa tenang bila menulis setelah lewat tengah malam.  Sepi katanya.  Tetapi banyak pula orang yang suka menulis pada pagi hari, segar, alasannya.  Meskipun sangat bebas, sebaiknya Anda mendisiplinkan diri dalam menulis. Ada beberapa batasan yang dapat Anda pakai guna menjaga produktivitas dan memelihara semangat menulis.  Berilah target kepada diri sendiri berapa halaman tulisan yang harus Anda selesaikan dalam sehari-semalam.   Atau patoklah berapa jam Anda mesti bekerja dalam seminggu.  Dengan demikian Anda sudah belajar menjadi profesional. Menulis di luar ruangan bisa menjadi sensasi yang sangat menyenangkan.  Cobalah menulis di taman atau lokasi alam terbuka lain. Kesannya bisa sangat berbeda dan amat mencerahkan, terlebih-lebih pada saat cuaca memang sedang nyaman-nyamannya (pagi atau petang).  Ditemani makanan kecil atau minuman kesukaan Anda pasti setuju bahwa pekerjaan menulis menjadi betul-betul menggairahkan.  Ada orang yang dapat menulis dalam segala suasana, namun banyak penulis yang mensyaratkan berada dalam keheningan agar dapat menulis dengan tenang.  Ada penulis yang selalu menyetel radio atau tape bahkan menghidupkan bila sedang bekerja.  Masing-masing pribadi memiliki kebiasaannya sendiri.  Beberapa penulis pemula dalam menyelesaikan karyanya biasa tergantung pada “mood” atau suasana hati.  Ini kebenaran yang tidak dapat dibantah, namun bila Anda telah mencapai tahap profesional, “mood” harus dapat Anda timbulkan setiap saat Anda mau menulis.  Pekerja jurnalistik sering kali dikejar deadline atau tenggat waktu, yaitu batas waktu terakhir suatu tulisan harus masuk untuk naik cetak.  Sebagai profesional Anda perlu mempersiapkan diri mengatasi tenggat waktu ini.  Dalam kondisi terdesak pun Anda harus sanggup menulis dengan baik tanpa harus panik.  Menjadi penulis adalah sebuah pilihan serius.  Sama seperti pekerjaan lain, untuk berhasil, Anda dituntut memiliki integritas penuh dan komitmen seutuhnya terhadap pekerjaan.

TULISAN SEBAGAI EKSPRESI JIWA

Salah satu fungsi tulisan yang terutama dan terpenting adalah menyampaikan gagasan, pikiran dan isi hati. Berbeda dengan berbicara, menulis memungkinkan kita memikirkan, merenungkan, dan menimbang-nimbang terlebih dahulu atas apa yang mau kita tulis.  Ini sebabnya mengapa tulisan ditafsirkan lebih mengandung kedalaman daripada ucapan.  Tulisan yang baik memang hasil kontemplasi (=perenungan) mendalam dan meluas. Orang tidak akan dan tak bisa menulis sesuatu yang tidak dipikirkannya terlebih dahulu.  Selama berpikir, seseorang pun biasa mengembangkan imajinasinya serta mengait-ngaitkan apa yang akan ditulisnya dengan berbagai aspek, sehingga suatu hasil tulis mencerminkan bukan hanya pikiran, melainkan juga sikap dan sifat penulisnya.  Tulisan jelas lebih kompleks dari sekedar kata-kata yang diucapkan karena merupakan hasil olah otak dalam waktu relatif lebih lama daripada bila berkata-kata.  Jika dalam berbicara orang sering memaki-maki, dalam tulisan, kata-kata kasar muncul hanya apabila memang dianggap pantas.

MEMILIH TEMA TULISAN

Untuk belajar menjadi penulis, Anda dapat memulai dengan tema (atau lebih tepatnya sub tema) apa saja yang paling Anda suka.  Jika Anda seorang pelajar, tak ada salahnya memulai menulis tentang tema cinta.  Andaikata Anda mahasiswa fakultas ekonomi, Anda dapat menulis tentang strategi dan taktik pemasaran produk tertentu.  Kalau Anda seorang karyawan, mengapa tidak memulai menulis mengenai ikan hias, bos yang pemarah atau kucing yang jatuh cinta di atap rumah ?  Mereka yang gemar sepakbola silahkan iseng-iseng menulis analisis suatu (bakal pertandingan) atau bakal suatu novel yang bercerita tentang suka duka dan seluk beluk dunia sepakbola dan segala kontroversinya, pasti bakal seru, karena kayaknya belum ada tuh yang nulis novel tentang ini.  Anda guru atau dosen ? Tulislah cerita tentang perilaku anak-anak didik Anda, hal ini yang pernah dilakukan oleh penulis cerita anak-anak terkenal dari Inggris, Enid Blyton yang terkenal dengan karya-karyanya yang terkenal, khususnya “The Famous Five” (Lima Sekawan).  Bagi ibu-ibu rumah tangga, silahkan menulis mulai dari cara mengarahkan anak agar mau belajar tertib, taktik menghadapi tetangga yang banyak mulut, teknik menaklukkan suami atau menulis novel yang mengulas tentang kehidupan ibu-ibu di kampung (meniru-niru serial televisi “Desperate House Wife”).  Mungkin lebih baik menulis karangan pendek dengan tema sederhana dulu sebelum menggarap tulisan panjang dengan tema lebih kompleks.  Menulis suatu topik secara detil lebih mudah daripada mengait-ngaitkan topik tersebut dengan hal-hal lain.  Supaya tulisan Anda menjadi istimewa, Anda pun perlu mengembangkan tema dengan cara dan pemikiran berbeda dari orang lain.  Jika “orang miskin” selama ini diwakili dalam banyak tulisan oleh tukang becak, Anda perlu menemukan kemiskinan dalam wajah lain bila akan menggubah tema “miskin”.  Anda bisa menulis bahwa orang kaya yang telah pensiun pun sesungguhnya sangat “miskin”, bahkan suatu kali untuk membeli roti saja ia harus meminta uang dari anak-anaknya yang mewarisi kekayaannya.  Tema pun dapat Anda dekati secara kontradiktif.  Contohnya, tema cinta yang sudah sangat sering digarap orang, dapat Anda sorot dari sudut pandang baru yang kontroversial. Cinta katanya indah, Nah, Anda carilah celah untuk membantahnya, sehingga cinta tak tampak indah semata-mata, melainkan juga gombal, penuh intrik dan jorok.  Toh, tema Anda tidak bergeser dari cinta, bukan ?

ANEKA TEMA MENARIK UNTUK TULISAN KITA

Novel-novel dewasa ini banyak mencoba mengolah tema-tema yang lain dari biasanya guna menarik minat baca orang.  Tema drama rumah tangga dianggap sudah menjenuhkan, sehingga pengarang kreatif berpaling mengembangkan tema-tema yang unik dan bahkan aneh. Beberapa tema yang menarik yang bisa dijadikan ide penulisan, antara lain :
1. Alien.  Suatu ketika, setelah orang jenuh menulis tentang flora dan fauna atau kehidupan dan penghidupan manusia di bumi, tiba-tiba ada penulis yang mulai menggarap tema ruang angkasa serta tentang kemungkinan munculnya alien (makhluk asing) yang berkepala besar dan berwarna hijau.  Alien digambarkan ada yang baik dan ada yang jahat.  Alien baik ingin bersahabat dengan manusia, sedangkan alien jahat dilukiskan berhasrat menaklukkan bumi.  Lantas manusiapun bersatu memerangi alien jahat dan seterusnya.
2. Romansa perang. Tema cinta, persahabatan, atau perjuangan yang mengambil latar belakang sejarah perang dunia II cukup banyak digarap.  Asmara dipertentangkan dengan heroisme cinta tanah air.  Kemudian kisah dipelintir menjadi happy ending bersamaan dengan selesainya perang.
3. Paham-paham ekstrem.  Liberalisme, komunisme, dan atheisme pun pernah menjadi bagian dari tema saat paham-paham tersebut secara dominan mengkooptasi kehidupan manusia.  Tetapi penggarapan tema yang mengacu kepada pembeberan paham tertentu harus dilakukan dengan hati-hati supaya tidak menjadi propaganda.  Anda pun perlu pandai-pandai membaca situasi politik sebelum menyinggung suatu paham dalam karya Anda.  Ingat, paham komunisme dilarang di Indonesia, sehingga kalau diadopsi menjadi tema bakal menimbulkan masalah.
4. Tokoh eksentrik. Banyak novel bagus menokohkan seseorang yang hidup eksentrik.  Contohnya : bahwa tokoh tersebut adalah seorang kanibal, maniak atau pembunuh berantai.  Anda pun boleh mencoba menciptakan tokoh imajinatif (seperti Batman yang populer lewat komik) untuk mendukung penyampaian tema.
5. Cerita rakyat. Cerita rakyat atau dongeng fantastis tak ketinggalan muncul sebagai tema besar.  Ternyata apabila dikerjakan dengan bagus, cerita rakyat dan dongeng bisa tampil menjadi kisah hebat pula. Contoh : Yeti manusia raksasa yang konon hidup di pegunungan Himalaya atau naga di Danau Lochness di Eropa.
6. Fabel. George Orwell pernah menampilkan setting kehidupan hewan (atau apa yang selama ini dikenal sebagai cerita fabel yaitu cerita yang menokohkan binatang) dalam karyanya yang cukup ternama “Animal Farm”.  Kisah dalam film kartun “Ice Age” pun merupakan fabel yang sangat berhasil.  Manusia dapat bercermin dari fabel yang tak lain tak bukan adalah replika hidupnya sendiri.
7. Hantu atau horor.  Ingat hanti pasti ingat film “Hantu Jeruk Purut”, bukan ? Cerita film seperti itu bisa berasal dari kisah kejadian nyata, urban legend ataupun berangkat dari sebuah karya tulis (novel). Atau memang khusus karya tulisan skenario (memang dibuat untuk difilmkan). Tema hantu atau horor sebaiknya digarap tanpa sama sekali melupakan akal sehat, sehingga tidak menjadi terlalu khayal (yang terkadang malah mengundang gelak tawa).
8.Metro Life atau Urban Sensation.  Karena sasaran pembaca yang dituju adalah para warga kota, tak heran tema-tema yang berkaitan dengan kehidupan dalam kota besar timbul ke permukaan. Gaya hidup urban atau kota nan gemerlap dan ikon yang berhubungan dengan kasak-kusuk kehidupan metropolitan, seperti laptop, cafe, internet, seks bebas, dsb pun mengemuka.  Anda berada pada suatu titik waktu dan menjadi milik zaman yang bersangkutan.
9. Teenlit.  Terakhir kita mengenal teenlit (teenagers literature) yang mengupas habis tema-tema seputar kehidupan remaja.  Cinta sudah pasti masuk sebagai menu utama subtema.  Kemudian ada pula sub-tema khas anak muda, seperti : pencarian diri, mode, persahabatan, perseteruan antar kelompok, kehidupan seputar sekolah atau kampus, hingga soal jerawat.
10. Seks. Seks pun menjadi sub-tema yang paling diminati pengarang dan pembaca. Seolah-olah tiada karya tanpa pembicaraan tentang seks.  Dalam khasanah karya tulis fiksi Indonesia, seks akhir-akhir ini sangat gamblang ditonjolkan dalam tulisan-tulisan karya novel ataupun cerita pendek di koran-koran.  Bila tergelincir sedikit saja maka karya-karya seperti itu tidak ada bedanya dengan stensilan porno yang akhir-akhir ini juga cukup marak beredar di kota-kota besar (Jakarta, Surabaya).  Penggambaran secara detil tentang alat kelamin dan hubungan intim (yang dulu dianggap sangat tabu) sekarang justru diumbar oleh pengarang buku novel maupun cerpen yang secara kebetulan justru ditulis oleh para penulis wanita negeri ini.  Sepertinya justru hampir tidak ada penulis novel pria yang menulis atau menyisipkan bumbu cerita cabul dalam karya novelnya.  Entah hal ini sebagai gejala semakin liberalnya budaya di negeri ini ataukah pertanda bangkitnya emansipasi wanita yang justru malah salah kaprah malah mencoreng muka sendiri dengan mengumbar hal-hal yang tabu dalam bentuk tulisan ?

Tema-tema baru senantiasa bisa digali sesuai dengan keadaan dan kebutuhan. Banyak penulis besar menulis mengikuti insting atau nalurinya semata-mata. Barulah setelah tulisannya selesai, pembaca atau kritikus ramai-ramai mempersoalkan tema karya tersebut, padahal penulisnya tak pernah merencanakan dan mengarahkan buah penanya pada suatu tema eksklusif.  Jadi kalau Anda punya peluang menulis bebas, jangan risau soal tema.  Curahkan saja apa yang ada dalam benak Anda.  Sebaliknya, ada kalanya memang Anda harus menulis dengan mengikuti panduan tema tertentu.  Berusahalah fokus pada tema tertentu dalam karangan pendek.  Ketika tulisan Anda mulai memanjang, biasanya tema pun dengan sendirinya ikut tertarik melebar.

JENIS KARYA TULIS

Menilik dari panjang pendeknya, sebuah tulisan atau karya tulis dapat dibagi menjadi karangan pendek atau karangan panjang (buku).  Logisnya Anda dianjurkan menulis dalam format pendek dulu sebelum mencoba menulis buku.  Bukannya meremehkan kemampuan Anda, tetapi cuma menunjukkan jalan yang biasa dilalui orang pada umumnya.  Pendek atau panjangnya sebuah tulisan sangat relatif ukurannya. Cerita pendek, sebagai contoh, ada yang hanya terdiri atas tak lebih dari 5000 karakter termasuk spasi (kira-kira 3 halaman kuarto ketik berhuruf ukuran 14 points dan berspasi tunggal), tetapi ada yang panjangnya 10 atau 20 kali lipat dari itu.  Lantas orang mulai memakai tema sebagai ukuran, yaitu bahwa cerita pendek cuma mengisahkan sepenggal kehidupan tokohnya.  Namun batasan terakhir ini pun tidak selalu dapat mengikat.  Bagaimanapun juga Anda perlu mengambil ancang-ancang menentukan panjang tulisan yang hendak Anda hasilkan.  Katakanlah, artikel yang dibuat untuk dikirim kepada surat kabar atau majalah, ketentuan panjang tulisan bisa sangat mengikat.  Bukan apa-apa, penerbitan pun perlu mengatur setiap tulisan sehingga panjangnya pas mengisi halaman yang tersedia. Beberapa acuan berikut bisa menjadi pegangan Anda dalam memperhitungkan panjang tulisan :
1. Karakter huruf sebagai ukuran.
Karakter atau huruf menjadi patokan terpenting dan terakurat dalam membicarakan atau menentukan panjang tulisan.  Tulisan yang pas untuk mengisi satu halaman majalah berukuran kuarto adalah kira-kira 4000 karakter (termasuk spasi antar kata yang dihitung 1 karakter). Artikel populer yang ditulis untuk surat kabar lazimnya terdiri atas 5000-7000 karakter (termasuk spasi antar kata).  Satu halaman buku saku (pocket book) normalnya terdiri atas sekitar 1500 karakter.
2. Kata sebagai parameter.
Kata bisa juga dipakai sebagai penentu panjang tulisan walaupun tidak seakurat penghitungan berdasarkan karakter huruf, sebab ada kata yang terdiri atas sedikit karakter dan ada kata yang terdiri atas banyak karakter.  Dalam bahasa Indonesia, misalnya kata “ia” hanya terdiri atas 2 karakter, sedangkan kata “mempertanggungjawabkan” terdiri atas 22 karakter.  Tetapi keduanya masing-masing dianggap satu kata.
3. Panjang tulisan berdasarkan halaman.
Buku serius lazimnya memiliki jumlah halaman lebih dari 100 lembar (50 halaman bolak-balik).  Tetapi sesungguhnya jumlah halaman tak dapat dipakai sebagai patokan untuk menilai mutu sebuah buku.  Novel “Peace and War” karya Leo Tolstoy terdiri atas lebih kurang 1000 halaman bila dicetak dalam format buku.  Contoh tersebut hanya sebagai motivasi bagi Anda yang ingin menulis secara serius.  Mulailah menulis artikel, berita, atau cerita pendek singkat sepanjang beberapa halaman.
4. Buku dalam beberapa jilid.
Cerita silat terkenal panjang.  Kalau cuma terdiri atas 30 jilid, sebuah judul cerita silat dianggap lumrah saja.  Ensiklopedi terdiri atas banyak jilid, namun ditulis oleh banyak orang pula.  Dalam hal ini sebetulnya Anda tidak ditantang untuk menulis dalam beberapa jilid buku, tetapi didorong untuk menulis dengan bagus.

MEMULAI MENULIS SUATU TULISAN

Semua orang tahu bahwa kisah Harry Potter yang ditulis J.K. Rowling dan menjadi karya best seller dunia itu hanya khayalan semata. Ternyata mutu karya tulis tidak ditentukan oleh apakah ia kisah nyata atau khayalan.  Fakta atau fiksi, keduanya sama-sama bisa menjadi karya tulis nomor satu.  Modal apa yang perlu dimiliki seseorang untuk menjadi penulis cerita atau buku imajinasi atau fiksi jempolan (dalam arti bakal disukai banyak pembaca alias berpotensi menjadi best seller).
1. Buat jalinan cerita yang kompleks.
Kata pepatah “sudah kepalang basah, ya, mandi saja sekalian !” Namanyajuga menulis cerita khayalan, rekaan, alias fiksi, ya, tak ada larangan mengarang jalan cerita yang aneh-aneh. Tonton saja banyak-banyak telenovela, sinetron atau drama seri serta FTV di pesawat televisi maupun DVD.  Begitu banyak ide cerita yang bisa digali untuk kemudian dikompilasi menjadi suatu cerita baru yang sama sekali berbeda. Plagiat sah-sah saja kalau kita menggabungkan berbagai ide cerita dari, misalnya, 50 macam cerita mini seri yang pernah kita tonton menjadi satu cerita yang sama sekali baru dengan penambahan atau revisi di sana-sini. Namun memang akan lebih baik bila ide cerita yang kita tulis sama sekali baru dan bukan sekedar mengekor dari berbagai ide cerita yang pernah ada.
2. Ciptakan tokoh berkarakter kuat.
Tokoh cerita rekaan mestilah memiliki karakter kuat.  Kalau jahat, ya, dibuat jahat sekali, sedangkan kalau baik ya, dilukiskan sangat baik.  Usahakan mengikuti keyakinan masyarakat umum atau sama sekali menabraknya (biar jadi cerita kontroversial).  Jangan tanggung-tanggung jangan setengah-setengah.  Fiksi atau cerita rekaan didefinisikan sebagai cerita yang diciptakan dan dikarang oleh penulis, termasuk fiksi ilmiah, dongeng imajinatif, novel picisan dan naskah telenovela.
3. Hadirkan kejutan tak terduga.
Dalam cerita rekaan, tokoh yang sudah “mati” tiba-tiba bisa saja diceritakan hidup kembali.  Utarakanlah saja pembenaran-pembenaran (argumen yang masuk akal), misalnya ketika terjatuh ke dalam jurang, sang tokoh tersangkut pada cabang sebuah pohon. Ia kemudian ditemukan dan diselamatkan seorang pertapa tua dan dirawat.  Eh, ternyata pertapa tua itu adalah…tidak lain tidak bukan ternyata kakek buyutnya !
4. Gunakan gaya bahasa yang istimewa.
Kalau cerita tak membuat perbedaan berarti, giliran bahasa yang memegang peranan dalam menentukan mengapa suatu karya tulis dapat dinilai lebih baik atau lebih jelek daripada karya lain.  Penulis harus memiliki kepekaan bahasa istimewa dan mahir menggunakan bahasa dalam mewujudkan karyanya, termasuk sampai perkara-perkara paling kecil, seperti menyiasati tanda baca.  Anda sangat dianjurkan terus menerus memperdalam kemampuan bahasa Anda.  Rajin membaca karya tulis bermutu dapat mengasah ketajaman bahasa Anda, sekaligus pula bisa memperdalam kemampuan daya ungkap Anda dengan menggunakan bahasa.  Makanya banyak-banyaklah membaca !
5. Kenali calon pembaca karya Anda.
Tentu Anda tidak akan menulis mengenai arwah penasaran atau memasukkan bumbu seks dalam cerita fiksi anak-anak, bukan ? Ya, biarpun namanya cerita khayalan, penulis perlu memiliki tanggung jawab moral untuk tidak sembarangan mengumbar imajinasinya.  Seorang penulis wajib mengetahui siapa kira-kira calon pembacanya dalam hal usia, jenis kelamin, serta budaya.
Bagi beberapa orang, mengarang cerita rekaan ini lebih menyenangkan daripada menulis laporan, atau opini yang harus memperhatikan fakta dan teori.  Sebaliknya, bagi beberapa orang lain, menulis fiksi sama sekali tidak menarik.  Anda termasuk golongan yang mana ?
Salah satu pertanyaan yang sering muncul berbunyi, “Apakah seseorang harus belajar mulai dari menulis fiksi atau menulis fakta ? Tidak ada jawaban yang pasti terhadap pertanyaan ini,  Pada kenyataannya memang banyak wartawan yang belakangan menulis novel, tetapi seorang penulis dongeng anak-anak pun sebetulnya sanggup menulis berita dengan baik, bila kemudian suatu kali diminta.  Mohon dicatat bahwa hasil ramuan kombinasi antara fakta dan fiksi tetap menjadi fiksi ! Tidak dibenarkan mengarang cerita rekaan tetapi menyebutnya kebenaran faktual walaupun cerita tersebut ditulis berdasarkan inspirasi dari suatu kejadian yang sungguh-sungguh terjadi.  Banyak roman rekaan ditulis dengan mengambil beberapa bagian true story (kisah nyata) sebagai load (pedoman) atau latar waktu.  Anda bisa mengarang fiksi setelah menyaksikan atau mengalami suatu peristiwa.  Perang kemerdekaan (1945-an), tumbangnya menara kembar World Trade Center di New York 11 September 2001 atau bencana tsunami di Aceh (26 Desember 2004) mengilhami banyak cerita fiksi.  Benar, banyak cerita rekaan dihasilkan dengan mengambil latar belakang sejarah.  Sejarahnya sendiri tentu merupakan fakta, sedangkan cerita yang diilhaminya harus tetap disebut fiksi.  Perang Dunia II pun banyak membuahkan lahirnya novel dan roman, mulai dari yang bertema detektif, spionase, sinis, lucu sampai percintaan.  Pernah dengar tentang buku berjudul The Diary of Young Girl ? Ini adalah kumpulan tulisan yang diolah dari catatan harian Anne Frank (1929-1945), seorang gadis kecil Yahudi yang bersembunyi selama 2 tahun menghindari kejaran tentara NAZI Jerman. Buku harian Anne Frank ditemukan pertama kali pada tahun 1947 dua tahun setelah Anne Frank dieksekusi NAZI.  Ada beberapa versi mengenai hal ini, ada sebuah versi yang mengatakan bahwa Anne Frank meninggal karena demam akibat terkena wabah kolera disentri saat musim salju yang dingin, namun ada pula yang mengatakan bahwa ia mati dieksekusi. The Diary of a Young Girl dapat dianggap karya faktual historis hanya untuk bagian yang merupakan kutipan langsung dari catatan harian Anne Frank.

Dengan pengetahuan tentang elemen-elemen dasar dan semangat yang berkobar dan setumpuk kesabaran, tidak terlalu sulit bagi Anda untuk menulis sebuah cerita (baik cerpen maupun novel).  Tidak ada yang memaksa Anda untuk menulis.  Anda menulis karena hanya Anda yang bisa menuliskan cerita yang ada di alam pikiran Anda.  Tapi, bagaimana cara menulis cerita yang hebat ? Apa saja yang harus diperhatikan untuk menulis cerita fiksi (cerpen maupun novel) ?
1. Bacalah.
Membaca sangat penting bagi setiap orang yang ingin menulis.  Demi meningkatkan kemampuan menulis cerita, Anda mula-mula harus banyak membaca.  Ini bukan hanya memberi motivasi dan inspirasi kepada Anda, tetapi juga membantu Anda memahami bagaimana penulis lain memikat pembaca dan bagaimana mereka menerapkan gaya mereka.  Dari sana, Anda membangun gaya bertutur Anda sendiri.
2. Mendapatkan ilham.
Bagi para penulis yang sudah jago, ilham tampaknya datang begitu saja setiap saat.  Bagi penulis baru ? Jangan khawatir, ilham bisa didapat dimana-mana. Inspirasi bagi Anda bisa berupa sebuah benda, seseorang yang membuat Anda terkesan atau mau muntah, atau peristiwa yang tak terlupakan.
3. Rumuskan konsep cerita Anda.
Apa yang ingin Anda sampaikan ? Misalnya Anda ingin menyampaikan cerita tentang seseorang cowok yang jatuh cinta pada peri. Bagaimana mereka bisa bertemu ? Apa menariknya percintaan manusia dan peri ? Bagaimana cara cowok itu apel ? Apakah ia menceritakan kisah cintanya kepada keluarga atau teman-temannya ? Apa keajaiban-keajaiban yang dialami oleh si cowok selama berpacaran dengan peri ? Apakah ada yang sirik terhadap percintaan mereka ? Bagaimana akhir percintaan mereka ?
4.Peristiwa kunci.
Tulislah daftar peristiwa yang akan terjadi dalam cerita Anda. Tulislah karakter-karakter yang akan menghidupkan cerita. Tidak harus detil. Ini hanya sketsa kasar jalan ceritanya.
5. Pahami karakter-karakter tokoh Anda.
Menulis cerita baik cerita pendek maupun novel kira-kira sama dengan  menceritakan sebuah peristiwa yang dialami “seseorang” atau “beberapa orang “.  Jika Anda kenal betul dengan orang itu, cerita yang Anda buat akan meyakinkan.  “Seseorang” dalam cerita Anda  adalah tokoh yang Anda ciptakan.  Kenali tokoh itu sedalam-dalamnya dan Anda akan bisa menuturkan cerita yang menarik tentangnya. Bikinlah tokoh Anda masuk akal tetapi menyimpan misteri.
6. Bangunlah plot yang memikat.
Dari awal, sodorkan peristiwa yang akan segera melahirkan persoalan atau konflik bagi karakter utama.  Perbesar konflik selama cerita berjalan.  Ini akan membuat pembaca dengan senang hati melahap cerita Anda sampai habis.
7. Tulislah cepat-cepat.
Anda harus cepat menyelesaikan cerita Anda sebelum kehilangan mood.  Kalau terlalu lama manyun di satu cerita, Anda sendiri akan bosan dan kelelahan.
8. Buatlah pembukaan yang baik.
Pembukaan harus menarik karena Anda harus memikat pembaca dari awal hingga akhir cerita.  Pelajari paragraf pertama dari banyak cerita yang Anda baca. Apa yang membuat Anda tertarik untuk terus membaca ? Apakah pembukaan itu menyuguhkan misteri kepada Anda atau kalimatnya bagus ?  Anda juga bisa mendapatkan ilham dari kalimat pertama milik orang lain. Pilih kalimat pertama dari sebuah cerita, tutup cerita itu, lanjutkan kalimat pertama itu dengan kalimat-kalimat Anda sendiri. Lihatlah ! Anda menemukan cerita Anda sendiri.  Jika cerita Anda sudah rampung, jangan lupa mengganti kalimat pertama yang Anda pinjam itu.
9. Gunakan dialog.
Dialog penting untuk menghidupkan cerita. Gunakan dialog untuk memperkuat cerita dan menghidupkan karakter. Jangan menggunakannya untuk berpanjang-panjang.
10. Edit dan Revisi.
Cerita Anda sudah selesai. Simpan barang seminggu.  Tulis lagi cerita baru. Setelah kira-kira seminggu, tiba saatnya untuk mengedit cerita yang lama.  Perbaiki sebagus-bagusnya cerita tersebut.  Baik juga  meminta teman untuk membaca cerita Anda.  Mereka biasanya jeli melihat kesalahan. Tidak usah cemberut jika mereka mengkritik.

ALUR CERITA DALAM TULISAN

Jika tulisan atau novel biasa dimulai saat tokohnya remaja dan berakhir ketika sang tokoh meninggal dunia, penulis tertentu kadang-kadang memulai ceritanya sewaktu sang tokoh misalnya, sedang sekarat terbaring di tempat tidur, baru selanjutnya dikisahkan kembali pengalaman hidup tokoh pada masa silam.  Cara bercerita ini dikenal sebagai mengikuti alur mundur.  Di antara banyak tulisan atau buku yang berkisah dalam alur maju, sesuai pergerakan waktu, menulis dengan pola alur mundur (atau maju-mundur) mula-mula dianggap unik atau kreatif.  Namun dengan semakin meningkatnya jumlah dan beragamnya karya yang ditulis beralur mundur, metode ini pun kini bukan lagi termasuk suatu inisiatif luar biasa.  Teknologi tulis-menulis dengan komputer sekarang juga sangat mempermudah seorang penulis mengacak-acak tulisannya, memajukan atau memundurkan sebagian segmen isi, dan menyelipkan tambahan atau perubahan di sana-sini untuk menghasilkan karya rekaan atau fiksi kreatif.  Ringkas kata, alur pada cara menulis modern melalui teknologi komputer fleksibel sekali diatur.  Selama ini alur bercerita yang telah dikenal adalah :
1. Alur maju. Sesuai dengan namanya, alur maju adalah gaya bercerita yang mengalir maju berdasarkan pergerakan waktu atau mengikuti urutan terjadinya peristiwa secara logis.  Umumnya penulis menerapkan alur maju dalam tulisannya.
2. Alur mundur. Bertolak belakang dengan alur maju, alur mundur mengisahkan suatu peristiwa dengan cara flash-back atau mengenang kembali.  Banyak novel perang mengungkapkan riwayat masa lalu tokohnya dengan memanfaatkan teknik bercerita beralur mundur.
3. Alur maju-mundur. Sesungguhnya tak ada karya tulis yang 100% konsekuen berjalan mengikuti alur maju atau mundur, melainkan lebih banyak yang silih berganti masuk ke alur maju dan mundur.  Alur pun biasanya berkaitan dengan tulisan atau buku yang isinya cukup panjang, sehingga alurnya dapat dideteksi.  Karya tulis pendek hampir dapat dikatakan tidak ketat atau tidak penting dikenali alurnya.

GAYA PENULISAN YANG BISA DIPILIH

Gaya menulis dapat dibagi-bagi berdasarkan beberapa acuan titik tolak. Beberapa gaya tersebut antara lain :
1. Serius versus kocak.
Serius atau kocak di sini bisa bermakna baik integral (keseluruhan atau menyeluruh) maupun parsial (sebagian-sebagian atau per bagian). Anda pernah membaca “Don Quixote” karangan Miguel De Cervantes ? Ini adalah cerita klasik tentang kisah kocak.  Sepanjang cerita berbagai pengalaman dan petualangan tokohnya membuat pembaca geli.  Don Quixote digambarkan membayangkan dirinya seorang satria, padahal kenyataannya ia tak lebih dari seorang kakek peyot.  Ia pun memilih seorang wanita desa berwajah buruk serta gembrot sebagai kekasih khayalan yang perlu dibelanya mati-matian.  Berbeda dengan “Don Quixote”, banyak pengarang yang menyelipkan penggalan cerita lucu hanya pada beberapa segmen tulisannya.  Misalnya, bahwa suatu hari tokoh salah mengenali orang atau terpeleset masuk selokan.  Serius dan kocak di sini pun dapat berarti baik bahasa yang digunakan maupun situasi yang dibangun.  Apabila diminta menulis pidato penerimaan tamu kehormatan, niscaya kita akan menulis dalam bahasa sopan dan serius, bukan ? “Dalam rangka menyambut….menyukseskan pembangunan seutuhnya….”   Ah, pokoknya yang bagus-bagus saja kata-katanya.  Bahasa yang lucu itu bagaimana ? Bahasa yang tidak umum atau bahasa yang diplesetkan bisa juga menimbulkan suatu kelucuan. Kelucuan suatu cerita bisa juga dengan menggambarkan suatu situasi yang lucu walau dengan bahasa yang serius (dengan cara ini justru suatu kelucuan bisa menjadi bertambah lucu dan mengundang tawa geli para pembaca).
2. Tokoh sebagai subyek atau obyek.
Ada penulis atau pencerita yang menulis atau menceritakan tokoh sebagai dirinya sendiri, ada pula yang menempatkan tokoh sebagai obyek cerita. Pada gaya pertama, si pencerita adalah sekaligus si aku yang menjadi tokoh cerita atau subyek yang bercerita.  Pencerita atau penulis seolah-olah menuliskan pengalaman dirinya sendiri.  “Aku melihatnya memandangku tanpa berkedip.  Lalu aku menghampirinya. Kemudian kami saling merangkul dan berjalan beriringan menyusuri pantai yang malam itu terasa lebih sepi dari biasanya.”  Pencerita pun bisa menceritakan tokoh sebagai obyek yang diceritakan atau orang lain. Dengan gaya ini, penggalan kisah di atas akan ditulis menjadi : “Aris melihat gadis itu memandangnya tanpa berkedip.  Lalu dihampirinya gadis itu.  Kemudian mereka saling merangkul dan berjalan beriringan menyusuri pantai yang malam itu terasa lebih sepi dari biasanya.” (Andaikan tokoh dalam kisah ini bernama Aris).  Anda sudah melihat dan memahami apa yang dimaksud dengan gaya penulisan yang menganggap “tokoh sebagai subyek” dan “tokoh sebagai obyek” bukan ? Gaya manapun yang Anda pilih sama-sama bisa menjadikan suatu karya asyik dibaca, biarpun ada orang berpendapat bahwa gaya bercerita dengan menempatkan “tokoh sebagai subyek” terasa lebih emosional.
3. Kalimat pendek versus panjang.
Dalam pelatihan menulis,teristimewa kelas-kelas jurnalistik, peserta selalu diarahkan agar menulis dengan menggunakan kalimat-kalimat pendek.  Kalimat pendek diyakini lebih mudah dipahami daripada kalimat panjang bagi sebagian besar pembaca surat kabar.  Keyakinan ini ada benarnya, tetapi tidak perlu dianut dengan terlalu taat dan ketat.  Ada kalanya kita perlu memakai kalimat panjang untuk mengungkapkan sesuatu secara lebih komprehensif dan utuh.  Bahkan ada penulis suka mengeksplorasi dan mengeksploitasi kalimat sehingga menjadi sangat panjang.  Perhatikan perbandingan gaya penulisan berikut :
“Pak Lurah mempunyai seorang anak laki-laki.  Anak itu bernama Adi. Suatu hari Adi memanjat pohon mangga. Pohon mangga itu ada di halaman rumahnya. Adi terjatuh. Ia jatuh karena tidak berhati-hati.
Paparan di atas terdiri atas 6 kalimat pendek dan masing-masing kalimat terdiri atas 2 sampai 6 patah kata. Kata-kata yang terkandung dalam keenam kalimat tersebut total berjumlah 30.  Makna yang akan disampaikannya pun dapat ditulis menjadi cuma satu kalimat panjang (terangkai dari 17 patah kata) tanpa kehilangan detil yang perlu disampaikan. Tidak percaya ?
Begini : “Suatu hari Adi anak Pak Lurah memanjat pohon mangga di halaman rumahnya dan terjatuh karena tidak berhati-hati !”
Silahkan saja memilih gaya mana yang cocok dengan kepribadian Anda.  Kedua gaya, baik dengan mengandalkan kalimat pendek maupun menggali kalimat panjang, sama-sama bisa , sama-sama bisa indah ; tergantung pada kemahiran kita mengolahnya.  Bisa saja pula kedua gaya ini Anda pakai sekaligus bergantian.
4. Menciptakan tokoh idola.
Berita atau cerita yang menghadirkan seorang tokoh idola berkarakter terkuat biasanya lebih disenangi pembaca.  Banyak pula novel bagus yang menokohkan seseorang. Tokoh biasanya digambarkan sebagai manusia istimewa atau luar biasa (dalam arti berbeda dengan orang kebanyakan, baik penampilan maupun sifatnya.) Lazimnya tokoh utama protagonis diatur supaya berada di pihak yang benar, bergaya satria dan ganteng atau cantik. Pada sisi lain, demi menonjolkan tokoh protagonis, diciptakan pula seorang tokoh antagonis yang memiliki karakter bertolak belakang (jahat, licik, dan buruk rupa).
5. Sensasi memulai dan mengakhiri.
Pengarang harus pandai-pandai mencari sensasi memulai dan  mengakhiri karyanya. Untuk buku, misalnya, banyak calon  pembaca meneliti sejenak halaman pertama atau terakhir sebuah buku sebelum memutuskan membacanya atau tidak.  Maka apa yang Anda tulis pada halaman pertama dan terakhir, jika Anda seorang penulis buku adalah sangat menentukan.  Banyak cerpen (cerita pendek) pun memancing orang meneruskan membaca dan menyuguhkan greget pada alinea pertama dan meledakkan sensasinya pada paragraf terakhir.  Tapi kendali pun diminta memulai dengan kejutan dan menyimpan sensasi pada akhir tulisan, Anda tetap diingatkan supaya menjaga ritme sehingga cinta/artikel/buku yang ditulis senantiasa mengalir indah.

MELAKUKAN EDITING DAN PERIKSA ULANG TERHADAP KARYA KITA

Dalam sebuah wawancara untuk mendapatkan pekerjaan atau ketika membujuk orang yang kamu gebet untuk pertemuan pertama, atau mengirimkan tulisan ke majalah, kamu hanya memiliki satu kesempatan untuk dapet kesan pertama.  Orang bilang cinta pertama sulit dilupakan, begitu juga kesan pertama.  Seseorang yang dicap buruk pada pandangan pertama akan sulit untuk mengubah pikiran orang di saat-saat selanjutnya.  Karena itu, tak ada pilihan lagi bagi kamu.  Untuk menawarkan artikel, novel, produk atau diri sendiri, atau menawarkan apa saja, kamu perlu menunjukkan kesan pertama yang menarik. Bagaimana kamu bisa meyakinkan sebuah majalah, atau pembaca, bahwa kamu bisa menulis karya yang bagus jika kamu sudah menunjukkan banyak kesalahan pada karya kamu, situs pribadi kamu, jika kamu punya, dan pada materi promosi lainnya ?  Sebagian besar pembaca dan pecinta buku akan jengkel dan malas meneruskan membaca buku atau artikel yang banyak kesalahannya.  Jadi sebaiknya tampilkanlah tulisan dan diri Anda seprofesional dan sesempurna mungkin.  Image diri seorang penulis dan juga karya tulisnya sangat penting dalam dunia tulis menulis profesional. Untuk memperoleh karya tulis yang tampil secara sempurna dan tidak memiliki kesalahan dalam hal penulisan, redaksional dan tata bahasa, perlu dilakukan editing dan periksa ulang berkali-kali terhadap karya kita.  Walau pada akhirnya nanti, karya tulis kita itu akan dilakukan editing ulang oleh para editor majalah atau penerbit buku, namun sebaiknya naskah tulisan kita itu sudah sempurna atau paling tidak mendekati sempurna dalam arti tidak mempunyai banyak kesalahan, terutama dalam hal redaksional (tata bahasa, tidak adanya salah ketik, tanda baca, dsb). Berikut disajikan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan editing :
1. Nggak cuma soal salah ketik.
Editing bukan sekedar membetulkan salah ketik. Editing juga mencermati dan ngebenerin pernyataan-pernyataan yang tidak konsisten, kekaburan, kalimat-kalimat yang kaku dan tidak menarik, dan pilihan kata (diksi) yang lemah. Editing merupakan bagian yang sangat penting dari penulisan, dan inilah yang membedakan antara penulis yang baik dan penulis yang sedang-sedang saja, teledor, dan tidak peduli pada karya yang dibuatnya.
2. Periksa ejaan dan tata bahasa.
Jika kamu teledor dalam penulisan dan sering menggunakan tata bahasa yang tidak benar, ini juga akan membuat orang sulit percaya bahwa kamu bisa menulis secara baik. Dalam hal ini kita tidak bicara tentang tata bahasa baku.  Sebab banyak juga novel terutama novel remaja – yang ditulis tidak dengan tata bahasa Indonesia baku, tetapi bahasa pergaulan para remaja pun memiliki aturan mainnya sendiri yang membuat bahasa tulis kamu enak dibaca, lancar dan tidak tersendat-sendat.
3. Cetaklah tulisan kamu.
Biasanya mata kamu akan lebih nyaman mengoreksi tulisan yang tercetak di kertas ketimbang jika memelototinya di layar monitor. Gunakan tinta warna merah atau hijau untuk melakukan koreksi.
4. Simpan beberapa waktu.
Simpan dulu naskah kamu beberapa waktu.  Setelah itu, kamu akan lebih berjarak dari naskah tersebut dan akan membacanya lagi dengan mata yang lebih segar.  Dengan jarak beberapa waktu, kamu bisa menempatkan diri sebagai pembaca dan akan lebih mudah untuk menemukan kelemahan-kelemahan tulisan yang kamu hadapi.  Dan bagaimana agar menjadi lebih baik. Mungkin kamu perlu mengetatkan kalimat-kalimat yang bertele-tele atau membuang pengulangan-pengulangan informasi. Periksalah apakah kata-kata yang kamu pilih sudah tepat dan kuat.  Temukan kesalahan-kesalahan yang tidak kamu sadari ketika sedang dalam proses menulis.
5. Meminta orang lain membaca.
Mintalah teman kamu membaca naskah kamu dan mintai komentarnya atas naskah tersebut.  Biasanya teman kamu akan sungkan memberikan komentar-komentar kritis.  Jadi yang perlu kamu minta untuk membaca naskah kamu adalah teman yang bisa memberikan komentar kritis dan tidak basa-basi.
6. Bergabunglah dengan kelompok kritis.
Kelompok seperti ini mungkin akan menjadi pencela yang menyeramkan atas naskah kamu dan naskah-naskah yang ditulis orang lain. Tapi kamu bisa mengambil manfaat dari koreksi mereka atas tulisan-tulisan yang mereka kritik.  Kamu akan bisa belajar banyak dari kesalahan-kesalahan orang lain.  Kamu bisa juga membentuk kelompok semacam ini secara online, atau bila kamu kesulitan, mengapa harus bingung ?  Kalo kamu sudah menjadi anggota komunitas penulis “Forum Penulis Kota Malang”, sering-seringlah datang setiap hari Sabtu dan Minggu pagi pukul 10.00 WIB di ruang arsip Gedung Perpustakaan Kota Malang, di situ komunitas penulis FPKM selalu mengadakan pertemuan rutin, acara bedah buku, diskusi buku dan banyak lagi kegiatan bermanfaat yang bisa dilakukan, salah satunya yaitu membahas naskah karya tulis para anggota sebelum diajukan ke penerbit atau media cetak. Jadi, tunggu apa lagi bergabunglah dengan komunitas ini, atau paling tidak kamu bisa meramaikan forum diskusi atau milis komunitas ini di internet.
7. Baca buku.
Buku-buku yang baik akan mengajarkan kepada kamu cara menyusun kalimat yang baik, cara menyampaikan informasi yang baik, dan cara menyusun cerita yang menarik.  Bacalah juga buku-buku di luar genre penulisan kamu. Jika kamu berminat menulis cerita remaja, akan baik juga kamu membawa buku-buku sastra yang kamu anggap rumit, misalnya. Setidaknya kamu akan mencoba memahami kenapa buku-buku tertentu mendapat penghargaan, sedangkan buku-buku lain malah dicaci.  Setiap penulis adalah orang-orang yang membuka diri terhadap segala kemungkinan.  Karena setiap hari ia memahami pekerjaannya sebagai sebuah proses belajar untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.
8. Sewa seorang editor atau literary agent.
Di negara-negara yang perbukuannya sudah maju, hal ini biasa dilakukan oleh penulis.  Mereka membayar editor yang mereka percayai. Para editor di sana banyak juga penulis-penulis yang baik, yang memahami betul bagaimana menyusun kalimat yang baik, mana kata yang lebih kuat untuk dipilih dan dia punya kepekaan untuk menemukan kesalahan-kesalahan, ketidakkonsistenan, atau kelemahan naskah yang ada di tangannya. Di Indonesia, pekerjaan editing di penerbitan-penerbitan umumnya merosot fungsinya hanya sebagai tukang koreksi salah ketik atau salah ejaan.
9. Begitu pentingkah editing naskah ?
Ya, sebab kamu harus selalu ingat bahwa salah satu yang akan mempercepat rusaknya kredibilitas  kamu adalah menghasilkan karya yang mengandung banyak kesalahan. Namun, ingat juga bahwa banyak yang bisa kamu lakukan untuk tidak membuat kesalahan-kesalahan seperti itu.

MENYIAPKAN COVER BUKU YANG MENARIK

Kata orang, jangan menilai buku dari covernya.  Kata orang, jangan sampai beli kucing dalam karung (atau buku, dalam hal ini). Tapi mau bagaimana lagi ? Begitu kita sampai di toko buku, perhatian kita pasti langsung tertuju pada buku dengan cover yang paling catchy (menarik).  Ini kenyataan : buku yang covernya bagus, mau gak mau punya lebih banyak kemungkinan untuk diangkat dibaca sinopsisnya, lalu akhirnya dibeli. Nah, ayo kita telusuri lebih jauh peran orang yang berupaya untuk membuat cover tersebut menjadi menarik.

Langkah-langkah desainer sampul (cover buku).
Orang yang bertanggung jawab atas desain sampul sebuah buku disebut desainer sampul.  Mereka sendiri punya tahapan-tahapan khusus untuk menghasilkan cover buku yang cocok dengan isi buku tersebut dan cukup komersil untuk memikat para calon pembeli.  Petama-tama, desainer sampul mendapatkan naskah buku yang akan mereka kerjakan covernya.  Mereka lalu membaca naskah tersebut, untuk mendapatkan gambaran tokoh-tokohnya, terutama karakter fisik.  Nah, kalau sudah, biasanya desainer sampul akan melakukan brainstorming atau proses pencarian ide.  Lalu setelah ide-ide tersebut disaring, desainer sampul kemudian membuat tiga buah desain sampul, dan penerbit memilih satu diantara tiga pilihan tersebut.  Baru deh, satu desain sampul terbaik ini mejeng di toko buku.  Namun, pada kenyataannya, desainer sampul sering bekerja tidak melewati tahapan-tahapan tersebut.  Apalagi kalau dikejar deadline.  Hal ini diakui oleh Jeffri Fernando, desainer sampul GagasMedia. “Normalnya (tahapannya) memang seperti itu. Tapi kalau deadlinenya mepet, harus ada yang di-skip (dilewati). Misalnya saja, kita bisa hanya membaca sinopsis aja.  Jika waktunya sudah mepet banget. Tapi kita juga harus tetap nanya ke editornya untuk mengetahui karakter tokohnya bagaimana. Biar kita bisa dapat feel-nya.” Salah satu musuh utama sewaktu membuat desain cover buku adalah minimnya inspirasi. Bete juga dong, lagi dikejar-kejar deadline, eh ide gak dateng juga. Jeffri sendiri mengaku pernah mengalami masa kering ide seperti ini. Dia berkata, “Kalau udah blank, biasanya gue nanya ke teman-teman. Kalau lagi bekerja trus blank, wah itu harus dipaksa terus.”

Pengalaman dipuji sama penulis buku terkenal.
Cerita menarik didapatkan dari Muhammad Taufik (eMTe), seorang designer grafis freelance yang sudah menangani berpuluh-puluh cover buku. Suatu waktu eMTe mendapatkan sebuket besar bunga dari Hotel Grand Hyatt Jakarta beserta kartu ucapan mungil berbunyi, “We want to congratulate you on how beautiful The Undomestic Goddes book jacket”. Ternyata, kartu tersebut dikirim oleh Sophie Kinsella dan agennya. Memang, cover The Undomestic Goddes yang asli hanya bergambar sebuah tas berisi perkakas rumah tangga. Tapi, di tangan eMTe, cover tersebut diubah menjadi gambar yang bisa membuat Sophie Kinsella, penulis buku “Confession of Shoppaholic” kagum. Rahasia eMTe dalam mengerjakan ilustrasi adalah memerhatikan jenis huruf atau font. Karena, sadar nggak sadar, jenis font juga sangat berpengaruh. Desainer cover itu memberikan contoh, misalnya, kita bikin cover untuk buku yang feminin, tapi dengan font yang di-bold, itu kan nggak pas juga. Tiap font punya mood-nya sendiri dalam pembuatan cover. Font merupakan elemen yang nggak bisa dipisahin dari pembuatan cover. Jadi unsur yang menarik juga. Bahkan ada beberapa buku yang hanya font aja.”  Ilustrator freelance pemenang Adikarya IKAPI 2005 untuk kategori ilustrasi terbaik ini sangat menyukai cover-cover buku Agatha Christie bikinan Dwi Koendoro (pengarang komik strip Panji Koming). Menurutnya, nuansa detektif yang diciptakan Dwi Koendoro sangat “kena”. eMTe berkata “[Ilustrasi Dwi Koen] Agak-agak sinematografis. Kalau ngeliat covernya dia, kayak ngeliat poster film deh.

Biar tidak mirip.
Ada juga beberapa buku yang covernya dibuat oleh penulisnya sendiri. Contohnya salah satu buku wajib baca remaja cewek zaman sekarang, “Lukisan Hujan” terbitan TerrantBooks (2006) karya Sitta Karina. Desain cover yang menggambarkan cowok cewek sedang melihat hujan di balik jendela itu dibuat oleh pengarangnya sendiri, Sitta Karina. Selain ilustrasi cover, Sitta juga membuat ilustrasi dalam buku tersebut. Alasan Sitta membuat ilustrasi cover-nya sendiri adalah agar cover-nya bisa sesuai dengan apa yang benar-benar dia inginkan. Ya wajar tho, bagaimanapun juga, penulis adalah orang yang paling tahu yang terbaik untuk bukunya. Ketika ditanya, Sitta menjawab, “Aku lebih seneng kalau aku sendiri yang membuat ilustrasi cover. Aku kan juga yang nulis, biar lebih pas. Kalau ilustratornya dari luar, nanti cover-nya mirip dengan buku remaja lain. Jadi, kenapa gak cobasendiri dulu ? Itung-itung ngasah kemampuan.  Sitta sendiri dari dulu memang sudah senang melukis. Mengenai teknik menggambar cover  Lukisan Hujan, Sitta mengaku cukup menggunakan spidol dan tinta cina warna hitam, lalu di-scan dan diwarnai di Photoshop. Sedangkan, untuk ilustrasi dalam, dia bikin semuanya menggunakan cat air. Sama seperti ilustrator lain, Sitta juga mulai mengerjakan desain sampul bukunya jika bukunya sudah rampung, atau paling tidak sudah mulai mendapatkan gambaran jelas atas jalan ceritanya.

Ternyata memang proses pembuatan cover sebuah buku adalah proses yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Makanya, ucapan “jangan menilai buku dari sampulnya” bisa diperdebatkan tuh. Coba bayangkan novel yang sampulnya jelek banget.  Bisa-bisa tidak akan dipegang sama sekali sama calon pembeli. Yah gimana mau dipegang ? Dilihat aja gak enak ! Makanya kalo kamu gape menggambar atau bikin ilustrasi kenapa gak nyoba bikin sendiri untuk cover buku kamu. Tapi kalo memang gak berbakat menggambar, ya pasrahkan semuanya pada penerbit buku yang bakal nerbitin buku kamu, OK !

MEMPUBLIKASI TULISAN

Apabila Anda berhasrat  mempublikasikan tulisan, jalan yang dapat Anda tempuh adalah :
1. Mengirim artikel kepada redaksi.
Artikel pendek berupa opini atau karya ilmiah populer dapat Anda kirim kepada redaksi surat kabar atau majalah yang punya misi sesuai. Biasanya surat kabar menyediakan opini publik. Supaya dimuat antara lain tulisan Anda harus aktual dan disajikan dalam bentuk padat dengan bahasa yang enak dibaca. Tulisan Anda pun seyogyanya menyangkut kepentingan terbesar pembaca. Di samping rubrik opini, surat kabar kini juga mempunyai rubrik khusus yang dapat diisi penulis luar, misalnya : arsitektur, rumah, elektronika, telekomunikasi, otomobil, dll. Karena surat kabar adalah bacaan umum, Anda perlu menyajikan tulisan dalam gaya lebih enteng atau tidak terlalu teknis. Anda pun perlu mengenal karakter atau corak suatu surat kabar atau majalah. Artikel politik tentu tidak cocok dikirimkan ke majalah remaja. Sedangkan karangan bertema anak-anak pun tidak sesuai ditujukan ke koran serius. Sementara tulisan bersifat ilmiah berat seharusnya Anda kirimkan kepada jurnal ilmiah sejenis untuk dipublikasikan.
2. Mengirim naskah kepada penerbit.
Naskah bakal buku dapat Anda kirimkan kepada sebuah penerbit. Pilihlah penerbit yang memiliki niat menerbitkan buku bertema sesuai dengan tema naskah Anda. Penerbit pun memiliki visi dan misi sendiri-sendiri. Ada penerbit umum yang menerbitkan semua jenis buku, ada penerbit yang cuma berkonsentrasi menggarap satu kategori buku, misalnya buku pelajaran sekolah atau religius saja.
3. Mengikuti sayembara.
Karya tulis dapat Anda kirimkan kepada panitianya bila memang ditulis dalam rangka mengikuti suatu sayembara.
4. Mencetak dan menerbitkan atas biaya sendiri.
Kalau Anda punya banyak duit, tentu sanggup mencetak dan menerbitkan karya atas biaya sendiri. Ini kondisi yang sangat ideal bagi mereka yang menjadi penulis fulltime.
5. Jangan berkecil hari bila tulisan Anda tidak dimuat dan dikembalikan. Sebab, kadang-kadang meskipun tulisan Anda cukup berbobot, surat kabar atau majalah memiliki keterbatasan ruang. Coba dan coba lagi saja sambil terus memperbaiki mutu tulisan Anda serta menyesuaikannya dengan visi dan misi penerbitan bersangkutan.

TIPS MENGIRIM NASKAH ARTIKEL KE MEDIA MASSA

Sebagai penulis tentunya kita dituntut untuk selalu produktif dalam menghasilkan berbagai karya tulisan, baik itu yang berupa cerita fiksi, atau bahkan tulisan yang sifatnya informatif, seperti artikel mengenai cara berkebun, artikel resep masakan, maupun artikel mengenai segala hal yang berhubungan dengan teknologi, misalnya saja artikel tentang berbagai tips dan pembahasan mengenai software komputer terkini.  Ingatlah bahwa tulisan kita bisa “dijual” dan bermanfaat bagi masyarakat secara luas.  Tentu kita tidak ingin bahwa tulisan dan naskah karya kita hanya menumpuk begitu saja di rumah, atau bahkan di hard disk komputer kita tanpa berdaya guna apa-apa.  Buat apa produktif kalau kita tidak bisa menghasilkan “uang”, sesuatu yang bisa sekedar menjadi insentif bagi kita untuk terus berkarya.  Memang segala kegiatan tulis menulis tidak sepenuhnya harus melulu bersangkut paut dengan uang, namun tentunya sebagai penulis kita juga membutuhkan penghasilan untuk dapat terus “hidup” dan “eksis” melalui tulisan-tulisan kita.  Honor yang kita dapat dari menulis selanjutnya bisa kita gunakan untuk berbagai keperluan riset, misalnya, atau paling tidak untuk membiayai pengeluaran “perangko” atau  untuk membiayai “ongkos mengirim artikel melalui internet di warnet”.  Oleh karena itulah, sedapat mungkin setiap naskah tulisan kita hendaknya berbobot, berkualitas dan bernilai “jual” sehingga bisa layak dimuat di berbagai media massa baik lingkup nasional maupun internasional.

Karena dewasa ini dunia internet sudah begitu akrab di kalangan para penulis dan banyak membantu dalam pengiriman naskah artikel dengan biaya yang lebih murah, cepat dan efisien, maka dalam artikel tips kali ini akan dimuat beberapa alamat e-mail redaksi media massa mulai dari surat kabar, tabloid hingga majalah.  Semoga alamat-alamat e-mail ini cukup berguna bagi para penulis yang ingin “mengadu nasib” mengirimkan naskah-naskah artikelnya.  Naskah artikel bisa dilampirkan sebagai file attachment (file lampiran) dalam e-mail yang kita kirim ke redaksi media massa.  Tentunya di e-mail yang kita kirim tersebut, sebaiknya kita berikan surat pengantar yang berisikan mengenai data pribadi kita, seperti nama, alamat, pendidikan terakhir penulis, minat dan spesialisasi penulis,  nomor telepon, alamat e-mail hingga nomor rekening bank untuk menampung honor dari media massa bila tulisan kita dimuat.  Biasanya kita baru akan menerima respon atau konfirmasi dimuat tidaknya karya tulis kita antara 1 hingga 2 bulan semenjak tanggal pengiriman naskah artikel.

JURUS AGAR TULISAN BISA MENEMBUS DAN DIMUAT OLEH MEDIA CETAK

Setiap orang bisa menulis. Untuk menjadi penulis yang baik, ketrampilan menulis harus terus menerus dilatih. Selanjutnya tetapkan tujuan, untuk apa menulis ? Untuk diri sendiri atau karya itu akan dipublikasikan agar dibaca banyak orang ? Supaya karya penulis bisa dipublikasikan, diperlukan jurus-jurus agar tulisan dimuat di media cetak. Apa saja ?

Faktor Teknis
1.  Gagasan. Gagasan bisa datang dari mana dan kapan saja karena sesungguhnya gagasan berserakan di mana-mana. Dari pengamatan, pengalaman, membaca, dsb. Untuk itu usahakan selalu membawa alat tulis ke mana saja. Bila memperoleh gagasan apalagi dalam kondisi ide “mengalir deras”, segera tulis ide-ide pokoknya. Hal ini untuk mencegah hilangnya gagasan. Dalam keadaan demikian kadang kecepatan tangan menulis tidak bisa mengimbangi kecepatan pikiran dengan seabreg gagasan yang lalu lalang.
2.  Kerangka karangan. Membuat kerangka karangan hanya untuk memudahkan penulis mengembangkan naskah. Setiap penulis mempunyai cara sendiri untuk membuat naskah, apakah membutuhkan kerangka karangan atau tidak. Tulis karangan yang disukai dan dikuasai saja karena akan lebih memudahkan penulis menuangkan gagasan secara utuh. Pengetahuan dasar penulis sering mempengaruhi mutu tulisannya.
3.  Penulis spesialis/generalis. Pada awalnya mungkin penulis pemula akan membuat tulisan yang bermacam-macam seperti opini, artikel, cerpen, puisi (penulis generalis). Tetapi semakin sering menulis, pikirannya akan semakin terasah dan mutu tulisannya akan meningkat. Lama kelamaan penulis akan menemukan ciri khas, karakter dan kekuatannya sendiri, apakah lebih kuat menulis artikel, cerpen, essai, dsb. Dengan menjadi penulis spesialis, kita akan lebih cepat diakui sebagai pakar di bidang tertentu.
4.  Pengiriman naskah. Ada baiknya pengiriman artikel pertama ke media dilakukan melalui pos sebagai salam perkenalan dengan menyertakan fotokopi identitas dan surat pengantar. Bila perlu, pengalaman menulis (jika sudah ada) dicantumkan untuk memperkuat pengakuan. Apabila sudah kenal redakturnya, pengiriman lewat surat elektronik (email) dapat dilakukan. Di zaman serba cepat sekarang ini, sesungguhnya tidak ada larangan mengirim artikel lewat e-mail, asalkan ada surat pengantar.

Faktor Non Teknis
1.  Karakter media. Masing-masing media mempunyai karakter. Ini berlaku untuk surat kabar harian, majalah dan tabloid. Penulis perlu memperhatikan, mengetahui dan memahami karakter tulisan di media menyangkut segmen pembaca, pilihan tema dan gaya bahasa. Caranya dengan mempelajari artikel-artikel yang sudah dimuat. Contoh : Tabloid Nova dan Nakita membidik para ibu rumah tangga dan keluarga. Majalah Femina membidik para lajang dan ibu rumah tangga menengah ke atas. Gaya bahasa resmi dipakai harian Kompas karena segmen pembacanya luas (nasional). Harian Kedaulatan Rakyat dan Jawa Pos yang merupakan koran daerah menyelaraskan gaya bahasa sesuai dengan kebudayaan setempat yang kadang menyelipkan bahasa daerah setempat.
2.  Kenali redakturnya. Bila memungkinkan, bicarakan dengan redaktur sebelum mengirim tulisan. Tanyakan tulisan macam apa yang layak dimuat dan tema apa yang diutamakan. Dari pembicaraan ini penulis dapat mengetahui selera redaktur terhadap naskah yang akan dimuat. Pergantian redaktur kadang mengubah selera tulisan yang dimuat.
3.  Kebijaksanaan redaksional. Penulis perlu mengetahui syarat-syarat mengirim naskah seperti panjang pendek tulisan, banyaknya karakter, ketentuan spasi, dsb.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan !
1.  Jangan menjiplak.
2.  Jangan mengirim tulisan yang sama ke banyak media.

Buku-buku yang disarankan untuk dibaca
Among Kurnia Ebo, Menulis Nggak Perlu Bakat, MU: 3 Books, Jakarta, 2005.
Andrias Harefa, Agar menulis Mengarang Bisa Gampang, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2002.
Bambang Trim, Saya Bermimpi Menulis Buku, Kolbu Publishing, Bandung, 2005.
Carmel Bird, Menulis dengan Emosi – Panduan Empatik Mengarang Fiksi, Kaifa, Bandung, 2001.
Caryn Mirriam-Goldberg, Daripada Bete Nuli Aja !, Kaifa, Bandung, 2003.
Edi Zaqeus, Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller, Gradien Book, Yogyakarta, 2005.
Hernowo, Mengikat Makna : Kiat-Kiat Ampuh untuk Melejitkan Kemauan Plus Kemampuan Membaca dan Menulis Buku, Kaifa, Bandung, 2001.
Jordan E. Ayan, Bengkel Kreativitas, Kaifa/Mizan, Bandung, 2002.
Josip Novakovich, Berguru kepada Sastrawan Dunia: Buku Wajib Menulis Fiksi, Kaifa, Bandung, 2003.
M. Arief Hakim, Kiat Menulis Artikel di Media dari Pemula Sampai Mahir, Nuansa Cendekia, Bandung, 2004.
Mark Levy, Menjadi Genius dengan Menulis, Kaifa/Mizan, Bandung.
Zaenuddin, H.M., Freelance Media – Cara Gampang Cari Uang, Milenia Populer, Jakarta, 2003.
dan lain-lain.

BACAAN ANJURAN LAINNYA
Majalah Matabaca, bulanan, Gramedia.
Majalah Bukune, Group Agromedia Pustaka.
Suplemen Ruang Baca, koran Tempo hari Minggu terakhir setiap bulan.
Pustakaloka, Kompas hari Sabtu III dan IV.
Rubrik Pustaka dan Selisik, Republika setiap hari Minggu.

Mailing List komunitas penulis yang lain :
penulisbestseller@yahoogroups.com
penulislepas@yahoogroups.com

Konsultasi (yang berhubungan dengan kepenulisan, penerbitan, dan sejenisnya):
Edy Zaqeus edzaqeus@yahoo.com atau edzaqeus@pembelajar.com

Buka Hati dan Mata
Ungkapkan dengan Kata
Kabarkan lewat Tinta
Untuk Berkarya
“Buku adalah teman yang paling setia. Dia selalu hadir saat susah dan senang. Cintai dan sayangilah dia”.

TIPS MENGIRIM NASKAH TULISAN

Sitta Karina, seorang penulis buku best seller, membagikan beberapa tips menulis dalam situsnya yaitu www.sittakarina.com.  Berikut beberapa tips yang sengaja disalin dari situs tersebut untuk menambah wawasan kalian sebagai penulis.
Kalian tentu ingin mengirim naskah tulisan kalian ke penerbit, namun tidak yakin apa saja yang sebaiknya disertakan agar naskah kalian memberi kesan pertama yang OK.  Agar naskah kalian memberi “first impression” yang bagus di mata Penerbit, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan !  Simak beberapa tips yang perlu kalian garis-bawahi berikut ini !
Dalam mengirim naskah, biasanya kalian menggunakan amplop coklat besar kan ? Nah, apa saja isi “amplop coklat” kalian ini:
1.Surat pengantar . Simpel, sopan, namun lugas. Kemukakan maksud dan tujuan kalian dengan mengirim naskah ke penerbit tersebut dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar , seperti yang diajarkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah perihal tata-cara mengirim surat formal. (Jangan memakai kata atau sapaan Dear Pak A, Regards, Thanks, dan lain-lain).
2.Cover page. Apa itu cover page ? Kalian bisa melihat contoh cover page di www.sittakarina.com.  Kebanyakan penulis di Indonesia tidak membuat ini, padahal ini adalah standar internasional dan sangat membantu si editor atau proofreader yang memeriksa naskah kalian.
3.Sinopsis . Sertakan synopsis cerita kalian; singkat, padat, jelas, dan menarik. Cukup ½ halaman kertas saja.
4.Naskah cerita .  Jilid biasa (lakban hitam) yang rapi dan ikuti ketentuan penulisan sesuai yg diminta penerbit (huruf, ukurannya, spasi, dll).
5.Proposal . Isinya adalah: garis besar cerita kalian tentang apa (maks. 5 kalimat), apa selling-point dari cerita kalian ini (buat dalam bentuk poin), serta kemukakan alasan kuat kalian “kenapa penerbit harus menerbitkan naskah kalian” (cukup 1 alasan). Gaya bahasa boleh kasual, tapi harus tetap sopan ya.   Contoh untuk penulisan selling-point sbb:
•Cerita saya dilatarbelakangi sejarah kerajaan Bali kuno yang digabung dengan kehidupan modern remaja masa kini. Unik, dan belum pernah ada sebelumnya di pasaran.
•Cerita saya juga bernuansa pop-culture dengan sentuhan sastra yang kini sedang digandrungi orang banyak.
•Dst.
6.Biodata singkat. Biasanya berisi: nama lengkap, alamat lengkap (+ kodepos), tempat/tanggal lahir, no. KTP/kartu pelajar, no. telpon rumah dan HP, Sekolah, minat/hobi, serta yang paling penting untuk dicantumkan—dan kalau ada—adalah prestasi yang pernah kalian raih sehubungan dengan tulis-menulis (misalnya: cerpen kalian pernah dimuat di majalah A, kalian pernah menang lomba bikin puisi atau novel di se-Jakarta Selatan, atau kalian pernah masuk 20 besar di lomba membuat fiksi remaja, dll).
7.Amplop kosong dan perangko balasan secukupnya . Apabila naskah kalian tidak diterima oleh penerbit (biasanya penerbit akan mengabari kalian paling lama dalam 3 bulan; apabila tidak, kalian dapat menelpon langsung untuk menanyakan), maka naskah tersebut tidak akan masuk tong sampah dan kembali lagi kalian… siap untuk dikirim ke penerbit lain yang—siapa tahu—akan menerimanya!
Dalam mem-print out naskah cerita kalian, jangan pernah gunakan tinta printer tipis atau yang sudah mau habis. Hal seperti itu malah akan membuat editor BT dan akhirnya malas baca naskah kalian.   Beri judul cerita kalian, maksimal sampai dengan 3 judul.
Tulis-menulis juga merupakan bisnis, jadi perlakukan secara professional, OK!

Mengais Rejeki dari Dunia Penulisan*
*) Berbagai ulasan, diskusi dan uraian ini disalin dari situs www.penulislepas.com

“Bisakah mengandalkan hidup dari menulis?” Pertanyaan seperti ini kerapkali diajukan kepada orang-orang yang berprofesi sebagai penulis. Umumnya, si penanya adalah orang yang ingin terjun ke dunia penulisan, tapi masih ragu dengan potensi materi yang akan ia peroleh. Dan, menjawab pertanyaan seperti ini ternyata tidak mudah. Sebab faktanya, banyak orang yang kaya dari menulis, namun banyak pula yang sebaliknya.
Maria Adelia (17 tahun) adalah contoh sosok penulis yang sukses dari segi materi. Siapa sangka, novel “Aku VS Sepatu Hak Tinggi” yang dikirimnya secara iseng-iseng ke Penerbit Gramedia, menjadi laku keras di pasaran. “Enggak nyangka, cetakan pertamanya laku hingga 10 ribu kopi,” ujarnya, sebagaimana dikutip harian Kompas, 16 Juli 2005.
Kini, novelnya ini sudah diangkat ke layar kaca, bahkan dijadikan sinetron berseri. Tentu, royalti pun membanjiri dompet Maria Adelia. Dalam sebulan, ia mendapat penghasilan kotor sekitar Rp 5 juta!
Kisah sukses lainnya dialami oleh Yanti Puspitasari (34 tahun). Dengan menjadi penulis skenario sejumlah sinetron (antara lain Kehormatan, Bidadari, dan Perkawinan Sedarah), ia dan suaminya dapat menikmati kehidupan yang layak. Namun karena mereka bekerja di rumah, banyak tetangga yang mengira mereka pengangguran dan dituduh memelihara tuyul. Pasalnya, mereka jarang ke luar rumah, tetapi punya mobil dan materi lain yang secara kasatmata bisa dilihat sebagai kekayaan, termasuk dua rumah di Nirwana Estat, Cibinong, Bogor (Kompas, 27 November 2005).

Dari kedua cerita di atas, apakah dapat dipastikan bahwa menjadi penulis merupakan pilihan yang amat menjanjikan dari segi materi? Ternyata tidak juga. Sebagai bahan perbandingan, coba simak penuturan Fira Basuki lewat blog pribadinya. Pengarang novel laris “Jendela Jendela” ini mengeluhkan, betapa sulitnya mengandalkan penghasilan dari menulis, khususnya di Indonesia. Di Amerika, menurutnya, profesi penulis mendapat penghargaan yang sama – dari segi finansial – seperti para aktor film. Penulis skenario pun dibayar amat mahal. Selain itu, dunia penulisan pun sudah menjadi industri. Ini ditandai dengan adanya agen penulis, maraknya ghost writer(*), dan sebagainya.
Berdasarkan info dari sejumlah pengamat, memang dunia penulisan di Indonesia tidak terlalu menjanjikan dari segi materi. “Kalau di Singapura, penulis bisa jadi jutawan,” ujar sastrawan Yanusa Nugroho dalam sebuah kesempatan, tahun 2005 lalu.
Sebagai gambaran, berikut disajikan contoh kasus tentang seorang penulis yang menerbitkan dua buku yang penjualannya biasa-biasa saja.

1. Buku A
Harga jual: Rp 35.000
Royalti: 10 % dari total penjualan
Masa pembayaran royalti: 6 bulan sekali, yakni Januari dan Juli.
Selama periode Januari – Juni 2005, jumlah eksemplar buku A yang terjual adalah 600 kopi. Maka, royalti yang diterima si penulis adalah:
[ ( Rp 35.000 X 600 kopi ) x royalti 10% ] – pajak 15 persen
= Rp 1.785.000

2. Buku B
Harga jual: Rp 45.000
Royalti: 10 % dari total penjualan
Masa pembayaran royalti: 6 bulan sekali, yakni Januari dan Juli.
Selama periode Januari – Juni 2005, jumlah eksemplar buku A yang terjual adalah 1.000 kopi. Maka, royalti yang diterima si penulis adalah:
[ ( Rp 45.000 X 1.000 kopi ) x royalti 10% ] – pajak 15 persen
= Rp 3.825.000

Jadi, penghasilan si penulis selama 6 bulan dari kedua bukunya adalah Rp 5.610.000.
Dengan kata lain, penghasilan rata-ratanya perbulan adalah Rp 935.000.

Jika si penulis tinggal di Jakarta, sudah menikah dan punya dua anak, cukupkah penghasilan sebesar itu untuk membiayai kebutuhan sehari-harinya?

Perlu dicatat pula, contoh di atas kebetulan menggunakan angka-angka yang cukup tinggi. Coba Anda hitung sendiri, jika buku si penulis hanya terjual 300 kopi selama 6 bulan, dan harga jualnya Rp 20.000 atau Rp 18.000 per eksemplar.

Dari gambaran di atas, kita kini memiliki gambaran, bahwa profesi penulis – secara umum – sebenarnya belum terlalu prospektif dari segi finansial. Ini adalah kondisi di Indonesia, bukan di negara-negara lain.
Memang, ada sebagian penulis yang bisa hidup berkecukupan dari menulis. Namun biasanya, orang yang bernasib seperti ini adalah:
1.Penulis yang buku-bukunya laris manis di pasaran, mungkin terjual hingga ribuan bahkan jutaan eksemplar. Bahkan pula, buku-bukunya diangkat menjadi film atau sinetron (ini sudah dialami oleh Hilman Hariwijaya).
2.Penulis skenario sinetron yang laris, karya-karyanya sering dipakai sebagai bahan cerita. Tapi sekadar info, menjadi penulis skenario sinetron kejar tayang bisa menimbulkan rasa stress tersendiri. Bagaimana tidak! Si penulis terus diburu deadline, sehingga harus sering lembur dan nyaris tak ada waktu untuk istirahat.
3.Penulis yang berwirausaha dari hobi mereka. Biasanya, potensi materi dari bidang ini cukup menjanjikan. Ada begitu banyak jenis pekerjaan yang bisa digarap; Mulai dari menjadi editor dan penerjemah freelance, mengerjakan company profile, hingga menggarap media internal bagi perusahaan besar.
4.Penulis yang telah menerbitkan puluhan buku. Mungkin hasil penjualan buku-bukunya biasa-biasa saja, sehingga royalti per buku hanya sedikit. Tapi karena ia telah menerbitkan banyak buku, total royalti yang ia peroleh per bulan bisa sangat besar.
Jika anda adalah penulis yang tidak memenuhi keempat kriteria di atas, jangan berkecil hati dulu. Tapi sebaiknya, jadikanlah menulis sebagai pekerjaan sampingan saja. Tentunya, Anda harus punya pekerjaan yang bisa diandalkan dari segi materi, misalnya menjadi karyawan pada perusahaan tertentu, atau membuka usaha di bidang lain.
Lagipula, materi atau finansial seharusnya bukanlah tujuan utama bagi seorang penulis. Ada tujuan-tujuan lain yang jauh lebih mulia. Misalnya, si penulis dapat menularkan ide, gagasan, dan prinsip hidup yang dianutnya kepada para pembaca. Jika yang “ditularkan” adalah nilai-nilai kebaikan, tentu si penulis merupakan manusia yang sangat bermanfaat bagi masyarakat luas.
Tentunya, setiap penulis akan senang jika ide-ide yang ia tuangkan lewat goresan penanya, diikuti dan diterapkan oleh para pembaca. Jika ini terjadi, kepuasan yang didapatkan tentu tak ternilai harganya.
Sebagai penutup, coba simak penuturan Yanusa Nugroho. Sastrawan yang satu ini punya prinsip hidup yang unik. “Saya punya dua tangan, yang kanan dan yang kiri. Tangan kanan saya gunakan untuk menulis karya sastra. Di sini, saya bebas berekspresi, tidak bisa diintervensi oleh siapa dan apapun. Dan saya tidak berorientasi uang. Sedangkan tangan kiri saya gunakan untuk mencari uang dari bidang penulisan.”
Yanusa pun menambahkan, ia pernah menjadi ghost writer untuk naskah pidato mantan Presiden BJ Habibie dan menulis naskah iklan produk-produk Netsle. Hasilnya sangat lebih dari lumayan.

Keterangan:
(*) Ghost writer adalah orang yang menulis naskah atas nama orang lain, misalnya seorang pejabat atau public figur. Si pejabat (dan sebagainya) biasanya tidak sempat menulis. Karena itu, ia menyewa orang lain (biasanya adalah orang yang sudah ia kenal dekat dan tahu persis karakter tulisan dan pola pikirnya) untuk menulis atas nama dia.

HASIL DISKUSI ONLINE MENGENAI ARTIKEL “Mengais Rejeki dari Dunia Penulisan”

A.Sudarmaji Hg Ed :
Kaya Sebagai Penulis Buku?
Tidak bisa dipungkiri pertanyaan itu memancing debat berkepanjangan.
Semua orang memiliki pengalaman, argumentasi dan sisi kebenarannya sendiri-sendiri.
Alih-alih memperpanjang debat yang selalu mendaratkan kita ke pantai pluralitas, akan lebih baik bila kita melihat sisi yang lebih mendasar bagaimana mempersiapkan diri  menjadi seorang penulis sebagai karir. Bukan menulis buku karena sedang ada mood, atau pelepas kesibukan rutin. Saya yakin kita bisa kaya dari menulis buku, asal tahu rahasianya. Saya berharap gagasan sharing berikut ini bisa menambah kekayaan nuansa kita dalam tema yang amat mulia ini. Tampaknya tulisan ini akan lebih pas bagi mereka yang akan menapaki karir sebagai penulis buku. Masa depan akan lebih cerah bila sejak dini kita sudah memiliki strategi bagaimana memaksimalkan diri sebagai penulis buku (yang kaya).
So, bagaimana bisa hidup layak (baca: kaya) sebagai seorang penulis?
Saya melihat setidak-tidak ada lima poin yang bisa kita renungkan. Here we go…
1. Menemukan kekuatan/usp:
Setiap (calon) penulis pasti memiliki kekuatannya sendiri. Pendidikan, pengalaman, latihan, karir menjadi batu loncatan untuk menemukan kekuatan pribadi sebagai seorang penulis. Dari poin pertama, muncullah tuntutan mengembangkan usp.
Keberanian dan keberhasilan menampilkan genre dan tema buku yang tidak akan bisa dimasuki oleh penulis lain jelas merupakan keunggulan kompetitif tersendiri. Masalahnya bagaimana kita menemukan usp ini?
2. Mencari link optimal
3. Pandai memilih pasar yang lapar
4. Menciptakan metode penulisan instan
5. Memosisikan diri sebagai penulis generalis
Sebagai calon penulis, saya menyarankan untuk merambah dunia kepenulisan dengan memfokuskan diri sebagai penulis generalis, tidak tergesa-gesa menerjunkan diri sebagai penulis spesialis. Tahap ini bisa berfungsi untuk menajamkan indera kepenulisan, merengkuh pengalaman dan pengetahuan sebanyak-banyaknya, mendeteksi kelemahan, menghimpun preferensiu dan mengembangkan kebebasan memilih ladang berkreasi.
Jika pertanyaan apakah penulis bisa kaya muncul, saya yakin, dengan menerapkan kelima poin di atas, kekayaan (kalau memang ini tujuan kita) tidak akan sulit diraih. Selamat menemukan usp Anda dan saya tunggu buku Anda;-)
Menulis atau habis/publish or perish…
Sudarmaji
Malang

B. Shofyankhasani  :
Dunia penulisan mungkin juga sama dengan dunia yang lain, apabila ditekuni tentu akan memberikan hasil yang pasti akan memuaskan . sehebat apapun kita ,dengan bidang yang kita hadapi ,apabila tidak ditekuni tentu hanya akan menjadikan sebuah profesi yang menjemukan . jadi setuju sekali dengan mas jonru . Bukankah Allah akan mengabulkan do’a hanya bagi orang-orang yang tekun..??

c. Irenia Vitrya Alyssa  (http://ezha-echa.tk ) :
Sebenarnya menulis itu adalah hobby dari seseorang.. menulis itu bisa menggambarkan suasana hati seseorang, menulis cerita juga bisa menghasilkan sesuatu. akan tetapi lebih baik jangan terlalu berharap dari hasi menulis. lebih baik dijadikan sekedar hobby saja.

D.Katrin suni  :
Ide yang terus berputar di kepala,sayang sekali bila tidak dituangkan
diatas kertas. Bentuk ekspresi diri yang jujur,idealisme,talenta,sekedar hobi atau apapun yang menghasilkan sebuah karya tulis berhak mendapatkan apresiasi. Seorang script writer ataupun penulis skenario drama akan merasa puas dan bangga bila karyanya dipentaskan. Seorang penulis artikel akan senang apabila tulisannya menjadi acuan bagi orang lain. Alhamdulillah, Sekarang ini ada bentuk lain apresiasi untuk para penulis,yaitu honorarium..
Mungkin kita merasa untuk para pemula atau untuk penulis tertentu nilainya tidak sebesar negara lain,terlalu sedikit untuk mengapresiasi sebuah karya.Mengapa tidak kita ciptakan sendiri?  Lewat situs ini,atau melalui mas Jonru,kalau tidak kita awali,siapa lagi ?

E.Yulyanto ( http://www.yulyanto.multiply.com )  :
Menulis adalah sebuah pekerjaan profesional, artinya jika ditekuni secara “total”, pasti bisa dijadikan sebagai sandaran hidup. Sudah banyak contoh Penulis yang berhasil, seperti Pramoedya Ananta Toer. Dia hidup dan bahkan bisa kaya hanya dari tulisannya saja dan tidak ada mata pencaharian lainnya.
Nama Andrea Hirata dan Habiburahman dan juga Pak Saderi adalah motivasi bagi para penulis yang ingin menyandarkan pendapatannya dari buku, pendapatan penulis-penulis tersebut berkisar antara satu sampai tiga milyard rupiah. Luar biasa besarnya kan?
Selain itu ada Fira Basuki (pengarang brownies yang sudah di angkat dalam layar lebar) yang setiap bukunya sangat laris karena selalu “best-seller” ataukah itu Jenar Mahesa Ayu ataukah Dee – Dee Lestari yang bukunya pernah sekali cetak sampai 50.000 – 90.000 eksemplar.
Nama-nama besar para penulis tersebut bisa dijadikan patokan bagi para penulis pemula yang ingin terjun dalam dunia tulis-menulis. Pekerjaan apapun bentuknya, jika dilaksanakan secara sungguh-sungguh (jangan lupa ber-doa dan ber-ikhtiar), Insya Allah akan membawah berkah bagi pekerjanya……..
F.Ketut  :
Dulu saya juga sempat bertanya seperti itu, apakah bisa mengandalkan finasial dari menulis ? Ketika pertamakali saya menekuni dunia jurnalis, saya masih tetap mengajar di sebuah PT sasta di Denpasar. Tapi karena banyak kesempatan yang saya dapatkan dari dunia kewartawanan, saya tidak bisa membagi waktu lagi mengambil dua kerjaan. Hasilnya, saya memutuskan untuk mengundurkan diri di kampus. Saya sempat berpikir dan ragu, apakah dari penghasilan sebagai wartawan cukup untuk hidup. Tapi karena saya menyukai dunia tulis menulis, saya pastikan tidak menyesal. Memang honor yang saya terima tidak seberapa, tapi saya merasa menjadi lebih bergairah dan mendapat wawasan luas setelah menjadi wartawan. Jadi saya tidak menyesal menekuni dunai jurnalis.
G.Angdaga :
Saya sangat setuju dengan pendapat saudara Shofyankhasani yang mengatakan bahwasanya suatu bidang pekerjaan, apabila ditekuni akan menghasilkan suatu keuntungan berupa materi, walaupun awalnya kita melakukannya bukan untuk itu.  Sepanjang pengamatan dan pengalaman saya, orang yang mendedikasikan dirinya pada  suatu bidang tertentu, hidupnya berkecukupan. Selain contoh-contoh penulis sukses yang rekan-rekan sebutkan, ada banyak contoh lain dalam bidang yang berbeda, yang bisa kita jadikan sebagai panutan. Misalnya pengalaman teman saya yang berprofesi sebagai tukang jahit pakaian.
Secara singkat saya akan menceritakan kesuksesan teman saya ini.Awalnya teman saya mendirikan usahanya dengan ala kadarnya, namun kini dirinya mampu mempekerjakan empat orang karyawan untuk membantunya. Selain itu dia sudah mampu membeli mobil dan menyewa tempat tinggal yang layak untuk dirinya sekaligus untuk menjalankan usahanya. Ketika saya menanyakan apa rahasia kesuksesannya, dia menjawab bahwa dirinya selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi pelanggannya.  Walupun memberikan yang terbaik itu harus mengorbankan keuntungannya. Contohnya pernah ia mendapati pelanggannya kecewa karena hasil jahitannya tidak sesuai dengan keinginan si pelanggan (teman saya pada saat itu tidak mengikuti trend atau mode pakaian pada saat itu), padahal si pelanggan telah membayar ongkos jahitannya.  Karena merasa bersalah, teman saya akhirnya bersedia mengganti hasil jahitannya tanpa si pelanggan harus membayar ongkos penggantinya termasuk kain yang dipesan pelanggannya. Pengalaman inilah yang mengajarkan teman saya ini bahwa dirinya harus selalu mengikuti trend pakaian saat ini, agar hasil jahitannya tidak monoton. Bahkan teman saya pernah membuat pakaian dengan mode hasil kreatifitasnya sendiri, dan ternyata disukai oleh pelanggannya. Ketekunannya untuk selalu kreatif dalam menjalankan usahanya inilah yang akhirnya membuat teman saya hidup berkecukupan. Begitu juga halnya dengan pekerjaan menulis, saya yakin apabila kita menekuninya dengan sungguh-sungguh dan disertai dengan kreatifitas, maka akan mendatangkan keuntungan berupa materi.
Sebagai masukan, saya pernah membaca sebuah buku mengenai tips dan trik menjadi penulis yang sukses (maaf, saya lupa nama penulisnya, penulisnya berasal dari negara Amerika serikat), penulis menemukan fakta bahwasanya manusia sangat menyukai hal-hal yang praktis (instan atau cepat) dan tidak menyukai sesuatu yang bertele-tele. Oleh sebab itu diciptakanlah teknologi-teknologi untuk mempermudah pekerjaan manusia.
Sama halnya dengan membaca buku. Hasil surveynya mengatakan bahwasanya pembaca cenderung lebih menyukai buku yang tipis walupun bersambung daripada membaca buku yang tebal tapi langsung tamat. Itu sebabnya kita sering menemukan buku berjudul sama tapi edisi-nya berbeda (ada edisi ke satu dan ada edisi ke dua, atau ada edisi pemula dan ada edisi lanjutan).
Demikianlah pendapat saya ini, apabila ada kata-kata yang saya yang salah saya mohon maaf dan kepada Allh SWT saya mohon ampun.
H. Qahar  ( http://qah4r.blogspot.com )    :
Sebelum kaya, bisa menulis buku kemudian diterbitkan saja sudah senang rasanya. Mungkin, untuk seorang mahasiswa seperti saya, menulis menjadi suatu impian yang idealis. Membagi ide dan pengetahuan dengan pembaca. Membuka dan terbuka untuk menerima kritikan tentang ide-ide kita sendiri.
Akan tetapi tidak dapat dipungkiri, bahwasanya reward berupa uang-pun sering diharapkan. Biasanya saya semakin rajin nulis, untuk di kirim ke koran meskipun jarang dimuat, kalo dah hampir akhir bulan. Saat-saat keuangan mulai menipis.
Menjadi penulis memang suatu tantangan, terlebih memberikan tulisan yang dibutuhkan oleh kondisi saat ini. Tidak hanya tantangan dalam ide tapi juga dalam diri sendiri yang kadang2 ga bisa fokus. Sementara, cukup banyak penulis yang serius namun tidak cukup mendapatkan ruang hingga dapat dibaca oleh masyarakat. Akan tetapi menurut saya, penulis tetaplah penulis. Ia kaya karena tiap susunan kata yang dituliskannya, karena sejarah akan mengenang namanya. Karena dimasa depan, sadar ataupun tidak, zaman dibentuk diatas pilar-pilar ide-nya.
I. Delzacca  (  http://delryo.blogspot.com ) :
Sekarang dunia menulis bagi saya masih sebatas media menumpahkan ide-ide yang terus bermunculan manakala ada kejadian, berita atau apapun yang ‘mengganggu’ pikiran saya. Karena itu, ada orang yang sudi membaca dan mengomentarinya saja suatu kebahagiaan bagi saya. Yang berarti tulisan saya dihargai.
Tapi jika tulisan saya suatu hari nanti ada yang ‘menghargai’ dalam arti materi, tentunya saya akan lebih serius menjalaninya tidak hanya sebatas menumpahkan ide. Karena saya yakin sesuatu yang dilakukan dengan serius pasti akan mendapatkan penghargaan yang lebih.
J. bsetiawan55   (  http://360.yahoo.com/bsetiawan55 ):
Menurut saya jalan keluar dari persoalan ini adalah meningkatkan jumlah copy yang terjual. Dalam perhitungan di atas, diasumsikan hanya 500 dan 1000 copy saja.
Kalau sumber persoalannya di dalam diri kita, artinya kita harus meningkatkan kualitas tulisan kita. Atau, kita harus lebih mendekati apa yang diinginkan oleh pembaca. Dengan demikian bisa diharapkan lebih banyak lagi orang yang membeli buku tulisan kita. Bisa juga persoalannya ada di luar kendali kita. Misalnya, sudah cukup menyebarkah toko buku kita? Mal dan plaza memang dibangun di mana-mana. Tapi apakah selalu ada toko buku disana? Belum tentu. Jadi bagaimana masyarakat mau beli buku, kalau tidak ada toko buku dalam jangkauan mereka.
Saya pernah berkunjung ke kota Pekalongan yang katanya banyak menghasilkan orang pinter. Tapi saya punya kesan disana tidak banyak tersedia toko buku yang serius. Seorang penjaga satu toko buku menjelaskan bahwa ada toko buku lain di jalan Anu. Lalu saya bilang bahwa saya perlu peta kota Pekalongan supaya saya bisa mencapai toko buku lain itu. Dan ternyata peta kota pun tidak ada. Itu mengenai pasar di dalam negeri. Sebenarnya kita juga bisa menggarap pasar luar negeri. Sebagaimana diketahui di negara Malaysia, Brunei dan Singapura terdapat populasi penduduk Melayu berpenghasilan besar, dalam jumlah yang cukup banyak. Tetapi tentu bahasa yang dipakai untuk menulis harus lebih cenderung ke bahasa daerah di Sumatera, bukan cenderung ke bahasa daerah di P. Jawa. Bahasa daerah di P. Sumatera lebih mirip dengan bahasa Melayu yang dipakai di ketiga negara tetangga itu.

TATA CARA DAN PROSEDUR MENDAFTARKAN HAK CIPTA – Untuk Karya Novel dan Karya Tulis Lainnya

Sebagai seorang penulis, Anda tentu ingin agar karya tulis Anda bisa diterbitkan oleh perusahaan penerbit dan buku karya tulis Anda beredar secara luas dan dibaca oleh banyak orang serta Anda bisa memperoleh perlindungan dalam hal hak cipta.  Untuk itulah Anda perlu tahu tentang bagaimana sih prosedur dan tata cara pengurusan hak cipta guna melindungi karya tulis Anda dari bahaya pembajakan.  Berikut ini tulisan dari salah seorang penulis anggota Forum Penulis Kota Malang yang ingin berbagi pengalamannya dengan Anda.

Tahapan pendaftaran hak cipta:
1. Pembayaran permohonan hak cipta atas karya sebesar Rp.75.000,- melalui transfer ke no rekening BNI 19718067 a/n DITJEN HAKI. Bukti tranfernya difoto copy
2. Legalisir foto copy ktp dua lembar
3. Bila anda menggunakan nama samaran dalam karya anda sertakan surat pernyataan bahwa anda menggunakan nama samaran dan cantumkan juga nama asli anda sesuai ktp
4. Bila anda mencantumkan foto dalam karya anda sertakan surat pernyataan bahwa anda
5. Kunjungi situs www.DGIP.GO.ID  klik hak cipta dan print out formulir pendaftaran lalu isi lengkap formulir (diketik)
6. Print out karya anda sebanyak dua kali ( jilid buku) dan simpan karya juga data diri anda dalam bentuk cd sebanyak dua buah cd
7. Kirimkan persyaratan dibawah ini kepada :

DITJEN HAKI (Untuk Direktur Hak Cipta)
Jl. Daan Mogot KM 24 Tanggerang 15119 Banten
Catatan : Hak cipta secara resmi baru bisa dikeluarkan setelah 9 bulan semenjak pendaftaran.

Persyaratan yang dikirimkan:
1. Foto copy transfer bukti pembayaran satu lembar
2. Legalisir foto copy ktp dua lembar
3. Surat pernyataan penggunaan nama samaran
4. Surat izin penggunaan foto (jika mencantumkan foto dalam karya anda)
5. Formulir pendaftaran rangkap dua
6. Dua lembar print out karya
7. Dua buah cd berisi file karya dan data diri anda

Tata cara penerbitan :
· Daftar karya anda ke hak cipta
· Kirimkan karya ke penerbit yang berisi:
· Print out satu lembar dan satu buah CD berisi :
1. Naskah
2. Biodata
3. Kata pengantar/special to (jika ada)

Tanya Jawab mengenai Hak Cipta*
*) Tulisan ini disadur dari situs www.dgip.go.id

Kekayaan Intelektual = Hak Cipta

Apakah Hak Cipta itu ?
Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi pencipta maupun penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya maupun memberi izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut perundang-undangan yang berlaku.

Apakah yang dimaksud dengan pengumuman?
Pengumuman adalah pembacaan, penyiaran, pameran, penjualan, pengedaran, atau penyebaran suatu ciptaan dengan menggunakan alat apapun, termasuk media internet, atau melakukan dengan cara apapun sehingga suatu ciptaan dapat di baca, didengar atau dilihat orang lain.

Apakah yang dimaksud dengan perbanyakan?
Perbanyakan adalah penambahan jumlah suatu ciptaan baik secara keseluruhan maupun bagian yang sangat substansial dengan menggunakan bahan-bahan yang sama ataupun tidak sama, termasuk pengalihwujudan secara permanen atau temporer.

Apakah yang dimaksud dengan pencipta?
Yang dimaksud dengan pencipta adalah :
Seorang atau beberapa orang secara bersama-sama yang atas inspirasinya lahir suatu ciptaan berdasarkan kemampuan pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan atau keahlian yang dituangkan dalam bentuk yang khas dan bersifat pribadi.

Siapakah yang dianggap sebagai pencipta atau pemegang hak cipta terhadap suatu ciptaan?
1. Jika suatu ciptaan terdiri dari beberapa bagian tersendiri yang diciptakan dua orang atau lebih maka yang dianggap sebagai pencipta ialah orang yang memimpin serta mengawasi penyelesaian seluruh ciptaan itu, atau jika tidak ada orang itu, yang dianggap sebagai pencipta ialah orang yang menghimpunnya, dengan tidak mengurangi hak cipta masing-masing atas bagian ciptaannya.
2. Jika suatu ciptaan yang dirancang seseorang, diwujudkan dan dikerjakan oleh orang lain di bawah pimpinan dan pengawasan orang yang merancang, maka penciptanya adalah orang yang merancang ciptaan itu.
3. Jika suatu ciptaan dibuat dalam hubungan dinas dengan pihak lain dalam lingkungan pekerjaannya, pemegang hak cipta adalah pihak yang untuk dan dalam dinasnya ciptaan itu dikerjakan, kecuali ada perjanjian lain antara kedua pihak dengan tidak mengurangi hak pembuat sebagai penciptanya apabila penggunaan ciptaan itu diperluas keluar hubungan dinas.
Ketentuan tersebut berlaku pula bagi ciptaan yang dibuat pihak lain berdasarkan pesanan yang dilakukan dalam hubungan dinas.
4. Jika suatu ciptaan dibuat dalam hubungan kerja atau berdasarkan pesanan, maka pihak yang membuat karya cipta itu dianggap sebagai pencipta dan pemegang hak cipta, kecuali apabila diperjanjikan lain antara kedua pihak.
5. Jika suatu badan hukum mengumumkan bahwa ciptaan berasal daripadanya dengan tidak menyebut seseorang sebagai penciptanya, maka badan hukum tersebut dianggap sebagai penciptanya, kecuali jika dibuktikan sebaliknya.

Apakah yang dimaksud dengan pemegang hak cipta?
Pemegang hak cipta adalah pencipta sebagai pemilik hak cipta atau pihak yang menerima hak tersebut dari pencipta atau pihak lain yang menerima lebih lanjut hak dari pihak tersebut di atas.

Apakah yang dimaksud dengan ciptaan?
Ciptaan adalah hasil setiap karya pencipta yang menunjukkan keasliannya dalam lapangan ilmu pengetahuan, seni atau sastra.
Apakah suatu ciptaan perlu didaftarkan untuk memperoleh perlindungan hak cipta?
Perlindungan suatu ciptaan timbul secara otomatis sejak ciptaan itu diwujudkan dalam bentuk yang nyata.Pendaftaran ciptaan tidak merupakan suatu kewajiban untuk mendapatkan hak cipta. Namun demikian, pencipta maupun pemegang hak cipta yang mendaftarkan ciptaannya akan mendapatkan surat pendaftaran ciptaan yang dapat dijadikan sebagai alat bukti awal di pengadilan apabila timbul sengketa di kemudian hari terhadap ciptaan tersebut.

Apakah yang dimaksud dengan pelaku?
Pelaku adalah aktor, penyanyi, pemusik, penari atau mereka yang menampilkan, memperagakan, mempertunjukkan, menyanyikan, menyampaikan, mendeklamasikan atau memainkan suatu karya musik, drama, tari, sastra, foklor atau karya seni lainnya.

Apakah yang dimaksud dengan produser rekaman suara?
Produser rekaman suara adalah orang atau badan hukum yang pertama kali merekam dan memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan perekaman suara atau perekaman bunyi, baik perekaman dari suatu pertunjukan maupun perekaman suara atau perekaman bunyi lainnya.

Apakah yang dimaksud dengan lembaga penyiaran?
Lembaga penyiaran adalah organisasi penyelenggara siaran yang berbentuk badan hukum, yang melakukan penyiaran atas suatu karya siaran dengan menggunakan transmisi dengan atau tanpa kabel atau melalui sistem elektromagnetik.

Apakah lisensi itu?
Lisensi adalah izin yang diberikan oleh pemegang hak cipta atau pemegang hak terkait, kepada pihak lain untuk mengumumkan dan/atau memperbanyak ciptaannya atau produk hak terkaitnya dengan persyaratan tertentu.

Apakah dewan hak cipta itu dan apa tugasnya?
Dewan hak cipta adalah dewan yang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden berdasarkan usulan Menteri Kehakiman yang memberikan penyuluhan, bimbingan dan pembinaan tentang hak cipta. Dewan ini anggotanya terdiri atas wakil pemerintah, wakil organisasi profesi, dan anggota masyarakat yang memiliki kompetensi di bidang hak cipta.

Sebutkan dasar perlindungan hak cipta!
Undang-undang Hak Cipta (UUHC) pertama kali diatur dalam Undang-undang No.6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta. Kemudian diubah dengan Undang-undang No.7 Tahun 1987. Pada tahun 1997 diubah lagi dengan Undang-undang No.12 Tahun 1997. Di tahun 2002, UUHC kembali mengalami perubahan dan diatur dalam Undang-undang No. 19 Tahun 2002.Beberapa peraturan pelaksana yang masih berlaku yaitu :
· Peraturan Pemerintah RI No.14 Tahun 1986 Jo Peraturan Pemerintah RI No.7 Tahun 1989 tentang Dewan Hak Cipta;
· Peraturan Pemerintah RI No.1 Tahun 1989 tentang Penerjemahan dan/atau Perbanyak Ciptaan untuk Kepentingan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, Penelitian dan Pengembangan;
· Keputusan Presiden RI No.18 Tahun 1997 tentang Pengesahan Berne Convention For The Protection of Literary and Artistic Works;
· Keputusan Presiden RI No.19 Tahun 1997 tentang Pengesahan WIPO Copyrights Treaty;
· Keputusan Presiden RI No.17 Tahun 1988 tentang Pengesahan Persetujuan Mengenai Perlindungan Hukum Secara Timbal Balik Terhadap Hak Cipta atas Karya Rekaman Suara antara Negara Republik Indonesia dengan Masyarakat Eropa;
· Keputusan Presiden RI No.25 Tahun 1989 tentang Pengesahan Persetujuan Mengenai Perlindungan Hukum Secara Timbal Balik Terhadap Hak Cipta antara Republik Indonesia dengan Amerika Serikat;
· Keputusan Prcsiden RI No.38 Tahun 1993 tentang Pengesahan Persetujuan Mengenai Perlindungan Hukum Secara Timbal Balik Terhadap Hak Cipta antara Republik Indonesia dengan Australia;
· Keputusan Presiden RI No.56 Tahun 1994 Mengenai Perlindungan Hukum Secara Timbal Balik Terhadap Hak Cipta antara Republik Indonesia dengan Inggris;
· Peraturan Menteri Kehakiman RI No. M.01-HC.O3.01 Tahun 1987 tentang Pendaftaran Ciptaan;
· Keputusan Menteri Kehakiman RI No. M.04.PW.07.03 Tahun 1988 tentang Penyidikan Hak Cipta;
· Surat Edaran Menteri Kehakiman RI No. M.01.PW.07.03 Tahun 1990 tentang Kewenangan Menyidik Tindak Pidana Hak Cipta;
· Surat Edaran Menteri Kehakiman RI No. M.02.HC.03.01 Tahun 1991 tentang Kewajiban Melampirkan NPWP dalam Permohonan Pendaftaran Ciptaan dan Pencatatan Pemindahan Hak Cipta Terdaftar.

Apakah hak cipta itu dapat dialihkan?
Hak cipta dapat dialihkan baik seluruhnya maupun sebagian karena :
· pewarisan;
· hibah;
· wasiat;
· perjanjian tertulis; atau
· sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan.

Ciptaan apa saja yang dilindungi oleh UUHC?
Ciptaan yang dilindungi ialah ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra yang meliputi karya :
· buku, program komputer, pamflet, susunan perwajahan(lay out) karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lain;
· ceramah, kuliah, pidato dan ciptaan lain yang sejenis dengan itu;
· alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan;
· ciptaan lagu atau musik dengan atau tanpa teks;
· drama atau drama musikal, tari, koreografi, pewayangan dan pantomim;
· seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir, seni kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase dan seni terapan;
1. arsitektur;
2. peta;
3. seni batik;
4. fotografi;
5. sinematografi;
6. terjemahan, tafsiran, saduran, bunga rampai dan karya lainnya dari hasil pengalihwujudan.

Bagaimanakah hak cipta atas hasil kebudayaan rakyat atau atas ciptaan yang tidak diketahui penciptanya?
· Negara memegang hak cipta atas karya peninggalan prasejarah, sejarah dan benda budaya nasional lainnya;
· Negara memegang hak cipta atas folklor dan hasil kebudayaan rakyat yang menjadi milik bersama seperti cerita, hikayat, dongeng, legenda, babad, lagu, kerajinan tangan, koreografi, tarian, kaligrafi dan karya seni lainnya.

Bagaimana posisi Indonesia di bidang hak cipta di dunia internasional?
Indonesia saat ini telah meratifikasi konvensi international di bidang hak cipta, yaitu :
· Berne Convention tanggal 7 Mei 1997 dengan Keppres No.18 Tahun 1997 dan dinotifikasikan ke WIPO pada tanggal 5 Juni 1997, Berne Convention tersebut mulai berlaku efektif di Indonesia pada tanggal 5 September 1997;
· WIPO Copyrights Treaty (WCT) dengan Kepres No. 19 Tahun 1997.
Kini, pemerintah Indonesia tengah mempersiapkan peratifikasian WIPO Performances and Phonogram Treaty (WPPT) 1996.

Hak Moral dan Hak Ekonomi
Apakah yang dimaksud dengan hak moral dan hak ekonomi atas suatu ciptaan?
Hak moral adalah hak yang melekat pada diri pencipta atau pelaku yang tidak dapat dihilangkan atau dihapus dengan alasan apapun, walaupun hak cipta atau hak terkait telah dialihkan.
Hak ekonomi adalah hak hak untuk mendapatkan manfaat ekonomi atas ciptaan serta produk hak terkait.
Apakah yang dimaksud dengan hak terkait?
Hak terkait adalah hak eksklusif yang berkaitan dengan hak cipta yaitu hak eksklusif bagi pelaku untuk memperbanyak atau menyiarkan pertunjukkannya; bagi produser rekaman suara untuk memperbanyak atau menyewakan karya rekaman suara atau rekaman bunyinya; dan bagi lembaga penyiaran untuk membuat, memperbanyak atau menyiarkan karya siarannya.

Jangka Waktu Perlindungan
Berapa lama perlindungan atas suatu ciptaan?
Hak cipta atas ciptaan:
· buku, pamflet, dan semua hasil karya tulis lain;
· drama atau drama musikal, tari, koreografi;
· segala bentuk seni rupa, seperti seni lukis, seni patung dan seni pahat;
· seni batik;
· lagu atau musik dengan atau tanpa teks;
· arsitektur;
· ceramah, kuliah pidato dan ciptaan sejenis lain;
· alat peraga;
· peta;
· terjemahan, tafsir, saduran dan bunga rampai;
berlaku selama hidup pencipta dan terus berlangsung hingga 50 (lima puluh) tahun setelah pencipta meninggal dunia. Jika dimiliki 2 (dua) orang atau lebih, hak cipta berlaku selama hidup pencipta yang meninggal dunia paling akhir dan berlangsung hingga 50 (lima puluh) tahun sesudahnya.

Hak cipta atas ciptaan:
· program komputer, sinematografi, fotografi, database, karya hasil pengalihwujudan berlaku selama 50(lima puluh) tahun sejak pertama kali diumumkan;
· Perwajahan karya tulis yang diterbitkan berlaku selama 50(lima puluh) tahun sejak pertama kali diterbitkan;
Jika hak cipta atas ciptaan tersebut di atas dimiliki atau dipegang oleh suatu badan hukum, hak cipta berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak pertama kali diumumkan.

Hak cipta yang dimiliki/dipegang oleh Negara berdasarkan:
· Pasal 10 ayat (2) UUHC berlaku tanpa batas waktu;
· Pasal 11 ayat (1) dan ayat (3) UUHC berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak pertama kali diterbitkan.

Pendaftaran Ciptaan
Ciptaan apakah yang tidak dapat didaftarkan?
· ciptaan di luar bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra;
· ciptaan yang tidak orsinil;
· ciptaan yang tidak diwujudkan dalam suatu bentuk yang nyata;
· ciptaan yang sudah merupakan milik umum;

Bagaimana syarat-syarat permohonan pendaftaran ciptaan?
(Bagan Prosedur Permohonan Pendaftaran Hak Cipta maupun Format isian Formulir Pendaftaran , bisa dilihat di halaman lampiran majalah digital Forum Penulis Kota Malang / FPKM E-zine Edisi Januari 2007 yang bisa didownload di halaman download majalah digital FPKM).
· Mengisi formulir pendaftaran ciptaan rangkap dua (formulir dapat diminta secara cuma-cuma pada kantor Ditjen HKI), lembar pertama dari formulir tersebut ditandatangani di atas meterai Rp. 6.000,- (enam ribu rupiah);
· Surat permohonan pendaftaran ciptaan mencantumkan:
1. nama, kewarganegaraan dan alamat pencipta;
2. nama, kewarganegaraan dan alamat pemegang hak cipta; nama, kewarganegaraan dan alamat kuasa; jenis dan judul ciptaan;
3. tanggal dan tempat ciptaan diumumkan untuk pertama kali;
4. Uraian ciptaan rangkap 3;
· Surat permohonan pendaftaran ciptaan hanya dapat diajukan untuk satu ciptaan;
· Melampirkan bukti kewarganegaraan pencipta dan pemegang hak cipta berupa fotocopy KTP atau paspor;
· Apabila pemohon badan hukum, maka pada surat permohonannya harus dilampirkan turunan resmi akta pendirian badan hukum tersebut;
· Melampirkan surat kuasa, bilamana permohonan tersebut diajukan oleh seorang kuasa, beserta bukti kewarganegaraan kuasa tersebut;
· Apabila permohonan tidak bertempat tinggal di dalam wilayah RI, maka untuk keperluan permohonan pendaftaran ciptaan ia harus memiliki tempat tinggal dan menunjuk seorang kuasa di dalam wilayah RI;
· Apabila permohonan pendaftaran ciptaan diajukan atas nama lebih dari seorang dan atau suatu badan hukum, maka nama-nama pemohon harus ditulis semuanya, dengan menetapkan satu alamat pemohon;
1. Apabila ciptaan tersebut telah dipindahkan, agar melampirkan bukti pemindahan hak;
2. Melampirkan contoh ciptaan yang dimohonkan pendaftarannya atau penggantinya;
3. Membayar biaya permohonan pendaftaran ciptaan sebesar Rp. 75.000, khusus untuk permohonan pendaftaran ciptaan program komputer sebesar Rp. 150.000;
Dalam hal apa suatu pendaftaran ciptaan dinyatakan hapus?
Dalam Pasa1 44 UUHC disebutkan bahwa kekuatan hukum dari suatu pendaftaran ciptaan hapus karena:
· penghapusan atas permohonan orang, suatu badan hukum yang namanya tercatat sebagai pencipta atau pemegang hak cipta;
· lampau waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29, 30, dan 31 dengan mengingat Pasal 32;
· dinyatakan batal oleh putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

Pelanggaran Hak Cipta
Perbuatan apa yang dimaksud dengan pelanggaran hak cipta?
Suatu perbuatan dapat dikatakan sebagai suatu pelanggaran hak cipta apabila perbuatan tersebut melanggar hak eksklusif dari pencipta atau pemegang hak cipta.
Perbuatan apa yang tidak dianggap sebagai pelanggaran hak cipta?
Tidak dianggap sebagai pelanggaran hak cipta, hal-hal sebagai berikut:
· Pengumuman dan/atau perbanyakan Lambang Negara dan Lagu Kebangsaan menurut sifatnya yang asli;
· Pengumuman dan/atau perbanyakan segala sesuatu yang diumumkan dan/atau diperbanyak oleh atau atas nama pemerintah, kecuali jika hak cipta itu dinyatakan dilindungi, baik dengan peraturan perundang-undangan maupun dengan pernyataan pada ciptaan itu sendiri atau ketika ciptaan itu diumumkan dan/atau diperbanyak; atau
· Pengambilan berita aktual baik seluruhnya maupun sebagian dari kantor berita, lembaga penyiaran dan surat kabar atau sumber sejenis lain, dengan ketentuan sumbernya harus disebutkan secara lengkap.
· Dengan syarat bahwa sumbernya harus disebutkan atau dicantumkan :
1. Penggunaan ciptaan pihak lain untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah dengan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari pencipta;
2. Pengambilan ciptaan pihak lain, baik seluruhnya maupun sebagian, guna keperluan:
· pembelaan di dalam atau di luar pengadilan;
· ceramah yang semata2 untuk tujuan pendidikan dan ilmu pengetahuan;
· pertunjukan atau pementasan yang tidak dipungut bayaran dengan ketentuan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari pencipta.
3. Perbanyakan suatu ciptaan bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra dalam huruf braille guna keperluan para tunanetra, kecuali jika perbanyakan tersebut bersifat komersial;
4. Perbanyakan suatu ciptaan selain program komputer, secara terbatas dengan cara atau alat apapun atau proses yang serupa oleh perpustakaan umum, lembaga ilmu pengetahuan atau pendidikan dan pusat dokumentasi yang bersifat non komersial semata-mata untuk keperluan aktifitasnya;
5. Perubahan yang dilakukan berdasarkan pertimbangan pelaksanaan teknis atas karya arsitektur, seperti ciptaan bangunan;
6. Pembuatan salinan cadangan suatu program komputer oleh pemilik program komputer yang dilakukan semata-mata untuk digunakan sendiri.
Apakah yang dapat pencipta atau pemegang hak cipta lakukan jika ada pihak yang melakukan pelanggaran ?
· Mengajukan permohonan Penetapan Sementara ke Pengadilan Niaga dengan menunjukkan bukti-bukti kuat sebagai pemegang hak dan bukti adanya pelanggaran Penetapan Sementara ditujukan untuk :
1. mencegah berlanjutnya pelanggaran hak cipta, khususnya mencegah masuknya barang yang diduga melanggar hak cipta atau hak terkait ke dalam jalur perdagangan, termasuk tindakan importasi;
2. menyimpan bukti yang berkaitan dengan pelanggaran hak cipta atau hak terkait tersebut guna menghindari terjadinya penghilangan barang bukti.
· Mengajukan gugatan ganti rugi ke pengadilan niaga atas pelanggaran hak ciptanya dan meminta penyitaan terhadap benda yang diumumkan atau hasil perbanyakannya.
Untuk mencegah kerugian yang lebih besar, hakim dapat memerintahkan pelanggar untuk menghentikan kegiatan pengumuman dan/atau perbanyakan ciptaan atau barang yang merupakan hasil pelanggaran hak cipta (putusan sela).
· Melaporkan pelanggaran tersebut kepada pihak penyidik POLRI dan/atau PPNS DJHKI.
Bagaimana pengaturan tentang ketentuan pidana dalam undang-undang hak cipta ?
Tindak pidana bidang hak cipta dikategorikan sebagai tindak kejahatan dan ancaman pidananya diatur dalam Pasal 72 yang bunyinya :
· Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah);
· Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidanan penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah);
· Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak memperbanyak penggunaan untuk kepentingan komersial suatu program komputer dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah);
· Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 17 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah);
· Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 19 atau Pasal 49 ayat (3) dipidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah);
· Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 24 atau Pasal 55 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah);
· Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 25 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah);
· Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 27 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah)
· Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 28 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 1.500.000.000,00 (satu milyar lima ratus juta rupiah);
Siapa yang berwenang melakukan penyidikan tindak pidana di bidang hak cipta?
Selain penyidik pejabat Polisi Negara RI juga pejabat pegawai negeri tertentu di lingkungan departemen yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi pembinaan hak cipta (Departemen Kehakiman) diberi wewenang khusus sebagai penyidik, sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang hak cipta.

UU dan PP – Undang undang dan Peraturan yg berhubungan dengan Hak Kekayaan Intelektual

Undang Undang
· Paten
· Merek
· Hak Cipta
· Desain Industri
· Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu
· Rahasia Dagang

Peraturan Pemerintah
· Bidang Paten
· Bidang Merek
· Bidang Hak Cipta
· Bidang Desain Industri
· Bidang Konsultan HKI

Keputusan Presiden
HKI / Umum
· Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 189 Tahun 1998 tentang Pencabutan Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 1986 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden no. 26 Tahun 1995 (29 Oktober 1998).

Peraturan Menteri
Bidang Hak Cipta
· Peraturan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor M.01-HC.03.01 Tahun 1987 tanggal 26 Oktober 1987 tentang Pendaftaran Ciptaan.

Keputusan Menteri
HKI / Umum
· Keputusan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia RI Nomor M.11.PR.07.06 Tahun 2003 tentang Penunjukan Kantor Wilayah Departemen Kehakiman dan HAM RI untuk Menerima Permohonan Hak Kekayaan Intelektual (04 November 2003).

Keputusan Direktur Jenderal HKI
· Keputusan Direktur Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Nomor H-17-PR.09.10 Tahun 2005 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pendaftaran Konsultan Hak Kekayaan Intelektual (1 Maret 2005).
· Keputusan Direktur Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Nomor H-01.PR.07.06 Tahun 2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penerimaan Permohonan Hak Kekayaan Intelektual melalui Kantor Wilayah Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (23 April 2004).

TIPS DAN CARA MENERBITKAN KUMPULAN MAKALAH, SKRIPSI, TESIS, DISERTASI Menjadi BUKU POPULER

“Apa yang kita tulis akan terukir abadi sepanjang masa.
Apa yang kita ucap akan sirna bersama pusaran waktu.”

Kenapa Karya Perlu Dibukukan?
· Memperkaya khasanah keilmuan
· Membagi ilmu pengetahuan kepada publik pembaca
· Membangun tradisi menulis dalam mengantisipasi bahaya ‘anomali’ sebagai efek tradisi lisan
atau perjuangan melawan Lupa
· Mudah mendapatkan pengakuan intelektual dalam segala konteks.
· Kepuasan Intelektual & motivasi edukasi.
· Mendapatkan keuntungan finansial dengan cara yang halal, wajar dan mendidik. (dst).

Karya Apa Saja Yang Bisa DiBukukan?
Banyak buku (Sastra maupun ilmiah) di toko2 yang awalnya adalah naskah yang diramu dari:
· Kumpulan Makalah atau Artikel.
· Skripsi/ Tesis/ Disertasi.
· Catatan Harian di buku Diary
· Hasil Penelitian Ilmiah.
· Dst.

Bagaimana Proses Dari Naskah Menjadi Kemasan Buku?
· Bermitra dengan Penerbit yang berpengalaman dan transparan.
· Naskah diedit mulai dari pilihan judul hingga penyajian isi.
· Desain Cover, LayOut naskah dan Pemeriksaan Aksara oleh editor.
· Permohonan kode ISBN dari Perpustakaan Nasional.
· Proses Produksi, dan siap beredar sesuai kehendak anda.

Umumnya ada tiga jenis kerjasama dengan Penerbit: 1) Produksi buku dibiayai total oleh Penerbit dengan kompensasi royalty bagi Penulisnya, 2) Biaya Produksi ditangani secara bersama-sama. Dan 3) semua anggaran Produksi ditanggung penulisnya dan penulis bebas menentukan segala distribusi buku. Penerbit sebatas pada ‘menyulap’ naskah anda hingga menjadi buku yang siap ‘saji’ dan memiliki ISBN.

Menerbitkan Karya Sendiri, Kenapa Tidak?
Menerbitkan sendiri karya tulis sudah menjadi trend para penulis akhir-akhir ini. Selain karena kita bisa melepaskan diri dari ikatan kontrak dengan penerbit yang sering tidak adil, juga kita bisa mendapatkan kewenangan penuh atas naskah kita dan memungkinkan bagi kita untuk mendapatkan keuntungan finansial yang lebih besar dari sekedar royalti.

Ketika DOSEN & GURU Berkarya;

Trend Pendidik Masa Depan.
Para Dosen atau Guru pasti memiliki banyak naskah tulisan yang menjadi materi pengajarannya. Alangkah lebih baiknya kalau materi pengajaran tersebut dibukukan dan menjadi reverensi pendidikan untuk bidang studi yang diajarkan. Baik berupa kumpulan makalah maupun sebuah materi khusus yang terkait bidang studi tertentu. Contoh sederhana Menciptakan Buku bagi seorang pendidik:
Seorang Dosen memiliki sebuah naskah tesis seputar Sejarah Akuntansi Modern dan sering dia jadikan sebagai draft reverensi perkuliahan. Lalu naskah itu diterbitkan dalam kemasan buku dan memiliki ISBN. Katakanlah Dosen tersebut mengeluarkan anggaran produksi Rp 8. 000,- per buku untuk 500 eksamplar buku yang diproduksi.
Karena buku tersebut sesuai dengan materi kurikulum, maka karya tulis itu bisa didistribusikan di berbagai toko buku lewat agent resmi atau ditawarkan kepada para mahasiswa dengan harga yang di bawah standar harga toko buku. Antara rasio ongkos produksi, harga standar toko yang mahal dan jumlah aset (buku) memungkinkan bagi penulis untuk mendapatkan dua keuntungan: meringankan beban pembaca melalui pemberian harga di bawah standar dan mendapatkan keuntungan langsung yang bisa digunakan untuk mencetak lagi naskah anda yang lain…
Cara di atas berlaku bagi akademisi/ pendidik dan siapapun, dan temanya bebas: Sejarah, Politik, Medis,Hukum, Ekonomi, Pariwisata, Seksologi, Lingkungan, Budaya, Sastra dst…

“Menerbitkan langsung karya sendiri adalah langkah yang paling strategis dan menguntungkan yang jarang diungkap dalam industri penerbitan buku di Indonesia.”

TULIS DAN TERBITKANLAH KARYA ANDA

a. Semua Orang Adalah Penulis.

Banyak sekali orang yang mengeluh tentang susahnya menuangkan isi pikiran ke dalam bentuk tulisan. Sementara, pada saat yang sama ia biasa menulis surat, mengisi buku diary, menyusun laporan, skripsi, tesis, disertasi dst. Menulis merupakan sesuatu yang mudah dilakukan apalagi diirngi dengan banyak membaca buku dan rutin mencatat apa saja yang ingin kita tulis. Berarti, menulis (mengarang) itu bukanlah monopoli mereka yang berbakat.
Semua orang yang pernah mengenyam dunia pendidikan pasti pernah menulis yang berarti kalau ia rajin mendokumentasikannya, ia memiliki naskah yang pada satu waktu bisa diterbitkan. Bisa berupa naskah sastra (puisi, cerpen, novel), artikel, diktat kuliah ataupun skripsi dan tesis hingga disertasi. Kalau begitu, kenapa kita tidak berupaya menerbitkan gagasan kita untuk dibaca orang lain? Atau bila perlu masuk dalam bursa toko buku nasional?

b. Mudah Menerbitkan Karya Kita.
Katakanlah kita punya satu naskah (entah skripsi atau novel). Kita ingin menerbitkannya dan bila perlu harus masuk dalam bursa buku nasional. Bagaimana langkah-langkahnya?
Pertama, meng-edit naskah tersebut agar lebih populer dan ‘menjual’. Misalnya meringkas judulnya dengan lebih menarik dan mengolah isinya agar lebih menarik untuk dibaca umum. Kedua, bekerjasama dengan sebuah Penerbit yang pengalaman dalam dunia buku. Semisal sudah ada komitment dengan penerbit yang dimaksud, maka si penerbit akan me-LayOut naskah anda dalam bentuk isi buku, membuatkan desain cover dan menerbitkan nomor ISBN yang diajukan dari Perpustakaan Nasional di Jakarta.
Satu contoh print-out buku akan ditunjukkan pada anda dan jika anda puas pada hasilnya silahkan anda buat perjanjian dengan penerbit: apakah buku anda perlu dimasukkan dalam bursa buku? Jika ‘iya’, maka si penerbit akan menggandeng distributor dan dalam waktu dekat karya anda akan masuk di berbagai toko buku, serta bersiaplah buku tersebut dibedah di forum2 yang anda kehendaki.

c. Bagaimana Bentuk Kerjasama dengan Penerbit?
Umumnya ada tiga jenis kerjasama:
Pertama, karya anda akan diterbitkan atas biaya Penerbit dan anda hanya akan mendapatkan beberapa eksamplar buku dan beberapa % royalty dari hasil penjualan. Keuntungan dari kerjasama jenis ini anda tidak perlu keluar biaya tetapi anda mudah dicurangi terutama pada royalty. Kedua, naskah anda akan diterbitkan dengan biaya ‘patungan’ antara anda dengan penerbit. Keuntungannya anda berhak mendapatkan jatah buku lebih banyak (sesuai perjanjian) tetapi tetap terikat pada orientasi komersial penerbit.
Ketiga, naskah diterbitkan dengan biaya anda sendiri, penerbit hanya menjadi mitra yang mewujutkan agar naskah tersebut menjadi buku yang siap dibaca. Kelemahannya, anda akan mengeluarkan biaya, tetapi anda berhak total atas semua buku yang tercetak. Anda bebas menentukan berapa jumlah yang masuk toko buku dan penerbit fleksibel dalam mendapatkan konpensasi dari anda. Berdasarkan rasio anggaran produksi buku yang tergolong murah, kami sering mendapatkan mitra yang memilih model kerjasama yang terakhir itu. Dan dalam waktu yang singkat, si penulis biasanya mendapatkan modalnya kembali oleh saldo penjualan buku. “Apa yang kita tulis hari ini akan menjadi ukiran sejarah sepanjang masa. Siapa yang tidak menulis, akan sirna dalam perputaran sejarah manusia”
Aksara Tumapel (RATU) adalah sebuah Lembaga Penerbitan yang berbadan hukum Yayasan (Akte Nmr: 144/27-12-05) dan telah memiliki keanggotaan ISBN dari Perpustakaan Nasional RI dengan nmr: 979-25-2200-X. lembaga ini telah banyak menerbitkan buku Sastra dan Ilmiah yang telah beredar dalam pasar buku.

Bebas konsultasi seputar penerbitan buku dan dunia per-bukuan:
email:  ratuaksara@plasa.com
Hp: 081.5555.6177 / 081.392.158.867.

AKSARATUMAPEL
Profesional & Transparant
Aksara Tumapel telah menerbitkan beberapa buku antara lain:
Wasiat Mpu Tantular; Kumpulan Artikel Budaya, karya: Drs. Peni Suparto, MAP, Walikota Malang (Sept’05). DiLauncing di Studio Mahameru TV lantai III Kantor Perpustakaan Umum kota Malang bulan Sept 2005.
Menyambut Tantangan Globalisasi; Sebuah Biografi & Gagasan Walikota Malang, karya: Liga Alam M (Ratu/ Jan’06). Dilauncing di STIE Malangkucecwara tanggal 10 Feb 2006.
Di Balik Ramalan Joyoboyo; Kumpulan Artikel Budaya, karya: Drs. Peni Suparto, MAP, Walikota Malang (Ratu, Juni ’06).
Tumbal Perawan Jenggala; Novel Sejarah karya: Liga Alam M (Ratu, Ags’06). Masuk di berbagai toko buku.
Buih-Buih Ombak; Novel Karya: Liga Alam M (Ratu Nop’05)
Segenggam Pasir; Sahabatku Di Meulaboh (kumpulan Cerpen pelajar kota Malang hasil lomba). Ratu, Juni 06.
Pelangi Di Taman Oval; Novel Remaja Karya: Liga Alam M (dalam proses percetakan)
Garuda Sang Bima. Novel Sejarah edisi revisi. Karya: Liga Alam M (dalam proses percetakan).

Aksara Tumapel juga sedang menerbitkan sebuah Majalah etnik RATU yang beredar setiap bulan di Malang Raya. Selain menerbitkan buku, RATU juga pernah mengadakan lomba cipta karya sastra (kategori Cerpen) tingkat pelajar se-kota Malang bekerja sama dengan Perpustakaan Umum kota Malang pada bulan Agustus 2005.  Juga sebagai konseptor dan narasumber dalam Pelatihan Menulis Gratis tingkat Pelajar di Aula SMAN 1 Kota Tarakan Kaltim pada tanggal 15 April 2006.  Untuk mensukseskan programnya, RATU bermitra dengan berbagai lembaga penerbitan Profesional yaitu: Grha Guru Jogjakarta.

TIPS – TIPS MENERBITKAN BUKU DARI PENERBIT ANDI

Persyaratan Penerbitan Naskah
Hubungan Antara Penulis dan Penerbit
Penulis dengan Penerbit memiliki kedudukan setara; secara umum Penulis memandang Penerbit bertindak sebagai intermediary karya-karya yang akan disampaikan kepada masyarakat, sedangkan Penerbit memandang Penulis sebagai aset penting perusahaan yang menyebabkan proses penerbitan tetap berlangsung.
Kepentingan apa di balik dorongan untuk menulis? Menulis dapat meningkatkan kredit point (bagi pengajar), meningkatkan kredibilitas, dan pemenuhan finansial. Hal tersebut yang memotivasi penulis untuk menghasilkan suatu karya yang berkualitas.

Apa kelebihan Penerbit ANDI dibanding penerbit lain?
• Buku ANDI telah memiliki Brand Name tersendiri di hati masyarakat.
• Memiliki jaringan distribusi yang luas.
• Memiliki mesin cetak sendiri sehingga hasil, kecepatan, dan kualitas dapat diatur dengan baik.
• Memiliki sistem royalti yang jelas, jujur dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan sinergi kerja sama antara Penulis dengan Penerbit akan diperoleh hasil berupa penerimaan masyarakat terhadap buku terbitan ANDI.

Bentuk Royalti Penerbit ANDI
Penerbit ANDI memberikan royalti sebagai berikut:
Besar royalti standar adalah 10%, dengan perhitungan: 10% x harga jual x oplah (potong pajak)
Mengingat Penerbit ANDI memiliki bentuk kerja sama yang beragam pada saluran distribusi pemasaran, maka perhitungan royalti adalah berdasarkan buku yang benar-benar telah terbayar lunas, dengan demikian buku yang sifatnya konsinyasi atau kredit belum dianggap sebagai buku laku. Dalam hal ini Penerbit ANDI akan selalu menjaga kejujuran dan kepercayaan bagi semua relasinya, ini semua karena nama baik sangat penting bagi Penerbit ANDI.

Bentuk Kerja Sama Penerbitan
Bentuk kerja sama penerbitan yang ditawarkan Penerbit ANDI mencakup:
Kerja sama Penerbit dengan Penulis; yaitu kerja sama antara Penerbit dengan Penulis secara individu untuk menerbitkan sebuah buku.
Kerja Sama Penerbit dengan Kelompok Penulis; yaitu kerja sama antara Penerbit dengan beberapa Penulis sekaligus untuk menerbitkan sebuah buku. Dalam kerja sama ini, Penulis wajib menunjuk satu orang dengan pemberian surat kuasa, untuk bertanggung jawab terhadap segala urusan administratif maupun non administratif yang berkaitan dengan penerbitan.
Kerja sama Penerbit dengan Lembaga; yaitu kerja sama antar Penerbit dengan sekelompok Penulis yang telah dikoordinasi oleh Lembaga/Institusi untuk menerbitkan sebuah buku. Dalam hal ini Penerbit hanya berhubungan dengan Lembaga/Institusi yang telah diberi kepercayaan oleh Penulis.

Kerja sama Umum
Kerja sama cetak. Penerbit hanya membantu dalam jasa percetakannya, seperti buku jurnal ilmiah dan sebagainya.
Kerja sama cetak dan penerbitan, Penerbit bekerja sama dengan Perorangan/Lembaga untuk menerbitkan sebuah buku dengan tanggungan biaya penerbitan bersama.

Prosedur Penerbitan Buku
Materi yang Harus Dikirim
Penulis harus mengirimkan ke Penerbit naskah final, bukan outline ataupun draft, yang disertai:
. Kata Pengantar
• Daftar Isi
• Daftar Gambar
• Daftar Tabel
• Daftar Lampiran
• Isi
• Daftar Pustaka
• Indeks
• Abstrak (sinopsis)
. Penjelasan perihal: pasar sasaran yang dituju, prospek pasar, manfaat buku ybs.
. Profil penulis, memberi keterangan singkat tentang penulis.

Penilaian Naskah
Penerbit menilai naskah dari berbagai aspek:

Aspek Ideologis
Apakah topik bertentangan dengan UUD 1945 dan Pancasila, apakah topiknya akan meresahkan kondisi masyarakat seperti: politik, hankam, sara, sopan santun, harga diri, dll.

Aspek Keilmuan :
• Apakah topik yang dibahas merupakan topik baru bagi masyarakat, dan apakah masyarakat sudah siap menerima topik tersebut?
• Apakah naskah tersebut gagasan asli atau jiplakan?
• Terkait dengan akurasi data maka diperlukan sumber daftar pustaka yang lengkap.

Aspek Penyajian:
• Apakah sistematika kerangka pemikiran baik sehingga alur logika pemaparan mudah dipahami?
• Bahasa yang digunakan apakah komunikatif sesuai dengan jenis naskah dan sasaran pembaca?
• Apakah cara penulisannya sudah benar, yaitu menggunakan tata bahasa dan ejaan yang baku?
• Kelengkapan naskah secara fisik seperti kata pengantar, daftar isi, pendahuluan, batang tubuh, daftar gambar, tabel, lampiran, index, daftar pustaka, sinposis, apakah sudah lengkap?
• Pengetikan menggunakan media dan alat apa, apakah tulis tangan, diketik manual, ketik komputer menggunakan software tertentu?
• Mutu gambar, tabel dan objek lain yang dipasang (capture) apakah layak atau masih harus diperbaiki lagi?
• Apakah urusan perizinan penggunaan gambar tertentu, izin terjemahan, izin pengutipan dll. sudah diselesaikan?

Aspek Pemasaran:
• Apakah tema naskah mempunyai pangsa pasar jelas dan luas sehingga buku akan dapat dan mudah diterima pasar?
• Apakah naskah memiliki selling point atau potensi jual tertentu, seperti judul, keindahan, bahasa, kasus aktual, dsb?
• Apakah ada buku sejenis yang beredar dan telah diterbitkan? Apa kelebihan naskah tersebut dibandingkan dengan buku lain?

Aspek Reputasi Penulis:
• Apakah penulis adalah tokoh, praktisi, dosen yang sangat diakui kepakarannya oleh masyarakat luas?
• Apakah buku-buku yang pernah diterbitkan mempunyai catatan keilmuan dan pemasaran yang baik?

Keputusan Menerima/Menolak Naskah

Untuk Apa dan Mengapa Penerbit Harus Menilai Naskah? Penerbit adalah suatu badan usaha yang bercita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk tujuan tersebut Penerbit mengusahakan, menyediakan, dan menyebarluaskan bagi khalayak umum, pengetahuan dan pengalaman hasil karya ilmiah para Penulis dalam bentuk sajian yang terpadu, rapi, indah, dan komunikatif, baik isi maupun kemasan fisik, melalui tata cara yang sesuai, dan bertanggung jawab atas segala risiko yang ditimbulkan oleh kegiatannya. Berdasarkan pengertian mengenai penerbitan tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerbit tidak bermaksud untuk menghakimi hasil karya Penulis, sehingga tidak ada alasan untuk tidak menghargai karya tersebut karena Penulis adalah “rekan sejawat” bagi Penerbit.
Penilaian naskah bukan untuk menjatuhkan vonis naskah baik atau buruk, layak terbit atau tidak. Langkah tersebut digunakan sebagai sarana untuk memperlancar proses penerbitan secara optimal.
Proses penilaian ini adalah proses standar penerbitan sehingga perlu ada komunikasi yang baik antara Penerbit dan Penulis. Dengan demikian tidak ada salah-pengertian bahwa Penerbit menganggap remeh Penulis atau Penulis merasa naskahnya sudah yang terbaik.

Keputusan Naskah
Setelah Penulis menyerahkan naskah, Penerbit memberikan keputusan melalui surat resmi kepada Penulis, apakah buku diterbitkan atau tidak. Untuk naskah yang diterima, Penerbit akan mengirim surat pemberitahuan resmi. Penulis wajib melengkapi kelengkapan naskah – softcopy. Untuk naskah yang ditolak, naskah akan dikembalikan kepada Penulis bersama dengan surat pemberitahuan penolakan penerbitan.

Pengiriman Softcopy: Disket atau CD
Softcopy naskah dikirim dapat dengan cara: Lewat pos/paket ditujukan ke:
Penerbit ANDI
Jl. Beo 38-40 Yogyakarta 55281
Telp (0274) 561881; Fax (0274) 588282

Datang langsung ke kantor Penerbit ANDI dan menemui bagian penerbitan ANDI.
Atau lewat email (Maksimal 1 Mb per kiriman):
penerbitan@andipublisher.com

Format Naskah
Format Naskah Siap Cetak
Format pengaturan naskah dapat menggunakan Template yang disediakan oleh Penerbit Andi. Format ini merupakan Template standar yang dapat disesuaikan dengan naskah yang sedang ditulis. Anda dapat meminta Template tersebut melalui e-mail, atau datang langsung ke Penerbit ANDI.

Format naskah standar siap cetak, adalah sebagai berikut:
Jenis huruf untuk teks isi: Bookman Old Style, New Century School Book atau Times New Roman 10/11 point.
Judul bab (Heading 1): font sama dengan teks isi, ukurannya diatur sedemikian rupa agar tampak menonjol dan serasi dengan ukuran 20 pt.
Judul sub-bab (Heading 2): font sama dengan teks, 18 point, capital, bold.
Judul sub-sub-bab (Heading 3): font sama dengan teks, 10 point, capital underline
Header dan Footer: menggunakan font yang berbeda, dapat divariasikan dalam style huruf bold atau italic.
Footnote : Font sama, 8 point; dapat menggunakan font lain yang serasi.
Alignment : Justified
Spacing : Before – 0, After – 0,6
Line Spacing : Single
Gambar-gambar tangkapan (capture) layar sebaiknya menggunakan format jpg. Gambar sebaiknya dikirimkan dalam file tersendiri yang di kumpulkan dalam sebuah folder gambar dan dilakukan link terhadap naskah.

Catatan: Segala bentuk aturan layout di dalam template adalah layout standar di Penerbit Andi, Anda dapat memodifikasi perwajahan buku Anda dengan terlebih dahulu melakukan konfirmasi dengan Penerbit.

Contoh Penomoran Halaman:
Halaman judul : i
Halaman Copyright : ii
Halaman Persembahan : iii
Kata Pengantar : v
Daftar Isi : vii
Halaman Isi
Pendahuluan (Bab I) : 1
Bab II : 3, 5, 7, 9, dst. (selalu halaman ganjil).

Ukuran Buku dan Area Cetak
Setelah Anda menentukan sistematika penulisan buku Anda, hal penting berikutnya adalah format buku yang akan Anda tulis. Format buku terdiri dari beberapa ukuran yaitu ukuran besar, standar, kecil, atau buku saku serta format spesial. Penentuan format ini akan berpengaruh terhadap ketebalan buku dan kedalaman materi yang Anda inginkan.

Format buku di Penerbit Andi:
Format Besar : 20 cm x 28 cm, 21,5 cm x 15,5 cm
Format Standar : 16 cm x 23 cm, 11,5 cm x 17,5 cm
Format Kecil : 14 cm x 21 cm, 10 cm x 16 cm
Buku Saku : 10 cm x 18 cm, 13,5 cm x 7,5 cm
Format Khusus

Banyak Penulis tidak memperhatikan format ini sehingga saat dilakukan pengaturan layout dan setting, beberapa bagian buku menjadi tidak sesuai dengan maksud Penulis. Ketidaksesuaian tersebut contohnya: proporsi gambar yang tidak benar, pemotongan kata yang tidak tepat (terutama pada listing program pada buku pemrograman), dan ketebalan buku yang tidak proporsional.

Catatan: Prosedur penerbitan ini sewaktu-waktu dapat berubah mengikuti perkembangan, situasi dan kondisi, untuk itu diharapkan Penulis dapat mengikuti informasi terbaru di Penerbit Andi. Template penulisan naskah bisa di download pada section “download” pada situs www.andipublisher.com .
(Disalin dari situs Penerbit Andi di internet www.andipublisher.com)

TIPS MENULIS – 11 CARA JADI PENULIS

Bagi kamu para teenager entah cowok apa cewek, daripada nganggur gak jelas, mendingan ikuti aja cara-cara jitu yang otomatis  bikin kamu bisa hepi jadi penulis. Apalagi bagi kamu yang emang udah punya bakat alam jadi penulis. Tunggu apa lagi coba? Check this out !
1.The first,  tekadkan diri kalo kamu bangga jadi penulis. It’s a must !
2.Cara kedua dengan ngelamun. Karena kebanyakan ide nongol saat kita lagi ngelamun.Tapi jangan suka keterusan, ya? Ato kalo gak dengerin curhatan temen aja. Kan bisa tuh dibikin cerita. Listen to the music ato mo lebih gampangnya lagi dari kisah diri  kamu sendiri. Tentunya, cerita itu kudu seru dong !
3.Sebelum nulis, pilih jalur penulisan yang kamu kuasai : cerpen, cerbung, ato novel. Di dalam novel kamu juga mesti pilih jalur, lho. For example : teenlit, chiclit, metropop, preteen, roman, horor, dll.
4.Cari tempat dan alat yang nyaman buat  menulis cerita. Bagi kamu yang gak punya komputer cukup di buku tulis aja.Tapi ntar kalo ngirimin ke penerbit harus di ketik komputer, lho. Kan sekarang banyak rental pengetikan. Tempat yang asik untuk yang gak punya komputer adalah : meja belajar dan tempat tidur. Trus bagi kamu yang punya komputer, tinggal tik ketik aja lagi. Keluarin deh semua uneg-uneg kamu.
5.Usahakan kegiatan tulis menulis bagi kamu yang masih skul di saat week end ato long holiday aja, biar gak ganggu konsentrasi belajar, maksudnya. Tapi kalo kamu bisa bagi waktu …….why not kalo tiap hari ?
6.Banyak orang bingung mo nulis kata pembuka cerita gimana. Padahal caranya banyak banget. Nih contohnya :
-Pada suatu hari ……..
-Di malam yang gelap ……..
-Di atas bukit nan jauh, Teletubbies, eh Just kidding = P
Ato langsung  dibikin seperti ini :
•“Serius lo ?”
Kan kesan yang ditangkap para pembaca adalah mereka disuruh menyelidiki apa maksud terselubung dari kalimat tanya itu. Biar penasaran gitu….  Ato kamu mo bikin contoh yang lain ? That’s good idea.
7.Kalo kamu bikin cerpen, itu mah cepet banget selsenya. Tapi kalo kamu bikin novel, uhm …….dijaga aja mood-nya. Biar gak drop. Caranya, cukup nikmati aja pekerjaan kamu and jangan jadiin beban. Karena kalau kamu maksa-maksain diri, hasilnya malah bad banget !
8.Kalo Novel, sering kali kita bosen bikin lanjutan ceritanya. Tau sendirilah, novelkan tebelnya amit-amit. Therefore cara nyegerin kepala biar otak gak blank adalah refreshing ke manaaaaa gitu ato cari referensi dengan beli novel karya anak bangsa. Kan kita mesti cinta produk dalam negeri.
9.Bagi cerpen, cerita yang udah kamu buat sebarin ke temen-temen satu skul trus suruh baca dan kasih comment. Kalo tanggapan mereka bagus, coba kirim aja ke majalah-majalah  remaja ato ke tabloid kesayangan kamu.
10.Bagi novel, usahakan saat kamu rekomendasiin itu novel ke temen-temen kamu ceritanya belum kelar. Biar mereka penasaran. Setelah banyak temen yang udah baca dan nyuruh kamu ngelanjutin ceritanya, lanjutin tu cerita, tapi setelah selse, jangan kasih liat mereka. Melainkan langsung kirimkan ke penerbit. Kalo ceritanya bagus dan memenuhi kriteria, pasti deh novel kamu diterbitin. Setelah terbit suruh temen-temen kamu beli novel itu. So, novel kamu bakalan laku dong karena mereka udah penasaran banget menantikan ending ceritanya hehehe… Uhm, yummy banget.
11.Setelah semua selse kamu lakuin. Udah deh, tinggal tunggu gimana reaksi masyarakat tentang novel/cerpen kamu. Bisa aja ada produser baca, trus dibikin film/sinetron kayak pengalamannya Dyan Nuranindya—Dealova, Maria Ardelia—Me vs High Heels, Rachmania Arunita—Eiffel I’m In Love, Esti Kinasih—Fairish, Ken Terate—My Friends, My Dreams, Aditya Mulya—Jomblo, Alberthine Endah—Detik Terakhir/Jangan Beri Aku Narkoba, dan Moammar Emka—Jakarta Undercover. Hmm….. makin tebel deh kantong kita. Kan enak bisa menuhin kebutuhan sendiri. Apa sih yang gak mungkin selama kita mau berusaha. Tapi inget tetep berdoa pada Tuhan YME, bantu orang tua dan bantu orang yang gak mampu.
Nah, caranya gampang banget, kan? Kalo bingung mo kirim karya kamu ke mana, nih, kuberi beberapa perusahaan penerbit buku populer yang bisa bikin mimpimu jadi nyata:
A. Gramedia Pustaka Utama
B. Gagas media
C. Kata Kita
D. Terrant Books
E. Grasindo
Udah jangan berkhayal mulu. Bikin mimpimu jadi nyata!!!!

TIPS MENULIS ARTIKEL

Menulis sebuah artikel adalah menyatakan ide/ pemikiran yang ada dalam otak kita. Agar tulisan yang telah kita buat dapat dimengerti orang lain dan bisa bermanfaat maka kita harus memperhatikan dua kunci penting dalam membuat artikel, yaitu: (1)Presentasi Akal Pikiran dan (2)Ekspresi Bahasa yang Benar dan Komunikatif.
1.Presentasi Akal Pikiran
Ide / gagasan yang dituangkan dalam artikel merupakan hasil proses:
•Perenungan
•Pengamatan
•Penelitian
•Penyelidikan
•Pengumpulan data
Semua proses di atas dilakukan dengan serius dan mendalam untuk menghasilkan buah pemikiran yang obyektif dan bermutu.
Perlu dihindari emosi yang berlebihan untuk menjamin standar ‘ilmiah’, demokratis dan tidak memvonis.
Tulisan yang terlalu sarat emosi, akan cenderung anarkis, provokativ dan akhirnya menutup kemungkinan adanya dialog dan sharing pemikiran.
Sumber gagasan dan fakta:
•Pemikiran orisinil penulis
•Referensi yang ada
•Inspirasi (sumber alternatif) setelah menyimak dan mempelajari sumber yang ada.
2.Ekspresi Bahasa uang Benar dan Komunikatif
Untuk bisa diterima pembaca, struktur bahasa yang sudah tepat (sesuai konteks, EYD) perlu dilengkapi dengan pemahaman penulis terhadap latar belakang pembaca:
•Segmentasi pemikiran
•Kultural
Jika range pembaca sangat beragam maka diperlukan standarbahasa umum yang bisa dimengerti pembaca : bahasa jurnalistik (berisi, efisien dan komunikatif).
Karakteristik Bahasa Populer Jurnalistik
a)Bahasa yang Terbatasi
Dibatasi ruang dan waktu. Dibutuhkan komunikasi yag cepat, kata dibuat seringkasa mungkin (ekonomis, hemat) dengan kemampuan mengkomunikasikan ide secara jelas dan efisien.
Kemampuan menjahit dan menghubungkan antara beberapa item tersebut dengan logika yang tepat dan bahasa yang akrab dan tidak angkuh menjadi penting dilakukan.
b)Bahasa yang Hemat tapi jelas
Penghematan bisa dilakukan dengan:
•Penggunaan 5w+1h
•Kelengkapan pemahaman penulis terhadap masalah
•Faktual dan konkret
•Analisa yang dinamis
•Ungkapan populer, aktual, jenaka (kalau perlu)
c)Pembakuan dan konsistensi ilmiah
Penulisan kata dalam sebuah tulisan hendaknya tetap sama meskipun salah.
Hal ini dibenarkan apabila setiap redaksi memiliki panduan pembakuan bahasa menurut ‘ijtihad’nya sendiri-sendiri.

AKU INGIN MENULIS !

Menulis bukan sekedar menebar karya sebagai pembuktian adanya kemampuan yang kita miliki. Akan tetapi sadarkah kita, bahwa dengan menulis ternyata dapat kita tangkap sebagai proses pengembangan pribadi. Tulisan-tulisan yang telah kita karyakan tak hanya memberikan kepuasan saat dimuat di sebuah koran, majalah ataupun tabloid yang dibaca publik. Jika kita mau menilik kembali dan mencermati secara keseluruhan apa yang telah kita tulis, kita juga akan dapat melihat bagaimana diri kita berkembang seiring dengan berjalannya waktu.
Tak hanya tulisan propagandis, politis atau semacam essay saja yang dapat menguak pribadi secara tak sadar, bahkan coretan pena berupa puisi dan cerpen pun dapat membawa kita memahami diri kita sendiri. Apa yang kita tuliskan mencerminkan bagaimana kita berpikir dan menyikapi suatu keadaan. Segala pengalaman yang pernah kita alami akan terabadikan dalam tulisan kita.  Melalui tulisan kita dapat melihat dan memahami perilaku manusia yang tidak tampak, yaitu berpikir. Perlu disadari bahwa yang menjadi sumber dari segala perilaku dan tindakan kita adalah proses berpikir itu sendiri. Dengan demikian kita dapat mengetahui sejauh mana perkembangan pola  anil kita dan apa yang perlu kita tingkatkan untuk menuju suatu pribadi yang utuh.
Tulisan merupakan potret ingatan, pengalaman dan pengetahuan yang telah kita miliki. Seperti yang sempat dikutip dari buku Pengalaman Menulis Buku Nonfiksi, “Aku menulis buku agar gambaran pribadiku tak Cuma luluh lantak binasa ditelan Sungai Sang Kala Tergurit di atas ingatan sahabat – handai – tolan” (Widarso, 2005). Melihat apa yang terjadi dalam diri kita, memahaminya, menjelajah apa kelemahan dan kelebihan diri kita, hingga kita menyadari diri kita apa adanya dan menggugah semangat kita untuk senantiasa menjadi lebih baik lagi.
Paling tidak, kita bisa  menulis untuk orang lain dan untuk diri kita sendiri. Segala kritik dan komentar berarti penilaian orang lain terhadap diri kita. Tak perlu kita takut akan cemoohan dan cercaan orang lain, itulah cambuk bagi kita untuk memperbaiki apa yang telah kita buat dan kita lakukan. Semakin kita berusaha memperbaiki tulisan yang telah kita buat, ide-ide yang kita miliki juga akan semakin mengalami pengembangan.
Menulis menjadi sesuatu yang sangat mengesankan dari pribadi-pribadi yang telah menorehkan tintanya di atas lembar putih yang mereka pilih. Ide-ide yang mengalir dengan bebas dan indahnya, sangat mengasyikkan! Ide-ide yang kemudian terangkum dalam kalimat-kalimat yang telah disusun sedemikian rupa agar tersampaikan kepada sesama untuk berbagi dan saling mengisi dalam perjalanan hidup.
Betapa berartinya hidup saat kita  ani berbagi tentang apapun yang kita pikirkan dan apa yang kita rasakan. Keutuhan yang kita rasakan dalam diri kita sendiri dengan segala keberanian dan kejujuran yang kita miliki. Menulislah selama kau masih  ani menggerakkan penamu dia atas lembaran putih yang siap menemanimu berpetualang dengan idemu. Tak perlu takut katakan pendapat lewat tulisan asal tahu batas!

SIMPLY BEING A WRITER !

Bab 1. Writing in Creative Way

Semua orang bisa menjadi penulis!
Coba lihat di Toko Buku Gramedia belakangan ini, terutama genre bacaan yang paling booming, teenlit
dan chicklit, apakah dari seluruh pengarang tersebut memiliki latar belakang pendidikan hanya dari
fakultas sastra? Tidak, kan. Bahkan sebagian besar dari para pengarang berbakat ini masih duduk di
bangku SMA, namun mereka justru dapat membuat sebentuk cerita yang real, fresh, dan terasa akrab
di kehidupan kita sehari-hari.
Apa yang membuat kita ingin menulis? Dan… mungkin nggak sih kita bisa menjadi penulis?
Well, those are common questions I heard many times—even from myself. But, don’t worry you’ll do
just fine. Tapi perlu kamu ketahui, bahwa menulis tidak hanya menyangkut BAKAT, tetapi juga
keinginan kuat, waktu yang diluangkan, serta ide-ide. Tetapi, sebelumnya kita akan melihat ke
belakang, apa yang membuat seseorang menjadi penulis kreatif :
• Saya ngin mempelajari lebih banyak lagi mengenai diri saya sendiri
• Saya ingin mempelajari lebih banyak lagi mengenai dunia
• Saya ingin mengobati luka lama
• Saya memiliki cerita yang sudah lama banget ingin saya share
• Saya memiliki informasi untuk di-share
• Saya ingin menghibur orang banyak dengan ‘the power of my pen’
• Saya ingin menciptakan dunia sebagai tempat yang lebih baik
• Saya ingin mencapai mimpi-mimpiku

“My goal as a writer isn’t to change the world. I’m content to brighten someone’s weekend.”
—Debbie Macomber

Kalau kamu menjawab at least 1 dari 8 pernyataan di atas, berarti kamu memang ingin menjadi
seorang creative-writer ?.

The problem is: how to start writing? How to create a story? And what is creative writing?
Dimulai dari belakang, menulis kreatif (creative writing) adalah suatu penulisan dengan menggunakan
bahasa yang imajinatif dan ‘berani’. Dalam hal ini, ‘berani’ adalah berani menggunakan bahasa yang
mendobrak norma baku. Contoh perbedaan antara tulisan kreatif dan yang bukan :
Creative writing sendiri terbagi menjadi 2 golongan besar, yaitu : fiksi dan non-fiksi.
Non-fiksi merupakan tipe penulisan mengenai orang serta kejadian yang sesungguhnya. Yang masuk
dalam kategori ini a.l. : essay, biografi, otobiografi, artikel, dan memoirs (cerita seseorang tentang
kehidupannya sendiri).

“I was a financial journalist and I did love to write. I used to read novels avidly on the train—and
one day I just decided to try and write one. As soon as I started, I knew I’d found the thing I
wanted to do.”
—Sophie Kinsella, author of Confessions of a Shoppaholic

Fiksi adalah penulisan yang menceritakan tentang kejadian-kejadian yang ‘direkayasa’, lengkap
dengan karakternya. Kadangkala, fiksi dapat berupa kejadian imajinatif yang serupa dengan kejadian
nyata hari-hari, sehingga tidak 100% direkayasa. Fiksi sendiri terbagi menjadi 4 kategori utama :
• Cerpen
• Novel
• Skenario film dan TV
• Drama
Lebih lanjut lagi, kita akan membahas secara khusus mengenai cerpen dan novel.

“I want it to be the kind of book that will stick with them a bit, the way books I liked when I was
that age stuck with me”
—Ann Brashares, author of Sisterhood of The Traveling Pants

Bab 2. Novel & Cerpen
Novel dan cerpen merupakan 2 kategori yang akrab banget di telinga maupun ‘mata’ kita, apalagi
sekarang banyak sekali buku-buku teenlit—baik dalam maupun luar negeri—yang membuat kita
semakin betah berlama-lama di depan buku… ?
“Hampir tujuh tahun, saya ada di bidang kedokteran dan itu jadi selling point bahwa setiap
penulis punya style berbeda.”
—Nova Riyanti Yusuf, penulis Mahadewa Mahadewi
Novel
a. Adalah karya panjang dari sebuah fiksi
b. Elemen-elemennya (plot, karakterisasi, tema & setting) dibangun secara mendetail
c. Terdiri dari 1 plot utama dan beberapa sub-plot pendukung
d. Karya fiksi yang lebih pendek dari novel namun lebih panjang dari cerpen disebut novella

“It’s completely overwhelming, seeing the name of my book in print somewhere official. What a
dream came true!” — Lauren Weisberger, author of The Devil Wears Prada

Cerpen
a. Adalah karya singkat dari sebuah fiksi
b. Juga memiliki elemen plot, konflik, karakter, setting & dialog, namun biasanya hanya fokus
pada 1-2 karakter dan 1 kejadian
c. Cerpen cenderung ‘memperlihatkan’ karakter si tokoh pada 1 momen penting daripada
membangunnya melalui beberapa kejadian
d. Dengan membaca cerpen, pembaca dapat menarik kesimpulan & kesan secara menyeluruh,
walau hanya berdasarkan 1 momen/kejadian penting tersebut

Memilih Genre
Genre adalah kategori dari suatu penulisan. Secara umum—dan global—ada 5 genre utama dalam
industri penulisan novel, baik itu untuk anak-anak, remaja, maupun dewasa. So, in this case, teenlit
also has those big 5 categories. 5 genre utama ini a.l. :
1) Romance — inilah genre yang paling banyak dibuat ceritanya! Sebuah buku dikatakan bergenre
romance hanya apabila bertemakan romance—nggak sekedar cewek & cowok jatuh
cinta, tetapi ide dasar & plot keseluruhan cerita harus mengenai romance… serta tentunya
harus terjadi ‘chemistry’ antara the hero dan the heroine.
2) Fantasy — genre yang menceritakan kejadian-kejadian yang tidak mungkin terjadi di dunia
nyata. Biasanya terdiri dari karakter, kejadian, serta setting yang imajinatif.
3) Science-Fiction — merupakan sub-genre dari fantasy, karena menyertakan isu science dan
teknologi. Biasanya sci-fi ber-setting di masa depan, planet yang jauh, maupun melibatkan
alien.
4) Mystery— genre ini memaparkan tema misteri—biasanya tentang pembunuhan. Ceritanya
bernuansa menegangkan, dan seringkali membutuhkan ‘otak’ untuk ikut mengurai serpihaserpihan
kejadian yang berlangsung.
5) Horor— pada dasarnya genre ini mirip sekali dengan misteri. Tetapi horor memiliki intensitas
ketegangan yang lebih mencekam karena melibatkan ghostly stuff.

Bagi penulis, pemilihan genre berguna untuk mengkomunikasikan apa yang ada di otaknya, ide
dasarnya. Let’s say… kamu ingin menceritakan sesuatu tentang cewek SMA yang menemukan rumah
tua yang katanya berhantu, dimana ia ingin menyelidiki kebenaran rumors tsb. In this case, you won’t
classify this as a romance, right? ?
Dan tidak tabu kok, kalau kalian ingin ‘mencampur-aduk’ genre satu dengan genre lain, misalnya:
membuat cerita horor yang berlatarkan romance, maupun cerita romance yang ber-setting-kan
science-fiction. Apapun itu, sebuah cerita akan menjadi enak untuk dinikmati apabila memiliki
backbone (struktur dasar) yang jelas, serta plot/alur mengalir.
How to make a great backbone?
OK, firstly it came down by getting and constructing the raw ideas…

Bab 3. Start from Scratch

Kalau kamu ingin menulis, berarti kamu harus mempunyai sesuatu untuk ditulis, kan?
Well, itulah yang dinamakan ide.

Unleash your inner creativity
Ide merupakan hasil olahan kreatif dari otak kita, atas sesuatu yang kita temukan, kita rasa, kita
gabungkan satu per satu, atau bahkan.. sesuatu yang benar-benar kita ciptakan sendiri. Apabila kita
tahu akan menulis apa, berarti kita sudah dapatkan ide tersebut. Tetapi kalau kita stuck melihat blank
paper di depan kita tsb, berarti ide tersebut masih harus kita temukan…… how?

“Much of what is in The Princess Diaries books is taken directly from my own diaries that I kept
when I was in high school…” — Meg Cabot

Berikut adalah beberapa cara ‘meng-ada-kan’ ide-ide tersebut:
1) Jadilah pendengar dan pemerhati
Kejadian yang menimpa kita maupun yang terjadi di sekitar kita—di sekolah, di rumah, di
ekskul, di mall, bisa jadi sumber inspirasi cerita kita, kalau kita mau benar-benar ‘membuka
mata dan telinga’. Contohnya, Ann Brashares penulis Sisterhood of The Traveling Pants
(Celana Persaudaraan) mendapat ide untuk teenlit tsb saat ia sedang mendengarkan
temannya curhat tentang saling berbagi celana panjang selama liburan, dimana celana tsb
akhirnya hilang di Kalimantan! As simple as that ?
“I find that reading is, for me, the best way to keep up with current and cutting-edge
technology…” — Michael Crichton, author of Jurassic Park
2) Write what ‘haunts’ you a lot
Pernah kan kamu merasa penasaran ½ mati, kepikiran melulu akan sesuatu? I did. Yaitu
mengenai: kenapa sih cowok selalu ‘berbeda pendapat’ ama cewek, kenapa sesuatu yang
Simply Being a Writer! by Sitta Karina 8
menurut cewek romantis, tapi menurut cowok tidak? Dari situlah, saya mencoba menilik lebih
jauh tentang karakter oposisi cewek-cowok hingga lahirlah “Diaz & Sisy”.
3) Elaborate things!
OK, ini adalah cara terakhir untuk memunculkan ide kalau 2 cara di atas belum berhasil. Coba
deh ‘mengkhayal & mencampur-adukan’ beberapa hal menjadi 1 kalimat utama. Misalnya, di
Starbucks, ex-kamu tiba-tiba nongol bersama cewek barunya… tetapi (di otakmu) ada cowok
lain yang datang bersamaan, yang ternyata temen kompleks kamu jaman SD, yang dulu jelek
banget, dan sekarang dia extremely gorgeous!
Intinya, lihat lalu khayalkan!

“Idenya pas bikin novel adalah pas dicurhatin oleh temen-teman…” — Fira Basuki, penulis trilogi Jendela-Jendela, Pintu, dan Atap

Journaling
What is a journal?
Kebanyakan orang mengira jurnal hanyalah buku tempat kita menulis apa saja yang harus kita
lakukan tiap hari. OK, big mistake. Dan jurnal sama sekali berbeda dengan yg namanya diary.
Pikirkan jurnal sebagai…
Sebuah kotak deposit besar yang menampung sesuatu berharga: your thoughts

A sketchbook untuk gambar, karikatur, lukisan, maupun sekedar corat-coret
Tempat yg aman untukmu menyelesaikan masalah & mencurahkan pengakuanmu yang
terbesar

Foto album, lengkap dengan comment-nya

Kumpulan quotes yg (bisa) lucu, inspirational, maupun penuh penegasan
Jurnal merupakan buku ide, kumpulan pemikiran, emosi, serta refleksi diri kita.

“Carry a note-book as you never know when inspiration will strike!” — Cathy Hopkins, author of Mates, Dates series
On this blank piece of paper…

Berdasarkan pengalaman, apalagi sebagai pemula, hal tersulit (setelah mendapatkan ide) adalah
menuangkannya di atas kertas putih, atau mungkin di layar komputermu.

Here’s the step-by-steps you could try ?:
1. You are now a writer. Artinya kamu menjadi ‘orang lain’. Jadi jangan malu-malu, dan tulis
apapun itu yang bergumul di pikiranmu.
2. Buat OUTLINE cerita (cerita ini tentang apa? Alurnya dari awal-akhir—secara ‘kasar’ dan
singkat).
3. Selalu berpedoman pada prinsip: opening – persoalan inti – klimaks – antiklimaks – closing
4. Buat chapter pertama yang eye-catching! Pilih kata-kata yang tepat, persuasif, komunikatif,
dan membuat pembaca ingin membalik ke halaman berikutnya.
5. Untuk membantu karakterisasi tokoh, ingatlah tokoh cerita favoritmu dan jadikan dia ‘nyata’
dalam ceritamu—of course, sesuai versimu sendiri ?
6. Kembangkan outline (no.1) menjadi plot dan sub-plot per chapter-nya. Lalu kembangkan subplot
itu menjadi cerita nyata. Remember, chapter per chapter.

“Write what you like to read most; it is what you’ll write best.” —Susan Kyle aka Diana Palmer

Bab 4. Elements of Writing Novel

Ada 7 elemen utama yang penting banget dalam menulis sebuah cerita—terutama novel.

Tema
What is my story about?
What is the purpose of my story?
2 hal di atas adalah pertanyaan wajib yg harus kamu jawab sebelum mulai membuat cerita, barulah
setelah itu akan terbentuk TEMA cerita.
Tema adalah struktur dasar (backbone) cerita yang mendasar dan amat penting. Dengan tema, desain
keseluruhan ceritamu akan tepat, kata-kata akan mengalir, dan karaterisasi tokoh dapat terbentuk
lebih baik.
“Theme, theme, and theme. That’s the very first thing pop up in my mind when I’m ready to
create new story.” — Nicholas Sparks, author of A Walk to Remember and The Notebook

Plot
Plot adalah sesuatu yang terjadi atau dilakukan oleh si tokoh/karakter. Buatlah plot dalam point-point
penting, lalu pecah lagi dalam sub-plot (apabila perlu). Jangan lupa sertakan KONFLIK.
Konflik terjadi karena aksi-reaksi dari para karakter tsb. Dalam konflik ini, karakter akan ‘fight for a
goal’, ‘learn in the process’, serta ‘grow’.
Itulah hidup—dan begitu juga dengan cerita yg kalian buat… ?

“Having only imagination is not enough. You have to go through the core of the story and feel
every single breath of it.” — Stephen King

Setting
Merupakan latar belakang tempat, waktu, serta keadaan dari cerita tsb. Setting memiliki peran dalam
mempengaruhi mood/atmosphere cerita, serta membuat cerita kita lebih realistis.
“If you’re going to have a complicated story you must work to a map. Otherwise you can never
make a map of it afterwards.” — J.R.R. Tolkien, author of The Lord of The Rings and The Hobbit

Point of View
Point of View/sudut pandang adalah posisi yang digunakan penulis dalam menceritakan ceritanya. PoV
terdiri dari 3 macam:
1) Sudut pandang orang pertama
Menggunakan kata ‘aku,saya,-ku’. Pemilihan terhadap PoV ini dikarenakan penulis:
a. membuat cerita lebih ‘personal’
b. Menyelami pemikiran 1 karakter saja
c. membuat seolah-olah penulis langsung berbicara dengan pembaca
2) Sudut pandang orang ketiga—terbatas
Menggunakan kata ‘dia,mereka,-nya’. Pemilihan terhadap PoV ini dikarenakan penulis:
a. menyediakan lebih banyak info tentang para karakter & kejadian-kejadian
b. memperlihatkan kejadian melalui mata dari 1 karakter
c. Encourage pembaca untuk mencari tahu tentang si karakter
Pada PoV ini, penulis tahu karakter seseorang seolah-olah atas apa yang dilakukan & dikatakan
karakter lainnya, sehingga pembaca dapat menilai keseluruhan cerita dengan lebih obyektif.
3) Sudut pandang orang ketiga—tak terbatas
Menggunakan kata ‘dia,mereka,-nya’. Pemilihan terhadap PoV ini dikarenakan penulis:
a. menciptakan full view tentang semua karakter & kejadian
b. memperlihatkan apa yang semua karakter rasakan dan pikirkan
c. menciptakan sudut yang luas terhadap keseluruhan cerita

Perbedaannya dgn no.2 adalah: si penulis di sini menjadi orang yang ‘tahu segalanya’.
Pembaca berkesempatan menilai cerita dari segala aspek, dan dapat lebih obyektif lagi
daripada PoV orang ke-3 terbatas.

Karakterisasi
Dalam cerita ada yg namanya tokoh utama (main character) dan tokoh pengganggu (obstacle
character).
• Tokoh utama : tokoh yang memiliki belief sesuai dengan filosofi/goal dari cerita. Ia juga tokoh
yang mendapat simpati & paling dicintai pembaca. Biasanya tokoh utama adalah si protagonis
(the good guy).
• Tokoh pengganggu : tokoh yang memiliki belief bertolak belakang dengan filosofi/goal cerita,
sehingga terjadi konflik dengan si tokoh utama. Ia disebut juga si antagonis (the bad guy).

“Every good book begins with good characters.” — Jasmine Creswell

Penulis dapat menciptakan karakter yang tak terlupakan melalui karakterisasi, yaitu beberapa cara lain
untuk mengatakan/memperlihatkan kepada si pembaca mengenai karakter dalam cerita, a.l. :
1.Sifat karakter. Contoh: ketus, ramah, suka bercanda
2.Aksi dari karakter.
3.Latar belakang karakter. Contoh: masa kecil, pengalaman masa lalu
4.Reaksi dari satu karakter terhadap sifat karakter lain
5.Dialog para karakter
6.Perasaan, pemikiran, serta keinginan si karakter
7.Komentar dari karakter lain tentang orang tsb
8.Perasaan, pemikiran, dan aksi dari karakter lain
9.Komentar langsung dari penulis mengenai sifat asli & kepribadian karakter tsb

Here’s some tips to bring characters to life:
o Cari nama yang (menurut kamu) sreg dan unusual!
o Beri si karakter sebuah history atau latar belakang (ia nggak tiba-tiba muncul, kan?
Keberadaannya di dalam cerita pasti memiliki suatu alasan)
o Beri dia sense of style tertentu (sesuai dengan setting & backbone ceritamu)
o Think about his/her taste. (what she like/dislike? Favorite things?)

“Don’t blab your story out to everyone. Only show it to those who will give constructive criticism.” — Sitta Karina, author of Lukisan Hujan

Description
Deskripsi merupakan penciptaan dari mental images yang membuat pembaca ‘melihat’ dan mengalami
suatu perasaan & kejadian seperti dirinya yang menjadi tokoh dalam cerita tsb.
Deskripsi yang ‘tepat’ menciptakan mood yang akan menggelitik emosi pembaca.
Coba bandingkan 2 bagian kalimat di bawah:

A
Hari ini langit cerah.
Alika dan Dimaz memutuskan untuk menghabiskan waktu di taman karena mereka memiliki waktu luang,
dimana pada minggu sebelumnya keduanya sibuk, hingga mereka hampir lupa akan tempat ini.
B
Di hari ini untung saja matahari membagi sinarnya yang tidak terlalu terik, serta semilir angin sejuk juga ikut
menambah cerah suasana yang sempat dingin menyelimuti Alika dan Dimaz.
Cerah dan damai. Bahkan lembutnya wangi bunga mawar pink itu ikut menggelitik hidung Dimaz.
Benar-benar kini waktu yang tepat untuk sekedar leha-leha di taman, setelah seminggu penuh keduanya
disibukkan dengan segala rutinitas yang membuat kian sesak bernapas. Kesibukan yang membuat keduanya
hampir tidak dapat menikmati keindahan tempat rahasia berdua ini lagi.
See the difference, right?
Dalam memaparkan deskripsi, penting sekali bagi penulis untuk memberikan detail.
Detail yang tepat, dimasukkan pada saat yang tepat, memberi kesempatan pembaca untuk menyelami
pemikiran inner karakter; ke dalam rasa takut, penasaran, stres, senang, benci.. yang kadang tidak
dapat dijelaskan hanya dengan kata-kata ‘ia senang’, ‘mereka nampak sedih’, dsb.
Deskripsi tidak dibuat begitu saja, mengalir saja. Deksripsi harus dipikirkan baik-baik, karena dari awal
cerita berjalan sampai cerita itu selesai, deskripsi menciptakan impression, sudut pandang, inti sari
cerita bagi si pembaca.
Seorang pembaca dapat menikmati cerita tsb—tergantung ketepatan dan relevansi deskripsi yang
dipaparkan penulis.
“saya senang banget kalau ternyata “buah keisengan” saya waktu SMP bisa terbit dan dibaca
teman-teman…” — Dyan Nuranindya, penulis Dealova
Quotes & Dialogue
Dialog bukan sekedar percakapan, karena dialoglah yang membuat cerita terus berjalan.
Ada 4 tujuan utama dari suatu dialog:
• Memaparkan informasi tentang latar belakang karakter atau backstory
• Menambah tensi/ketegangan dari suatu kejadian/adegan
• Membuat cerita terus bergulir (flowing)
• Memperlihatkan motivasi, emosi, perkembangan, dan perspektif dari si karakter
Hindari pengulangan informasi dalam suatu dialog, maupun percakapan basa-basi yang tidak memberi
info apapun. Contoh:
“Hai, Ga. Apa kabar?”
“Baik, Ko. Elo gimana?”
“Baik juga. Baru pulang lo? Tadi pergi ke mana?”
“Ke Blowfish. Elo dari mana?”
“Dari rumah temen. Ada acara apa di Blowfish?”
“Friendship Night SMA gue.”
“Oh. Ketemu Adis dong…”

Itu hanya sepenggal percakapan antara Aga dan Yuko. Bukan dialog.
Sebaiknya dialog yang terjadi antara Aga dan Yuko diubah menjadi seperti ini:
“Hey, Ga,” Yuko menyapa cowok di seberangnya, setengah terkejut, sampai suaranya turun seoktaf
lebih rendah,”apa kabar?”
“Baik, Ko,” respon Aga, sama kagetnya. “Elo sendiri… gimana?”
Mereka saling bertanya dari mana gerangan masing-masing selarut ini. Dan Yuko adalah orang yang
pertama kali terdiam ketika mendengar tempat tujuan sang sobat barusan. “Friendship Night SMA gue.”
Adis, batin Yuko, terasa miris di hatinya.
“Ada Adis di sana?” tanya Yuko, menjaga agar suaranya tidak bergetar.
“Yeah, ada.”
Yuko ingin berteriak marah. Kalah.
Setelah lama mereka bertiga mencoba mendinginkan kepala masing-masing, ternyata pada akhirnya
Adis memilih Aga. Bukan dirinya…

Jangan lupa untuk selalu menggabungkan dialog, dengan deskripsi, serta detail yang tepat, OK? ?
“Saya hanya menulis apa yang saya rasa. Kebetulan saya perempuan, saya menulis tentang
perempuan.” — Djenar Maesa Ayu, penulis Mereka Bilang, Saya Monyet
QUOTE (ucapan) seseorang yg langsung harus selalu menggunakan tanda petik (‘ dan “).
Berikut ini adalah pedoman penggunaan tanda petik tunggal (‘) dan ganda (“) yang baku pada direct
quotation:
o Shina berkata,”Tenang saja. Besok masih ada waktu.”
o “Jangan bergerak,” bisiknya dengan bengis, “atau kukubur benda ini selamanya.”
o Siapa yang bertanya “apakah besok libur?”
o Reno menjelaskan,”Tadi Bianca berkata,’Bajunya dibuang saja.’ ”
o Inez berseru dengan ceria,”Semalam aku dan Niki nonton ‘Alexander The Great’ di PIM.
Sumpah, Collin Farrell ganteng berat!”

Bab 5. Other Important Stuff

Riset
Sesimpel, sependek apapun cerita yang kamu buat, awali dengan sebuah riset, karena riset
mendukung kekuatan backbone cerita kita.
Apabila kita membuat cerita berlatar belakang modern life, urban and ‘wild’ people… sangat mungkin,
kita bertanya kanan-kiri, ataupun langsung mengunjungi on the spot, untuk melihat seperti apa
nightlife yang menjadi latar belakang para karakter ‘wild’ kita itu.

Judul Cerita
Never say “what’s a title good for, anyway?”
Selain karena cover buku, sinopsis cerita, seorang calon pembaca tertarik pada suatu buku karena
judulnya.
Judul cerita/buku memberikan ‘warna’ terhadap keseluruhan karya tersebut, serta menimbulkan
penilaian umum oleh pembaca terhadap: seperti apa setting cerita tsb, sense of style, serta kepada
jenis pembaca seperti apa buku ditujukan (segmentasi pembaca).
Contoh: coba bandingkan antara judul ‘Biola Tak Berdawai’ karya Seno Gumira Ajidarma dengan
‘Fairish’ karya Esti Kinasih.
“I would write for an hour each morning, then start to work—60 to 80 hours per week, as a State
Representative. My goal was simply to finish the first manuscript. It was only a hobby, a very
secret one.” — John Grisham, author of A Time to Kill and The Painted House

Timeline
Jangan paksakan semua hal kecil menyangkut cerita dalam memori kita. Percaya deh, kamu pasti
gampang lupa. Setiap kita menyelesaikan satu draft atau chapter dari cerita, luangkan waktu untuk
membuat timeline pada notes/komputer secara kronologis, agar akurasi dan relevansi cerita tetap
terjaga. Contoh:

CHAPTER 5

Week 1, Sunday: Adry menjemput Lilla di bandara lalu menitipkan di rumah Inez
Week 3, Monday: Lilla pergi dengan Chris ke festival film. Ini pertama kalinya Lilla naksir Chris
Week 4, Friday (night): Lilla dan Adry kembali ke Jerman

Fun with editing
Sebelum menyerahkan karya kita pada penerbit manapun, SELF-EDITING adalah hal yang amat
penting, dan harus dilakukan berkali-kali dengan sabar dan teliti. You might be surprised how many
mistakes you have made so far ?
Dengan meng-edit cerita kita yang telah selesai, maka kita melakukan:
Perbaikan terhadap huruf/kata/ejaan yang salah
Perbaikan terhadap tanda baca yang kurang tepat
REVISI terhadap kejanggalan-kejanggalan dalam pemaparan deskripsi, dialog, karakterisasi,
sampai pada plot yang melenceng dari tema cerita

Writer’s Block
Setiap penulis—terkenal maupun tidak—pasti pernah mengalami kebuntuan dalam menulis atau
writer’s block. Hal ini manusiawi sekali, dan kalau dipaksakan malah akan menghasilkan karya yang
nggak bagus.
“I do have to be in the mood to write. No point sitting down every day and just writing. If I’m
bored my readers will be bored, so I always wait for inspiration to strike.”
—Jane Green, author of Jemima J and Mr. Maybe

Ada beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi writer’s block:

a. Do your favorite things
Kamu suka hang out di coffee shop? Suka dance? Suka berdandan gothic lalu teteriakan di
depan cermin? ? Well, apapun itu—dan senorak apapun—lakukan sesuatu yang membuatmu
hati kamu senang, and let the feeling knock your imagination.

b. Listening inspiring music
Saya baru menemukan belakangan ini, bahwa dengerin instrumental piano—terutama dari CDCD
OST drama/kartun Jepang adalah sesuatu yang amat inspirational, serta dapat membentuk
mood tertentu untuk membuat cerita! Coba cari apa musik favoritmu, dan jadikan itu BGM
(background music) tiap kamu menulis.

c. Going to unusual places
Bosen dengan rutinitas nonton di bioskop? Coba sekali-sekali dateng ke acara diskusi film
independent temanmu di kampusnya, dan lihatlah bagaimana suasana—serta orang-orang—
baru menimbulkan ‘spark of idea’ di otakmu.

d. Messing up in your sketch/notebook
Corat-coret… gambar-gambar… atau sekedar bikin sepenggal kalimat yang benar-benar ‘suara
hati’. Jangan sungkan. Toh orang lain nggak perlu lihat, kan?

e. Create new and different story
Ini yg paling seru. Saat kamu stuck dengan satu cerita yg sudah terasa monoton, biasanya
otak kamu (tanpa disadari) menghasilkan ide lain yang bisa kamu jadikan cerita baru. Go write
them down, girls. Siapa tau cerita ini bisa menjadi the next big thing kan?

Writing as theraphy
Pernah dengar cerita, bahwa dulu di Virginia, USA, ada seorang cewek high-school yang tidak jadi
bunuh diri, setelah ia menulis surat selamat tinggal karena dirinya akan bunuh diri?
Menulis bisa menjadi terapi untuk diri dan hati kita yang terluka. Karena kadang kita sulit untuk
menceritakan kepada orang di sekitar kita, maka dengan menulis kita dapat mengekspresikan
perasaan kita yang paling private sekalipun, mengubah rasa takut dan tertekan tersebut menjadi
determinasi dan keberanian, sampai akhirnya menjadi sekumpulan ide dan pemikiran yang… who
knows, bisa menjadi best-selling book ?
Dengan menulis, kita dapat menjadi lebih bijak dalam menilai masalah, karena perasaan kita terus
diolah sampai akhirnya mencoba untuk ‘terbuka’ dan ‘menerima’.

Bab 6. Some Useful Tips
a. Read, read, read
Kalau kamu melahap segala macam buku, kamu pasti tahu jenis cerita apa yang paling ingin
kamu tulis… dan seperti apa writing style kamu.
b. Don’t take rejection personally and never give up
Sebelum menjadi novel seperti ini, Lukisan Hujan pernah 4 kali ditolak! Mungkin penulis lain
ada yang kurang, ada juga yang lebih sering. Apapun itu, teruslah berkarya dan mengirim!
c. Write all the time
Kalau kamu memang suka—dan ingin—menjadi penulis, maka writing secara alami akan
menjadi bagian dari daily life kamu.
d. Always bring your ‘lil journal
Kamu lagi di eskalator dan melihat ekspresi dua orang di depan kamu lagi saling ngambek dan
kamu amazed dengan ekspresi wajah mereka. Although it sounds crazy, go write it down.
NOW. ?
e. Create a sympathetic character that readers will like
Pikirkan tentang apa yang sangat ingin ia capai di dunia ini—lebih dari apapun, serta apa saja
rintangannya.
f. Use 5 senses when writing a SCENE
How does it look, how it sounds, how it tastes, how it smells… and finally, how it feels?

TIPS MENULIS BAGI PEMULA

Bagi Anda yang ingin memulai menulis sebagai karir utama atau sekedar hobi untuk mengisi waktu luang, berikut ini beberapa tips yang mungkin akan membantu Anda.  Tulisan ini dibuat bukan untuk maksud sok menggurui, tapi dibuat sekedar untuk berbagi pengalaman dengan para pembaca yang berkeinginan untuk menekuni dunia tulis menulis.  Penulis artikel ini yakin bahwa banyak di antara pembaca yang mungkin membaca artikel ini jauh lebih mahir dan lebih mumpuni pengetahuan dan keahliannya dalam bidang tulis menulis.  Baiklah berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan dan bisa dijadikan pedoman untuk memulai sebuah tulisan.

1. Tetapkanlah suatu ide dasar / tema dari tulisan Anda.  Kembangkan ide tersebut dalam suatu kerangka pemikiran / kerangka tulisan, yaitu buatlah semacam skema / bagan alur mengenai tulisan yang hendak dibuat.  Banyak orang yang menyebut skema ini dengan “PARADIGMA TULISAN”.
2. Setelah membuat skema / paradigma tulisan, mulailah lakukan sedikit riset (banyak juga akan semakin bagus).  Riset bisa berawal dari tulisan di buku-buku, berita di televisi, artikel-artikel yang menunjang baik di koran maupun dari internet.  Riset juga bisa pula didukung dengan informasi dari narasumber, yaitu orang yang berkompeten di bidang kajian yang akan menjadi bahan penulisan kita. Pengambilan data dari narasumber bisa dengan metode random sampling (metode pemilihan narasumber/responden secara acak), snowball sampling (metode pemilihan narasumber/responden dari mulut ke mulut, dimana jumlah responden akan bertambah banyak ; misal kita datangi si A, lalu kita wawancara, kita mintai pendapatnya tentang topik yang akan menjadi bahan tulisan kita, lalu kita tanyai si A, siapa lagi yang bisa kita datangi untuk kita mintai informasi.  Misalnya si A menyebutkan nama teman-temannya yang juga ahli di bidang itu, misalnya si B, si C dan si D.  Maka selanjutnya kita datangi si B, si C dan si D untuk mengorek keterangan lebih lanjut, demikian seterusnya hingga jumlah responden semakin lama semakin banyak dan data/keterangan serta informasi yang kita butuhkan semakin valid dan teruji kebenarannya).  Bisa juga kita melakukan survei, seluruh responden/narasumber yang berkompeten dalam bidang tersebut (100% semuanya kita wawancarai) kita minta keterangan tentang topik yang akan menjadi bahan tulisan kita.  Metode survei ini meskipun bisa menghasilkan data awal yang cukup valid, namun membutuhkan biaya yang tidak sedikit.  Dari ketiga metode pengumpulan data di atas, terserah kepada pembaca untuk memilih mana yang terbaik.
3. Dari hasil riset dan wawancara dengan nara sumber, mulailah untuk memilah-milah dan melakukan penggolongan informasi tersebut dalam beberapa kategori.  Tiap versi yang berbeda dari hasil riset belum tentu salah 100%, namun perlu kita telaah lebih jauh dan kita lakukan analisa berdasarkan cara berpikir secara sistematis dan logis.  Mungkin saja potongan-potongan informasi tersebut merupakan secuil saja dari sejumlah besar informasi yang bila kita gabung-gabungkan dan kita analisa secara mendalam akan menghasilkan suatu gambaran global (the big picture) dari suatu masalah / topik yang akan kita bahas.  Bahasa sederhananya, yaitu kita ibaratnya mencari potongan-potongan informasi seperti halnya kalau kita mengumpulkan potongan kepingan gambar dalam permainan puzzle, lalu kita akan satukan potongan-potongan kecil itu pelan-pelan (gak usah terburu-buru, karena hasilnya tentu kurang bagus dan bisa saja analisa kita menjadi salah dan tulisan kita tidak valid), hingga akhirnya kita akan memperoleh hasil akhir yaitu gambar utuh yang bisa kita pahami.  Ooo ternyata ini gambar sapi toh ?  Kalau kita melihat sesuatu hanya sepotong sepotong lalu buru-buru kita lakukan analisa tentu analisa kita bisa saja salah bukan ?
4. Dalam melakukan pembahasan dalam tulisan kita (memulai menulis), bisa saja kita membahas mulai dari hal-hal yang global dulu, baru kemudian sampai ke hal-hal yang kecil/detil.  Namun bisa juga kita mulai dari hal-hal yang kecil (potongan-potongan informasi yang berhasil kita kumpulkan) baru kita satukan dan kita bahas hingga kita bisa menyimpulkan gambaran global / keseluruhan pandangan dari suatu masalah (misalnya, dari pembahasan mengenai, buntut, kaki, perut, kepala, telinga, mulut, mata dan hidung, akhirnya kita sampai pada pembahasan mengenai makhluk apa yang kita bahas tadi.  Ooo ternyata ini sapi !).  Metode pembahasan dan penulisan mulai dari hal-hal kecil / potongan-potongan informasi yang kemudian disatukan dalam suatu kesimpulan akhir tentang sesuatu itu,  biasa kita temui dalam tulisan-tulisan novel atau bahkan film misteri yang kita tontong di bioskop atau televisi.
5. Mengenai alur waktu kita bercerita (misal dalam penulisan cerpen atau novel), bisa kita menggunakan alur runtut (dari awal sampai akhir waktunya urut dan runtut/berkesinambungan), flash back (penceritaan dimulai dari bagian akhir dulu, kemudian baru diceritakan dari awal asal mula kok bisa terjadi seperti yang di bagian akhir itu), atau bahkan alur cerita gabungan antara alur cerita yang urut dengan alur cerita yang flash back.  Namun alur cerita gabungan, bila kita tidak pandai-pandai mengolah kata dalam tulisan kita, bisa-bisa kita malah membingungkan para pembaca (ingat tidak semua pembaca yang membaca tulisan yang kita buat adalah orang dengan kecerdasan yang mencukupi, karena mungkin saja ada beberapa dari mereka yang agak telmi/telat mikir.  Oleh sebab itu lebih baik tulisan dan gaya bercerita atau penyajian tulisan kita seharusnya dibuat sesederhana mungkin dan bisa dimengerti oleh semua orang.  Hindari bahasa-bahasa para pejabat yang pakai istilah-istilah adaptasi dari bahasa asing yang sok keren, pakailah istilah dalam bahasa Indonesia yang mudah dimengerti).
6. Mengenai gaya bercerita, sebaiknya kita memakai gaya bercerita kita sendiri, dengan kata-kata yang sederhana, mudah dimengerti, pembahasan jangan terlalu berbelit-belit, pakailah perumpamaan-perumpamaan yang mudah untuk menjelaskan sesuatu yang mungkin sedikit rumit, sehingga dengan adanya perumpamaan itu para pembaca bisa terbantu untuk memahami apa yang kita maksud.  Dalam menulis, sebaiknya kita tidak perlu terlalu kaku dalam hal pemilihan diksi (pemilihan kosa kata), bisa saja kita pakai bahasa gado-gado (Indonesia-Jawa), walaupun tidak selalu disarankan.  Pendek kata, kita menjadi diri sendiri saat kita menulis sesuatu.  Jangan pernah berusaha meniru gaya bercerita orang lain dari tulisan tertentu yang pernah kita baca.  Tiap orang adalah pribadi yang unik, yang memiliki ciri khas dan tentu saja cara bercerita dan cara penyampaian isi pikirannya tentu akan berbeda-beda.  Justru dengan ciri khas gaya penulisan dan cara bercerita kita yang unik itulah, maka akan menjadi semacam kekhasan kita (bahasa kerennya “trade mark kita”).  Seperti halnya dalam dunia musik, setiap penyanyi tentu punya style/gaya dan penampilan serta genre (tema musik) yang tersendiri.
7. Tema apa yang bisa kita sajikan dalam tulisan kita ? Mulai saja dengan menulis sesuatu yang sederhana yang ada di sekeliling kita.  Para penulis bisa saja mengambil topik mengenai pengetahuan ilmiah, pengetahuan umum, hobi dan ketrampilan, tutorial perbengkelan/otomotif, keagamaan, pengalaman hidup yang membawa hikmah, tutorial memasak, tutorial komputer, tutorial HP, tutorial bercocok tanam/tanaman hias, tutorial desain atau bahkan tentang tips dan tutorial mengenai tata rias kecantikan, berbagai macam humor seputar dunia sekolah, kekonyolan teman, kehidupan di rumah, diri kita sendiri, atau bahkan obyek benda mati yang paling remeh sekalipun (sebagai obyek penderita yang kemudian dianggap seakan-akan sebagai makhluk hidup yang mempunyai perasaan dan emosi.  Di situlah kemampuan kita untuk menceritakan segala hal maupun kejadian yang terjadi di sekitar obyek benda mati tersebut, sehingga seakan-akan obyek benda mati tersebut sebagai saksi hidup yang bisa menceritakan segala hal yang terjadi dari sudut pandang si benda mati itu. Dengan kata-kata dan diksi yang tepat dan berkesan lugu dan polos, untuk menggambarkan setiap kejadian dan berbagai hal yang terjadi maka semua gambaran ilustrasi dalam bentuk cerita itu sudah bisa disebut sebuah karya cerita pendek yang cukup unik).  Baiklah, misalnya saja kita tetapkan saja kertas tissue toilet sebagai obyek yang akan kita bahas.  Kita pura-puranya memposisikan diri kita sebagai kertas tissue toilet tersebut, lalu kita bisa berangan-angan/membayangkan dan tentu saja berimajinasi  apa saja yang akan dilakukan orang dengan kertas tissue toilet tersebut.  Tentu saja akan muncul berbagai “versi” cara orang menggunakan kertas tissue toilet tersebut, dan bahkan mungkin ada orang yang tidak menggunakan kertas tissue toilet itu sebagaimana fungsinya.  Kita bisa juga membayangkan dan membahas tentang berbagai tipe orang yang masuk ke kamar kecil / toilet (tempat kertas tissue itu berada), mulai dari orang yang lemah lembut, grusa-grusu, sampai orang yang jorok sekalipun. Semakin unik dan semakin polos kita menggambarkan sesuatu yang berhubungan dengan kertas tissue dengan orang-orang yang menjadi pengunjung toilet, serta semakin kita bisa membawa pembaca untuk lebih “menghayati” akan “penderitaan” si kertas tissue, berarti tulisan kita sudah cukup komunikatif dengan para pembaca.
8. Bagi penulis yang tema tulisannya lebih banyak ke masalah teknis atau tutorial mengenai suatu topik tertentu, misalnya tentang Hand Phone atau komputer, tulisan tentang resep masakan, atau yang lainnya, sangat disarankan agar tulisan sebaiknya diberi ilustrasi/gambar pendukung baik gambar buatan tangan ataupun mungkin foto-foto pendukung yang “bisa memberikan gambaran” kepada para pembaca agar tulisan kita lebih komunikatif dan interaktif dengan para pembaca yang mungkin masih awam.
9. Jangan terlalu tegang dan takut salah, santai saja saat kita akan memulai menulis tentang sesuatu.  Biasakan membawa buku/notes kecil atau bahkan beberapa helai potongan kertas dan bolpoin kemanapun kita pergi.  Atau bahkan mungkin flash disk bagi yang mampu membelinya,  Siapa tahu kita bertemu dengan hal-hal yang bisa menjadi ide untuk bahan tulisan kita, maka kita akan dengan mudah membuat poin-poin penting yang bisa dicatat di selembar kertas yang kita bawa tadi.  Atau bahkan orang / kenalan yang membawa laptop yang berisi data-data/bahan-bahan yang bisa mendukung isi tulisan kita, jadi kalau kita membawa flash disk, kita bisa meminta ijin untuk mengcopy file-file data pendukung yang mungkin dimiliki orang/teman kita di komputer laptopnya. Saat menulis jangan pernah membatasi sampai berapa halaman isi tulisan kita, karena biasanya para editor di koran, majalah atau penerbit pasti akan selalu mengedit tulisan kita.  Dalam banyak kasus, tulisan kita yang semula pendek bisa disulap oleh penerbit menjadi tulisan yang sangat panjang dan detil, atau bahkan sebaliknya.  Ini sesuai dengan pengalaman penulis artikel ini yang pernah mengirimkan naskah tulisan ke majalah HAI dan majalah INFO KOMPUTER.  Di majalah HAI, artikel humor penulis yang saat itu panjangnya satu setengah halaman, bisa disulap oleh editor majalah HAI menjadi cukup dua alinea saja tanpa mengurangi makna isinya.  Di majalah INFO KOMPUTER, naskah artikel penulis yang semula hanya tiga perempat halaman bisa disulap oleh redaksi/editor majalah INFO KOMPUTER menjadi dua halaman penuh yang dilengkapi pula dengan ilustrasi foto capture dari layar desktop komputer.  Di tabloid PC Plus, tulisan penulis yang semula bernaskah mentah sebanyak 10 halaman plus ilustrasi, bisa disulap oleh editor tabloid tersebut menjadi dua halaman saja (karena tulisan dipersingkat, dan gambar ilustrasinya diperkecil ukurannya sehingga muat hanya dalam dua halaman saja).
10. Jangan pernah memperkirakan atau mematok harga mati berapa honor yang seharusnya kita terima, karena tiap media cetak atau penerbit memiliki patokan harga yang berbeda-beda.  Ada yang memberikan patokan honor berdasarkan jumlah artikel / topik artikel yang dimuat (dimana per artikel dihargai  mulai dari Rp 80.000,- s/d Rp 300.000,- ; ini untuk media dalam negeri/Indonesia.  Media asing seperti beberapa majalah di Australia dan Amerika bahkan bisa memberikan honor yang lebih tinggi yaitu antara Rp 500.000,- hingga Rp 1.000.000,- per artikel yang dimuat ; nominal mata uang sebenarnya dalam dolar dan tentu saja setelah ditransfer ke rekening kita akan berubah menjadi rupiah).  Ada pula beberapa media majalah yang memberikan patokan honor berdasarkan jumlah halaman cetak jadi yang dimuat di majalah tersebut dimana per halaman untuk tulisan yang dimuat dihargai antara Rp 70.000,- s/d Rp 100.000,-. Bahkan ada pula yang patokan honornya didasarkan dari jumlah karakter tulisan jadi yang dimuat di media tersebut. Tiap berapa puluh atau berapa ratus karakter dihargai Rp 50.000,- . Untuk yang ini honor yang diterima lebih lumayan, karena semakin banyak jumlah karakter tulisan kita, semakin besar honor yang kita terima, namun perhitungannya didasarkan pada hasil akhir yang dimuat (setelah diedit oleh tim editor media majalah atau koran) bukan dihitung dari naskah mentah yang kita kirim. Jadi penjelasannya begini, kalau tulisan artikel kita yang tadinya pendek karena diketik dalam 1 spasi atau satu setengah spasi dengan total halaman 2 lembar misalnya, bisa jadi setelah diedit dan dilayout oleh tim redaksi majalah, tulisan kita bisa disulap menjadi 4 hingga 6 halaman atau bahkan mungkin dipersingkat menjadi kurang dari naskah aslinya.  Jadi semuanya tergantung dari kebijakan tim redaksi majalah yang kita kirimi naskah artikel kita.  Biasanya, bila naskah artikel kita dimuat di suatu majalah kita akan diberikan edisi majalah yang memuat tentang tulisan kita secara gratis (disamping honor yang kita terima).  Namun jangan terlalu banyak berharap karena tidak semua media cetak mempunyai kebijakan seperti itu.  Bila tujuan kita menulis bukan untuk dimuat di majalah atau koran, melainkan untuk diterbitkan dalam bentuk buku, dari hasil obrolan dengan para penerbit, biasanya para penerbit memberikan royalti (hak cipta) yang dinilai dalam bentuk uang yang nominalnya biasanya sebesar 6% – 10% dari total penjualan / cetakan yang biasa dibayarkan setiap penerbit mencetak dan menerbitkan buku tulisan kita.  Ada penerbit yang sekali cetak bisa berani mencetak ratusan buku atau bahkan ada yang sekali cetak bisa sampai 1000 buku atau bahkan lebih. Ada pula yang memakai sistem pembelian royalti “beli putus”, artinya setelah disepakati bersama, maka suatu naskah yang akan diterbitkan menjadi sebuah buku, dibeli “hak cipta”-nya dengan pembayaran di muka.  Penulis tidak lagi berhak meminta royalti tiap kali penerbit mencetak ulang buku itu, walaupun ternyata menjadi best seller. Hal ini karena seluruh hak cipta sudah dipegang oleh penerbit, dan penulis tidak lagi berhak mengklaim royalti yang biasanya dibayarkan tiap tiga hingga enam bulan sekali. Keuntungan sistem “beli putus” adalah bila ternyata buku itu setelah diterbitkan tidak laku, penulis tidak rugi, karena ia sudah mendapatkan pembayarannya yang dibayarkan dimuka, sementara kerugian ditanggung sepenuhnya oleh penerbit.  Namun bisa jadi kerugian besar bagi penulis bila ternyata buku yang sudah terlanjur dibeli hak ciptanya dengan sistem “beli putus” itu kemudian ternyata meledak menjadi best seller, penulis tidak bisa menikmati royalti yang biasa dibayarkan setiap 3-6 bulan atau saat cetak ulang. Semua tergantung ke masing-masing penerbit, dan juga kesepakatan kita saat penandatanganan perjanjian kontrak dengan penerbit.  Maka berhati-hatilah dan pikirkan masak-masak mana yang dirasa paling baik untuk diri Anda sebagai penulis. Dalam komunikasi dengan penerbit, kita bisa berkomunikasi dengan telepon (untuk penerbit luar kota) atau mendatangi langsung ke alamat penerbit.  Sedangkan untuk pengiriman naskah karya tulis kita bisa lewat pos, lewat e-mail atau bahkan diserahkan langsung dengan dibawa sendiri ke penerbit.  Ada penerbit yang hanya meminta versi digital tulisan kita ; ini biasa disebut dengan soft copy (dalam bentuk file Ms-Word atau RTF) yang disimpan di disket atau CD atau dikirim lewat e-mail, dan ada pula yang bahkan meminta baik versi digital tulisan kita (dalam bentuk file Ms-Word atau RTF yang disimpan di disket atau CD) maupun versi cetaknya atau biasa disebut dengan print out (yang dicetak/di-print di kertas folio atau A4).  Semuanya tergantung dari kebijakan masing-masing penerbit.  Untuk itulah sebaiknya kita melakukan konfirmasi dan negosiasi dulu dengan penerbit tentang bentuk dan format naskah tulisan kita serta cara pengirimannya.

CARA JITU MENULIS CERPEN

Kenapa Kita Menulis?
Pertanyaan ini merupakan kunci motivasi seorang penulis. Untuk apakah kita menulis? Mari kita simak jawabannya melalui sebuah kisah nyata di bawah ini:
Usianya masih sangat muda, 13 tahun. Kala itu bulan Juni 1942, pertama kalinya ia menulis dalam buku diarinya. Beberapa bulan kemudian, bersama orangtuanya, ia bersembunyi di sebuah loteng gelap karena sedang diburu oleh rasisme Nazi yang sedang ganas-ganasnya. Seringkali ia mendengar suara deru pesawat tempur dan rentetan senjata api yang mengawang di atas Secret Annex itu.
Untuk mengisi hari-hari panjangnya di tempat persembunyian tersebut dan untuk mengatasi rasa takutnya, ia mencurahkan segala perasaannya dalam sebuah buku diari, catatan harian, yang dikemudian hari mengatarkannya menjadi seorang ‘pengisah sejati’ yang terkenal di seluruh dunia. Gadis itu bernama Anne Frank.
Aku berharap, demikian ia mengawali tulisannya pada diarinya yang diberinya nama Kitty, aku bisa  mencurahkan isi hatiku padamu dengan cara yang belum pernah aku lakukan pada siapapun sebelumnya, aku harap kamu dapat memberi rasa nyaman dan juga semangat untukku.
Berbulan-bulan ia tidak melihat matahari dan tidak mengetahui dunia luar. Namun ia terus saja menulis, “…aku suka menulis, banyak hal yang terlampau menIk dan luar biasa dalam hatiku, akan aku tumpahkan lewat tulisan. Kertas memiliki kesabaran yang lebih ketimbang manusia.”
Pada bulan April 1944 ia curhat pada diarinya bahwa ia rindu ingin sekolah lagi, Andai perang tidak juga berakhir bulan September, aku tidak akan kembali ke sekolah… Memang Anne Frank tidak pernah lagi melanjutkan sekolahnya hingga akhir hayatnya.
Karena pada tanggal 4 agustus pagi, delapan orang yang bersembunyi di Secret Annex, termasuk Anne Frank, disergap oleh intelejen bayaran Nazi lalu digiring ke Penjara, lalu ke kamp pembuangan sampai akhirnya dicampakkan ke sebuah kamp mengerikan di dekat Hannover (Jerman) tahun 1945. Bersama dengan impian remaja dan cita-citanya, akhirnya Anne Frank meninggal dunia karena terlalu lelah, sakit dan lapar. Mayatnya dibuang ke sebuah pemakaman umum Bergen-Belsen. Ia mati dalam usia belasan tahun tanpa sempat tahu bahwa beberapa waktu kemudian, setelah perang usai, diari-nya ditemukan oleh petugas berceceran di lantai Secret Annex yang akhirnya menjadi sebuah dokumen sejarah yang dipublikasikan di seluruh dunia.
Nah, dari kisah di atas kita dapat memetik pelajaran penting bahwa menulis adalah sebuah cara untuk mendokumentasikan segala pikiran, pengalaman dan imajinasi kita ke dalam bentuk tulisan. Untuk melengkapi jawaban ini, saya masih ingin mengutip penggalan-penggalan bagus dari diari Anne, Saat aku menulis, aku dapat meluruhkan seluruh deritaku. Ketakutanku lenyap, gairah hidupku bangkit kembali! ….. aku berharap, semoga bisa, oh, aku sangat berharap, hanya dengan menulis aku dapat merekam segalanya, seluruh pikiran, ide dan fantasiku. Pada awalnya, si Anne tidak berpikir kalau buku diarinya akan dipublikasikan secara luas. Ia menulis untuk dibaca sendiri dan berdasarkan motivasi seperti yang diuraikannya di atas.
Sebetulnya, dipelajari atau tidak, menulis itu tetap mengiringi hidup kita sehari-hari karena memang sudah menjadi kebutuhan. Baik untuk kepentingan resmi seperti mengerjakan tugas sekolah/kuliah/kantor, maupun untuk keperluan yang lebih bersifat privasi seperti menulis surat cinta, sms atau menulis curahan hati di buku diari.
Sesuai dengan jenis tulisannya, aktifitas menulis memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. Menulis laporan penelitian tentu tidak sama dengan menulis novel. Demikian juga dengan menulis artikel yang berbeda dengan menulis cerpen. Oleh karena itu menulis amat penting untuk dipelajari dan dipraktekkan.
“Kalau berbulan-bulan anda pelajari teori ‘berenang’  tanpa pernah menyentuh air, maka percayalah anda tidak akan pernah bisa berenang. Sebaliknya kalau anda dilempar ke dalam kolam renang dua atau tiga kali, besar kemungkinan anda akan otomatis menguasai teknik keseimbangan tubuh yang merupakan kunci utama ilmu renang. Demikian juga dengan ilmu mengarang. Anda harus akrab dengan buku dan alat tulis yang memang dikhususkan untuk mengarang”.
Kegiatan menulis sangat berguna, terutama dalam mendokumentasikan sesuatu, entah kisah hidup kita, kisah ‘special’ yang kita anggap perlu dikenang selamanya hingga peristiwa sejarah. Tradisi lisan mudah hilang dalam ingatan, sebaliknya tulisan akan selalu abadi sepanjang masa (begitu kata orang).
Berikut ini beberapa tips yang akan memudahkan anda dalam menulis, terutama menulis cerita pendek.

Menulis Harus Ada Minat.
Langkah pertama untuk menjadi seorang penulis adalah: ada keinginan yang kuat untuk menjadi seorang penulis. Ada gairah yang menggebu-gebu untuk menulis.  Gairah ini akan mengantarkan kita pada semangat ‘saya pasti bisa’. Tanpa itu, hanya akan melahirkan seorang penulis iseng yang se-ala kadarnya saja.

Rajinlah Membaca.
Seringkali kita membaca buku hanya pada saat menjelang ujian (sekedar untuk kepentingan merebut nilai tinggi). Membaca, hanya sekedar menghafal. Membaca yang dimaksud di sini adalah benar-benar untuk mengerti, memahami dan menikmati isi buku. Jika anda ingin menjadi seorang kolomnis maka banyaklah membaca opini di media massa. Jika anda ingin menjadi seorang novelis atau cerpenis maka banyaklah membaca novel dan cerpen yang memungkinkan anda  ani mencerna, menikmati dan meniru isinya. Agar bisa menulis, usahakanlah banyak membaca. Hanya perlu dicatat, mulailah dengan membaca sesuatu yang mudah dimengerti dan sesuaikan dengan jenis tulisan apa yang ingin anda tekuni.

Misalnya anda ingin menjadi seorang cerpenis remaja. Maka banyaklah membaca cerpen-cerpen remaja di majalah remaja maupun di dalam buku kumpulan cerpen. Perhatikan bagaimana cara penulisannya dari awal hingga akhir dan bagaimana penulisnya mengelola konflik remaja dalam bentuk cerita menarik. Karya orang lain penting untuk dijadikan referensi bagi seorang pemula.

Mulailah Dengan menulis Cerpen Singkat.
Banyak orang yang mengeluh, bahwa ia sudah banyak membaca novel dan cerpen tetapi tidak juga bisa menulis sebuah cerpenpun. Ada juga yang mengatakan apabila ia paling pandai bercerita lisan kepada temannya namun amat sulit menuangkan ke dalam bentuk tulisan.
Mulailah dengan menulis cerpen yang singkat dan semanpu ada menulisnya. Sebaiknya tidak usah dulu mengacu pada standar penulisan cerpen di majalah atau ketentuan dalan lomba. Semakin sering mencoba menulis cerpen, dengan gaya seperti apapun, kita akan semakin terbiasa dan menguasai teknik menulis cerpen. Apalagi diringi dengan membaca dan meminta bimbingan khusus dari seseorang yang sudah mahir menulis.

Latihan dengan metode “plagiat”
Cara ini adalah dengan Menulis Ulang Karya Orang Lain. Ingat, ini hanya untuk latihan sebaiknya tidak dipraktekkan untuk keperluan yang lain.
Pertama-tama kita pilih dulu tulisan orang lain yang kita anggap menarik. Misalnya sebuah cerpen yang berjudul Aku Lemah Karena Cinta. Kemudian kita menulis ulang karya itu dengan ketentuan sebagai berikut: anda bebas mengedit dan ‘memodifikasi’ naskah itu sesuai dengan kehendak anda, silahkan ganti juga nama tokohnya dan ubahlah judulnya, misalnya menjadi Jangan Berikan Aku Cinta. Atau kalau anda bisa, balikkanlah cerita itu sehingga judulnya menjadi Ku Tegar Karena Cinta.
Cerita asli yang seharusnya sedih cobalah diputarbalikkan sehingga menjadi cerita gembira (happy ending). Banyak orang yang latihan dengan cara ini dan lama kelamaan berhasil menulis cerpen secara mandiri.
Metode ini akan membuat kita menguasai anatomi (bagian-bagian) cerita, cara menempatkan penanda, cara memulai, cara menggunakan kalimat sambung, variasi kata dan juga bagaimana sih cara ‘mengganggu’ pembaca dengan kejutan-kejutan. Saya sendiri, pertama kali menulis sebuah artikel di sebuah media massa dengan metode ini. Waktu itu temanya sudah diatur oleh media yang bersangkutan yaitu tentang konsep ideal tentang gerakan mahasiswa. Saya menemukan sebuah artikel bagus dan langsung saya modifikasi. Judul artikel itu saya ubah, kemudian paragrafnya saya ubah dengan bahasa saya sendiri dengan tema yang masih seperti aslinya dan, artikel itu dimuat oleh media massa setelah menyisihkan banyak saingan mahasiswa. Waktu itu saya memang tidak tahu bahwa metode seperti ini tidak bagus untuk praktek langsung untuk di media. Tetapi sebenarnya cara ini boleh saja asalkan hasil ‘modifikasinya’ tidak mirip-mirip banget.

Menulis Kilat Dengan Metode Merekam.
Banyak penulis (termasuk saya) awalnya merupakan seorang yang sangat merasa kesulitan menulis artikel apalagi yang temanya sudah di atur-atur. Pernah suatu kali ada kompetisi menulis artikel di media massa yang melibatkan ribuan mahasiswa. Artikel itu hanya akan memuat dua artikel setiap hari dengan tema yang sebelumnya sudah ditentukan, waktu itu temanya pendidikan. Dua kali saya kirim  artikel itu tidak dimuat alias di tolak. Segera saya temukan kelemahan saya, ternyata saya tidak memiliki argument yang lebih baik untuk mendukung naskah artikel tersebut.
Kemudian saya mencari akal, saya menemui seorang senior yang paling jago dalam hal diskusi dan saya mengajaknya berbincang-bincang tentang pendidikan. Harus saya akui ia amat menarik bicaranya dan kosakatanya luas. Sejam kemudian saya membaca ulang catatan kecil hasil diskusi sambil mengingat perkataannya yang masih terekam dalam ingatan saya. Sebentar kemudian jadilah dua artikel. Kemudian saya kirim dua-duanya, satu pake nama teman. Dua-duanya dimuat. Dari itulah saya menemukan satu metode bagus untuk belajar menulis.

“Bertahun-tahun saya belajar menulis tapi nggak bisa-bisa. Emang gimana sih caranya menulis itu?” tanya seseorang pada saya sesaat setelah mengisi sebuah diskusi tentang menulis. Saya jelaskan banyak hal dan dia terlihat tidak percaya dan berkata bahwa menulis hanya bisa dilakukan oleh mereka yang berbakat saja. Di ujung kalimatnya ia menyindir bahwa saya tak jauh beda dengan gurunya di kelas yang hanya bisa teori dan teori.
“Kamu serius ingin menjadi penulis?” tantang saya dengan sedikit kalap.
“Iya,” sambutnya ketus sekali, “tapi, sekarang kayaknya udah putus asa.”
“Boleh tau apa yang ingin kamu tulis?”
“Cerpen. Saya punya satu kisah yang menurut saya paling menarik. Saya ingin membagi cerita ini pada orang lain.”
Dari cara ngomongmu, kamu punya bakat besar menjadi penulis, bego!, “Tentang apa?”
“Kisah cinta.” Jawabnya. Dasar AbG!
Saya ajak dia ke sudut, “Boleh saya mendengar sedikit ceritamu?” Jangan tanya kenapa!

Dia lalu bercerita dengan singkat tentang kisahnya dan memang seru. Setelah itu saya memberitahukannya bahwa saya merekam semua ceritanya dengan ponsel dan saya meminta waktu sebentar untuk menuliskannya ke dalam kertas.

Setelah itu saya edit, ditambah dan dikurangi serta didramatisir sehingga jadilah sebuah cerpen yang menarik. Metode ini bisa dijadikan sebagai salah satu cara untuk menulis cerpen. Jangan dulu berpikir bahwa cerpen kita tidak bagus atau tidak menarik. Semua kisah masing-masing memiliki keunikan dan daya tarik yang berbeda. Jadi, kalau ada orang yang mengeluh susahnya menulis padahal ia bisa mengarang cerita, maka latihlah dengan metode ini. Nanti kalau sudah terbiasa, anda cukup mendengarkan temanmu bercerita dan anda akan segera bisa menyulapnya menjadi cerpen atau artikel. Kalau masih belum puas hasilnya, diskusikan dengan orang yang udah lebih dulu pandai mengarang. Yang pasti jangan berhenti mencoba, kan sayang kalo kisah indahmu tidak pernah ditulis sama sekali.

Teori Dalam Pelajaran Bahasa Tetap Penting.
Bagaimanapun juga pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dan kampus tetap penting untuk membantu kita menjadi penulis. Dalam menulis biasakanlah menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar terutama untuk penulisan artikel. Waktu menjadi juri lomba cerpen pelajar, banyak sekali saya temui naskah cerpen yang salah menempatkan tanda (titik, koma, tanda petik dst). Ada juga cerpen yang menggunakan bahasa singkatan yang tidak dimengerti. Minatilah pelajaran bahasa sehingga anda benar-benar menguasainya.

Segera Catat Inspirasi Yang terlintas.
Seringkali ide dan inspirasi itu datang pada waktu yang tidak terduga dan kalau kita tidak mencatatnya bisa jadi kita akan lupa dan hal itu belum tentu akan datang lagi. Saya menyarankan biasakan membawa buku kecil ke manapun anda pergi. Atau bisa juga ide yang datang tiba-tiba itu dicatat melalui ponsel dan direkap ulang di dalam buku pada saat anda sempat.

Pastikan pada saat yang tepat anda akan menulis ide itu ke dalam bentuk tulisan yang utuh. Usahakan juga, kalau anda mendengar sesuatu (kosa kata menarik, tema, judul, kalimat indah, kata mutiara dll) dari orang lain, segera catat sebab itu akan membantu perbendaharaan kata anda di dalam menulis. Saya sendiri mendapatkan banyak manfaat dari cara seperti itu. Usahakanlah punya satu buku khusus untuk mencatat hal-hal singkat yang mengingatkan anda pada tema tulisaan (kamus pribadi), misalnya ide tulisan yang hendak dijadikan cerpen, inspirasi yang kemarin malam muncul sebelum tidur, daftar novel yang ingin ditulis, daftar nama tokoh dalam cerpen yang menarik, cuplikan deskripsi dalam sebuah novel yang ingin anda baca berulang-ulang saking bagusnya, dan seterusnya.
Pelajari Karakter Teman Di Sekitarmu
Ada banyak karakter manusia yang diulas dalam satu cerita. Kita tahu bahwa manusia memiliki karakter yang berbeda. Hal ini memberi kita pelajaran penting dalam menulis. Menulis cerpen akan lebih mudah (terutama dalam mendiskripsikan tokoh dan membuat adegan dialog) jika kita menjadikan orang yang kita kenal sebagai referensi. Misalnya begini, dalam cerpen kita ada tokoh antagonis yang cerewet, pemuja penampiran dan suka  anill. Carilah diantara teman di pergaulanmu yang  iker iki sikap demikian dan perhatikan bagaimana gaya bicarannya, pilihan kalimatnya dan intonasinya. Contoh lain, dalam cerpen ada tokoh baik, penyabar dan jujur. Perhatikan di sekeliling adakah temanmu yang memiliki sifat demikian? Jika ada perhatikan cara bicaranya, sikapnya, kesukaannya.

Sehingga ketika ingin menggambarkan kepada pembaca bagaimana sih sosok tokoh baik itu, maka anda akan dimudahkan oleh teman yang baik tadi sebagai referensi. Hal ini akan membantu untuk mendiskripsikan karakter orang. Sebab, dalam sebuah cerita, pasti akan mengulas sifat. Ada yang baik, jahat, nakal, penyabar, curang, gagah, centil, penggoda, penggombal, pembohong dan seterusnya. Karakter seperti itu ada di sekeliling kita. Tinggal comot saja mereka sebagai tokoh dalam cerita.

Buatlah Kerangka Cerita
Dalam pelajaran bahasa sering kita dianjurkan untuk membuat kerangka karangan. Hanya saja metodenya cukup formal dan sulit dijadikan acuan dalam mengarang. Menurut saya, bikinlah kerangka cerita itu sesuai dengan kebiasaan dan gaya anda sendiri misalnya, ingin menulis sebuah cerpen tentang persahabatan dengan seseorang. Anda harus mencatat dulu apa aja sih yang ingin anda ceritakan? Kisah persahabatan itu dengan siapa? Sisi menarik apa dalam kisah itu? Apa saja kesan anda terhadap dia? Kenyataan persahabatan apa yang terjadi dengannya? Bagaimana akhir dari kisah itu dan apa harapan anda dalam persahabatan dengannya.
Contoh kerangka sederhana untuk membuat cerpen, katakanlah temanya ‘berpisah’ dengan seorang sahabat:
Kisah persahabatan dengan si A
Awalnya bertemu dalam sebuah acara
Pernah bertengkar hebat karena beda pendapat
Dia sebenarnya sahabat yang penuh pengertian
Dia jadi teman special.
Akhirnya berpisah untuk selamanya karena satu sebab.
Kemungkinan judulnya: Selamat Jalan Sahabatku atau Rinduku Tak Pernah Berakhir atau sepucuk surat untuk sahabat atau Entah Kapan Engkau Kembali dan seterusnya. Biasakan membuat beberapa alternatif judul untuk cerpenmu. Semakin menarik judulnya, semakin memancing orang untuk membaca ceritamu. Judul ibarat wajah, kalo cakep orang mudah jatuh hati.
Dari kerangka sederhana dan acak di atas tinggal anda susun dalam bentuk cerita. Untuk tahap permulaan, tuliskan saja cerita tersebut berdasarkan ingatan yang ada dalam pikiran dan mengacu pada kerangka karangan. Nanti setelah selesai baru di edit lagi agar lebih menarik.

Latihan Menulis Dialog
Cerita pendek seringkali dibuka dengan narasi atau deskripsi tempat atau orang. Dalam latihan menulis kita harus membiasakan diri diselingi dengan dialog antar tokoh. Kalimat dialog itu juga harus disesuaikan dengan karakter usia dan topik pembicaraan si tokoh. Kalo tokohnya seorang guru fisika yang sedang ngajar nggak mungkin pake bahasa gaul ala sinetron yang serba abu-abu, kalau tokohnya seorang galak kemungkinan bahasanya ketus dan kasar. Selain itu perhatikan juga variasi keterangan dialog, misalnya:
“Aku sayang sama kamu.” Bisik cowok itu yang membuat jantung Diva seakan berhenti berdetak.
Anda bisa merubahnya menjadi:
“Aku,” Cowok itu berbisik pelan di dekat telinga Diva, “sayang sama kamu.”
Bisa juga diubah menjadi:
Cowok itu merangkul Diva dan berbisik pelan di antara gemerisik flamboyan yang diterpa angin malam, “Aku sayang sama kamu.”
Itu adalah contoh variasi dialog. Masih ada lagi jenis keterangan dialog yang perlu diperhatikan yang harus disesuaikan dengan adegan, misalnya:
“Jangan tinggalkan aku.” Pinta Ratu lirih. Atau bisa juga dengan: Ratu memohon pada cowok itu agar tidak meninggalkannya sendirian.
“Jangan coba-coba dekati aku lagi!” hardik Diva dengan muka merah padam. Atau bisa juga dengan: Dengan muka yang merah padam Diva menghardik cowok itu agar tidak berusaha lagi mendekatinya.
“Aku berharap kita akan selalu bersama selamanya.” Ucap perempuan itu. Atau juga bisa, “Aku berharap kita akan selalu bersama, selamanya.” Desis perempuan itu memecah keheningan malam.
Ada juga variasi seperti ini: “Kalau saja aku mau jujur, “ kata lelaki itu pada kekasihnya tanpa ada kesan bercanda, “sebenarnya aku tidak pernah mencintaimu,” sejenak ia terdiam, “sehebat saat ini” Kita harus bisa mengganggu pembaca dengan berbagai variasi yang seolah-olah aneh padahal pesan kita pada pembaca biasa-biasa saja.

Hal-hal lain yang perlu diperhatikan:
-Pandai Mendramatisir cerita.
-Banyak menguasai kosa kata.
-Memasukkan unsur-unsur baru yang lain dari yang lain.
-Jangan terikat oleh ketentuan bahwa panjang cerpen harus sekian halaman (ada cerpen yang Cuma 3 halaman dan ada yang sampai 25 halaman).
-Bimbingan Langsung Pada Penulis
Hal ini yang paling cepat membuat anda mahir menulis. Anda bisa menulis dulu satu naskah cerpen kemudian anda konsultasikan dengan penulis yang anda kenal, dan mintalah agar naskahmu di edit dan dikemas dengan lebih baik. Dengan begitu kamu bisa langsung mengetahui kelebihan serta kelemahan tulisannya. Saya sendiri sering membantu memperbaiki naskah cerpen para pemula dan akhirnya mereka berhasil menembus media massa dan memenangkan berbagai lomba cerpen. Untuk kebutuhan pelajaran menulis, pembaca (khusus pemula) bisa mengirimkan naskahnya (cerpen singkat) ke e-mail penulis dan penulis akan berusaha mengirimkannnya kembali sesuai permintaan pemilik cerpen.

Demikian sedikit tips dalam menulis. Yang pasti jangan berhenti untuk belajar dan mencoba. Kalau di negeri ini ada ribuan penulis sukses yang benar-benar mulai dari nol, kenapa kita tidak segera menyusul mereka?

Komentar (4) »

Berburu Buku Bekas

Di tengah mahalnya harga buku baru, kehadiran para penjual buku bekas cukup melegakan konsumen.  Apalagi bagi mereka yang masih berstatus pelajar dan mahasiswa yang kebanyakan berkantong pas-pasan. Kehadiran kios buku bekas juga cukup menguntungkan para penulis pemula.  Dengan banyak membaca (buku-buku bisa diperoleh dari membeli buku bekas), seorang penulis pemula bisa mengembangkan ide, wawasan dan juga paradigma berpikir kreatif yang bisa dituangkan dalam bentuk tulisan.  Dengan banyak membaca tentu kita jadi tahu berbagai macam hal baru atau bahkan bisa menemukan suatu hal yang baru sebagai bahan penulisan kita.

Kios buku bekas di Malang
Deretan kios buku bekas bisa dijumpai di dekat Stasiun Malang Kota Baru, yaitu di Jalan Sriwijaya, Malang. Aneka buku yang dijual mulai dari buku pelajaran, aneka tabloid bekas, hingga aneka majalah bekas terbitan dalam dan luar negeri.  Bila Anda tidak menemukan apa yang Anda cari, mungkin Anda bisa mencarinya di pasar pagi dadakan yang bertempat di Stadion Gajayana Malang. Di sana Anda akan menjumpai para pedagang yang menjual aneka majalah dan tabloid bekas.  Pada hari Minggu, pasar dadakan ini ramai sekali akan para pedagang yang tidak hanya berjualan buku bekas, namun juga berjualan aneka barang, mulai dari pakaian hingga perkakas rumah tangga. Beberapa deret kios buku bekas juga bisa dijumpai di sepanjang Jalan Klampok Kasri (dekat Jalan Wilis dan dekat Jalan Retawu). Jadi bila Anda berdomisili di wilayah Malang Raya, mengapa tidak mencoba berburu buku bekas di ketiga lokasi tadi ?

Kios buku bekas di kota lain
Kurang puas berburu buku bekas di kota Malang, mungkin Anda perlu mencoba alternatif kota lain yang terdekat dengan kota Malang, yaitu Surabaya.  Walaupun akhir-akhir ini perjalanan dari kota Malang menuju Surabaya agak terhambat oleh adanya “Tragedi Lumpur Lapindo”, namun bila Anda bersikeras untuk mencari buku yang Anda inginkan sampai ketemu, mengapa tidak mencoba mencarinya di Surabaya. Di kota Surabaya ini ada beberapa lokasi penjualan buku bekas.  Bahkan kini sudah ada beberapa kawasan yang boleh dibilang menjadi tempat mangkal atau kios pedagang buku bekas. Di antaranya di Jalan Semarang, Pasar Blauran, Pasar Gembong dan Jalan Semolowaru. Meski Surabaya belum memiliki kawasan kios buku bekas layaknya Sophie Center di Yogyakarta, Palasari (Bandung), Kwintang (Jakarta), atau Kawasan Titi Gantung (Medan – Sumatra) yang memiliki koleksi lengkap, kehadiran para penjual buku bekas ini sudah cukup membantu para penggila buku yang berkantong cekak.  Apalagi, kini mereka juga mulai menyediakan buku baru dengan harga miring.  Untuk bersaing dengan toko buku, mereka mematok harga rendah untuk buku-buku baru tersebut.
Mereka rela mendapatkan keuntungan tipis dari harga kulakan. Meski, ada beberapa pelanggan yang mengaku tidak selalu bisa mendapatkan buku-buku terbaru di tempat tersebut.
Helton Kusuma, wakil ketua Paguyuban Pedagang Buku Bekas Jalan Semarang, menjelaskan, untuk mendapatkan buku baru, pihaknya memilih jalan membeli buku retur. “Jadi, kami menunggu buku-buku baru yang tak laku, kemudian ditarik dari toko buku.  Harganya bisa 30-35 persen lebih murah,” jelas jebolan Teknik Mesin Untag Surabaya itu. Menurut dia, buku-buku retur banyak dia dapatkan dari penerbit-penerbit Yogyakarta. Cara itu juga diikuti 35 rekannya yang berjualan di kawasan tersebut. “Untuk buku-buku baru, kami dapat dari Mas Helton. Dia itu tahu saja informasi buku baru,” ungkap Hadi Waluyo, 23, salah seorang penjual buku di Jalan Semarang (Surabaya).
Nah, konsep “borongan” itulah yang sering dilakukan Helton. Pernah suatu waktu dia memborong Rp 50 juta buku-buku terbitan Erlangga. “Saya punya lima saudara yang juga berdagang buku bekas. Makanya, walau beli borongan, tak masalah,” ujar Helton.
Helton dan Hadi menyatakan, peminat buku bekas saat ini terus bertambah. Bukan hanya mereka yang berekonomi pas-pasan, mereka yang berkecukupan pun membeli buku bekas. Umumnya mereka adalah para pelajar dan mahasiswa.
Di pasar buku bekas Jalan Semarang, hampir semua jenis buku tersedia. Mulai buku pelajaran sekolah, diktat kuliah, novel, buku-buku motivasi, majalah, komik hingga skripsi.
Buku jenis apa yang paling banyak dicari ? Rata-rata pemilik kios menjawab senada. Feri Fiansyah, 26, pemilik tiga kios di Jalan Semarang, mengungkapkan bahwa buku pelajaran sekolah masih dicari, terutama pada masa pergantian semester serta  tahun ajaran baru. Saat-saat seperti itu merupakan masa “panen” bagi para penjual buku bekas. Banyak pelajar SD hingga SMA yang mencari buku bekas,” ungkap adik Helton tersebut.
Selain pelajar, mahasiswa sering berkunjung untuk melihat diktat-diktat lama yang mereka butuhkan. “Pokoknya, ada dua musim yang paling ramai dalam setahun. Yakni, Januari-Februari dan Juni-Juli, “jelas Hadi yang menjaga kios sejak 2,5 tahun lalu itu.
Hadi dan Welton menyatakan buku-buku motivasi dan sejarah merupakan yang paling favorit. “Buku Pak Karno seperti di Bawah Bendera Revolusi itu paling sering dicari. Tapi, ya sulit dapatnya. Dapat buku bekas kan tidak semudah buku retur,”jelas Helton. Buku sejarah lain yang cukup laris adalah Babat Tanah Jawa.
Dari mana mereka mendapatkan buku bekas ? Ada dua jalan utama yang mereka lakukan. Yakni, mendatangi tempat-tempat penimbangan barang bekas serta membeli dari para langganan yang datang ke kios mereka. “Orang yang menjual buku ke sini kami terima. Atau, kalau tidak, kami memiliki daerah sasaran. Misalnya, Mojokerto, Tulungagung, Malang, dan Jember,” kata Feri. Selain kota-kota yang disebutkan Feri tersebut, Jakarta menjadi kota potensial dijadikan tempat kulakan. Terutama untuk majalah-majalah bekas, baik majalah lokal maupun terbitan luar negeri. Fenomena yang sama terjadi di Pasar Blauran. Terdapat sekitar 35 kios buku bekas di sana. Berbagai koleksi buku tersedia. Beberapa kios bahkan menyediakan buku bkeas terbitan tahun baheula (kuno). Tak heran, beragamnya koleksi tersebut mampu menyedot segmen masyarakat.
Hakim Muslim, ketua Paguyuban Buku Bekas Blauran, menyatakan bahwa pangsa pasar masih didominasi lapisan menengah ke bawah. Namun, dalam lima tahun terakhir, masyarakat menengah ke atas pun mulai melirik kios mereka. Penyebabnya, harga kertas dari tahun ke tahun semakin membumbung tinggi. Implikasinya, harga buku baru pun turut melambung. “Masyarakat berpikir realistis Bila ada yang menjual murah, mengapa harus beli yang mahal ? Beda kualitas sedikit juga gak papa,” ungkapnya. Kios milik Hakim menjual hampir semua jenis buku. Mulai dari cerita anak-anak, komik, buku pelajaran sekolah, diktat kuliah, kamus dan bacaan umum. Dia menyebutkan, mahasiswa masih merupakan segmen pasar terbesar usaha itu. Disusul, para pelajar yang kerap berjubel ke Blauran tiap ganti semester. “Hampir lima puluh persen buku yang saya jual bersegmen mahasiswa,” katanya. Dia menjelaskan, pada Sabtu dan Minggu, pengunjung yang datang ke Blauran bisa mencapai tiga kali lipat hari biasa. “Kalau di kios saya, pengunjung tiap hari rata-rata seratus orang. Jumlah itu bisa mencapai 300 pengunjung pas weekend,” ujar Hakim yang memulai usaha tersebut sejak 1992. Untuk waktu berkunjung, pelanggan biasanya datang saat sore. “Terutama, para pelajar yang notabene datang seusai sekolah. Kalau mahasiswa, datangnya lebih fleksibel,” katanya. Untuk jenis buku, bidang ekonomi masih dominan menghiasi rak-rak buku mereka. Menurut dia, jenis buku itu paling dicari pelajar, mahasiswa, hingga guru atau dosen. Disusul, jenis buku seperti politik, hukum, bahasa Inggris, bahasa Indonesia, fisika, kimia dan biologi. “Masing-masing kios di sini punya segmen pelanggan supaya tidak saling memakan. Kami semua kompak, kok,” tegasnya.  Lain lagi dengan kios Erwin yang notabene menyediakan buku-buku baru. Bahkan, beberapa buku yang dia jual termasuk best-seller. Menurut dia, harga buku baru yang dijual di tempatnya lebih murah 20-30 persen dibandingkan harga di toko buku besar. “Sebab, harga yang kami patok selisih sedikit dengan harga grosir. Yang penting laku, untung nomor dua, “katanya mantap.  Meski demikian, dia menyatakan tak selalu menyediakan buku best seller. “Hanya bila pelanggan pesan,” jelas pria yang memulai usaha sejak 1998 tersebut.
Misalnya, ketika booming novel Da Vinci Code, Erwin mengaku banyak mendapatkan pesanan novel laris tersebut. Apalagi, harga yang dipatok jauh dari harga pasar. “Laris manis setiap Dan Brown merilis karya-karyanya,” ungkapnya.  Lain lagi dengan kios Hari Guntur yang lebih fokus menyajikan buku-buku lama. Buku terlama yang dia jual adalah terbitan 1969. Salah satunya buku berjudul Soeharto dari Prajurit sampai Presiden. Dia menjelaskan buku-buku yang dijual paling diminati para kolektor buku. “Bahkan, kios ini sering dikunjungi para turis yang memburu buku-buku lama,” ungkapnya.
Bukan hanya itu. Di deretan rak buku juga berjejer beragam ensiklopedia. Contohnya, Disney’s Dunia Pengetahuan yang Mengagumkan serta Ensiklopedia Negara dan Bangsa. “Jadi, jangan selalu menstigmakan bahwa pedagang buku bekas selalu identik dengan kualitas buku rendah,” tegasnya.

Beberapa Tips Memilih Buku Bekas
- Kalau tidak mendesak, sebaiknya hindari saat tahun ajaran baru.
- Silakan ditawar, tapi yang realistis.
- Telitilah apakah ada halaman yang hilang atau tidak.
- Bandingkan harga antara tempat yang satu dengan yang lain.
- Bila sudah ketemu penjual yang pas, jadikan langganan. Dengan begitu, ada kemungkinan bisa dapat diskon lebih besar.
Ada kebanggaan tersendiri ketika menemukan buku bagus di pasar buku bekas. Selain harganya miring, perjuangan dalam pencarian buku itu juga menimbulkan kepuasan lain. Karena itu ada beberapa orang yang merasa “ketagihan” untuk mengoleksi buku bekas ke berbagai kota di tanah air.

Komentar bertahan »

Tips Menulis Ala Stephen King

Stephen Edwin King, seorang penulis novel legendaris dari Amerika, lahir di Portland, Maine (USA) pada 1947. Stephen merupakan anak kedua Donald dan Nellie Ruth Pillsbury King. Dibesarkan sang ibu bersama sang kakak yang sangat kreatif, masa kecil Stephen terpaksa lebih banyak dihabiskan di rumah ketimbang sekolah karena kesehatannya yang buruk. Dia pun mengisi waktunya dengan banyak membaca dan menyalin cerita favoritnya. Berasal dari latar belakang keluarga yang berantakan (ayahnya meninggalkan ibu Stephen saat ia masih kecil, sementara sang ibu harus membanting tulang dengan bekerja sebagai buruh cuci dan setrika di sebuah laundry serta merangkap pekerjaan serabutan di berbagai tempat), Stephen tumbuh bersama ibu yang sangat mencintainya, dan seorang kakak laki-laki bernama Dave yang sangat suka pada proyek-proyek karya ilmiah sekolah dan terkadang membuat eksperimen yang sangat berbahaya untuk anak-anak seumuran mereka. Kakaknya (Dave) pula yang mengilhami Stephen untuk mulai menulis, dimulai dengan menuliskan film-film yang pernah ditontonnya semasa kecil dan menjual tulisannya di sekolah tak peduli itu melanggar hak cipta, sampai kerja barengnya bersama sang kakak yang menulis koran desa yang diterbitkannya sendiri untuk dijual ke para tetangga dan para penduduk desa (kota kecil) tempat mereka tinggal. Hobi menulisnya terus berlanjut hingga saat ia bersekolah di sekolah menengah. Ia rajin mengirimkan aneka cerpen ke berbagai majalah science fiction, hingga majalah bergenre horor atau cerita misteri. Masa-masa kecil dan masa remajanya dihabiskan dengan hidup prihatin, bekerja sambil sekolah. Stephen sempat bekerja sebagai buruh pabrik sepulang dari sekolah, dan masih menyempatkan menulis di sela-sela kesibukannya, padahal setiap harinya ia pulang dari bekerja saat sudah larut malam, dan besoknya masih harus bangun pagi-pagi untuk bersekolah. Ibunya pun bekerja keras membanting tulang bekerja secara serabutan dan tinggal menumpang di rumah saudara perempuannya (bibi dari Stephen). Mereka hidup berpindah dari satu apartemen kumuh ke apartemen kumuh yang lain, dari rumah saudara yang satu ke rumah saudara yang lain. Semasa kuliah di University of Maine di Orono (USA), Stephen King ikut aktif dalam gerakan anti perang Vietnam. Di universitas itulah dia meraih gelar B.A. dalam bahasa Inggris, dan setelahnya mendapat kesempatan mengajar Business English di SMA. Hidup adalah sebuah perjuangan keras di mata Stephen. Kerasnya perjuangan hidup terus berlanjut hingga ia lulus kuliah dan bekerja serabutan sebagai buruh setrika di sebuah usaha laundry dan terkadang bekerja serabutan di pabrik sebagai buruh dengan upah rendah. Saat ia ditawari mengajar bidang penulisan kreatif (di sebuah SMA di Amerika) dengan gaji yang sangat kecil, ia menerima semuanya itu dengan lapang dada. Ia terus menulis dan menulis. Karya-karyanya dikirimkannya ke berbagai majalah dan sering ditolak ! Saat ia sudah menikah pun, ia masih terus menulis. Istrinya Tabby, teman kuliahnya dulu, juga seorang penulis, namun tekanan ekonomi-lah yang memaksanya bekerja sebagai buruh cuci di perusahaan laundry, serabutan bekerja di pabrik dan juga sebagai pelayan di Dunkin Donuts. Hidup adalah sangat sulit bagi mereka berdua, bahkan setelah mereka mempunyai dua orang anak, Joe dan Naomi. Saat-saat keemasan bagi Stephen adalah saat karya novelnya yang berjudul Carrie diterbitkan dan ia memperoleh uang dari hak cipta sebesar 200.000 dollar (sebenarnya ia memperoleh hak cipta sebesar 400.000 dollar, tetapi sesuai kontrak perjanjiannya dengan literary agent-nya dengan pembagian 50:50 maka Stephen hanya memperoleh 200.000 dollar, yang dibayarkan dengan uang muka sekitar 2500 dollar). Jumlah itu sudah lebih dari cukup untuk ukuran waktu itu. Kini hak cipta karyanya sudah bernilai jutaan dollar ! Stephen benar-benar merintis karir mulai dari bawah. Ia bahkan sempat tinggal di sebuah mobil van, dengan istri dan dua anaknya. Tempatnya berkarya untuk menulis hanyalah sebuah meja kecil anak-anak yang tersembunyi di suatu sudut di mobil van itu. Berbekal mesin ketik Olivetti milik Tabby, istrinya, ia terus berusaha membiayai keluarganya agar dapur mereka tetap mengepul ! Sungguh suatu pekerjaan yang berat dan perjuangan yang keras dalam hidup ini. Saat ia sukses, sang ibu sempat melihat kebahagiaan sang putra saat novel pertamanya yang berjudul “carrie” terbit. Di saat-saat terakhir kematian sang ibu, Stephen dan sang kakak, Dave, sempat menunggu di samping sang ibu yang sakit keras sambil terus merokok untuk mengurangi penderitaan sakit yang teramat sangat akibat kanker rahim yang dideritanya. Sementara sang Tante (saudara ibunya) membacakan novel Stephen keras-keras di telinga ibu Stephen. Paling tidak sang ibu tercinta sempat merasa bangga bahwa perjuangan sang anak yang dicintainya dan dibesarkan dengan susah payah akhirnya membuahkan hasil. Hingga saat ini, Stephen King sudah membuahkan puluhan novel yang hampir semuanya bergenre cerita misteri, suspense dan thriller atau horor. Kini Stephen King dan Tabitha – sang istri, menyediakan beasiswa untuk siswa sekolah menengah dan terlibat dalam berbagai kegiatan amal. Menerima The National Book Foundation Medal for Distinguished Contribution to American Letters pada 2003 – penghargaan yang melahirkan perdebatan soal mutu sastra karya-karyanya, Stephen King kembali menerima Lifetime Achievement Award di bidang sastra pada tahun 2004. Berikut ini beberapa hal tentang tips menulis yang dikemukakan oleh Stephen King, seorang penulis novel terkenal dari Amerika yang ringkasan dan juga cuplikan yang sempat ditulis dalam bukunya yang berjudul “On Writing : A Memoir of The Craft” yang diterbitkan oleh Pocket Books Publishing, New York tahun 2000.

……..
Kau juga perlu memasukkan tata bahasa para rak teratas di kotak perkakasmu (maksudnya ide-ide yang butuh dikembangkan saat menulis), dan jangan membuatku jengkel dengan erangan kekesalanmu atau jeritanmu bahwa kau tidak memahami tata bahasa. Rileks saja. Tenang. Tata bahasa Amerika tidak punya kekuatan seperti tata bahasa Inggris (seorang ahli periklanan Inggris dengan pendidikan yang layak dapat membuat salinan iklan majalah untuk produk kondom terdengar seperti piagam Magna Carta), tetapi tata bahasa Amerika punya pesonanya sendiri yang khas. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk tidak memasukkan tata bahasa, barangkali karena alasan yang sama seperti ketika William Strunk memutuskan untuk tidak melengkapi dasar-dasar itu ketika dia menulis edisi pertama The Elements of Style : jika engkau tidak tahu, sudah terlambat. Dan mereka yang benar-benar tidak  mampu memahami tata bahasa – seperti aku tidak mampu memainkan frasa melodi tertentu dan peralihan nada pada gitar – hanya akan mendapat manfaat kecil atau tidak mendapat manfaat sama sekali dari buku semacam ini. Tata bahasa yang buruk menghasilkan kalimat-kalimat yang buruk. Kata benda dan kata kerja adalah dua bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam menulis. Tanpa salah satunya, tidak ada kelompok kata yang mengandung subyek (kata benda) dan predikat (kata kerja); rangkaian kata ini dimulai dengan huruf besar, diakhiri dengan tanda titik, dan bergabung untuk membentuk satu pemikiran lengkap yang dimulai di kepala pengarang dan kemudian melompat ke kepala pembaca. Haruskah kau menulis kalimat-kalimat lengkap setiap kali, selalu ? Singkirkan pikiran itu. Jika karyamu hanya terdiri dari fragmen-fragmen dan klausa-klausa mengambang, Polisi Tata Bahasa tidak akan datang dan menahanmu. Bahkan, William Sturk, Musolini-nya retorika, mengakui keluwesan bahasa yang mengasyikkan. Menurut pengalaman sejak dahulu, para penulis yang paling baik kadang-kadang tidak menaati aturan-aturan retorika. Meskipun begitu, dia menambahkan pemikiran ini, yang kutekankan kepadamu agar kau pertimbangkan : “Kecuali jika dia yakin akan bisa menunjukkan hasil yang baik, penulis sebaiknya mengikuti aturan.
Ada satu persyaratan di sini, yaitu kecuali jika dia yakin akan bisa menunjukkan hasil yang baik. Jika kau tidak punya gambaran sama sekali tentang bagaimana bentuk-bentuk kata dari pembicaraan itu terbentuk menjadi kalimat-kalimat yang koheren, bagaimana engkau bisa yakin bahwa kau bisa menunjukkan hasil yang baik ? Bagaimana kau akan tahu apakah kau akan menunjukkan hasil yang baik ? Jawabannya, tentu saja, adalah bahwa kau tidak bisa, tidak akan bisa. Orang yang benar-benar bisa menangkap prinsip-prinsip dasar tata bahasa akan menemukan kesederhanaan yang menenangkan, bahwa pada intinya, yang diperlukan hanyalah kata benda, kata-kata yang menyebutkan nama suatu benda, dan kata kerja, kata-kata yang menunjukkan tindakan. Ambil kata benda yang mana saja, gabungkan dengan kata kerja mana saja,maka kau akan punya satu kalimat. Ini tidak pernah gagal. Batu-batuan meledak. Jane mengudara. Gunung-gunung melayang. Semua itu adalah kalimat-kalimat lengkap. Banyak pikiran semacam itu secara rasional kurang bisa dimengerti. tetapi bahkan yang lebih aneh (Buah plum mendewakan!) punya semacam bobot puitis yang menarik. Kesederhanaan dari konstruksi kata benda – kata kerja itu bermanfaat – setidak-tidaknya itu dapat memberi jaring pengaman bagi tulisanmu. Strunk dan White memperingatkan tentang kalimat sederhana berurutan yang terlalu banyak, tetapi kalimat-kalimat sederhana memberikan jalan yang dapat kau ikuti jika kau takut tersesat di tengah kerumitan retorika – segala macam klausa restriktif dan nonrestriktif, frasa-frasa pengubah, segala macam apositif, dan kalimat-kalimat majemuk kompleks. Jika mulai merasa ganjil begitu sampai di wilayah yang tidak ada dalam peta (tidak ada dalam petamu, paling tidak), ingatkan saja dirimu bahwa batu-batuan meledak, Jane mengudara, gunung-gunung melayang, dan buah plum mendewakan. Tata bahasa bukanlah hal yang menyebalkan; itu adalah galah yang kau gunakan untuk berpegangan dan membawa pikiranmu berdiri dan berjalan. Di samping, itu Ernest Hemingway (juga seorang novelis terkenal) berhasil dengan kalimat sederhana, bukan? Bahkan ketika sedang mabuk, dia tetap seorang jenius. Jika kau ingin menggosok kembali tata bahasamu (bila ingin menulis novel dalam bahasa Inggris), pergilah ke toko buku bekas di dekat rumahmu dan carilah buku Warriner’s English Grammar and Composition – sebuah buku pedoman bahasa Inggris untuk anak SMA di Amerika. Bisa juga dicari di internet bila buku tua itu sudah tidak lagi dijumpai di pasaran. Kau akan merasa lega dan senang, kukira, karena hampir semua yang kau butuhkan telah disarikan di halaman depan dan belakang buku tersebut.

Kata kerja ada dua jenis, pasif dan aktif. Dengan kata kerja aktif, subyek dalam kalimat sedang melakukan sesuatu. Dengan kata kerja pasif, sesuatu dilakukan pada subyek kalimat. Subyek hanya membiarkan itu terjadi. Kau harus menghindari kalimat pasif. Aku bukan satu-satunya orang yang berkata begitu; engkau bisa menemukan saran yang sama dalam The Elements of Style. Strunk dan White tidak berspekulasi tentang mengapa begitu banyak penulis tertarik pada kata kerja pasif, tetapi tak apalah kulakukan spekulasi itu; kupikir, para penulis yang malu-malu menyukai pasangan yang pasif. Suara pasif itu aman. Tidak ada tindakan yang menyulitkan yang harus dihadapi; subyek hanya perlu menutup matanya dan berpikir tentang Inggris untuk membuat parafrasa Ratu Victoria. Kupikir, para penulis yang tidak yakin juga merasa suara pasif, entah bagaimana, meminjamkan otoritas kerja mereka, bahkan mungkin kualitas kebangsawanan mereka.  Orang yang malu-malu akan menulis, “pertemuan akan diadakan pada pukul tujuh”, sebab entah bagaimana itu seperti memberitahukan kepadanya, “Katakan dengan cara begini dan orang-orang akan percaya bahwa kau benar-benar tahu.” Bersihkan pikiran khianat ini! Jangan minder begitu! Tarik bahumu ke belakang, angkat dagumu, dan tentukan waktu pertemuan! Tulis, “Pertemuan pukul tujuh.” Nah, demi Tuhan! Tidakkah kau merasa lebih baik? Pendek kata, hindarilah menggunakan kalimat pasif dalam tulisanmu. Kalau memang terpaksa, gunakan sesedikit mungkin kalimat pasif. Jangan membiasakan diri menuliskannya, karena kalimat pasif seakan menunjukkan keragu-raguan, ketidakpastian, dan tidak tegas serta tidak lugas dalam mengutarakan sesuatu.

Para penulis membentuk dirinya ke dalam suatu piramida seperti yang kita lihat dalam semua bidang bakat dan kreativitas manusia. Pada piramida tersebut, lapisan paling bawah dihuni para penulis buruk. Lapisan di atasnya adalah kelompok penulis yang jumlahnya lebih sedikit, tetapi tidak terlalu sedikit dan ini menggembirakan; mereka adalah penulis yang kompeten. Kelompok ini juga dapat dijumpai bekerja sebagai karyawan di koran-koran lokal, karyanya dapat dilihat di rak-rak buku di toko buku setempat dan pada pembacaan puisi Open Mike Night. Lapisan di atasnya lagi adalah kelompok penulis yang jumlahnya lebih sedikit. Mereka penulis yang benar-benar bagus. Di atas mereka – di atas kita semua – adalah kelompok Shakespeare, Faulkner, Yeats, Shaw, dan Eudora Weltys. Mereka itu para penulis jenius, kelompok istimewa, luar biasa berbakat sehingga kita tidak mampu memahaminya, apalagi mencapai keberhasilan seperti mereka. Meskipun demikian, sebagian besar para penulis jenius ini tidak dapat mengerti diri sendiri dan banyak dari mereka memiliki kehidupan menyedihkan, menyadari (paling tidak pada tingkatan tertentu) bahwa mereka bukan apa-apa selain orang-orang aneh yang beruntung, versi intelektual para model catwalk yang kebetulan dilahirkan dengan tulang pipi yang indah dan bentuk tubuh yang sesuai dengan citra kecantikan pada masa itu.

Tulisan yang bagus berisi penguasaan atas hal-hal mendasar (kosakata, tata bahasa, unsur-unsur gaya tulisan), kemudian mengisi bagian ketiga kotak perkakas tulismu dengan alat yang tepat. Meskipun tidak mungkin mengubah penulis yang buruk menjadi penulis yang kompeten, dan sama tidak mungkinnya mengubah penulis yang baik menjadi penulis yang hebat, sangat mungkin untuk menjadi penulis yang baik daripada sekedar penulis yang kompeten. Dan ini dapat dilakukan dengan banyak kerja keras, dedikasi, dan bantuan yang tepat. Aku khawatir gagasan ini akan ditolak oleh banyak kritikus dan sebagian besar guru menulis. Mereka umumnya adalah orang-orang liberal dalam masalah politik, tetapi keras kepala dalam bidang pilihannya. Sering mereka adalah orang yang sama yang berbicara di depan kelas mengatakan bahwa kemampuan menulis adalah kemampuan yang sudah ditetapkan dan tidak dapat diubah. Kalau engkau ingin menjadi penulis, ada dua hal yang harus kau lakukan; banyak membaca dan banyak menulis. Setahuku, tidak ada jalan lain selain dua hal ini, dan tidak ada jalan pintas. Aku (Stephen King) termasuk pembaca yang lambat, tetapi biasanya aku dapat menyelesaikan 70 atau 80 buku per tahun, sebagian besar buku fiksi. Aku tidak membaca untuk mempelajari seninya; aku membaca karena aku senang membaca. Itulah yang kulakukan pada malam hari, duduk di kursi biruku. Demikian pula, aku tidak membaca fiksi untuk mempelajari seni fiksi, tetapi karena aku senang cerita. Meskipun demikian, toh tetap ada proses belajar yang berlangsung. Tiap buku yang kau baca mengandung pelajaran, dan sering buku yang jelek jauh lebih banyak memberikan pelajaran daripada buku yang bagus. Ketika aku duduk di kelas delapan, kebetulan aku membaca novel karya Murray Leinster, edisi kertas stensilan. Murray Leinster adalah penulis novel fiksi ilmiah picisan yang banyak menulis ketika dia berumur 40-an dan 50-an, ketika majalah-majalah semacam Amazing Stories membayar satu sen dolar untuk satu kata. Aku juga membaca buku-buku lain karya Leinster dalam jumlah yang cukup untuk mengetahui bahwa kualitas tulisannya tidak konsisten. Dengan membaca cerita yang buruk – novel, seperti Asteroid Miners (atau Valley of The Dolls, Flowers in the Attic, dan The Bridges of Madison County) – seseorang dapat dengan jelas belajar tentang apa yang tidak boleh dilakukan, dan proses belajar ini sama dengan waktu belajar satu semester di sekolah menulis yang bagus, bahkan dengan pelajaran yang diberikan oleh guru tamu yang seorang bintang dalam hal tulis menulis. Sebaliknya, tulisan yang bagus mengajarkan kepada calon penulis tentang gaya tulisan, narasi yang indah, pengembangan alur cerita, penciptaan tokoh-tokoh yang meyakinkan, dan penuturan yang benar. Membaca karya novel yang jempolan dan bagus akan berfungsi sebagai pendorong, dan sebagai pelecut bagi penulis untuk bekerja lebih keras dan memasang target lebih tinggi. Terdorong untuk menggabungkan antara cerita yang hebat dan penulisan yang sangat bagus – sebenarnya, terjepit di antara dua hal itu – adalah bagian dari proses pembentukan yang diperlukan oleh setiap penulis. Kau tidak dapat mempesona orang lain dengan kekuatan tulisanmu sebelum ada orang lain yang melakukan hal serupa itu kepadamu. Jadi, kita membaca agar mengenali tulisan yang agak buruk dan sangat buruk; pengalaman seperti itu membantu kita mengenali hal-hal buruk tersebut saat mereka pelan-pelan masuk ke dalam karya kita sendiri, dan dengan mengenali kita dapat menghindari kesalahan yang sama dalam penulisan. Kita juga membaca untuk mengukur kemampuan diri kita sendiri dalam menghadapi hal-hal yang bagus dan hebat, untuk mendapatkan pengetahuan tentang segala sesuatu yang dapat dilakukan. Dan kita membaca untuk mengenali gaya tulisan yang berbeda-beda. Aku menulis cerita pada masa remajaku saat semua gaya tulisan itu berbaur, menciptakan semacam gaya tulisan yang riang gembira. Pembauran gaya penulisan itu adalah bagian yang diperlukan seorang penulis untuk mengembangkan gaya tulisannya sendiri, tetapi hal itu tidak mungkin menjadi tanpa media apa-apa. Kau harus banyak membaca, terus-menerus memperbaiki dan merumuskan karyamu sendiri selama  berkarya. Aku merasa sulit percaya bahwa orang-orang yang tidak banyak membaca (atau dalam beberapa kasus tidak pernah sama sekali membaca) menganggap dirinya dapat menulis dan mengharapkan orang lain menyukai apa yang dia tulis, tetapi aku tahu bahwa hal itu memang benar demikian. Kalau engkau tidak punya waktu untuk membaca, kau tidak punya waktu (atau peralatan) untuk menulis. Mudah saja.

Membaca adalah pusat kreatif kehidupan seorang penulis. Aku membawa buku ke mana pun aku pergi, dan menemukan di sana segala macam peluang untuk menenggelamkan diri dalam bacaan. Kiatnya adalah mengajari dirimu sendiri untuk membaca sedikit demi sedikit serta membaca langsung dalam waktu lama. Ruang tunggu memang disediakan untuk membaca buku – tentu saja! Demikian juga lobi gedung pertunjukan sebelum pertunjukan dimulai, dan tempat membaca yang menjadi kegemaran semua orang, toilet/WC. Kau bahkan juga dapat membaca sambil mengemudi, berkat revolusi buku audio (e-book). Dari sekian banyak buku yang kubaca setiap tahun, sekira enam sampai dua belas buku ada dalam bentuk kaset. Sama seperti semua stasiun radio bagus yang akan kau rindukan siarannya kalau tidak mendengarkannya.

Jika engkau ingin berhasil sebagai penulis di dalam masyarakat yang beradab, sopan santun tidak perlu menjadi persoalan. Hal yang paling tidak perlu kau perhatikan adalah keberadaban masyarakat dan harapan masyarakat. Kalau kau bermaksud menulis sejujurnya seperti yang engkau mampu, hari-harimu sebagai anggota masyarakat beradab tidak akan terlalu lama lagi, hanya tinggal dalam hitungan hari. Jika kita sudah berhenti dari kebutuhan sesaat akan televisi, banyak orang akan memperoleh kesenangan dengan menghabiskan waktu untuk membaca. Aku ingin mengatakan bahwa dengan mematikan kotak yang terus-menerus berbunyi itu, maka kemungkinan kualitas hidupmu akan meningkat, demikian pula kualitas tulisanmu. Hal yang paling penting dari kegiatan membaca adalah bahwa kegiatan itu menciptakan kemudahan dan keakraban dalam proses menulis; kita dapat masuk dalam dunia penulis dengan kertas kita dan kemampuan identifikasi yang kita miliki. Banyak membaca akan mendorongmu masuk ke suatu tempat (sebuah pola pikir, kalau kau lebih suka menyebutnya begitu) yang dengannya kau dapat menulis dengan penuh semangat hingga terlena. Membaca juga memberimu pengetahuan yang terus bertambah mengenai apa yang diulang-ulang dan apa yang benar-benar baru, apa yang dapat terlaksana dan apa yang teronggok sekarat di sana (atau mati), di suatu lembaran tulisanmu. Makin banyak engkau membaca, makin kecil kemungkinan kau membodohi dirimu sendiri melalui pena atau program pengolah kata di komputermu.

Pada dasarnya, pagi hari adalah waktuku untuk menulis. Begitu mulai bekerja pada satu proyek buku yang aku tulis, aku tidak berhenti dan tidak berlambat-lambat kecuali jika aku memang harus berhenti. Jika aku tidak menulis setiap hari, gambaran tokoh-tokoh yang ada dalam kepalaku akan segera menghilang – para tokoh tersebut akan terlihat seperti karakter mati, bukan manusia nyata. Narasi cerita mulai memudar dan aku kehilangan pegangan pada plot dan perkembangan cerita. Yang paling buruk, kegembiraan merangkai sesuatu yang baru mulai memudar. Kegiatan menulis itu lalu terasa seperti pekerjaan, dan bagi sebagian penulis, itu berarti tanda kematian. Menulis menjadi kegiatan paling menyenangkan – selalu, selalu, selalu – jika penulisnya seperti mendapat inspirasi. Aku dapat menulis tanpa perasaan, jika terpaksa, tetapi aku paling suka jika tulisan itu terasa menyegarkan dan terasa demikian penting untuk ditangani.

Aku biasa menulis sepuluh halaman sehari, yang kira-kira memuat 2000 kata. Jika demikian, akan ada 180.000 kata selama rentang waktu 3 bulan, suatu ketebalan buku yang cukup bagus – sesuatu yang dengannya pembaca dapat merasa asyik, jika ceritanya ditata dengan baik dan tetap terasa segar. Jika selama beberapa hari, kesepuluh halaman itu berjalan lancar, aku dapat terjaga dan menulis serta melakukan tugas-tugas rumah pada pukul 11.30, bersikap riang dan ramas seperti tikus yang menyantap selai yang dioleskan pada roti. Semakin tua, aku semakin sering makan siang di meja kerja dan menyelesaikan tugas hari itu kira-kira pada pukul 14.00. Kadang-kadang, kalau ada kesulitan mengeluarkan kata-kata, aku masih berkutat hingga saat waktu minum teh (sore hari). Semuanya tidak masalah bagiku, tetapi aku mengizinkan diriku sendiri bangkit dari meja kerja sebelum mendapatkan 2000 kata, hanya dalam situasi yang memang penting.
Bantuan terbesar bagi produktivitas yang teratur adalah bekerja dalam suasana tenang. Akan sulit, bahkan bagi penulis yang pada dasarnya memang termasuk produktif, untuk bekerja dalam lingkungan yang di dalamnya ada bel alarm, dan suasana serabutan atau suasana ramai dan bising.
Ruang menulismu tidak harus mewah dan bagus. Aku menulis dua novel pertamaku yang diterbitkan, yaitu Carrie dan Salem’s Lot, di ruang cuci baju rumah mobil kami. Aku mengetik di mesin tik tenteng merek Olivetti milik istriku dan meletakkan meja kerja anak-anak di pangkuanku. Penulis yang lain, seperti John Cheever punya reputasi menulis di ruang bawah tanah bangunan apartemen Park Avenue, di dekat tungku perapian. Ruang kerja itu mungkin tampak sederhana (barangkali malah seharusnya sederhana, seperti yang kupikir pernah aku rasakan) dan ruang itu benar-benar hanya membutuhkan pintu yang bisa ditutup saat engkau benar-benar membutuhkan konsentrasi penuh. Dengan menutup pintu ruang kerjamu, berarti engkau sudah membuat komitmen serius untuk menulis dan kau seharusnya sudah mantap dengan tujuan menulis setiap hari. Seperti pada olah raga, hal terbaik adalah menetapkan target yang rendah terlebih dahulu, agar tidak dihinggapi kekecewaan. Kusarankan kau menulis ribuan kata per hari, dan karena aku merasa sedang murah hati, maka kusarankan kau mengambil satu hari libur dalam seminggu, paling tidak untuk mulai menulis. Jangan lebih dari sehari; karena itu akan membuatmu kehilangan kesegaran dan kesiapan ceritamu. Dengan tujuan yang telah ditetapkan, engkau dapat menetapkan bahwa pintumu akan tetap tertutup hingga tujuan tercapai. Kau dapat menyibukkan diri menuliskan ribuan kata ke atas kertas atau memasukkannya ke dalam disket, flash disk, atau CD. Rahasia dalam menulis adalah tulislah apa yang kau ketahui, pelajarilah apa yang belum kau ketahui dan bersikap jujurlah menjadi dirimu sendiri saat engkau menulis. Saat menulis, jangan pernah terbelenggu oleh alur cerita atau plot maupun kerangka cerita yang kamu tetapkan sejak awal. Semuanya bisa berkembang mengikuti imajinasi dan daya khayalmu. Ide-ide baru selalu bermunculan begitu kamu menuliskan sebuah cerita. Bahkan alur cerita dan kerangka cerita bisa berubah sama sekali di saat-saat terakhir, saat engkau menyelesaikan tulisanmu. Seorang penulis yang terbelenggu melulu menuruti alur cerita dan kerangka cerita yang dibuatnya di awal akan menghasilkan tulisan yang kaku, membosankan dan tidak komunikatif dengan para pembacanya. Tulisannya sering kali menjadi kehilangan jiwa. Menulislah dengan gayamu sendiri, sudut pandangmu akan sesuatu hal, dan ungkapkanlah dengan caramu sendiri untuk menceritakannya. Engkau mungkin bisa memperoleh berbagai informasi lebih lanjut di situsku yaitu http://www.stephenking.com .
Deskripsi adalah apa yang membuat pembaca bertindak sebagai partisipan dalam suatu cerita melalui media panca inderanya. Deskripsi yang bagus adalah keterampilan yang dipelajari dan merupakan salah satu alasan utama mengapa kau tidak berhasil jika tidak banyak membaca dan menulis. Deskripsi itu bukan hanya sekedar pertanyaan mengenai bagaimana, tetapi juga mengenai berapa banyak.
Dengan banyak membaca, kau akan terbantu menjawab berapa banyak dan hanya dengan menulis kau akan terbantu menjawab pertanyaan bagaimana. Kau dapat belajar hanya dengan melakukannya. Deskripsi dimulai dengan visualisasi apa yang engkau inginkan dialami oleh pembaca, dan diakhiri dengan saat kau menerjemahkan apa yang kau lihat dalam benak ke dalam bentuk kata-kata dalam satu halaman. Memang sulit sekali. Kalau kau ingin menjadi penulis sukses, kau harus mampu menggambarkannya, dan dengan cara yang membuat pembaca tulisanmu tergetar karena mengenalinya. Jika dapat melakukan hal ini, kau akan mendapat bayaran atas usahamu (honor atau royalti), dan jika kau tidak dapat melakukannya, maka kau akan menuai banyak lembar penolakan dan mungkin perlu mencoba karier di dunia telemarketing yang “menyenangkan”.
Deskripsi yang terlalu sedikit seringkali membuat pembaca merasa kabur dan bingung, sebaliknya deskripsi yang berlebihan membuat pembaca terkubur dalam detail dan bayangan. Oleh karena itu, yang terbaik adalah mencari jalan tengah. Penting juga diketahui apa yang akan digambarkan atau dideskripsikan dan apa yang dapat dibiarkan saja tanpa deskripsi sambil kau meneruskan pekerjaan utama, yaitu menyampaikan cerita. Aku tidak terlalu suka dengan tulisan yang sangat banyak menjelaskan karakteristik fisik tokoh-tokoh ceritanya dan pakaian mereka (menurutku, kosakata mengenai pakaian cukup mengganggu). Deskripsi bermula dari imajinasi penulis, tetapi harus berakhir di benak pembaca. Makanya, janganlah terlalu detil menggambarkan segala sesuatunya. Biarlah para pembaca yang mengkhayalkan mengenai deskripsi yang kita gambarkan secara garis besar. Tiap pembaca akan mempunyai versi gambaran dan imajinasi yang berbeda saat membaca tulisan kita. Justru hal inilah yang seringkali membuat tulisan kita banyak diminati orang. Dalam penulisan deskripsi dikenal dua macam deskripsi, yaitu ada deskripsi langsung (“ada beberapa orang yang minum sendirian di meja bar”) dan ada sedikit deskripsi yang lebih puitis (“cermin di belakang meja bar…bercahaya remang-remang seperti ilusi”) dalam paragraf deskriptifku mengenai suatu lokasi dalam cerita novelku. Keduanya dapat diterima, tetapi aku lebih suka yang bersifat kiasan. Penggunaan teknik metafora dan bahasa kiasan lainnya adalah salah satu hal yang menyenangkan dalam karya fiksi – baik ketika membaca maupun menuliskannya. Kalau sudah sampai pada target penulisan, sebuah kalimat metafora akan membuat kita senang, seperti kalau berjumpa teman lama di kerumunan orang-orang yang tidak kita kenal. Dengan membandingkan dua obyek yang tampaknya tidak berkaitan – rumah makan dengan bar dan sebuah gua, cermin dan ilusi- kita kadang-kadang mampu melihat hal lama dengan cara yang baru dan hidup. Bahkan jika hasilnya sekedar untuk menjelaskan, bukan untuk keindahan cerita, kupikir penulis dan pembaca sama-sama berperan serta dalam menciptakan suatu keajaiban. Mungkin dengan demikian, penggambarannya dapat sedikit lebih kuat, tetapi yah – itulah yang kupercayai.
Kalau teknik metafora tidak dapat diterapkan, hasilnya kadang-kadang menjadi tampak lucu dan memalukan. Kunci untuk deskripsi yang bagus dimulai dengan melihat secara jelas dan diakhiri dengan menulis secara jelas, jenis penulisan yang menggunakan imajinasi segar dan kosakata sederhana. Aku mendapatkan pelajaran ini dengan membaca karya Chandler, Hammett dan Ross Mac Donald; bahkan mungkin aku lebih menghargai bahasa deskriptif yang ringkas, yang secara singkat dapat menjelaskan semuanya, daripada membaca karya T.S. Elliot dan William Carlos William. Seperti pada aspek-aspek lain dari seni narasi, keterampilanmu akan meningkat dengan berlatih, tetapi latihan tidak akan pernah membuatmu menjadi sempurna. Latihlah seninya, ingatkan selalu dirimu bahwa tugasmu adalah mengatakan apa yang kau lihat, dan lanjutkan ceritamu.
Sebagaimana dengan aspek-aspek lain dari sebuah fiksi, kunci utama untuk menulis dialog yang bagus dalam karya novelmu adalah kejujuran. Jika kau jujur tentang kata-kata yang keluar dari mulut tokohmu (tak peduli seberapa kasar dan kurang ajar kata-kata atau kalimat itu), kau akan mendapati bahwa kau rela menerima sejumlah kritik. Berkata jujur itu penting, ada banyak hal yang bergantung pada kejujuran. Jangan pernah terbelenggu dengan norma kesopanan saat menuliskan dialog, karena bisa jadi bahasa yang diperhalus,justru sangat “tidak alami” dan tidak mungkin dijumpai dalam percakapan sehari-hari. Semakin dialog dalam tulisan kita menggambarkan percakapan yang luwes yang dengan mudah bisa dijumpai dalam pergaulan dan kehidupan masyarakat sekitar, maka cerita kita akan lebih “hidup”, daripada bila kita menulis dengan penuh moral dan kesopanan yang mengakibatkan tulisan kita menjadi kaku dan tidak wajar.
Dalam mengolah konflik, usahakan memutarbalikkan dan saling menukarkan tokoh protagonis dan antagonis, maksudnya bisa jadi tokoh utama dalam cerita kita adalah seorang tokoh kriminal atau orang yang sangat berbahaya, namun dalam sudut pandang penulis, diutarakan argumen-argumen pembenaran mengapa tokoh seperti itu justru menjadi tokoh utama dan sentral dari cerita. Berbagai sudut pandang yang mengandung pembelaan/argumen masuk akal perlu dikemukakan agar pada akhirnya para pembaca menjadi berpihak pada si tokoh jahat yang menjadi tokoh utama dalam cerita kita. Dengan cara seperti ini, biasanya sebuah cerita menjadi unik dan best seller. Dimana-mana hal yang kontroversial selalu laris bak kacang goreng.
Sangat berbeda dengan teori-teori yang sudah ada, aku perlu mengemukakan bahwa karya fiksi yang baik selalu dimulai dengan cerita dan berkembang menjadi tema; hampir tidak pernah dimulai dari tema dan berkembang menjadi cerita. Satu-satunya pengecualian yang mungkin terhadap aturan ini, adalah cerita-cerita seperti Animal Farm karya George Orwell (dan aku sudah curiga bahwa ide cerita Animal Farm mungkin memang muncul lebih dahulu. Jika cerita dasar yang kau miliki sudah tersusun di atas kertas, engkau perlu memikirkan apa maknanya dan tambahi draf ceritanya dengan kesimpulan-kesimpulanmu. Kalau tidak demikian, sama saja dengan merampok pekerjaanmu (dan akhirnya para pembaca ceritamu) dari pandangan bahwa tiap dongeng yang kau tulis adalah unik bagi dirimu sendiri. Aku tidak percaya bahwa para novelis, bahkan yang sudah menulis empat puluh buku hingga yang sudah menulis 500 buku seperti John Creasey (novelis cerita misteri dari Inggris), sangat memperhatikan masalah tema; aku punya banyak minat (yang mendasari munculnya tema), tetapi hanya sedikit yang cukup mendalam untuk dapat dikembangkan menjadi novel.
Sampai sejauh ini semua baik-baik saja. Sekarang, mari kita bicarakan tentang revisi tulisan, berapa banyak dan berapa draf cerita yang akan direvisi ? Bagiku, jawabannya selalu ada dua draf dan pemolesan (dengan kemajuan teknologi pemrosesan kata, polesanku menjadi lebih cepat menjadi draf ketiga). Kau perlu menyadari bahwa aku hanya membicarakan gaya tulisanku pribadi di sini; dalam prakteknya, revisi antara penulis satu dan penulis yang lain sangat berlainan. Misalnya, Kurt Vonnegut menulis kembali tiap halaman dari novel-novelnya hingga persis seperti yang dia inginkan. Hasilnya adalah dia menghabiskan berhari-hari untuk memperbaiki selembar atau dua lembar halaman sampai selesai (dan keranjang sampahnya penuh dengan gumpalan kertas, berlembar-lembar halaman 71 dan halaman 72 yang tidak terpakai), tetapi ketika naskahnya selesai, maka selesai pulalah bukunya, hebat kan ? Engkau bisa menirunya. Namun, kupikir ada hal-hal tertentu yang bisa dibilang cocok bagi sebagian besar penulis, dan mereka adalah penulis-penulis yang ingin kubicarakan sekarang. Kalau sudah menulis, kau tidak akan begitu memerlukan bantuanku pada bagian ini; engkau akan punya rutinitas menulis sendiri yang sudah mapan. Kalau kau seorang pemula, aku mendorongmu untuk membuat minimal dua draf cerita; satu draf engkau buat dengan pintu tertutup (di ruangan kerjamu yang kau tutup rapat pintunya) dan satunya lagi dengan pintu terbuka (karena tidak terlalu banyak menuntut konsentrasi penuh saat engkau bekerja).
Dengan pintu tertutup, aku menulis secepat mungkin dan masih merasa nyaman, mengolah apa yang ada dalam benakku langsung ke lembaran kertas. Menulis fiksi, terutama fiksi yang panjang, dapat menjadi pekerjaan yang sulit dan sepi; seperti menyeberangi lautan Atlantik di bak mandi. Ada banyak kesempatan untuk meragukan diri sendiri. Kalau aku menulis dengan cepat, mencatat dengan tepat apa yang ada dalam benakku dan hanya menoleh ke belakang untuk memeriksa nama tokoh-tokohnya dan bagian-bagian terkait dengan cerita pendukung mengenai para tokoh ini, kupikir aku dapat melakukannya dengan antusias dan pada saat yang sama mengatasi keraguan pada diri sendiri.
Draf pertama – Draf seluruh cerita – harus ditulis tanpa bantuan (atau gangguan) orang lain. Akan ada saat ketika engkau ingin menunjukkan pada teman dekatmu apa yang tengah kau lakukan, entah karena kau bangga atau karena kau merasa ragu-ragu akan hal itu. Saranku yang terbaik adalah menahan dorongan ini. Biarkan saja ketegangan yang sudah ada; jangan menurunkannya dengan memaparkan apa yang sudah kau tulis pada keragu-raguan, pada pujian, atau bahkan pada pertanyaan yang bagus dari seseorang dari Dunia Luar. Biarkan harapanmu untuk sukses (dan ketakutanmu untuk gagal) terus berlangsung, sesulit apa pun itu. Akan ada waktu untuk memamerkan apa yang sudah kau lakukan ketika kau selesai…tetapi bahkan setelah menyelesaikan draf pertama ini kupikir kau perlu waspada dan memberi kesempatan pada diri sendiri untuk berpikir sementara ceritanya masih seperti ladang segar penuh salju yang baru saja turun, tidak ada jejak dari siapa pun kecuali dari dirimu sendiri. Yang hebat dari menulis dengan pintu ruang kerja tertutup adalah bahwa engkau mendapati dirimu sendiri terdorong untuk berkonsentrasi pada ceritanya hingga praktis mengabaikan segala sesuatu yang lain.  Sekarang anggap saja engkau sudah selesai dengan draf pertamamu. Selamat!
Kau sudah melakukan banyak kerja dan perlu waktu untuk beristirahat. Pikiran dan imajinasimu – dua hal yang berbeda, tetapi saling terkait – harus merotasi dirinya sendiri, paling tidak dalam hal kegiatan menulis ini. Maka beristirahatlah ! Tinggalkan hasil pekerjaanmu itu selama beberapa waktu (kira-kira satu hingga enam minggu) untuk menyegarkan kembali pikiran dan daya kreativitasmu. Sementara itu di sela-sela masa istirahat itu, kau bisa memulai sebuah proyek novelmu yang berikutnya, dengan judul yang baru, dengan ide yang sama sekali baru. Atau, mungkin waktu libur atau masa tenggang ini kau manfaatkan untuk libur secara total menyegarkan kembali isi otakmu dan daya imajinasimu. Masa istirahat itu dimaksudkan untuk mengusir kejenuhan dan kebosanan mengerjakan karya tulismu yang jumlah halamannya tidak sedikit. Selama masa istirahat itu, tentunya naskahmu akan tersimpan dalam laci meja kerjamu, atau tersimpan sebagai file di komputermu. Kau akan sering memikirkannya dan akan tergoda lusinan kali, atau lebih, untuk mengeluarkannya dari laci, sekadar untuk membacanya kembali beberapa halaman yang tampaknya dalam ingatanmu cukup baik, sesuatu yang membuatmu ingin membacanya lagi, agar engkau bisa merasakan lagi betapa unggul dirimu sebagai penulis. Tahan godaan itu. Jika tidak, kau akan mengira bahwa engkau tidak menulis dengan baik pada halaman tersebut dan langsung memperbaikinya. Ini tidak bagus. Yang lebih jelek adalah kalau kau memutuskan bahwa halaman itu lebih baik daripada yang kau ingat – mengapa tidak memperbaiki semuanya dan kemudian membaca kembali novel itu secara keseluruhan ? Kalau begitu, tulislah kembali!
Setelah masa istirahat itu berlalu, kau dapat mulai melihat dan membaca kembali isi draf karanganmu yang pertama, untuk melihat apakah ada bagian-bagian yang perlu dipoles lagi dan diperbaiki di sana-sini. Ketika kemudian engkau punya waktu pada malam hari yang menyenangkan untuk memperbaiki naskah (dan waktu ini mungkin kau tandai di kalender), keluarkan naskah itu dari laci meja atau hidupkan komputermu. Jika ia tampak seperti barang asing yang dibeli di toko bekas atau di tempat obral di garasi-garasi rumah orang, yang engkau lupa kapan dan dimana pernah berhenti untuk membeli barang asing itu, berarti engkau telah siap. Duduklah di mejamu dan pintu ruangan tertutup. Ambil pensil dan letakkan buku catatan kecil di samping. Lalu, bacalah naskahmu. Jika mungkin, selesaikan semuanya dalam satu kali kesempatan duduk memperbaiki (biasanya tidak mungkin jika naskahmu setebal empat atau lima ratus halaman). Buatlah catatan-catatan yang perlu, tetapi pusatkan perhatianmu pada tugas-tugas seperti membetulkan kesalahan ejaan dan memperhatikan hal-hal yang tidak konsisten. Akan banyak tugas semacam itu, hanya Tuhan yang dapat membetulkannya dalam waktu singkat dan hanya pemalas yang berkata,”Oh sudahlah, biarkan saja, itulah gunanya ada editor.” Kau salah, bahkan seorang editor pun akan menjadi jengkel bila melihat naskahmu yang berantakan. Bisa jadi naskah itu akan segera berakhir di keranjang sampah sebelum ia sempat membaca semuanya.
Jika tidak pernah melakukannya sebelum ini, kau akan mendapati bahwa setelah enam minggu berhenti, kegiatan membaca bukumu menjadi kegiatan yang tampak aneh, sering kali menjadi pengalaman yang menggembirakan. Cerita itu milikmu, kau akan mengenalinya sebagai milikmu, bahkan kau akan ingat nada apa yang ada di stereo yang menyala saat kau menulis baris tertentu, dan kegiatan membaca kembali ini akan seperti membaca karya orang lain, mungkin karya kembaran jiwamu. Beginilah cerita itu seharusnya, dan itulah alasan engkau menunggu beberapa waktu sebelum memperbaikinya. Selalu lebih mudah membunuh kesayangan orang lain daripada membunuh milikmu sendiri. Dengan waktu enam minggu yang berharga untuk memulihkan kembali naskahmu, engkau juga akan dapat melihat lubang-lubang dalam plot cerita atau pengembangan karakter tokoh cerita. Aku berbicara tentang lubang-lubang dan kesalahan yang cukup besar sehingga harus atau perlu segera kau perbaiki. Memang mengagumkan bagaimana beberapa lubang itu dapat lepas dari pandangan penulis padahal perhatiannya tercurah dari hari ke hari pada kegiatannya, yaitu menulis. Sering kali adanya lubang besar kesalahan dalam penulisan karya kita, bisa berarti pemotongan atau perubahan pada halaman tersebut. Sebuah lubang terkadang demikian fatal merusak isi seluruh cerita. Kalau sudah begitu, satu-satunya cara yaitu menambal lubang kesalahan tersebut untuk memulihkan atau menyempurnakan karya tulismu. Satu pertanyaan besar yang harus bisa kau jawab sendiri yaitu, “Apakah cerita ini sudah menyatu?” Jika ya, apa yang akan mengubahnya menjadi seperti lagu? Apa saja unsur yang akan muncul lagi? Apakah unsur-unsur itu berkaitan dan membentuk tema? Dengan kata lain, aku bertanya kepada diriku sendiri, cerita tentang apa ini, dan apa yang dapat kulakukan untuk membuat hal-hal mendasar itu menjadi lebih jelas. Satu hal yang paling kuinginkan adalah gema, sesuatu yang akan terus terngiang sementara waktu di dalam pikiran dan di hati pembaca setia setelah dia menutup buku dan meletakkannya di rak buku. Aku mencari cara-cara untuk melakukan hal itu tanpa menyodorkan langsung ke pembaca atau menjual hak asasiku demi perencanaan suatu pesan. Ambil semua pesan yang ada dalam cerita dan pesan-pesan moralnya dan genggam pesan-pesan tersebut saat menghadapi hari-hari buruk, oke? Aku ingin ada gema atau gaung cerita. Aku mencari apa yang kumaksudkan karena pada draf kedua dari suatu cerita (draf setelah direvisi), aku ingin menambahkan adegan dan kejadian yang menguatkan makna adegan dan kejadian itu. Aku juga ingin menghapus semua hal yang berjalan pada arah berlawanan. Mungkin ada banyak hal yang berjalan berlawanan, terutama mendekati awal cerita, ketika aku punya kecenderungan untuk bergonta-ganti arah cerita. Semua yang tidak jelas arahnya harus pergi jika aku ingin mencapai sesuatu seperti efek yang menyatu. Ketika aku sudah selesai membaca dan memperbaiki, maka itulah waktunya membuka pintu dan memamerkan apa yang sudah kutulis ke empat atau lima teman yang bersedia membaca.
Saat kau membagi enam atau delapan eksemplar buku (hasil revisimu), kau akan mendapatkan enam atau delapan kembali dengan pendapat yang sangat subyektif tentang mana yang bagus dan mana yang jelek. Jika semua pembacamu (kawan-kawanmu yang membaca naskahmu), berpikir kau melakukan pekerjaan hebat, mungkin itu benar. Kesepakatan semacam ini memang terjadi, tetapi jarang, bahkan di kalangan teman-teman. Hal yang lebih mungkin terjadi adalah bahwa teman-temanmu akan berpikir ada beberapa bagian naskah yang bagus dan sebagian lainnya…yah, tidak terlalu bagus. Beberapa orang mungkin merasa tokoh A dapat diterima, tetapi tokoh B jauh dari menyenangkan. Namun, jika sebagian lagi merasa tokoh B dapat dipercaya, tetapi tokoh A berlebihan, itu namanya forum pendapat yang “seri”. Kau bisa santai dan membiarkan naskah seperti apa adanya (dalam permainan bisbol, jika skornya seri, permainan diserahkan kepada tim yang sedang berlari; bagi novelis, jika terjadi kondisi seri, keputusan diserahkan kepada penulis). Jika beberapa orang  menyukai akhir cerita dan sebagian orang membencinya, kesepakatannya juga sama – posisi seri, dan keputusan diserahkan kepada penulisnya. Beberapa pembaca pertama memiliki spesialisasi dalam menunjukkan kesalahan faktual yang mudah ditangani. Pada kasus-kasus semacam itu, engkau punya dua hal berharga – kesalahan dan pembetulannya. Perbaikan semacam itu memang bagus karena kau bekerja seperti seorang ahli dan pembaca pertamamu akan merasa tersanjung jika dapat membantu. Sebuah kesalahan fatal dalam naskahmu akan lebih baik ditemukan oleh salah seorang sahabatmu yang kebetulan membaca naskah itu, daripada ditemukan oleh editor naskah saat naskah itu sudah terlanjur masuk ke proses editing di perusahaan penerbit (atau mungkin literary agenmu / agen perantara naskah). Seorang editor pasti akan menemukan kesalahan itu, tetapi bila sahabatmu sempat menemukan kesalahan itu lebih dulu, hal ini akan menyelamatkanmu dari rasa malu bila naskah itu terlanjur berada di meja editor. Penilaian subyektif, seperti yang kukatakan, memang sedikit lebih sulit untuk ditangani, tetapi dengarkan: jika tiap orang yang membaca bukumu mengatakan engkau punya masalah, itu artinya engkau memang punya masalah dan lebih baik melakukan sesuatu untuk mengatasinya. Pendapat mayoritas orang, sering kali benar, walau terkadang kenyataan itu begitu menyakitkan ! Banyak penulis menolak gagasan ini. Mereka merasa bahwa memperbaiki cerita agar sesuai dengan kesukaan atau ketidaksukaan pembaca sama saja dengan pelacuran. Jika kau benar-benar merasa demikian, aku tidak akan berusaha mengubah keputusanmu. Pada kenyataannya (katakan dengan sinis), jika kau benar-benar merasa demikian, mengapa repot-repot menerbitkannya? Dan memang, sedikit demi sedikit, aku ingat pada perasaan semacam itu. Dalam bisnis film (bila engkau juga seorang penulis skenario), yang dengannya aku pernah menjalani kehidupan yang tidak terlalu profesional, penyampaian draf pertama suatu cerita disebut “tes saringan”. Ini sudah menjadi kebiasaan standar dalam industri film, dan kebiasaan itu mendorong banyak pembuat film benar-benar menjadi orang yang menjengkelkan. Mungkin mereka seharusnya demikian. Studio harus membayar antara lima belas dan seratus juta dolar untuk membuat film, lalu minta sutradara film untuk memotongnya lagi berdasarkan pendapat penonton bioskop multipleks Santa Barbara, yang terdiri dari penata rambut, tukang ukur baju, penjaga toko sepatu, dan petugas pengantar pizza. Dan apa yang terburuk, yang paling menjengkelkan tentang itu? Jika kau mendapat demografi penonton yang sesuai, tes saringan tampaknya berhasil. Aku tidak suka melihat novel-novel yang diperbaiki berdasarkan pendapat pembaca – banyak buku tidak akan pernah melihat cahaya matahari jika dinilai dengan cara demikian – tetapi ayolah, kita sedang membicarakan setengah lusin orang yang kaukenal dan hormati. Jika kau bertanya mana yang benar (dan jika mereka setuju untuk membaca bukumu), mereka dapat mengatakan banyak hal kepadamu. Apakah semua pendapat layak dipertimbangkan? Bagiku tidak. Jika pendapat yang kau dengar masuk akal, lakukan perubahan. Kau tidak bisa membiarkan semua orang mempengaruhi ceritamu, tetapi kau dapat melibatkan mereka yang paling berpengaruh. Dan seharusnya memang demikian. Jika kita sebut orang untuk siapa kita menulis ini sebagai PEMBACA IDEAL (bisa sahabat, teman, pacar, saudara sepupu, saudara,dsb), dia akan berada di dalam ruang menulismu sepanjang waktu; pada saat kau membuka pintu dan membiarkan dunia menerangi gelembung-gelembung mimpimu, sebagai penyelamat selama terjadi permasalahan yang kadang muncul dan sering untuk memberi rasa senang luar biasa selama penyusunan draf pertama suatu cerita, saat pintu ruang kerjamu tertutup. Dan tahukah kau? Kau akan mendapati dirimu membelok-belokkan cerita bahkan sebelum Pembaca Ideal banyak melirik ke kalimat pertama ceritamu. Pembaca ideal ini akan membantumu keluar dari dirimu sejenak, untuk bertindak sebagai pembaca yang membaca cerita yang sedang dalam proses pengerjaan sementara kau sendiri tetap menulis. Barangkali ini cara terbaik untuk memastikan agar kau tidak terlalu melenceng dalam bercerita, suatu cara bermain dengan pembaca meskipun pembaca itu belum ada dan kau betul-betul menjadi pihak yang bertanggung jawab atas jalannya cerita. Pembaca Ideal juga merupakan salah satu cara terbaik untuk melihat apakah ceritamu berjalan konsisten dengan kecepatan stabil atau tidak, dan apakah kau telah menangani cerita pendukungnya dengan gaya memuaskan atau belum. Kecepatan adalah kecepatan narasimu dalam membuka cerita. Ada semacam keyakinan yang tidak terucap (oleh karena itu, keyakinan tersebut jadi tidak pernah teruji dan dipertahankan) bahwa dalam siklus penerbitan, cerita dan novel yang paling sukses secara komersial adalah yang ditulis dengan kecepatan seperti kilat. Kupikir pandangan semacam ini dasarnya adalah bahwa orang memiliki demikian banyak hal untuk dikerjakan seperti pada zaman sekarang ini dan sangat mudah beralih perhatiannya dari kata-kata yang tercetak sehingga  kau akan kehilangan pembaca kalau tidak bisa menjadi semacam koki instan yang menyajikan menu-menu sampingan, seperti burger yang mendesis panas, kentang goreng, dan telur, yang mudah dimasak dan dapat dikerjakan secepat kemampuanmu. Kecepatan menulis berbeda-beda di kalangan para penulis. Aku sendiri lebih suka kecepatan yang rendah, menulis pelan-pelan dan membangun yang lebih besar dan tinggi. Seringkali novel-novel yang sukses di pasaran, justru adalah yang membutuhkan pengalaman panjang, dengan baris-baris yang tersusun indah. Cara terbaik mendapatkan kecepatan sedang atau medium ? Tentu saja melalui Pembaca Ideal. Cobalah membayangkan apakah dia akan bosan karena adegan tertentu dalam cerita – jika kau tahu selera Pembaca Idealmu, meskipun tidak banyak, seperti aku mengenali seleraku sendiri, masalah kecepatan ini tidka perlu menjadi terlalu sulit. Apakah Pembaca Ideal merasa ada terlalu banyak pembicaraan / dialog di bagian ini dan itu? Apakah kau kurang banyak menjelaskan situasi tertentu….atau justru terlalu banyak penjelasan, yang semua itu adalah penyakit kronisku dalam menulis. Apakah kau lupa mengatasi beberapa hal penting dalam alur cerita? Lupa sama sekali pada satu tokoh, seperti yang pernah dialami Raymond Chandler? Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu tertanam dalam benakmu ketika ruang kerjamu tertutup. Dan ketika dibuka – ketika Pembaca Idealmu benar-benar membaca naskahnya – kau perlu mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu dengan lantang. Entah diperlukan atau tidak, kau mungkin juga ingin memperhatikan saat Pembaca Idealmu meletakkan naskah itu untuk mengerjakan hal yang lain. Adegan apa yang sedang ia baca? Mengapa dia sudah meletakkan naskah itu untuk melakukan hal lain? Seringkali, beberapa penulis memotong adegan yang membosankan untuk meningkatkan kecepatan naskah. Semuanya tergantung pada masing-masing penulis.
Formula menulis ulang saat revisi (draf revisi = panjang draf pertama dikurangi sepuluh persen) mungkin bukan satu-satunya alasan aku mulai menuai hasil. Aku curiga alasan lainnya adalah bahwa memang kini sudah waktunya bagiku, bahwa masa keberhasilanku akhirnya datang. Tentu saja, formula itu tetap merupakan bagian keberhasilanku. Sebelum ada formula itu, jika aku menuliskan cerita yang berisi 4000 atau lebih kata dalam draf pertama, mungkin dalam draf kedua jumlah katanya akan sebesar 5000 kata (beberapa penulis ada yang suka menghemat kata; kupikir selama ini aku adalah orang yang boros menggunakan kata-kata). Setelah ada formula tersebut, semuanya berubah. Bahkan sekarang aku menargetkan, pada draf kedua, jumlah katanya cukup 3600 saja, jika pada draf pertama sudah berisi sekitar 4000 kata…..dan jika draf pertama sudah memuat 350 ribu kata, aku akan berusaha keras agar draf kedua memuat tidak lebih dari 315 ribu kata….atau jika mungkin, tiga ratus ribu saja. Biasanya memang demikian. Rumus itu mengajariku bahwa tiap cerita dan novel pada derajat tertentu akan mengalami penurunan. Jika kau tidak dapat mengeluarkan kira-kira sepuluh persen kata dari cerita tersebut sambil tetap mempertahankan cerita dasar dan tambahannya, itu artinya kau tidak berusaha keras. Dampak dari pemotongan kata-kata secara cermat dan hati-hati dapat timbul segera dan sering mengagumkan – VIAGRA Sastra. Kau dapat merasakannya segera, dan demikian pula Pembaca Idealmu.
Cerita pendukung adalah semua hal yang terjadi sebelum ceritamu dimulai, tetapi berdampak pada cerita di latar depan. Cerita pendukung membantu merumuskan tokoh dan menetapkan motivasi. Kupikir, cerita pendukung penting untuk segera disusun secepat mungkin, tetapi penting juga untuk menyusunnya dengan hati-hati. Sebagai contoh mengenai kecerobohan dalam menyusun cerita pendukung, coba perhatikan baris dialog berikut:

“Halo, mantan istri,” kata Tom kepada Doris ketika dia memasuki ruangan.

Nah, mungkin penting bagi cerita itu bahwa Tom dan Doris telah bercerai, tetapi harus ada cara lebih baik untuk menjelaskannya daripada cara tersebut, yaitu cara yang sama anggunnya seperti pembunuhan dengan kapak. Berikut ini adalah usulan perbaikannya.

“Hai, Doris,” kata Tom. Suaranya terdengar cukup wajar – paling tidak, bagi telinganya sendiri – tetapi jemari tangan kanannya menelusuri tempat cincin kawin pernah melingkar hingga enam bulan lalu.

Perbaikan tersebut lebih panjang daripada kalimat, Halo mantan istri. Tapi, ini bukan masalah kecepatan, seperti pernah kujelaskan. Dan jika kaupikir ini semua adalah informasi, lebih baik engkau berhenti menulis fiksi dan bekerja menulis buku petunjuk – ruang kerja Dilbert menunggumu. Dilbert adalah tokoh komik strip di sebuah harian surat kabar di Amerika.
Hal-hal terpenting yang harus diingat mengenai cerita pendukung adalah bahwa, (1) setiap orang punya sejarah; dan (2) sebagian besar sejarah itu tidak terlalu menarik. Jadi tetaplah fokus pada bagian-bagian tersebut dan jangan sampai bertele=tele.
Kita perlu sedikit berbicara tentang penelitian atau riset yang merupakan jenis cerita pendukung tersendiri. Dan tolong, jika kau memang perlu melakukan riset karena bagian-bagian ceritamu berkaitan dengan segala sesuatu yang tidak banyak kau ketahui atau kau sama sekali tidak tahu apa-apa, jangan lupa kata “pendukung” dalam istilah cerita pendukung. Itulah tempatnya riset, sejauh mungkin di latar belakang dan ada dalam cerita pendukung. Kau mungkin terpaku dengan apa yang kau pelajari tentang bakteri pemakan daging, sistem saluran air di New York, atau potensi IQ anjing Skotlandia, tetapi pembacamu mungkin lebih memperhatikan tokoh-tokoh ceritamu dan ceritanya itu sendiri (daripada cerita pendukung yang bertele-tele). Apakah ada pengecualian pada aturan itu? Tentu, selalu saja ada pengecualian bukan? Ada demikian banyak penulis sukses – antara lain Arthur Hailey dan James Michener – yang novel-novelnya banyak sekali berisi fakta dan riset. Novel-novel Hailey jarang berisi petunjuk terselubung mengenai bagaimana segala sesuatunya berlangsung (bank, bandara, hotel) dan novel-novel Michener merupakan kombinasi antara cerita perjalanan, pelajaran geografi, dan teks sejarah. Penulis populer lainnya, seperti Tom Clancy, dan Patricia Cornwell, lebih berfokus pada cerita, tetapi masih menyampaikan sejumlah besar informasi faktual (dan kadang-kadang sulit dicerna) bersama dengan melodrama. Namun, bagi setiap penulis sukses yang berorientasi pada fakta, ada ratusan (bahkan mungkin ribuan) keinginan untuk menuliskan fakta, sebagian ada yang diterbitkan dan sebagian besar mungkin tidak. Secara keseluruhan, cerita memang ada di bagian depan, tetapi beberapa riset memang diperlukan (untuk mendukung dan “menghidupkan” suatu cerita) tanpa dapat ditolak; kalau kau mengabaikan riset atau menghindari riset, resikonya kau tanggung sendiri.

Pertanyaan yang sering didengar oleh penulis yang karyanya telah diterbitkan, selain Dari mana kau mendapatkan gagasan? adalah Bagaimana kau mendapatkan agen (literary agent; seperti telah diketahui bahwa untuk menerbitkan sebuah buku di Eropa, Amerika dan Australia, kau paling tidak harus menghubungi literary agent/agen perantara. Tidak semudah di Indonesia untuk langsung mengirimkan naskah kepada penerbit dan langsung bisa terbit) dan Bagaimana menghubungi orang-orang yang ada di penerbitan? Pertanyaan-pertanyaan ini diajukan oleh mereka yang ingin menerbitkan karyanya.
Nada suara saat pertanyaan ini diajukan sering kali seperti bingung, kadang-kadang putus asa dan sering juga marah. Ada kecurigaan umum bahwa sebagian besar penulis pendatang baru berhasil menerbitkan novelnya karena mereka punya hubungan dengan seorang penguasa di bisnis penerbitan. Asumsi dasarnya adalah bahwa penerbitan itu suatu bisnis keluarga yang besar, menyenangkan, tertutup dan tidak mudah dimasuki pihak luar. Itu tidak benar. Juga salah kalau dikatakan bahwa para agen itu suka meremehkan, orang-orang sok jagoan yang lebih baik mati daripada membiarkan tangannya yang tidak terbungkus sarung tangan menyentuh naskah yang tidak diinginkan. (Yah, oke, ya, ada sedikit agen yang seperti itu.) Para agen, penerbit, dan editor sebenarnya mencari penulis besar berikutnya yang berhasil menjual banyak buku dan menghasilkan banyak uang….dan bukan sekedar penulis berbakat yang masih muda; Helen Santmyer sudah ada di panti jompo ketika dia menerbitkan….And Ladies of The Club. Frank McCourt masih relatif lebih muda daripada Helen ketika dia menerbitkan Angela’s Ashes, tetapi dia tidak termasuk muda lagi. Sebagai seorang anak muda yang mulai menerbitkan beberapa cerpen di majalah-majalah T&A, aku cukup optimis mengenai peluang penerbitan cerita-ceritaku; aku tahu, aku sedang turut dalam permainan, seperti yang dikatakan para pemain basket belakangan ini, dan aku juga merasa bahwa waktu sedang memihakku, cepat atau lambat, penulis buku terlaris pada tahun 1960-an atau 1970-an akan mati atau pikun sehingga membuka ruang bagi penulis pendatang baru sepertiku (penuturan Stephen King saat masih muda dulu).
Aku baru tahu belakangan bahwa tidak semua agen itu baik, dan agen yang baik biasanya bermanfaat dalam banyak hal selain mengusahakan editor fiksi di majalah Cosmopolitan (yang terkenal memberikan honor tinggi pada penulis cerpen) membaca cerpenmu. Kau harus punya agen dan jika karyamu punya  nilai jual, kau tidak akan kesulitan mendapatkannya. Kau mungkin juga akan dapat memperoleh agen bahkan jika karyamu tidak layak jual, tetapi menjanjikan. Agen-agen olah raga mewakili liga-liga kecil olahraga yang pada dasarnya bermain untuk mendapatkan uang banyak dengan harapan bahwa klien muda mereka akan sukses besar; alasan yangsama, agen penulis sering bersedia menangani penulis yang belum banyak menerbitkan buku. Kau akan menemukan orang yang dapat mengatasi masalahmu bahkan jika karyamu yang terbit sangat terbatas hanya di “majalah-majalah kecil” yang hanya membayar dalam bentuk eksemplar – para agen dan penerbit buku sering memandang majalah-majalah semacam itu sebagai batu loncatan bagi penulis baru berbakat. Kau harus mulai menjadi penasehat bagi dirimu sendiri, yang artinya membaca majalah yang menerbitkan cerita-cerita yang kautulis. Kau juga harus membeli jurnal-jurnal penulis dan membeli satu WRITER’S MARKET, alat paling berharga bagi penulis (di Amerika) yang baru memasuki pasar bursa buku. Kalau kau benar-benar miskin, mintalah seseorang untuk memberimu WRITER’s MARKET sebagai hadiah hari raya. Majalah dan WM (edisi khusus atau special edition, tetapi harganya rasional) memuat daftar penerbit buku dan majalah, termasuk deskripsi singkat cerpen-cerpen yang ada di tiap segmen pasar. Kau juga akan mendapatkan karya yang paling laris dan nama-nama para staf editor. Sebagai penulis pemula, kau akan tertarik sekali pada “majalah-majalah kecil” jika kau menulis cerpen. Jika sedang atau telah menulis novel, kau ingin mencatat daftar agen (literary agent) di majalah tentang menulis dan di WRITER’s MARKET. Kau mungkin juga ingin menambahkan satu eksemplar LMP (LITERARY MARKET PLACE) di rak buku referensimu. Kau perlu bersikap cerdik, berhat-hati, dan tekun dalam mencari agen atau penerbit, tetapi – ini wajib diulangi berkali-kali – hal terpenting yang dapat kau lakukan untuk dirimu sendiri adalah membaca pasar. Kau dapat memperhatikan petunjuk yang ada di WRITER’S DIGEST (“…penerbi cerita-cerita fiksi, 2000 – 4000 kata, tokoh stereotip yang jelas dan situasi roman yang usang”), tetapi petunjuk hanya sekedar petunjuk, menyerahkan naskah cerita tanpa lebih dahulu membaca pasarnya sama seperti melemparkan panah-panah kecil ke papan sasaran di ruang gelap – kau mungkin sesekali akan mendapatkan sasaranmu, tetapi bukan karena usahamu.
Kau harus waspada dengan agen yang berjanji membaca naskahmu asal mendapat bayaran. Ada beberapa agen semacam itu yang ternama, tetapi ada sangat banyak agen penipu. Kalau kau ingin menerbitkan novelmu, jangan lagi berburu mencari agen atau menulis surat ke penerbit. Pergilah langsung sendiri ke penerbit. Di sana, paling tidak, kau akan mendapatkan gambaran nyata berapa harga naskahmu. Nah, selamat berkarya dan semoga bisa menjadi penulis terkenal !

Komentar bertahan »

Mencerdaskan Bangsa Melalui Pengembangan Perpustakaan Daerah

Oleh : Haryo Bagus Handoko, SP

Abstraksi
Perpustakaan umum yang diharapkan dapat meningkatkan minat baca tulis serta wawasan dan pengetahuan masyarakat saat ini tidak dipungkiri lagi sangat dibutuhkan demi pengembangan intelektual masyarakat.  Untuk memenuhi kebutuhan vital ini, maka konsep perpustakaan yang dahulu hanya tersedia ala kadarnya sekarang mulai dibenahi dengan serius.  Konsep perpustakaan masa depan yang mengusung teknologi tepat guna dan juga bahan-bahan bacaan bermutu serta konsep pengemasan ilmu pengetahuan dalam kemasan yang menarik sudah seharusnya mulai diterapkan di berbagai perpustakaan daerah. Konsep ini perlu lebih dikembangkan demi pengembangan literasi informasi masyarakat selain usaha pemberdayaan masyarakat melalui perjuangan mencerdaskan bangsa.

Perpustakaan kota Malang, sebuah konsep perpustakaan daerah yang multiguna.
Setelah mengalami renovasi gedung maupun sistem penataan buku dan keadministrasian, perpustakaan kota Malang hadir dalam wajah yang berbeda, wajah sebuah perpustakaan modern yang menarik untuk dikunjungi bukan hanya sebagai tempat dan sarana belajar namun lebih merupakan sebuah tempat wisata bagi keluarga yang mendidik serta menghibur.  Perpustakaan yang setiap harinya bisa dikunjungi oleh kurang lebih seribu lima ratus pengunjung ini dilengkapi dengan teknologi canggih sebagai sarana pembelajaran murah meriah bagi seluruh masyarakat warga Malang.  Untuk mengakses berbagai informasi dan berita terbaru, para pengunjung perpustakaan dimudahkan dengan adanya aneka bahan bacaan surat kabar dan juga sambungan internet gratis wi-fi yang tersedia di area ruang lobby Gedung Perpustakaan Kota Malang.
Untuk memperoleh informasi seputar tempat-tempat wisata yang tersebar di wilayah Malang Raya, tersedia sebuah monitor layar sentuh dilengkapi dengan aneka informasi profil tempat wisata dan rekaman video yang bisa dengan mudah digunakan.  Di lantai satu, gedung perpustakaan ini terdapat sebuah ruang galeri seni yang biasa digunakan untuk pameran buku, pameran foto dan bahkan pameran lukisan. Dengan hadirnya ruang galeri pameran maka diharapkan apresiasi seni masyarakat akan meningkat dan juga diharapkan bisa menginspirasi tumbuh dan berkembangnya kreativitas generasi muda melalui kesenian. Di lantai yang sama juga terdapat ruang bacaan anak, dan fasilitas ibadah berupa ruang mushola.  Untuk menjadi anggota perpustakaan (yang berarti juga memiliki hak untuk meminjam buku dan menggunakan seluruh fasilitas kemudahan yang tersedia), seseorang cukup mendaftar ke meja reservasi yang ada di lantai satu dan mengisi formulir pendaftaran.  Setelah itu ia akan dipanggil untuk difoto saat itu juga, sementara data-data dirinya akan segera dimasukkan ke database komputer.  Tidak sampai memakan waktu satu jam, maka kartu plastik yang dilengkapi dengan foto, keterangan si pemilik kartu keanggotaan perpustakaan, dan juga bar code (semacam garis-garis kode yang berisi data yang bisa dibaca oleh sensor infra merah yang terhubung ke sistem data di komputer) sudah jadi dan bisa langsung digunakan untuk memasuki ruang layanan peminjaman buku yang ada di lantai satu dan di lantai dua.
Saat memasuki area ruang koleksi buku, seorang pengunjung perpustakaan harus memindaikan kartu plastiknya itu ke sebuah alat pemindai yang memiliki sensor sinar infra merah, dan begitu alat sensor itu mendeteksi bar code yang tertera di kartu plastik itu, maka data lengkap si pemilik kartu akan segera tampil di sebuah monitor layar datar, lengkap dengan foto si pemilik kartu.  Setiap sudut gedung perpustakaan kota Malang dilengkapi dengan kamera CCTV yang mengawasi setiap gerak-gerik para pengunjung.  Untuk mencari dan menelusuri judul-judul buku koleksi perpustakaan, seorang pengunjung hanya perlu duduk di depan sebuah komputer yang merupakan katalog digital, ia hanya perlu mengetikkan judul buku, nama pengarang buku, atau pun topik yang sedang ia cari di kolom yang tersedia dan mengklik tombol pencari.  Tidak membutuhkan waktu lama untuk segera memunculkan daftar buku yang sesuai dengan kata kunci pencarian.  Bahkan seseorang bisa memeriksa buku apa saja yang sedang berada di rak koleksi buku saat ini, dan buku mana saja yang sedang dipinjam (keluar).  Seseorang bahkan bisa mengecek buku-buku apa saja yang sedang dipinjamnya saat ini dan kapan batas akhir peminjamannya, hanya dengan mengetikkan nomor keanggotaan kartu perpustakaan yang dimiliki di kolom formulir yang tersedia untuk login dan kemudian mengetikkan password untuk memasuki jaringan data yang ada di komputer.  Komputer-komputer katalog digital yang berlayar datar ini disusun dengan cantik secara melingkar di meja bundar dengan kursi-kursi yang tertata rapi dekat pintu masuk koleksi buku, sehingga memudahkan pengunjung yang masih bingung ke rak mana ia harus mencari buku yang dibutuhkannya.  Masing-masing rak di ruang koleksi buku ini dikelompokkan berdasarkan tema dan topik buku, dimana masing-masing rak bertuliskan judul topik dan juga kisaran nomor seri kode buku.  Seorang pengunjung yang telah mengakses komputer katalog digital untuk mencari buku yang dibutuhkannya tentunya akan segera mengetahui berapa nomor seri kode buku yang dicarinya tersebut dan di rak mana buku tersebut tersimpan.  Bila sekedar ingin membaca buku-buku dan tidak ingin meminjam untuk dibawa pulang, seorang pengunjung bisa memanfaatkan beberapa buah meja berukuran besar untuk para pembaca buku berkelompok, atau beberapa bangku bersekat untuk para pembaca serius yang ingin sedikit privasi.  Terdapat juga area baca santai di mana para pengunjung bisa duduk lesehan sambil membaca buku dengan santai di berbagai tempat yang telah disediakan.
Saat akan meminjam buku untuk dibawa pulang, seorang pengunjung perpustakaan yang memiliki kartu plastik keanggotaan, tinggal menyerahkan kartu plastiknya dan buku-buku yang akan dipinjamnya kepada petugas perpustakaan yang selanjutnya akan memindai kartu plastik tersebut dengan sebuah alat pemindai dengan teknologi sinar infra merah, dan juga memindai bar code yang tertera di setiap buku-buku yang akan dipinjam, dan secara otomatis data peminjam, judul buku yang akan dipinjam serta waktu pengembalian buku akan masuk ke dalam database komputer dan secara otomatis tercetak sebuah slip bukti peminjaman buku.  Petugas perpustakaan kini hanya tinggal menggesekkan buku-buku yang dipinjam tersebut ke sebuah alat untuk menonaktifkan alarm pengaman di pintu keluar yang dilengkapi dengan sensor infra merah juga.  Jadi bila seseorang tidak mematuhi atau mengabaikan prosedur peminjaman buku seperti yang sudah digariskan, dan diam-diam membawa keluar (mencuri) buku dari rak-rak buku dalam ruang area koleksi buku, maka tidak diragukan lagi, alarm akan segera berbunyi dengan keras saat si pengunjung perpustakaan itu keluar melalui pintu keluar yang dilengkapi dengan sensor infra merah.
Untuk para warga kota Malang di setiap akhir pekan selalu diputar aneka film secara gratis bertempat di ruang lobby Gedung Perpustakaan Kota Malang dengan menggunakan teknologi proyektor layar lebar.  Kursi-kursi yang sudah disediakan pun segera penuh terisi oleh begitu padatnya pengunjung.  Bagi para rombongan murid-murid sekolah, terkadang bisa menikmati fasilitas pemutaran film dokumenter dan juga yang bertema pendidikan di ruang audio visual yang ada di lantai dua.  Ruang audio visual ini juga berfungsi ganda untuk meningkatkan kemampuan berbahasa asing para warga kota Malang dengan hadirnya Malang English Fun Club. Untuk diskusi ilmiah atau pun untuk acara seminar tersedia ruang rapat di lantai satu.  Ruangan yang lain, yaitu ruang kearsipan gedung perpustakaan kota Malang juga berfungsi sebagai sebuah tempat berkumpulnya pecinta buku dan ajang diskusi para penulis buku dan wartawan di kota Malang, yang tergabung dalam sebuah komunitas yang bernama “Forum Penulis Kota Malang”.  Di era digital ini tampaknya kota Malang tidak ingin ketinggalan dalam pemanfaatan kemudahan di bidang teknologi informasi dengan munculnya berbagai situs di internet yang memang dirintis untuk membangun sebuah kota digital di internet, di mana aneka situs resmi pemerintah Kotamadya Malang, pemerintah Kabupaten Malang, universitas-universitas dan sekolah-sekolah di Malang, toko-toko buku, hotel-hotel, tempat wisata, bahkan organisasi atau komunitas hobi hampir semuanya bisa diakses di internet.
Di lantai tiga gedung perpustakaan kota Malang terdapat pula sebuah stasiun televisi lokal yang menyiarkan aneka ragam berita seputar Malang, ilmu pengetahuan, hiburan dan juga aneka acara talk show serta bedah buku para penulis buku.  Stasiun televisi lokal itu bernama Mahameru TV. Baru-baru ini diadakan sebuah acara peluncuran buku bertema gerakan penghijauan karya tulisan Walikota Malang yang juga dilaksanakan di studio televisi tersebut.  Acara peluncuran buku dan sekaligus acara bedah buku itu semarak dipenuhi para pecinta buku dan pemerhati lingkungan serta para praktisi akademisi kota Malang.  Tampaknya fungsi perpustakaan sebagai pusat informasi dan pengetahuan benar-benar diaplikasikan di kota Malang.
Konsep kota digital yang pernah dipopulerkan beberapa waktu lalu tampaknya juga tak sekedar janji belaka.  Saat ini usaha-usaha untuk membangun sebuah interkoneksi jaringan data antar lembaga pemerintah, lembaga pendidikan dan pusat-pusat penyebaran informasi mulai dilakukan.  Terbukti di beberapa tempat di kawasan Malang raya sudah menyediakan internet wi-fi (internet gratis berbasis gelombang radio) secara gratis.  Sebut saja Plaza Araya, Gedung Perpustakaan Kota Malang, Universitas Brawijaya Malang, Politeknik Universitas Brawijaya Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Negeri Malang, Malang Town Square, Kantor Kotamadya Malang, halaman belakang Kantor Kotamadya Malang, dan beberapa tempat lain sudah dilengkapi dengan gelombang  internet wi-fi gratis, sehingga bila seseorang memiliki sebuah laptop (komputer portabel), PDA atau pun pocket PC, orang tersebut sudah bisa mengakses internet secara gratis dari mana saja selama ia berada di wilayah-wilayah yang disebutkan tadi.  Perpustakaan-perpustakaan digital milik lembaga institusi pendidikan dan universitas di Malang kini pun sudah bisa diakses di dunia maya, sehingga konsep kota digital dalam bidang pendidikan pun tampaknya mulai terwujud walau masih membutuhkan beberapa pembenahan di sana-sini demi kesempurnaan penyebarluasan ilmu pengetahuan dan pengembangan literasi generasi muda demi masa depan bangsa ini.
Konsep perpustakaan daerah yang multiguna seperti yang telah dikembangkan oleh perpustakaan kota Malang hendaknya mulai diperkenalkan ke daerah-daerah lain demi upaya meningkatkan kecerdasan intelektual masyarakat, terutama para generasi muda.  Konsep perpustakaan yang mengemban misi pendidikan, keilmuwan serta dunia hiburan dan seni.  Konsep perpustakaan daerah yang menarik untuk dikunjungi sudah saatnya dikembangkan di berbagai daerah di Indonesia.  Perpustakaan daerah hendaknya secara aktif bekerja sama dengan berbagai lembaga pendidikan untuk sering mengadakan diskusi keilmuwan, bedah buku, dan acara apresiasi seni.  Perlu pula bagi perpustakaan daerah untuk membangun jaringan kerjasama dengan para penerbit buku, para penulis, toko buku serta para pecinta seni demi menyemarakkan tidak hanya dunia perbukuan namun juga membangkitkan gairah seni dan mengemas pendidikan dalam kemasan yang menarik sehingga bisa mendatangkan pengunjung demi menghidupkan suasana perpustakaan.  Lambat laun bila hal ini terus dikembangkan, maka bukan tidak mungkin kesadaran masyarakat untuk menimba ilmu dan mengembangkan wawasan pengetahuan serta bakat dan minat akan tumbuh dengan pesat tanpa harus dipaksa-paksa.  Bukankah kesadaran untuk menimba ilmu lebih baik berasal dari dorongan dan kesadaran diri sendiri ?  Mari ciptakan minat baca tulis dan apresiasi seni di kalangan generasi muda Indonesia.

Komentar bertahan »

Bersatu Melawan Kelaparan dan Kemiskinan

Oleh: Haryo Bagus Handoko

Sedih rasanya menyaksikan berita-berita di televisi yang menceritakan tentang kemiskinan, kematian akibat kelaparan, busung lapar, dan bunuh diri karena menanggung lapar.  Padahal bangsa ini katanya cukup kaya.  Kekayaan alamnya melimpah ruah, mutiara terbaik di negeri khatulistiwa.  Padahal baru beberapa tahun yang lalu, negara ini terkenal oleh swasembada berasnya.  Kini semuanya begitu mahal. Jangankan untuk kesempatan bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi, untuk makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, hampir sebagian masyarakat kita harus bekerja membanting tulang siang malam hanya untuk memperoleh gaji dan upah yang demikian kecil yang terkadang hanya cukup untuk membeli beras murah beberapa kilo dan cepat habis dalam beberapa hari saja.  Bahkan minyak goreng curah pun mahal dengan harga yang tidak terjangkau.  Belum lagi lauk tempe yang harganya melejit.  Sayur mayur di pasar tidak lagi murah, dan jangankan untuk membeli pakaian baru yang layak, membeli pakaian bekas pun, harganya masih terlalu mahal bagi sebagian besar masyarakat negeri ini.
Sungguh suatu kemunduran yang terjadi dalam waktu yang cukup singkat. Ngeri rasanya membayangkan nasib anak cucu kita beberapa puluh tahun ke depan, karena sekarang saja angka bunuh diri siswa-siswa SD jumlahnya sungguh mengejutkan.  Belum lagi tingkat keputusasaan para orang tua yang bingung mau memberi makan anak-anaknya dengan makanan apa.  Semua yang dulu murah, kita semakin sulit terjangkau.  Sebuah kabar yang cukup mengenaskan datang dari Sulawesi, seorang ibu dan putranya ditemukan mati karena kelaparan.  Di wilayah lain, seorang ibu tega menghabisi nyawa anak-anaknya dan kemudian membunuh dirinya sendiri, karena demikian putus asa menghadapi kehidupan yang demikian kejam di negeri kaya mutiara khatulistiwa ini.  Lalu kemanakah peran serta rumah-rumah ibadah, lembaga-lembaga amal, dan orang-orang kaya? Jangan pernah terlalu banyak berharap pada pemerintah, karena biasanya pertolongan mereka selalu datang terlambat. Mungkin karena jumlah dananya yang disalurkan masih sangat kurang, ataukah karena ketidakpedulian masyarakat kita terhadap saudara sebangsa dan setanah air?
Bila semua anak bangsa dari berbagai golongan, latar belakang sosial, agama, maupun suku yang berbeda, mau saling bahu membahu demi memberikan kepedulian untuk mencegah bahaya yang lebih besar yaitu kepunahan bangsa ini, maka sebaiknya mulai sekarang kita harus mulai merencanakan sebuah strategi dan usaha yang walau tampaknya sederhana, namun mungkin bisa membantu mengurangi angka kelaparan dan juga tingkat kejahatan di negeri ini.  Katakanlah, misalnya, rumah-rumah ibadah, seperti masjid, musholla, gereja, kapel, klenteng, vihara, maupun lembaga-lembaga amal, bank-bank, rumah-rumah makan, depot-depot, dan berbagai lembaga yang peduli terhadap kemanusiaan bersatu dan bersinergi – bekerja sama bahu membahu untuk menyediakan berbagai jasa layanan gratis pada masyarakat miskin, mungkin bahaya kelaparan dan kemiskinan sedikit demi sedikit dapat diatasi.
Contoh konkritnya, misalnya, pemerintah menetapkan sebuah undang-undang yang mengharuskan semua rumah makan dan depot menyediakan minimal tiga porsi makanan yang tidak mudah basi untuk diserahkan pada suatu lembaga pengelola distribusi makanan siap saji yang dikelola rumah-rumah ibadah atau lembaga sosial untuk dihantarkan ke rumah-rumah keluarga miskin, berapa juta perut kelaparan yang bisa diselamatkan.  Itu baru peran dari rumah makan dan depot-depot di seluruh Indonesia.  Belum lagi kalau misalnya seluruh lembaga amal dan derma dari berbagai rumah ibadah bersatu untuk membelanjakan uang derma untuk dibelikan bahan-bahan kebutuhan pokok makanan dan selanjutnya diserahkan pada lembaga sosial atau katering yang bersedia mengolah bahan-bahan tersebut untuk selanjutnya didistribusikan langsung ke rumah-rumah di pemukiman kumuh atau kantong-kantong kemiskinan setiap hari, mungkin akan begitu banyak nyawa anak-anak kecil, balita dan ibu-ibu hamil yang bisa diselamatkan dari kematian akibat kelaparan.  Ide lainnya, misalnya pemerintah menetapkan sebuah undang-undang yang mengharuskan pasar-pasar swalayan, toserba, dan grosir-grosir besar mengeluarkan voucher belanja kebutuhan pokok dalam jumlah tertentu yang diorganisir oleh sebuah lembaga sosial atau mungkin departemen sosial sehingga bisa didistribusikan kepada keluarga-keluarga kurang mampu lewat RT, RW atau kelurahan, tentu beban berat masyarakat miskin akan sedikit banyak bisa dikurangi.
Di Kanada, saya ambil contoh, dari sebuah artikel di majalah Readers Digest terbitan Kanada, saya pernah membaca, bahwa gereja-gereja di sana bahkan secara bergiliran menyediakan menu sarapan, makan siang, makan malam, dan tempat bernaung di malam hari dengan menyewa sebuah aula atau gedung besar yang dilengkapi dengan begitu banyak kamar mandi, handuk bersih, sabun, tempat-tempat tidur lipat dengan selimut dan seprai bersih, bagi para tunawisma, sehingga pada malam hari mereka tidak sampai berkeliaran di jalanan, tidak tidur dengan perut kosong, bisa selalu mandi minimal sehari sekali dan tidak meratapi nasib secara berlebihan.  Beberapa supermarket di sana bahkan menyediakan kupon voucher belanja peduli kemiskinan yang dibagikan secara gratis melalui departemen sosial yang ada di sana.  Hal itu tidak mustahil kita tiru di negeri ini.  Kalaulah setiap rumah ibadah yang mempunyai begitu banyak dana hasil derma mau sedikit bersusah payah bekerja sama dengan katering murah untuk menyediakan menu-menu makanan secara gratis untuk sarapan pagi, makan siang dan makan malam, tentu rumah-rumah ibadah itu akan berfungsi secara baik sebagai rumah Tuhan yang tidak hanya bisa berkhotbah, namun ada tindakan nyata dalam menolong setiap anak manusia tanpa memandang apa agama mereka.  Pertolongan yang baik adalah pertolongan yang diberikan secara sukarela tanpa maksud mempengaruhi agama atau keyakinan yang dianut oleh seseorang.
Dengan demikian jaring pengaman sosial utama adalah rumah-rumah ibadah, yang mungkin selanjutnya bisa diikuti oleh rumah-rumah makan, depot-depot, dan juga supermarket-supermarket.  Mungkin dalam jangka waktu ke depannya, sekolah-sekolah swasta, universitas-universitas juga mau berbaik hati memberikan beasiswa secara gratis..tis…dalam artian benar-benar gratis dan bukan sekedar pekan promosi sebagai strategi marketing dengan menawarkan program beasiswa yang ujung-ujungnya ternyata masih harus bayar lagi (he..he.. tertipu nih ye..!). Mungkin program hutang untuk kuliah (student loan) bisa diterapkan di negeri ini, walau akan lebih baik kalau memberikan beasiswa yang gratis daripada menawarkan hutang untuk kuliah seperti yang biasa ditawarkan oleh universitas-universitas di Amerika.
Departemen sosial dan lembaga-lembaga amal hendaknya tidak hanya berteori tentang statistik kemiskinan negeri ini, tapi harus mulai bergerak dengan tindakan nyata, misalnya dengan menyewa atau membangun rumah-rumah singgah bagi para gelandangan dan fakir miskin untuk tempat mereka bernaung saat malam hari dan saat musim hujan.  Hal ini juga harus didukung oleh penyediaan makanan secara gratis oleh rumah-rumah ibadah, lembaga sosial, depot atau restoran dan mungkin bisa dikoordinasi oleh Departemen Sosial, sehingga semuanya mempunyai fungsi dan tanggung jawab masing-masing dalam usaha mengentas kemiskinan ini.
Sumbangan masyarakat dalam bentuk barang akan lebih baik daripada dalam bentuk uang, karena tingkat ketidakjujuran dan korupsi di negeri ini masih demikian tinggi.  Para anggota dewan tidak hanya menuntut agenda perbaikan nasib mereka saja dengan gaji puluhan juta, namun sebaiknya mulai menoleh ke kehidupan nyata masyarakat negeri ini yang bergelimang kemiskinan.  Mulailah dari diri kita untuk peduli pada lingkungan.  Nasi dan lauk pauk yang tidak habis dimakan, janganlah dibuang.  Masih banyak saudara-saudara kita yang sangat membutuhkan.  Bahkan di lingkungan tempat tinggal saya,  para pedagang sayur keliling juga peduli pada kemiskinan (padahal mereka sendiri juga tergolong miskin).  Mereka dengan sukarela tanpa malu-malu, mau meminta kelebihan nasi maupun lauk yang tidak habis dimakan maupun pakaian-pakaian bekas layak pakai dari para pelanggan mereka di kompleks perumahan.  Nasi, lauk pauk dan pakaian bekas yang diperoleh dari para pelanggan mereka itu kemudian didistribusikan oleh mereka sendiri ke sanak saudara mereka, para tetangga atau penduduk kampung sebelah yang masyarakatnya masih kesulitan makan dan berada di bawah garis kemiskinan.  Senang rasanya bisa menolong orang, saat para pedagang sayur keliling itu bercerita bahwa para tetangga dan penghuni kampung sebelah tidak lagi memakan nasi aking akibat setiap harinya selalu mendapat pasokan nasi dan lauk pauk dari para ibu-ibu kompleks perumahan yang memiliki kelebihan nasi dan lauk pauk sisa makan malam kemarin yang masih baik dan belum basi.  Berbagi dengan sesama akan selalu terasa menyenangkan.  Semoga dengan adanya tulisan ini, pemerintah, masyarakat golongan kaya atau bahkan kita yang walau tidak kaya namun mempunyai sedikit saja kelebihan rejeki entah makanan, pakaian atau apa pun, mau peduli dengan lingkungan dan membantu mereka yang benar-benar membutuhkan.

Komentar bertahan »

Jamur – Makanan Berkhasiat Bagi Kesehatan

Oleh : Haryo Bagus Handoko, SP

Sudah banyak hasil penelitian yang membuktikan bahwa pemanfaatan bahan makanan tertentu dapat meningkatkan derajad kesehatan manusia, membentuk tubuh yang indah, menjaga tubuh agar tetap awet muda, dan bahkan bisa memperpanjang umur manusia.  Menurut hasil penelitian, beberapa jenis jamur mempunyai khasiat memperpanjang umur hidup seseorang.  Mungkin ada benarnya bila Anda menyimak ulasan berikut ini.
Diantara kita tentunya sudah banyak yang mengenal bahan makanan yang satu ini.  Apalagi kalau bukan jamur yang sudah dikenal umat manusia sejak ribuan tahun lalu sebagai makanan lezat nan mewah para raja.  Sepanjang sejarah, jamur sudah dikenal oleh peradaban manusia, mulai dari jamur yang tumbuh di atas kayu yang lapuk, hingga jamur yang dibudidayakan oleh manusia.  Jamur banyak dimanfaatkan sebagai sayuran yang berkalori rendah, sedikit lemak namun kaya akan protein, karbohidrat, serat, vitamin, garam mineral dan asam amino.  Sementara itu dari 8 macam asam amino yang dibutuhkan manusia, 6 – 7 macam diantaranya dikandung oleh jamur.
Sampai saat ini konsumsi jamur masih terbatas pada kalangan menengah ke atas.  Umumnya jamur yang berkualitas tinggi ditemui di supermarket-supermarket yang ada di kota-kota besar.  Ada begitu banyak jenis jamur yang bisa dimakan, namun umumnya hanya beberapa jenis yang dikenal luas di Indonesia, diantaranya adalah jamur tiram (Pleurotus sayor caju  dan Pleurotus obalonus), jamur kuping (Auricularia polytricha), dan jamur Champignon (Agaricus bisporus).  Di Indonesia, tampaknya tidak banyak perusahaan yang bergerak di bidang usaha budidaya jamur, mengingat komoditi yang satu ini tidak bisa disimpan terlalu lama, sehingga membutuhkan jalur distribusi yang cepat dan baik selain ruang penyimpanan (cool storage) yang baik agar komoditi ini tidak cepat busuk.  Selain itu kendala yang lain yang biasa dihadapi pengusaha budidaya jamur adalah bahwa tidak semua jenis serbuk kayu bisa dijadikan sebagai media tumbuh bagi jamur.  Yang paling baik adalah serbuk kayu yang diperoleh dari jenis kayu sengon laut (Albizzia falcataria) dan kayu randu (dari pohon kapuk randu).  Dengan menggunakan serbuk kayu dari jenis kayu tersebut maka hasil dan kualitas jamur yang dihasilkan juga akan lebih baik.
Budidaya jamur sendiri sebenarnya tidaklah terlalu rumit.  Serbuk kayu (serbuk gergaji) dilapukkan selama kurang lebih satu bulan, kemudian ditambahkan dengan unsur hara yang diperoleh dari pemberian pupuk dasar NPK lengkap.  Dengan perbandingan urea, SP36 dan KCl  sebanyak 1 : 1 : 1.  Serbuk kayu dimasukkan ke dalam polybag untuk dikukus atau dimasak selama 8 jam nonstop pada suhu 100 derajat celsius, kemudian diinokulasikan agar keluar miseliumnya.  Jika miselium sudah terbentuk ¾ bagian, maka berarti sudah siap unuk dimasukkan ke dalam ruang tanam.  Suhu ruang tanam diatur agar tetap konstan 25 – 26 derajat celsius.  Kelembaban dipertahankan pada kisaran 80 – 90%.  Penyiraman dilakukan 3 kali sehari, yaitu pagi, siang dan malam.  Sebaiknya gunakan air sumber atau air pegunungan setiap kali penyiraman agar bebas dari bahan kimia.  Bibit jamur biasanya didatangkan dari Taiwan atau Jepang.
Seorang pakar jamur, Roy Gender, dalam bukunya “Mushroom Growing for Every One” menyebutkan khasiat jamur.  Di Amerika misalnya jamur digunakan untuk pengobatan kekurangan darah (anemia), karena mengandung folic acid yang lebih tinggi daripada sayur bayam dan hati sapi.  Orang Perancis mengkonsumsi jamur untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan juga agar terhindar dari penyakit kanker.  Di Perancis, jamur biasa dikonsumsi seperti layaknya sayur mayur.
Yu Hsuen Yu, spesialis jamur dari Taiwan sempat menyebutkan beberapa jenis jamur yang dapat dimakan yaitu jamur Champignon, jamur tiram, jamur kuping dan jamur Shitake.  Dalam jamur, terkandung komposisi beraneka zat yang baik untuk kesehatan.  Sebagai contoh, jamur Champignon mengandung air,  protein,  lemak,  gula,  abu,  kalsium, fosfor, kalium, zat besi, tembaga, vitamin B1, vitamin B2, vitamin C, Niacin, dan Panthotenic acid.  Sementara pada jamur tiram mengandung air, protein murni, lemak kasar, nitrogen terlarut, gula reduksi, pentose, methyl pentose, gula rangkap, hexose, serat kasar, abu dan zat-zat terlarut lainnya.
Selain meningkatkan kekebalan tubuh dan melindungi tubuh dari resiko serangan penyakit kanker, mengkonsumsi jamur juga dipercaya dapat memperhalus kulit wajah dan kulit tubuh, sehingga semakin banyak kaum wanita yang mengkonsumsi jamur untuk kesehatan dan kecantikan.  Sebenarnya masih banyak khasiat jamur bila dikonsumsi secara rutin, yaitu antara lain dapat mengatasi kolesterol, diabetes, hipertensi dan avitaminosis (kurang vitamin).  Bagi penderita ginjal, mengkonsumsi jamur diyakini dapat memperlancar proses metabolisme tubuh karena kandungan kalorinya cukup tinggi (200 kal/100 gr bahan segar).  Dengan mengkonsumsi jamur secara rutin dalam menu makanan, semoga bisa semakin meningkatkan kesehatan dan daya tahan tubuh agar tidak mudah terserang penyakit.

Komentar (5) »

Tempe – Makanan Unggulan Masa Depan

Oleh : Haryo Bagus Handoko, SP

Tempe telah lama dikenal sebagai bahan pangan lauk bagi masyarakat Indonesia. Walau beberapa kalangan menganggap remeh bahan pangan murah ini sebagai makanan kalangan menengah ke bawah, namun sebetulnya bahan pangan yang satu ini tidak boleh dipandang remeh. Sebagai bahan pangan yang dibuat dari kedelai melalui proses fermentasi, berbagai perubahan biokimia oleh mikrobia berlangsung pada pembuatan tempe. Para pakar pangan dan gizi telah berhasil mengungkapkan bahwa perubahan-perubahan tersebut dinilai dari gizi menguntungkan. Penelusuran dokumen sejarah membuktikan bahwa tempe telah dibuat di Indonesia sejak dahulu. Tempe diyakini berasal dari Jawa yang selanjutnya menyebar ke berbagai daerah, sejalan dengan penyebaran masyarakat Jawa yang berimigrasi ke wilayah nusantara dan ke mancanegara. Pengamatan terhadap teknologi pembuatan tempe juga semakin menguatkan asal tempe dari Jawa, khususnya dari Jawa Tengah dan lebih khusus lagi yaitu berasal dari wilayah Yogyakarta dan Solo. Kata “tempe” bila dikaji lebih lanjut tampaknya berasal dari bahasa Jawa kuno, dan bukannya berasal dari bahasa Cina. Kisah yang dihimpun dalam Serat Centhini diperkirakan terjadi pada tahun 1600-an. Saat itu kerajaan Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung Anyakrakusuma menaklukkan Giri, mengakibatkan putra-putri Giri melarikan diri dan berkelana ke seluruh pelosok pulau Jawa. Kata “tempe” ditemukan pada “Serat Centhini” jilid 3 yang menggambarkan perjalanan Mas Cebolang dari Candi Prambanan menuju Pajang dan mampir di dusun Tembayat wilayah Kabupaten Klaten. Bahwa tempe dibuat dari kedelai dipertegas dalam Surat Centhini jilid 12, yang menggambarkan perjalanan Jayengresmi dan rekan-rekannya, sampai di dusun Bustam yang termasuk wilayah kerajaan Mataram, Jawa Tengah. Mereka kemudian dijamu oleh Ki Arsengbudi, dan salah satu hidangan yang disuguhkan adalah tempe kedelai serundeng. Kenyataan ini menunjukkan bahwa dalam pembuatan tempe terkandung budaya nenek moyang yang memiliki nilai tinggi. Pengolahan tempe di Indonesia pada dasarnya sangat bervariasi dan belum ada standar yang dapat digunakan secara nasional untuk pengukuran terutama dalam hal kualitasnya. Pada prinsipnya perlakuan pendahuluan adalah menyiapkan biji kedelai mentah menjadi matang tanpa kulit dan mempunyai kondisi yang cocok untuk pertumbuhan kapang. Banyaknya variasi proses tersebut, mengakibatkan keragaman dalam produk tempe yang dihasilkan. Hal ini menimbulkan kesulitan apabila dikembangkan menjadi produk tempe generasi kedua maupun ketiga. Padahal produk lanjutan ini bisa jadi mempunyai nilai tambah (secara ekonomi) berpuluh kali lipat. Ragi tempe tidak hanya dijualbelikan dalam bentuk usar, tetapi ada pula yang berbentuk tepung atau bubuk. Ragi tempe jenis ini telah diproduksi oleh LIPI Bandung sejak tahun 1976. Di luar negeri seperti Jepang dan Eropa, produsen tempe menggunakan biakan murni kapang Rhizopus oligosporus NRRL 2710 yang merupakan strain paling baik untuk tempe. Penyebaran tempe di luar negeri banyak dipengaruhi oleh kehadiran orang Indonesia khusunya suku Jawa serta warga Belanda yang pernah menetap di Indonesia. Di Eropa tempe mulai populer melalui orang-orang Belanda, menurut Stahel, pada tahun 1946, tempe mulai diperkenalkan di Amerika. Tempe juga berkembang di negara Jepang yang dirintis oleh Kiku Murata seorang guru besar di Universitas Osaka yang juga pendiri Japanese Tempeh Society. William Shurtleff dan Akiko Aoyagi pada tahun 1984 pernah menerbitkan monograf “sejarah tempe” dan telah mengakui asal tempe secara turun temurun berasal dari Jawa (Indonesia). Temuan rujukan pertama didapatkan tahun 1875. Sebagai gambaran, yang sempat tercatat oleh Soy-Foods Centre di California (Amerika) terdapat 616 dokumen yang diterbitkan mengenai tempe, dan juga masih ada 247 dokumen arsip yang masih belum diterbitkan. Sebagian proses telah dipatenkan di Amerika maupun Jepang. Disamping itu telah diidentifikasi 423 produk komersial tempe. Pada tahun 1984 tercatat 18 perusahaan tempe di Eropa, dan di Amerika melonjak dari sejumlah 13 perusahaan (di tahun 1975) menjadi 53 perusahaan di tahun 1984. Sekarang diperkirakan jumlahnya lebih dari 100 perusahaan mengingat banyaknya produk generasi kedua yang dihasilkan. Bahkan di Jepang, diyakini bahwa tempe dapat menjadi obat bagi penyakit AIDS, walau hal ini masih dalam taraf penelitian, seperti halnya bawang putih yang juga diyakini suatu saat dapat menyembuhkan AIDS. Sungguh ironis bahwa perkembangan industri tempe di tanah air justru kurang menggembirakan. Inovasi-inovasi baru produk tempe olahan masih jauh dari yang diharapkan, apalagi bila dibandingkan dengan negara-negara Eropa, Jepang dan Amerika yang sudah lebih dulu mengembangkan produk olahan tempe generasi kedua dan ketiga. Agaknya di tanah air, potensi tempe masih dimanfaatkan oleh industri-industri rumah tangga yang berskala kecil. Bahan pangan yang telah mendunia ini tampaknya masih tetap dipandang sebelah mata karena terkait dengan selera masyarakat yang masih menganggap tempe sebagai makanan kelas bawah. Meski masih sering dipandang sebagai produk makanan kalangan bawah, ternyata tempe memiliki nilai gizi yang tinggi. Tempe bermanfaat sebagai makanan fungsional yang menambah asam amino, menurunkan dampak kolesterol serta bermanfaat dalam penanggulangan diare, serta masih banyak sederet fungsi positif dari bahan pangan yang satu ini terhadap kesehatan manusia. Aktivitas mikroorganisme selama proses pengolahan menyebabkan tempe mempunyai nilai gizi lebih daripada sekedar kedelai. Fermentasi kedelai menjadi tempe telah mengubah aroma kedelai yang langu menjadi aroma khas tempe yang gurih. Tempe mempunyai beberapa sifat yang berguna bagi kesehatan. Kandungan proteinnya sangat lengkap, terdiri dari 8 macam asam amino esensial. Makanan ini pun memiliki kandungan vitamin B12 yang tinggi. Kolesterol yang selama ini menjadi momok bagi penderita penyakit jantung koroner, konon dapat ditekan setelah mengkonsumsi tempe. Tempe memiliki tekstur seluler yang unik sehingga mudah dicerna dan diserap oleh usus halus. Bahkan dalam tempe terdapat zat berkhasiat antibiotik dan stimulasi pertumbuhan yang sangat baik bagi manusia. Enzim-enzim yang dihasilkan kapang/jamur tempe selama proses fermentasi kedelai menimbulkan perubahan pada protein, lemak maupun karbohidrat. Kadar protein tidak meningkat, tetapi jumlah nitrogen terlarutnya bertambah 0,5 – 2,5%. Beberapa asam amino meningkat kadarnya berkisar antara 5 hingga 10 %. Aktivitas enzim lipolitik menguraikan lemak pada kedelai menjadi asam lemak bebas. Asam lemak bebas dalam kedelai rebus berjumlah 0,5% meningkat menjadi 21% dalam tempe. Karbohidrat yang berupa oligosakarida juga diuraikan, sehingga tidak terjadi pembentukan gas dalam perut yang menyebabkan kembung. Oleh sebab itu, tempe dapat dianjurkan sebagai makanan bergizi tinggi bagi bayi atau anak-anak. Dalam proses fermentasi kedelai menjadi tempe dihasilkan enzim fitase, lipase, protease dan amilase yang dapat membantu proses pencernaan dan penguraian lemak, protein, dan zat pati yang berasal dari makanan lain yang dikonsumsi. Tempe bukan hanya sumber protein tetapi juga mengandung mineral makro dan mikro dalam jumlah yang cukup. Selama proses fermentasi terjadi peningkatan ketersediaan zat besi dan mineral seng. Proses penuaan dapat dihambat apabila dalam makanan yang dikonsumsi mengandung senyawa antioksidan yang cukup untuk mencegah oksidasi. Ternyata tempe mengandung alfa dan rho tokoferol yang merupakan antioksidan yang sangat potensial mencegah oksidasi. Di samping itu, ketersediaan kalsium dan zat besi akan meningkat dengan adanya fermentasi tempe. Demikian pula ketersediaan mineral seng pada tempe cukup besar. Oleh karena itu potensi tempe dalam mencegah oksidasi maupun sebagai pembersih radikal bebas yang masuk ke dalam tubuh, perlu dikembangkan dalam upaya mencegah penuaan secara dini. Tempe sebagai produk teknologi asli Indonesia yang unggul dalam aspek gizi harus terus dikembangkan. Pola konsumsi masyarakat yang menganggap tempe sebagai makanan rendahan harus dihilangkan. Juga perlu ditunjang adanya pengendalian kualitas yang baik sehingga tempe benar-benar dapat dijadikan produk andalan Indonesia.

Komentar bertahan »