Archive for Aneka Artikel

Tips Menulis Ala Stephen King

Stephen Edwin King, seorang penulis novel legendaris dari Amerika, lahir di Portland, Maine (USA) pada 1947. Stephen merupakan anak kedua Donald dan Nellie Ruth Pillsbury King. Dibesarkan sang ibu bersama sang kakak yang sangat kreatif, masa kecil Stephen terpaksa lebih banyak dihabiskan di rumah ketimbang sekolah karena kesehatannya yang buruk. Dia pun mengisi waktunya dengan banyak membaca dan menyalin cerita favoritnya. Berasal dari latar belakang keluarga yang berantakan (ayahnya meninggalkan ibu Stephen saat ia masih kecil, sementara sang ibu harus membanting tulang dengan bekerja sebagai buruh cuci dan setrika di sebuah laundry serta merangkap pekerjaan serabutan di berbagai tempat), Stephen tumbuh bersama ibu yang sangat mencintainya, dan seorang kakak laki-laki bernama Dave yang sangat suka pada proyek-proyek karya ilmiah sekolah dan terkadang membuat eksperimen yang sangat berbahaya untuk anak-anak seumuran mereka. Kakaknya (Dave) pula yang mengilhami Stephen untuk mulai menulis, dimulai dengan menuliskan film-film yang pernah ditontonnya semasa kecil dan menjual tulisannya di sekolah tak peduli itu melanggar hak cipta, sampai kerja barengnya bersama sang kakak yang menulis koran desa yang diterbitkannya sendiri untuk dijual ke para tetangga dan para penduduk desa (kota kecil) tempat mereka tinggal. Hobi menulisnya terus berlanjut hingga saat ia bersekolah di sekolah menengah. Ia rajin mengirimkan aneka cerpen ke berbagai majalah science fiction, hingga majalah bergenre horor atau cerita misteri. Masa-masa kecil dan masa remajanya dihabiskan dengan hidup prihatin, bekerja sambil sekolah. Stephen sempat bekerja sebagai buruh pabrik sepulang dari sekolah, dan masih menyempatkan menulis di sela-sela kesibukannya, padahal setiap harinya ia pulang dari bekerja saat sudah larut malam, dan besoknya masih harus bangun pagi-pagi untuk bersekolah. Ibunya pun bekerja keras membanting tulang bekerja secara serabutan dan tinggal menumpang di rumah saudara perempuannya (bibi dari Stephen). Mereka hidup berpindah dari satu apartemen kumuh ke apartemen kumuh yang lain, dari rumah saudara yang satu ke rumah saudara yang lain. Semasa kuliah di University of Maine di Orono (USA), Stephen King ikut aktif dalam gerakan anti perang Vietnam. Di universitas itulah dia meraih gelar B.A. dalam bahasa Inggris, dan setelahnya mendapat kesempatan mengajar Business English di SMA. Hidup adalah sebuah perjuangan keras di mata Stephen. Kerasnya perjuangan hidup terus berlanjut hingga ia lulus kuliah dan bekerja serabutan sebagai buruh setrika di sebuah usaha laundry dan terkadang bekerja serabutan di pabrik sebagai buruh dengan upah rendah. Saat ia ditawari mengajar bidang penulisan kreatif (di sebuah SMA di Amerika) dengan gaji yang sangat kecil, ia menerima semuanya itu dengan lapang dada. Ia terus menulis dan menulis. Karya-karyanya dikirimkannya ke berbagai majalah dan sering ditolak ! Saat ia sudah menikah pun, ia masih terus menulis. Istrinya Tabby, teman kuliahnya dulu, juga seorang penulis, namun tekanan ekonomi-lah yang memaksanya bekerja sebagai buruh cuci di perusahaan laundry, serabutan bekerja di pabrik dan juga sebagai pelayan di Dunkin Donuts. Hidup adalah sangat sulit bagi mereka berdua, bahkan setelah mereka mempunyai dua orang anak, Joe dan Naomi. Saat-saat keemasan bagi Stephen adalah saat karya novelnya yang berjudul Carrie diterbitkan dan ia memperoleh uang dari hak cipta sebesar 200.000 dollar (sebenarnya ia memperoleh hak cipta sebesar 400.000 dollar, tetapi sesuai kontrak perjanjiannya dengan literary agent-nya dengan pembagian 50:50 maka Stephen hanya memperoleh 200.000 dollar, yang dibayarkan dengan uang muka sekitar 2500 dollar). Jumlah itu sudah lebih dari cukup untuk ukuran waktu itu. Kini hak cipta karyanya sudah bernilai jutaan dollar ! Stephen benar-benar merintis karir mulai dari bawah. Ia bahkan sempat tinggal di sebuah mobil van, dengan istri dan dua anaknya. Tempatnya berkarya untuk menulis hanyalah sebuah meja kecil anak-anak yang tersembunyi di suatu sudut di mobil van itu. Berbekal mesin ketik Olivetti milik Tabby, istrinya, ia terus berusaha membiayai keluarganya agar dapur mereka tetap mengepul ! Sungguh suatu pekerjaan yang berat dan perjuangan yang keras dalam hidup ini. Saat ia sukses, sang ibu sempat melihat kebahagiaan sang putra saat novel pertamanya yang berjudul “carrie” terbit. Di saat-saat terakhir kematian sang ibu, Stephen dan sang kakak, Dave, sempat menunggu di samping sang ibu yang sakit keras sambil terus merokok untuk mengurangi penderitaan sakit yang teramat sangat akibat kanker rahim yang dideritanya. Sementara sang Tante (saudara ibunya) membacakan novel Stephen keras-keras di telinga ibu Stephen. Paling tidak sang ibu tercinta sempat merasa bangga bahwa perjuangan sang anak yang dicintainya dan dibesarkan dengan susah payah akhirnya membuahkan hasil. Hingga saat ini, Stephen King sudah membuahkan puluhan novel yang hampir semuanya bergenre cerita misteri, suspense dan thriller atau horor. Kini Stephen King dan Tabitha – sang istri, menyediakan beasiswa untuk siswa sekolah menengah dan terlibat dalam berbagai kegiatan amal. Menerima The National Book Foundation Medal for Distinguished Contribution to American Letters pada 2003 – penghargaan yang melahirkan perdebatan soal mutu sastra karya-karyanya, Stephen King kembali menerima Lifetime Achievement Award di bidang sastra pada tahun 2004. Berikut ini beberapa hal tentang tips menulis yang dikemukakan oleh Stephen King, seorang penulis novel terkenal dari Amerika yang ringkasan dan juga cuplikan yang sempat ditulis dalam bukunya yang berjudul “On Writing : A Memoir of The Craft” yang diterbitkan oleh Pocket Books Publishing, New York tahun 2000.

……..
Kau juga perlu memasukkan tata bahasa para rak teratas di kotak perkakasmu (maksudnya ide-ide yang butuh dikembangkan saat menulis), dan jangan membuatku jengkel dengan erangan kekesalanmu atau jeritanmu bahwa kau tidak memahami tata bahasa. Rileks saja. Tenang. Tata bahasa Amerika tidak punya kekuatan seperti tata bahasa Inggris (seorang ahli periklanan Inggris dengan pendidikan yang layak dapat membuat salinan iklan majalah untuk produk kondom terdengar seperti piagam Magna Carta), tetapi tata bahasa Amerika punya pesonanya sendiri yang khas. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk tidak memasukkan tata bahasa, barangkali karena alasan yang sama seperti ketika William Strunk memutuskan untuk tidak melengkapi dasar-dasar itu ketika dia menulis edisi pertama The Elements of Style : jika engkau tidak tahu, sudah terlambat. Dan mereka yang benar-benar tidak  mampu memahami tata bahasa – seperti aku tidak mampu memainkan frasa melodi tertentu dan peralihan nada pada gitar – hanya akan mendapat manfaat kecil atau tidak mendapat manfaat sama sekali dari buku semacam ini. Tata bahasa yang buruk menghasilkan kalimat-kalimat yang buruk. Kata benda dan kata kerja adalah dua bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam menulis. Tanpa salah satunya, tidak ada kelompok kata yang mengandung subyek (kata benda) dan predikat (kata kerja); rangkaian kata ini dimulai dengan huruf besar, diakhiri dengan tanda titik, dan bergabung untuk membentuk satu pemikiran lengkap yang dimulai di kepala pengarang dan kemudian melompat ke kepala pembaca. Haruskah kau menulis kalimat-kalimat lengkap setiap kali, selalu ? Singkirkan pikiran itu. Jika karyamu hanya terdiri dari fragmen-fragmen dan klausa-klausa mengambang, Polisi Tata Bahasa tidak akan datang dan menahanmu. Bahkan, William Sturk, Musolini-nya retorika, mengakui keluwesan bahasa yang mengasyikkan. Menurut pengalaman sejak dahulu, para penulis yang paling baik kadang-kadang tidak menaati aturan-aturan retorika. Meskipun begitu, dia menambahkan pemikiran ini, yang kutekankan kepadamu agar kau pertimbangkan : “Kecuali jika dia yakin akan bisa menunjukkan hasil yang baik, penulis sebaiknya mengikuti aturan.
Ada satu persyaratan di sini, yaitu kecuali jika dia yakin akan bisa menunjukkan hasil yang baik. Jika kau tidak punya gambaran sama sekali tentang bagaimana bentuk-bentuk kata dari pembicaraan itu terbentuk menjadi kalimat-kalimat yang koheren, bagaimana engkau bisa yakin bahwa kau bisa menunjukkan hasil yang baik ? Bagaimana kau akan tahu apakah kau akan menunjukkan hasil yang baik ? Jawabannya, tentu saja, adalah bahwa kau tidak bisa, tidak akan bisa. Orang yang benar-benar bisa menangkap prinsip-prinsip dasar tata bahasa akan menemukan kesederhanaan yang menenangkan, bahwa pada intinya, yang diperlukan hanyalah kata benda, kata-kata yang menyebutkan nama suatu benda, dan kata kerja, kata-kata yang menunjukkan tindakan. Ambil kata benda yang mana saja, gabungkan dengan kata kerja mana saja,maka kau akan punya satu kalimat. Ini tidak pernah gagal. Batu-batuan meledak. Jane mengudara. Gunung-gunung melayang. Semua itu adalah kalimat-kalimat lengkap. Banyak pikiran semacam itu secara rasional kurang bisa dimengerti. tetapi bahkan yang lebih aneh (Buah plum mendewakan!) punya semacam bobot puitis yang menarik. Kesederhanaan dari konstruksi kata benda – kata kerja itu bermanfaat – setidak-tidaknya itu dapat memberi jaring pengaman bagi tulisanmu. Strunk dan White memperingatkan tentang kalimat sederhana berurutan yang terlalu banyak, tetapi kalimat-kalimat sederhana memberikan jalan yang dapat kau ikuti jika kau takut tersesat di tengah kerumitan retorika – segala macam klausa restriktif dan nonrestriktif, frasa-frasa pengubah, segala macam apositif, dan kalimat-kalimat majemuk kompleks. Jika mulai merasa ganjil begitu sampai di wilayah yang tidak ada dalam peta (tidak ada dalam petamu, paling tidak), ingatkan saja dirimu bahwa batu-batuan meledak, Jane mengudara, gunung-gunung melayang, dan buah plum mendewakan. Tata bahasa bukanlah hal yang menyebalkan; itu adalah galah yang kau gunakan untuk berpegangan dan membawa pikiranmu berdiri dan berjalan. Di samping, itu Ernest Hemingway (juga seorang novelis terkenal) berhasil dengan kalimat sederhana, bukan? Bahkan ketika sedang mabuk, dia tetap seorang jenius. Jika kau ingin menggosok kembali tata bahasamu (bila ingin menulis novel dalam bahasa Inggris), pergilah ke toko buku bekas di dekat rumahmu dan carilah buku Warriner’s English Grammar and Composition – sebuah buku pedoman bahasa Inggris untuk anak SMA di Amerika. Bisa juga dicari di internet bila buku tua itu sudah tidak lagi dijumpai di pasaran. Kau akan merasa lega dan senang, kukira, karena hampir semua yang kau butuhkan telah disarikan di halaman depan dan belakang buku tersebut.

Kata kerja ada dua jenis, pasif dan aktif. Dengan kata kerja aktif, subyek dalam kalimat sedang melakukan sesuatu. Dengan kata kerja pasif, sesuatu dilakukan pada subyek kalimat. Subyek hanya membiarkan itu terjadi. Kau harus menghindari kalimat pasif. Aku bukan satu-satunya orang yang berkata begitu; engkau bisa menemukan saran yang sama dalam The Elements of Style. Strunk dan White tidak berspekulasi tentang mengapa begitu banyak penulis tertarik pada kata kerja pasif, tetapi tak apalah kulakukan spekulasi itu; kupikir, para penulis yang malu-malu menyukai pasangan yang pasif. Suara pasif itu aman. Tidak ada tindakan yang menyulitkan yang harus dihadapi; subyek hanya perlu menutup matanya dan berpikir tentang Inggris untuk membuat parafrasa Ratu Victoria. Kupikir, para penulis yang tidak yakin juga merasa suara pasif, entah bagaimana, meminjamkan otoritas kerja mereka, bahkan mungkin kualitas kebangsawanan mereka.  Orang yang malu-malu akan menulis, “pertemuan akan diadakan pada pukul tujuh”, sebab entah bagaimana itu seperti memberitahukan kepadanya, “Katakan dengan cara begini dan orang-orang akan percaya bahwa kau benar-benar tahu.” Bersihkan pikiran khianat ini! Jangan minder begitu! Tarik bahumu ke belakang, angkat dagumu, dan tentukan waktu pertemuan! Tulis, “Pertemuan pukul tujuh.” Nah, demi Tuhan! Tidakkah kau merasa lebih baik? Pendek kata, hindarilah menggunakan kalimat pasif dalam tulisanmu. Kalau memang terpaksa, gunakan sesedikit mungkin kalimat pasif. Jangan membiasakan diri menuliskannya, karena kalimat pasif seakan menunjukkan keragu-raguan, ketidakpastian, dan tidak tegas serta tidak lugas dalam mengutarakan sesuatu.

Para penulis membentuk dirinya ke dalam suatu piramida seperti yang kita lihat dalam semua bidang bakat dan kreativitas manusia. Pada piramida tersebut, lapisan paling bawah dihuni para penulis buruk. Lapisan di atasnya adalah kelompok penulis yang jumlahnya lebih sedikit, tetapi tidak terlalu sedikit dan ini menggembirakan; mereka adalah penulis yang kompeten. Kelompok ini juga dapat dijumpai bekerja sebagai karyawan di koran-koran lokal, karyanya dapat dilihat di rak-rak buku di toko buku setempat dan pada pembacaan puisi Open Mike Night. Lapisan di atasnya lagi adalah kelompok penulis yang jumlahnya lebih sedikit. Mereka penulis yang benar-benar bagus. Di atas mereka – di atas kita semua – adalah kelompok Shakespeare, Faulkner, Yeats, Shaw, dan Eudora Weltys. Mereka itu para penulis jenius, kelompok istimewa, luar biasa berbakat sehingga kita tidak mampu memahaminya, apalagi mencapai keberhasilan seperti mereka. Meskipun demikian, sebagian besar para penulis jenius ini tidak dapat mengerti diri sendiri dan banyak dari mereka memiliki kehidupan menyedihkan, menyadari (paling tidak pada tingkatan tertentu) bahwa mereka bukan apa-apa selain orang-orang aneh yang beruntung, versi intelektual para model catwalk yang kebetulan dilahirkan dengan tulang pipi yang indah dan bentuk tubuh yang sesuai dengan citra kecantikan pada masa itu.

Tulisan yang bagus berisi penguasaan atas hal-hal mendasar (kosakata, tata bahasa, unsur-unsur gaya tulisan), kemudian mengisi bagian ketiga kotak perkakas tulismu dengan alat yang tepat. Meskipun tidak mungkin mengubah penulis yang buruk menjadi penulis yang kompeten, dan sama tidak mungkinnya mengubah penulis yang baik menjadi penulis yang hebat, sangat mungkin untuk menjadi penulis yang baik daripada sekedar penulis yang kompeten. Dan ini dapat dilakukan dengan banyak kerja keras, dedikasi, dan bantuan yang tepat. Aku khawatir gagasan ini akan ditolak oleh banyak kritikus dan sebagian besar guru menulis. Mereka umumnya adalah orang-orang liberal dalam masalah politik, tetapi keras kepala dalam bidang pilihannya. Sering mereka adalah orang yang sama yang berbicara di depan kelas mengatakan bahwa kemampuan menulis adalah kemampuan yang sudah ditetapkan dan tidak dapat diubah. Kalau engkau ingin menjadi penulis, ada dua hal yang harus kau lakukan; banyak membaca dan banyak menulis. Setahuku, tidak ada jalan lain selain dua hal ini, dan tidak ada jalan pintas. Aku (Stephen King) termasuk pembaca yang lambat, tetapi biasanya aku dapat menyelesaikan 70 atau 80 buku per tahun, sebagian besar buku fiksi. Aku tidak membaca untuk mempelajari seninya; aku membaca karena aku senang membaca. Itulah yang kulakukan pada malam hari, duduk di kursi biruku. Demikian pula, aku tidak membaca fiksi untuk mempelajari seni fiksi, tetapi karena aku senang cerita. Meskipun demikian, toh tetap ada proses belajar yang berlangsung. Tiap buku yang kau baca mengandung pelajaran, dan sering buku yang jelek jauh lebih banyak memberikan pelajaran daripada buku yang bagus. Ketika aku duduk di kelas delapan, kebetulan aku membaca novel karya Murray Leinster, edisi kertas stensilan. Murray Leinster adalah penulis novel fiksi ilmiah picisan yang banyak menulis ketika dia berumur 40-an dan 50-an, ketika majalah-majalah semacam Amazing Stories membayar satu sen dolar untuk satu kata. Aku juga membaca buku-buku lain karya Leinster dalam jumlah yang cukup untuk mengetahui bahwa kualitas tulisannya tidak konsisten. Dengan membaca cerita yang buruk – novel, seperti Asteroid Miners (atau Valley of The Dolls, Flowers in the Attic, dan The Bridges of Madison County) – seseorang dapat dengan jelas belajar tentang apa yang tidak boleh dilakukan, dan proses belajar ini sama dengan waktu belajar satu semester di sekolah menulis yang bagus, bahkan dengan pelajaran yang diberikan oleh guru tamu yang seorang bintang dalam hal tulis menulis. Sebaliknya, tulisan yang bagus mengajarkan kepada calon penulis tentang gaya tulisan, narasi yang indah, pengembangan alur cerita, penciptaan tokoh-tokoh yang meyakinkan, dan penuturan yang benar. Membaca karya novel yang jempolan dan bagus akan berfungsi sebagai pendorong, dan sebagai pelecut bagi penulis untuk bekerja lebih keras dan memasang target lebih tinggi. Terdorong untuk menggabungkan antara cerita yang hebat dan penulisan yang sangat bagus – sebenarnya, terjepit di antara dua hal itu – adalah bagian dari proses pembentukan yang diperlukan oleh setiap penulis. Kau tidak dapat mempesona orang lain dengan kekuatan tulisanmu sebelum ada orang lain yang melakukan hal serupa itu kepadamu. Jadi, kita membaca agar mengenali tulisan yang agak buruk dan sangat buruk; pengalaman seperti itu membantu kita mengenali hal-hal buruk tersebut saat mereka pelan-pelan masuk ke dalam karya kita sendiri, dan dengan mengenali kita dapat menghindari kesalahan yang sama dalam penulisan. Kita juga membaca untuk mengukur kemampuan diri kita sendiri dalam menghadapi hal-hal yang bagus dan hebat, untuk mendapatkan pengetahuan tentang segala sesuatu yang dapat dilakukan. Dan kita membaca untuk mengenali gaya tulisan yang berbeda-beda. Aku menulis cerita pada masa remajaku saat semua gaya tulisan itu berbaur, menciptakan semacam gaya tulisan yang riang gembira. Pembauran gaya penulisan itu adalah bagian yang diperlukan seorang penulis untuk mengembangkan gaya tulisannya sendiri, tetapi hal itu tidak mungkin menjadi tanpa media apa-apa. Kau harus banyak membaca, terus-menerus memperbaiki dan merumuskan karyamu sendiri selama  berkarya. Aku merasa sulit percaya bahwa orang-orang yang tidak banyak membaca (atau dalam beberapa kasus tidak pernah sama sekali membaca) menganggap dirinya dapat menulis dan mengharapkan orang lain menyukai apa yang dia tulis, tetapi aku tahu bahwa hal itu memang benar demikian. Kalau engkau tidak punya waktu untuk membaca, kau tidak punya waktu (atau peralatan) untuk menulis. Mudah saja.

Membaca adalah pusat kreatif kehidupan seorang penulis. Aku membawa buku ke mana pun aku pergi, dan menemukan di sana segala macam peluang untuk menenggelamkan diri dalam bacaan. Kiatnya adalah mengajari dirimu sendiri untuk membaca sedikit demi sedikit serta membaca langsung dalam waktu lama. Ruang tunggu memang disediakan untuk membaca buku – tentu saja! Demikian juga lobi gedung pertunjukan sebelum pertunjukan dimulai, dan tempat membaca yang menjadi kegemaran semua orang, toilet/WC. Kau bahkan juga dapat membaca sambil mengemudi, berkat revolusi buku audio (e-book). Dari sekian banyak buku yang kubaca setiap tahun, sekira enam sampai dua belas buku ada dalam bentuk kaset. Sama seperti semua stasiun radio bagus yang akan kau rindukan siarannya kalau tidak mendengarkannya.

Jika engkau ingin berhasil sebagai penulis di dalam masyarakat yang beradab, sopan santun tidak perlu menjadi persoalan. Hal yang paling tidak perlu kau perhatikan adalah keberadaban masyarakat dan harapan masyarakat. Kalau kau bermaksud menulis sejujurnya seperti yang engkau mampu, hari-harimu sebagai anggota masyarakat beradab tidak akan terlalu lama lagi, hanya tinggal dalam hitungan hari. Jika kita sudah berhenti dari kebutuhan sesaat akan televisi, banyak orang akan memperoleh kesenangan dengan menghabiskan waktu untuk membaca. Aku ingin mengatakan bahwa dengan mematikan kotak yang terus-menerus berbunyi itu, maka kemungkinan kualitas hidupmu akan meningkat, demikian pula kualitas tulisanmu. Hal yang paling penting dari kegiatan membaca adalah bahwa kegiatan itu menciptakan kemudahan dan keakraban dalam proses menulis; kita dapat masuk dalam dunia penulis dengan kertas kita dan kemampuan identifikasi yang kita miliki. Banyak membaca akan mendorongmu masuk ke suatu tempat (sebuah pola pikir, kalau kau lebih suka menyebutnya begitu) yang dengannya kau dapat menulis dengan penuh semangat hingga terlena. Membaca juga memberimu pengetahuan yang terus bertambah mengenai apa yang diulang-ulang dan apa yang benar-benar baru, apa yang dapat terlaksana dan apa yang teronggok sekarat di sana (atau mati), di suatu lembaran tulisanmu. Makin banyak engkau membaca, makin kecil kemungkinan kau membodohi dirimu sendiri melalui pena atau program pengolah kata di komputermu.

Pada dasarnya, pagi hari adalah waktuku untuk menulis. Begitu mulai bekerja pada satu proyek buku yang aku tulis, aku tidak berhenti dan tidak berlambat-lambat kecuali jika aku memang harus berhenti. Jika aku tidak menulis setiap hari, gambaran tokoh-tokoh yang ada dalam kepalaku akan segera menghilang – para tokoh tersebut akan terlihat seperti karakter mati, bukan manusia nyata. Narasi cerita mulai memudar dan aku kehilangan pegangan pada plot dan perkembangan cerita. Yang paling buruk, kegembiraan merangkai sesuatu yang baru mulai memudar. Kegiatan menulis itu lalu terasa seperti pekerjaan, dan bagi sebagian penulis, itu berarti tanda kematian. Menulis menjadi kegiatan paling menyenangkan – selalu, selalu, selalu – jika penulisnya seperti mendapat inspirasi. Aku dapat menulis tanpa perasaan, jika terpaksa, tetapi aku paling suka jika tulisan itu terasa menyegarkan dan terasa demikian penting untuk ditangani.

Aku biasa menulis sepuluh halaman sehari, yang kira-kira memuat 2000 kata. Jika demikian, akan ada 180.000 kata selama rentang waktu 3 bulan, suatu ketebalan buku yang cukup bagus – sesuatu yang dengannya pembaca dapat merasa asyik, jika ceritanya ditata dengan baik dan tetap terasa segar. Jika selama beberapa hari, kesepuluh halaman itu berjalan lancar, aku dapat terjaga dan menulis serta melakukan tugas-tugas rumah pada pukul 11.30, bersikap riang dan ramas seperti tikus yang menyantap selai yang dioleskan pada roti. Semakin tua, aku semakin sering makan siang di meja kerja dan menyelesaikan tugas hari itu kira-kira pada pukul 14.00. Kadang-kadang, kalau ada kesulitan mengeluarkan kata-kata, aku masih berkutat hingga saat waktu minum teh (sore hari). Semuanya tidak masalah bagiku, tetapi aku mengizinkan diriku sendiri bangkit dari meja kerja sebelum mendapatkan 2000 kata, hanya dalam situasi yang memang penting.
Bantuan terbesar bagi produktivitas yang teratur adalah bekerja dalam suasana tenang. Akan sulit, bahkan bagi penulis yang pada dasarnya memang termasuk produktif, untuk bekerja dalam lingkungan yang di dalamnya ada bel alarm, dan suasana serabutan atau suasana ramai dan bising.
Ruang menulismu tidak harus mewah dan bagus. Aku menulis dua novel pertamaku yang diterbitkan, yaitu Carrie dan Salem’s Lot, di ruang cuci baju rumah mobil kami. Aku mengetik di mesin tik tenteng merek Olivetti milik istriku dan meletakkan meja kerja anak-anak di pangkuanku. Penulis yang lain, seperti John Cheever punya reputasi menulis di ruang bawah tanah bangunan apartemen Park Avenue, di dekat tungku perapian. Ruang kerja itu mungkin tampak sederhana (barangkali malah seharusnya sederhana, seperti yang kupikir pernah aku rasakan) dan ruang itu benar-benar hanya membutuhkan pintu yang bisa ditutup saat engkau benar-benar membutuhkan konsentrasi penuh. Dengan menutup pintu ruang kerjamu, berarti engkau sudah membuat komitmen serius untuk menulis dan kau seharusnya sudah mantap dengan tujuan menulis setiap hari. Seperti pada olah raga, hal terbaik adalah menetapkan target yang rendah terlebih dahulu, agar tidak dihinggapi kekecewaan. Kusarankan kau menulis ribuan kata per hari, dan karena aku merasa sedang murah hati, maka kusarankan kau mengambil satu hari libur dalam seminggu, paling tidak untuk mulai menulis. Jangan lebih dari sehari; karena itu akan membuatmu kehilangan kesegaran dan kesiapan ceritamu. Dengan tujuan yang telah ditetapkan, engkau dapat menetapkan bahwa pintumu akan tetap tertutup hingga tujuan tercapai. Kau dapat menyibukkan diri menuliskan ribuan kata ke atas kertas atau memasukkannya ke dalam disket, flash disk, atau CD. Rahasia dalam menulis adalah tulislah apa yang kau ketahui, pelajarilah apa yang belum kau ketahui dan bersikap jujurlah menjadi dirimu sendiri saat engkau menulis. Saat menulis, jangan pernah terbelenggu oleh alur cerita atau plot maupun kerangka cerita yang kamu tetapkan sejak awal. Semuanya bisa berkembang mengikuti imajinasi dan daya khayalmu. Ide-ide baru selalu bermunculan begitu kamu menuliskan sebuah cerita. Bahkan alur cerita dan kerangka cerita bisa berubah sama sekali di saat-saat terakhir, saat engkau menyelesaikan tulisanmu. Seorang penulis yang terbelenggu melulu menuruti alur cerita dan kerangka cerita yang dibuatnya di awal akan menghasilkan tulisan yang kaku, membosankan dan tidak komunikatif dengan para pembacanya. Tulisannya sering kali menjadi kehilangan jiwa. Menulislah dengan gayamu sendiri, sudut pandangmu akan sesuatu hal, dan ungkapkanlah dengan caramu sendiri untuk menceritakannya. Engkau mungkin bisa memperoleh berbagai informasi lebih lanjut di situsku yaitu http://www.stephenking.com .
Deskripsi adalah apa yang membuat pembaca bertindak sebagai partisipan dalam suatu cerita melalui media panca inderanya. Deskripsi yang bagus adalah keterampilan yang dipelajari dan merupakan salah satu alasan utama mengapa kau tidak berhasil jika tidak banyak membaca dan menulis. Deskripsi itu bukan hanya sekedar pertanyaan mengenai bagaimana, tetapi juga mengenai berapa banyak.
Dengan banyak membaca, kau akan terbantu menjawab berapa banyak dan hanya dengan menulis kau akan terbantu menjawab pertanyaan bagaimana. Kau dapat belajar hanya dengan melakukannya. Deskripsi dimulai dengan visualisasi apa yang engkau inginkan dialami oleh pembaca, dan diakhiri dengan saat kau menerjemahkan apa yang kau lihat dalam benak ke dalam bentuk kata-kata dalam satu halaman. Memang sulit sekali. Kalau kau ingin menjadi penulis sukses, kau harus mampu menggambarkannya, dan dengan cara yang membuat pembaca tulisanmu tergetar karena mengenalinya. Jika dapat melakukan hal ini, kau akan mendapat bayaran atas usahamu (honor atau royalti), dan jika kau tidak dapat melakukannya, maka kau akan menuai banyak lembar penolakan dan mungkin perlu mencoba karier di dunia telemarketing yang “menyenangkan”.
Deskripsi yang terlalu sedikit seringkali membuat pembaca merasa kabur dan bingung, sebaliknya deskripsi yang berlebihan membuat pembaca terkubur dalam detail dan bayangan. Oleh karena itu, yang terbaik adalah mencari jalan tengah. Penting juga diketahui apa yang akan digambarkan atau dideskripsikan dan apa yang dapat dibiarkan saja tanpa deskripsi sambil kau meneruskan pekerjaan utama, yaitu menyampaikan cerita. Aku tidak terlalu suka dengan tulisan yang sangat banyak menjelaskan karakteristik fisik tokoh-tokoh ceritanya dan pakaian mereka (menurutku, kosakata mengenai pakaian cukup mengganggu). Deskripsi bermula dari imajinasi penulis, tetapi harus berakhir di benak pembaca. Makanya, janganlah terlalu detil menggambarkan segala sesuatunya. Biarlah para pembaca yang mengkhayalkan mengenai deskripsi yang kita gambarkan secara garis besar. Tiap pembaca akan mempunyai versi gambaran dan imajinasi yang berbeda saat membaca tulisan kita. Justru hal inilah yang seringkali membuat tulisan kita banyak diminati orang. Dalam penulisan deskripsi dikenal dua macam deskripsi, yaitu ada deskripsi langsung (“ada beberapa orang yang minum sendirian di meja bar”) dan ada sedikit deskripsi yang lebih puitis (“cermin di belakang meja bar…bercahaya remang-remang seperti ilusi”) dalam paragraf deskriptifku mengenai suatu lokasi dalam cerita novelku. Keduanya dapat diterima, tetapi aku lebih suka yang bersifat kiasan. Penggunaan teknik metafora dan bahasa kiasan lainnya adalah salah satu hal yang menyenangkan dalam karya fiksi – baik ketika membaca maupun menuliskannya. Kalau sudah sampai pada target penulisan, sebuah kalimat metafora akan membuat kita senang, seperti kalau berjumpa teman lama di kerumunan orang-orang yang tidak kita kenal. Dengan membandingkan dua obyek yang tampaknya tidak berkaitan – rumah makan dengan bar dan sebuah gua, cermin dan ilusi- kita kadang-kadang mampu melihat hal lama dengan cara yang baru dan hidup. Bahkan jika hasilnya sekedar untuk menjelaskan, bukan untuk keindahan cerita, kupikir penulis dan pembaca sama-sama berperan serta dalam menciptakan suatu keajaiban. Mungkin dengan demikian, penggambarannya dapat sedikit lebih kuat, tetapi yah – itulah yang kupercayai.
Kalau teknik metafora tidak dapat diterapkan, hasilnya kadang-kadang menjadi tampak lucu dan memalukan. Kunci untuk deskripsi yang bagus dimulai dengan melihat secara jelas dan diakhiri dengan menulis secara jelas, jenis penulisan yang menggunakan imajinasi segar dan kosakata sederhana. Aku mendapatkan pelajaran ini dengan membaca karya Chandler, Hammett dan Ross Mac Donald; bahkan mungkin aku lebih menghargai bahasa deskriptif yang ringkas, yang secara singkat dapat menjelaskan semuanya, daripada membaca karya T.S. Elliot dan William Carlos William. Seperti pada aspek-aspek lain dari seni narasi, keterampilanmu akan meningkat dengan berlatih, tetapi latihan tidak akan pernah membuatmu menjadi sempurna. Latihlah seninya, ingatkan selalu dirimu bahwa tugasmu adalah mengatakan apa yang kau lihat, dan lanjutkan ceritamu.
Sebagaimana dengan aspek-aspek lain dari sebuah fiksi, kunci utama untuk menulis dialog yang bagus dalam karya novelmu adalah kejujuran. Jika kau jujur tentang kata-kata yang keluar dari mulut tokohmu (tak peduli seberapa kasar dan kurang ajar kata-kata atau kalimat itu), kau akan mendapati bahwa kau rela menerima sejumlah kritik. Berkata jujur itu penting, ada banyak hal yang bergantung pada kejujuran. Jangan pernah terbelenggu dengan norma kesopanan saat menuliskan dialog, karena bisa jadi bahasa yang diperhalus,justru sangat “tidak alami” dan tidak mungkin dijumpai dalam percakapan sehari-hari. Semakin dialog dalam tulisan kita menggambarkan percakapan yang luwes yang dengan mudah bisa dijumpai dalam pergaulan dan kehidupan masyarakat sekitar, maka cerita kita akan lebih “hidup”, daripada bila kita menulis dengan penuh moral dan kesopanan yang mengakibatkan tulisan kita menjadi kaku dan tidak wajar.
Dalam mengolah konflik, usahakan memutarbalikkan dan saling menukarkan tokoh protagonis dan antagonis, maksudnya bisa jadi tokoh utama dalam cerita kita adalah seorang tokoh kriminal atau orang yang sangat berbahaya, namun dalam sudut pandang penulis, diutarakan argumen-argumen pembenaran mengapa tokoh seperti itu justru menjadi tokoh utama dan sentral dari cerita. Berbagai sudut pandang yang mengandung pembelaan/argumen masuk akal perlu dikemukakan agar pada akhirnya para pembaca menjadi berpihak pada si tokoh jahat yang menjadi tokoh utama dalam cerita kita. Dengan cara seperti ini, biasanya sebuah cerita menjadi unik dan best seller. Dimana-mana hal yang kontroversial selalu laris bak kacang goreng.
Sangat berbeda dengan teori-teori yang sudah ada, aku perlu mengemukakan bahwa karya fiksi yang baik selalu dimulai dengan cerita dan berkembang menjadi tema; hampir tidak pernah dimulai dari tema dan berkembang menjadi cerita. Satu-satunya pengecualian yang mungkin terhadap aturan ini, adalah cerita-cerita seperti Animal Farm karya George Orwell (dan aku sudah curiga bahwa ide cerita Animal Farm mungkin memang muncul lebih dahulu. Jika cerita dasar yang kau miliki sudah tersusun di atas kertas, engkau perlu memikirkan apa maknanya dan tambahi draf ceritanya dengan kesimpulan-kesimpulanmu. Kalau tidak demikian, sama saja dengan merampok pekerjaanmu (dan akhirnya para pembaca ceritamu) dari pandangan bahwa tiap dongeng yang kau tulis adalah unik bagi dirimu sendiri. Aku tidak percaya bahwa para novelis, bahkan yang sudah menulis empat puluh buku hingga yang sudah menulis 500 buku seperti John Creasey (novelis cerita misteri dari Inggris), sangat memperhatikan masalah tema; aku punya banyak minat (yang mendasari munculnya tema), tetapi hanya sedikit yang cukup mendalam untuk dapat dikembangkan menjadi novel.
Sampai sejauh ini semua baik-baik saja. Sekarang, mari kita bicarakan tentang revisi tulisan, berapa banyak dan berapa draf cerita yang akan direvisi ? Bagiku, jawabannya selalu ada dua draf dan pemolesan (dengan kemajuan teknologi pemrosesan kata, polesanku menjadi lebih cepat menjadi draf ketiga). Kau perlu menyadari bahwa aku hanya membicarakan gaya tulisanku pribadi di sini; dalam prakteknya, revisi antara penulis satu dan penulis yang lain sangat berlainan. Misalnya, Kurt Vonnegut menulis kembali tiap halaman dari novel-novelnya hingga persis seperti yang dia inginkan. Hasilnya adalah dia menghabiskan berhari-hari untuk memperbaiki selembar atau dua lembar halaman sampai selesai (dan keranjang sampahnya penuh dengan gumpalan kertas, berlembar-lembar halaman 71 dan halaman 72 yang tidak terpakai), tetapi ketika naskahnya selesai, maka selesai pulalah bukunya, hebat kan ? Engkau bisa menirunya. Namun, kupikir ada hal-hal tertentu yang bisa dibilang cocok bagi sebagian besar penulis, dan mereka adalah penulis-penulis yang ingin kubicarakan sekarang. Kalau sudah menulis, kau tidak akan begitu memerlukan bantuanku pada bagian ini; engkau akan punya rutinitas menulis sendiri yang sudah mapan. Kalau kau seorang pemula, aku mendorongmu untuk membuat minimal dua draf cerita; satu draf engkau buat dengan pintu tertutup (di ruangan kerjamu yang kau tutup rapat pintunya) dan satunya lagi dengan pintu terbuka (karena tidak terlalu banyak menuntut konsentrasi penuh saat engkau bekerja).
Dengan pintu tertutup, aku menulis secepat mungkin dan masih merasa nyaman, mengolah apa yang ada dalam benakku langsung ke lembaran kertas. Menulis fiksi, terutama fiksi yang panjang, dapat menjadi pekerjaan yang sulit dan sepi; seperti menyeberangi lautan Atlantik di bak mandi. Ada banyak kesempatan untuk meragukan diri sendiri. Kalau aku menulis dengan cepat, mencatat dengan tepat apa yang ada dalam benakku dan hanya menoleh ke belakang untuk memeriksa nama tokoh-tokohnya dan bagian-bagian terkait dengan cerita pendukung mengenai para tokoh ini, kupikir aku dapat melakukannya dengan antusias dan pada saat yang sama mengatasi keraguan pada diri sendiri.
Draf pertama – Draf seluruh cerita – harus ditulis tanpa bantuan (atau gangguan) orang lain. Akan ada saat ketika engkau ingin menunjukkan pada teman dekatmu apa yang tengah kau lakukan, entah karena kau bangga atau karena kau merasa ragu-ragu akan hal itu. Saranku yang terbaik adalah menahan dorongan ini. Biarkan saja ketegangan yang sudah ada; jangan menurunkannya dengan memaparkan apa yang sudah kau tulis pada keragu-raguan, pada pujian, atau bahkan pada pertanyaan yang bagus dari seseorang dari Dunia Luar. Biarkan harapanmu untuk sukses (dan ketakutanmu untuk gagal) terus berlangsung, sesulit apa pun itu. Akan ada waktu untuk memamerkan apa yang sudah kau lakukan ketika kau selesai…tetapi bahkan setelah menyelesaikan draf pertama ini kupikir kau perlu waspada dan memberi kesempatan pada diri sendiri untuk berpikir sementara ceritanya masih seperti ladang segar penuh salju yang baru saja turun, tidak ada jejak dari siapa pun kecuali dari dirimu sendiri. Yang hebat dari menulis dengan pintu ruang kerja tertutup adalah bahwa engkau mendapati dirimu sendiri terdorong untuk berkonsentrasi pada ceritanya hingga praktis mengabaikan segala sesuatu yang lain.  Sekarang anggap saja engkau sudah selesai dengan draf pertamamu. Selamat!
Kau sudah melakukan banyak kerja dan perlu waktu untuk beristirahat. Pikiran dan imajinasimu – dua hal yang berbeda, tetapi saling terkait – harus merotasi dirinya sendiri, paling tidak dalam hal kegiatan menulis ini. Maka beristirahatlah ! Tinggalkan hasil pekerjaanmu itu selama beberapa waktu (kira-kira satu hingga enam minggu) untuk menyegarkan kembali pikiran dan daya kreativitasmu. Sementara itu di sela-sela masa istirahat itu, kau bisa memulai sebuah proyek novelmu yang berikutnya, dengan judul yang baru, dengan ide yang sama sekali baru. Atau, mungkin waktu libur atau masa tenggang ini kau manfaatkan untuk libur secara total menyegarkan kembali isi otakmu dan daya imajinasimu. Masa istirahat itu dimaksudkan untuk mengusir kejenuhan dan kebosanan mengerjakan karya tulismu yang jumlah halamannya tidak sedikit. Selama masa istirahat itu, tentunya naskahmu akan tersimpan dalam laci meja kerjamu, atau tersimpan sebagai file di komputermu. Kau akan sering memikirkannya dan akan tergoda lusinan kali, atau lebih, untuk mengeluarkannya dari laci, sekadar untuk membacanya kembali beberapa halaman yang tampaknya dalam ingatanmu cukup baik, sesuatu yang membuatmu ingin membacanya lagi, agar engkau bisa merasakan lagi betapa unggul dirimu sebagai penulis. Tahan godaan itu. Jika tidak, kau akan mengira bahwa engkau tidak menulis dengan baik pada halaman tersebut dan langsung memperbaikinya. Ini tidak bagus. Yang lebih jelek adalah kalau kau memutuskan bahwa halaman itu lebih baik daripada yang kau ingat – mengapa tidak memperbaiki semuanya dan kemudian membaca kembali novel itu secara keseluruhan ? Kalau begitu, tulislah kembali!
Setelah masa istirahat itu berlalu, kau dapat mulai melihat dan membaca kembali isi draf karanganmu yang pertama, untuk melihat apakah ada bagian-bagian yang perlu dipoles lagi dan diperbaiki di sana-sini. Ketika kemudian engkau punya waktu pada malam hari yang menyenangkan untuk memperbaiki naskah (dan waktu ini mungkin kau tandai di kalender), keluarkan naskah itu dari laci meja atau hidupkan komputermu. Jika ia tampak seperti barang asing yang dibeli di toko bekas atau di tempat obral di garasi-garasi rumah orang, yang engkau lupa kapan dan dimana pernah berhenti untuk membeli barang asing itu, berarti engkau telah siap. Duduklah di mejamu dan pintu ruangan tertutup. Ambil pensil dan letakkan buku catatan kecil di samping. Lalu, bacalah naskahmu. Jika mungkin, selesaikan semuanya dalam satu kali kesempatan duduk memperbaiki (biasanya tidak mungkin jika naskahmu setebal empat atau lima ratus halaman). Buatlah catatan-catatan yang perlu, tetapi pusatkan perhatianmu pada tugas-tugas seperti membetulkan kesalahan ejaan dan memperhatikan hal-hal yang tidak konsisten. Akan banyak tugas semacam itu, hanya Tuhan yang dapat membetulkannya dalam waktu singkat dan hanya pemalas yang berkata,”Oh sudahlah, biarkan saja, itulah gunanya ada editor.” Kau salah, bahkan seorang editor pun akan menjadi jengkel bila melihat naskahmu yang berantakan. Bisa jadi naskah itu akan segera berakhir di keranjang sampah sebelum ia sempat membaca semuanya.
Jika tidak pernah melakukannya sebelum ini, kau akan mendapati bahwa setelah enam minggu berhenti, kegiatan membaca bukumu menjadi kegiatan yang tampak aneh, sering kali menjadi pengalaman yang menggembirakan. Cerita itu milikmu, kau akan mengenalinya sebagai milikmu, bahkan kau akan ingat nada apa yang ada di stereo yang menyala saat kau menulis baris tertentu, dan kegiatan membaca kembali ini akan seperti membaca karya orang lain, mungkin karya kembaran jiwamu. Beginilah cerita itu seharusnya, dan itulah alasan engkau menunggu beberapa waktu sebelum memperbaikinya. Selalu lebih mudah membunuh kesayangan orang lain daripada membunuh milikmu sendiri. Dengan waktu enam minggu yang berharga untuk memulihkan kembali naskahmu, engkau juga akan dapat melihat lubang-lubang dalam plot cerita atau pengembangan karakter tokoh cerita. Aku berbicara tentang lubang-lubang dan kesalahan yang cukup besar sehingga harus atau perlu segera kau perbaiki. Memang mengagumkan bagaimana beberapa lubang itu dapat lepas dari pandangan penulis padahal perhatiannya tercurah dari hari ke hari pada kegiatannya, yaitu menulis. Sering kali adanya lubang besar kesalahan dalam penulisan karya kita, bisa berarti pemotongan atau perubahan pada halaman tersebut. Sebuah lubang terkadang demikian fatal merusak isi seluruh cerita. Kalau sudah begitu, satu-satunya cara yaitu menambal lubang kesalahan tersebut untuk memulihkan atau menyempurnakan karya tulismu. Satu pertanyaan besar yang harus bisa kau jawab sendiri yaitu, “Apakah cerita ini sudah menyatu?” Jika ya, apa yang akan mengubahnya menjadi seperti lagu? Apa saja unsur yang akan muncul lagi? Apakah unsur-unsur itu berkaitan dan membentuk tema? Dengan kata lain, aku bertanya kepada diriku sendiri, cerita tentang apa ini, dan apa yang dapat kulakukan untuk membuat hal-hal mendasar itu menjadi lebih jelas. Satu hal yang paling kuinginkan adalah gema, sesuatu yang akan terus terngiang sementara waktu di dalam pikiran dan di hati pembaca setia setelah dia menutup buku dan meletakkannya di rak buku. Aku mencari cara-cara untuk melakukan hal itu tanpa menyodorkan langsung ke pembaca atau menjual hak asasiku demi perencanaan suatu pesan. Ambil semua pesan yang ada dalam cerita dan pesan-pesan moralnya dan genggam pesan-pesan tersebut saat menghadapi hari-hari buruk, oke? Aku ingin ada gema atau gaung cerita. Aku mencari apa yang kumaksudkan karena pada draf kedua dari suatu cerita (draf setelah direvisi), aku ingin menambahkan adegan dan kejadian yang menguatkan makna adegan dan kejadian itu. Aku juga ingin menghapus semua hal yang berjalan pada arah berlawanan. Mungkin ada banyak hal yang berjalan berlawanan, terutama mendekati awal cerita, ketika aku punya kecenderungan untuk bergonta-ganti arah cerita. Semua yang tidak jelas arahnya harus pergi jika aku ingin mencapai sesuatu seperti efek yang menyatu. Ketika aku sudah selesai membaca dan memperbaiki, maka itulah waktunya membuka pintu dan memamerkan apa yang sudah kutulis ke empat atau lima teman yang bersedia membaca.
Saat kau membagi enam atau delapan eksemplar buku (hasil revisimu), kau akan mendapatkan enam atau delapan kembali dengan pendapat yang sangat subyektif tentang mana yang bagus dan mana yang jelek. Jika semua pembacamu (kawan-kawanmu yang membaca naskahmu), berpikir kau melakukan pekerjaan hebat, mungkin itu benar. Kesepakatan semacam ini memang terjadi, tetapi jarang, bahkan di kalangan teman-teman. Hal yang lebih mungkin terjadi adalah bahwa teman-temanmu akan berpikir ada beberapa bagian naskah yang bagus dan sebagian lainnya…yah, tidak terlalu bagus. Beberapa orang mungkin merasa tokoh A dapat diterima, tetapi tokoh B jauh dari menyenangkan. Namun, jika sebagian lagi merasa tokoh B dapat dipercaya, tetapi tokoh A berlebihan, itu namanya forum pendapat yang “seri”. Kau bisa santai dan membiarkan naskah seperti apa adanya (dalam permainan bisbol, jika skornya seri, permainan diserahkan kepada tim yang sedang berlari; bagi novelis, jika terjadi kondisi seri, keputusan diserahkan kepada penulis). Jika beberapa orang  menyukai akhir cerita dan sebagian orang membencinya, kesepakatannya juga sama – posisi seri, dan keputusan diserahkan kepada penulisnya. Beberapa pembaca pertama memiliki spesialisasi dalam menunjukkan kesalahan faktual yang mudah ditangani. Pada kasus-kasus semacam itu, engkau punya dua hal berharga – kesalahan dan pembetulannya. Perbaikan semacam itu memang bagus karena kau bekerja seperti seorang ahli dan pembaca pertamamu akan merasa tersanjung jika dapat membantu. Sebuah kesalahan fatal dalam naskahmu akan lebih baik ditemukan oleh salah seorang sahabatmu yang kebetulan membaca naskah itu, daripada ditemukan oleh editor naskah saat naskah itu sudah terlanjur masuk ke proses editing di perusahaan penerbit (atau mungkin literary agenmu / agen perantara naskah). Seorang editor pasti akan menemukan kesalahan itu, tetapi bila sahabatmu sempat menemukan kesalahan itu lebih dulu, hal ini akan menyelamatkanmu dari rasa malu bila naskah itu terlanjur berada di meja editor. Penilaian subyektif, seperti yang kukatakan, memang sedikit lebih sulit untuk ditangani, tetapi dengarkan: jika tiap orang yang membaca bukumu mengatakan engkau punya masalah, itu artinya engkau memang punya masalah dan lebih baik melakukan sesuatu untuk mengatasinya. Pendapat mayoritas orang, sering kali benar, walau terkadang kenyataan itu begitu menyakitkan ! Banyak penulis menolak gagasan ini. Mereka merasa bahwa memperbaiki cerita agar sesuai dengan kesukaan atau ketidaksukaan pembaca sama saja dengan pelacuran. Jika kau benar-benar merasa demikian, aku tidak akan berusaha mengubah keputusanmu. Pada kenyataannya (katakan dengan sinis), jika kau benar-benar merasa demikian, mengapa repot-repot menerbitkannya? Dan memang, sedikit demi sedikit, aku ingat pada perasaan semacam itu. Dalam bisnis film (bila engkau juga seorang penulis skenario), yang dengannya aku pernah menjalani kehidupan yang tidak terlalu profesional, penyampaian draf pertama suatu cerita disebut “tes saringan”. Ini sudah menjadi kebiasaan standar dalam industri film, dan kebiasaan itu mendorong banyak pembuat film benar-benar menjadi orang yang menjengkelkan. Mungkin mereka seharusnya demikian. Studio harus membayar antara lima belas dan seratus juta dolar untuk membuat film, lalu minta sutradara film untuk memotongnya lagi berdasarkan pendapat penonton bioskop multipleks Santa Barbara, yang terdiri dari penata rambut, tukang ukur baju, penjaga toko sepatu, dan petugas pengantar pizza. Dan apa yang terburuk, yang paling menjengkelkan tentang itu? Jika kau mendapat demografi penonton yang sesuai, tes saringan tampaknya berhasil. Aku tidak suka melihat novel-novel yang diperbaiki berdasarkan pendapat pembaca – banyak buku tidak akan pernah melihat cahaya matahari jika dinilai dengan cara demikian – tetapi ayolah, kita sedang membicarakan setengah lusin orang yang kaukenal dan hormati. Jika kau bertanya mana yang benar (dan jika mereka setuju untuk membaca bukumu), mereka dapat mengatakan banyak hal kepadamu. Apakah semua pendapat layak dipertimbangkan? Bagiku tidak. Jika pendapat yang kau dengar masuk akal, lakukan perubahan. Kau tidak bisa membiarkan semua orang mempengaruhi ceritamu, tetapi kau dapat melibatkan mereka yang paling berpengaruh. Dan seharusnya memang demikian. Jika kita sebut orang untuk siapa kita menulis ini sebagai PEMBACA IDEAL (bisa sahabat, teman, pacar, saudara sepupu, saudara,dsb), dia akan berada di dalam ruang menulismu sepanjang waktu; pada saat kau membuka pintu dan membiarkan dunia menerangi gelembung-gelembung mimpimu, sebagai penyelamat selama terjadi permasalahan yang kadang muncul dan sering untuk memberi rasa senang luar biasa selama penyusunan draf pertama suatu cerita, saat pintu ruang kerjamu tertutup. Dan tahukah kau? Kau akan mendapati dirimu membelok-belokkan cerita bahkan sebelum Pembaca Ideal banyak melirik ke kalimat pertama ceritamu. Pembaca ideal ini akan membantumu keluar dari dirimu sejenak, untuk bertindak sebagai pembaca yang membaca cerita yang sedang dalam proses pengerjaan sementara kau sendiri tetap menulis. Barangkali ini cara terbaik untuk memastikan agar kau tidak terlalu melenceng dalam bercerita, suatu cara bermain dengan pembaca meskipun pembaca itu belum ada dan kau betul-betul menjadi pihak yang bertanggung jawab atas jalannya cerita. Pembaca Ideal juga merupakan salah satu cara terbaik untuk melihat apakah ceritamu berjalan konsisten dengan kecepatan stabil atau tidak, dan apakah kau telah menangani cerita pendukungnya dengan gaya memuaskan atau belum. Kecepatan adalah kecepatan narasimu dalam membuka cerita. Ada semacam keyakinan yang tidak terucap (oleh karena itu, keyakinan tersebut jadi tidak pernah teruji dan dipertahankan) bahwa dalam siklus penerbitan, cerita dan novel yang paling sukses secara komersial adalah yang ditulis dengan kecepatan seperti kilat. Kupikir pandangan semacam ini dasarnya adalah bahwa orang memiliki demikian banyak hal untuk dikerjakan seperti pada zaman sekarang ini dan sangat mudah beralih perhatiannya dari kata-kata yang tercetak sehingga  kau akan kehilangan pembaca kalau tidak bisa menjadi semacam koki instan yang menyajikan menu-menu sampingan, seperti burger yang mendesis panas, kentang goreng, dan telur, yang mudah dimasak dan dapat dikerjakan secepat kemampuanmu. Kecepatan menulis berbeda-beda di kalangan para penulis. Aku sendiri lebih suka kecepatan yang rendah, menulis pelan-pelan dan membangun yang lebih besar dan tinggi. Seringkali novel-novel yang sukses di pasaran, justru adalah yang membutuhkan pengalaman panjang, dengan baris-baris yang tersusun indah. Cara terbaik mendapatkan kecepatan sedang atau medium ? Tentu saja melalui Pembaca Ideal. Cobalah membayangkan apakah dia akan bosan karena adegan tertentu dalam cerita – jika kau tahu selera Pembaca Idealmu, meskipun tidak banyak, seperti aku mengenali seleraku sendiri, masalah kecepatan ini tidka perlu menjadi terlalu sulit. Apakah Pembaca Ideal merasa ada terlalu banyak pembicaraan / dialog di bagian ini dan itu? Apakah kau kurang banyak menjelaskan situasi tertentu….atau justru terlalu banyak penjelasan, yang semua itu adalah penyakit kronisku dalam menulis. Apakah kau lupa mengatasi beberapa hal penting dalam alur cerita? Lupa sama sekali pada satu tokoh, seperti yang pernah dialami Raymond Chandler? Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu tertanam dalam benakmu ketika ruang kerjamu tertutup. Dan ketika dibuka – ketika Pembaca Idealmu benar-benar membaca naskahnya – kau perlu mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu dengan lantang. Entah diperlukan atau tidak, kau mungkin juga ingin memperhatikan saat Pembaca Idealmu meletakkan naskah itu untuk mengerjakan hal yang lain. Adegan apa yang sedang ia baca? Mengapa dia sudah meletakkan naskah itu untuk melakukan hal lain? Seringkali, beberapa penulis memotong adegan yang membosankan untuk meningkatkan kecepatan naskah. Semuanya tergantung pada masing-masing penulis.
Formula menulis ulang saat revisi (draf revisi = panjang draf pertama dikurangi sepuluh persen) mungkin bukan satu-satunya alasan aku mulai menuai hasil. Aku curiga alasan lainnya adalah bahwa memang kini sudah waktunya bagiku, bahwa masa keberhasilanku akhirnya datang. Tentu saja, formula itu tetap merupakan bagian keberhasilanku. Sebelum ada formula itu, jika aku menuliskan cerita yang berisi 4000 atau lebih kata dalam draf pertama, mungkin dalam draf kedua jumlah katanya akan sebesar 5000 kata (beberapa penulis ada yang suka menghemat kata; kupikir selama ini aku adalah orang yang boros menggunakan kata-kata). Setelah ada formula tersebut, semuanya berubah. Bahkan sekarang aku menargetkan, pada draf kedua, jumlah katanya cukup 3600 saja, jika pada draf pertama sudah berisi sekitar 4000 kata…..dan jika draf pertama sudah memuat 350 ribu kata, aku akan berusaha keras agar draf kedua memuat tidak lebih dari 315 ribu kata….atau jika mungkin, tiga ratus ribu saja. Biasanya memang demikian. Rumus itu mengajariku bahwa tiap cerita dan novel pada derajat tertentu akan mengalami penurunan. Jika kau tidak dapat mengeluarkan kira-kira sepuluh persen kata dari cerita tersebut sambil tetap mempertahankan cerita dasar dan tambahannya, itu artinya kau tidak berusaha keras. Dampak dari pemotongan kata-kata secara cermat dan hati-hati dapat timbul segera dan sering mengagumkan – VIAGRA Sastra. Kau dapat merasakannya segera, dan demikian pula Pembaca Idealmu.
Cerita pendukung adalah semua hal yang terjadi sebelum ceritamu dimulai, tetapi berdampak pada cerita di latar depan. Cerita pendukung membantu merumuskan tokoh dan menetapkan motivasi. Kupikir, cerita pendukung penting untuk segera disusun secepat mungkin, tetapi penting juga untuk menyusunnya dengan hati-hati. Sebagai contoh mengenai kecerobohan dalam menyusun cerita pendukung, coba perhatikan baris dialog berikut:

“Halo, mantan istri,” kata Tom kepada Doris ketika dia memasuki ruangan.

Nah, mungkin penting bagi cerita itu bahwa Tom dan Doris telah bercerai, tetapi harus ada cara lebih baik untuk menjelaskannya daripada cara tersebut, yaitu cara yang sama anggunnya seperti pembunuhan dengan kapak. Berikut ini adalah usulan perbaikannya.

“Hai, Doris,” kata Tom. Suaranya terdengar cukup wajar – paling tidak, bagi telinganya sendiri – tetapi jemari tangan kanannya menelusuri tempat cincin kawin pernah melingkar hingga enam bulan lalu.

Perbaikan tersebut lebih panjang daripada kalimat, Halo mantan istri. Tapi, ini bukan masalah kecepatan, seperti pernah kujelaskan. Dan jika kaupikir ini semua adalah informasi, lebih baik engkau berhenti menulis fiksi dan bekerja menulis buku petunjuk – ruang kerja Dilbert menunggumu. Dilbert adalah tokoh komik strip di sebuah harian surat kabar di Amerika.
Hal-hal terpenting yang harus diingat mengenai cerita pendukung adalah bahwa, (1) setiap orang punya sejarah; dan (2) sebagian besar sejarah itu tidak terlalu menarik. Jadi tetaplah fokus pada bagian-bagian tersebut dan jangan sampai bertele=tele.
Kita perlu sedikit berbicara tentang penelitian atau riset yang merupakan jenis cerita pendukung tersendiri. Dan tolong, jika kau memang perlu melakukan riset karena bagian-bagian ceritamu berkaitan dengan segala sesuatu yang tidak banyak kau ketahui atau kau sama sekali tidak tahu apa-apa, jangan lupa kata “pendukung” dalam istilah cerita pendukung. Itulah tempatnya riset, sejauh mungkin di latar belakang dan ada dalam cerita pendukung. Kau mungkin terpaku dengan apa yang kau pelajari tentang bakteri pemakan daging, sistem saluran air di New York, atau potensi IQ anjing Skotlandia, tetapi pembacamu mungkin lebih memperhatikan tokoh-tokoh ceritamu dan ceritanya itu sendiri (daripada cerita pendukung yang bertele-tele). Apakah ada pengecualian pada aturan itu? Tentu, selalu saja ada pengecualian bukan? Ada demikian banyak penulis sukses – antara lain Arthur Hailey dan James Michener – yang novel-novelnya banyak sekali berisi fakta dan riset. Novel-novel Hailey jarang berisi petunjuk terselubung mengenai bagaimana segala sesuatunya berlangsung (bank, bandara, hotel) dan novel-novel Michener merupakan kombinasi antara cerita perjalanan, pelajaran geografi, dan teks sejarah. Penulis populer lainnya, seperti Tom Clancy, dan Patricia Cornwell, lebih berfokus pada cerita, tetapi masih menyampaikan sejumlah besar informasi faktual (dan kadang-kadang sulit dicerna) bersama dengan melodrama. Namun, bagi setiap penulis sukses yang berorientasi pada fakta, ada ratusan (bahkan mungkin ribuan) keinginan untuk menuliskan fakta, sebagian ada yang diterbitkan dan sebagian besar mungkin tidak. Secara keseluruhan, cerita memang ada di bagian depan, tetapi beberapa riset memang diperlukan (untuk mendukung dan “menghidupkan” suatu cerita) tanpa dapat ditolak; kalau kau mengabaikan riset atau menghindari riset, resikonya kau tanggung sendiri.

Pertanyaan yang sering didengar oleh penulis yang karyanya telah diterbitkan, selain Dari mana kau mendapatkan gagasan? adalah Bagaimana kau mendapatkan agen (literary agent; seperti telah diketahui bahwa untuk menerbitkan sebuah buku di Eropa, Amerika dan Australia, kau paling tidak harus menghubungi literary agent/agen perantara. Tidak semudah di Indonesia untuk langsung mengirimkan naskah kepada penerbit dan langsung bisa terbit) dan Bagaimana menghubungi orang-orang yang ada di penerbitan? Pertanyaan-pertanyaan ini diajukan oleh mereka yang ingin menerbitkan karyanya.
Nada suara saat pertanyaan ini diajukan sering kali seperti bingung, kadang-kadang putus asa dan sering juga marah. Ada kecurigaan umum bahwa sebagian besar penulis pendatang baru berhasil menerbitkan novelnya karena mereka punya hubungan dengan seorang penguasa di bisnis penerbitan. Asumsi dasarnya adalah bahwa penerbitan itu suatu bisnis keluarga yang besar, menyenangkan, tertutup dan tidak mudah dimasuki pihak luar. Itu tidak benar. Juga salah kalau dikatakan bahwa para agen itu suka meremehkan, orang-orang sok jagoan yang lebih baik mati daripada membiarkan tangannya yang tidak terbungkus sarung tangan menyentuh naskah yang tidak diinginkan. (Yah, oke, ya, ada sedikit agen yang seperti itu.) Para agen, penerbit, dan editor sebenarnya mencari penulis besar berikutnya yang berhasil menjual banyak buku dan menghasilkan banyak uang….dan bukan sekedar penulis berbakat yang masih muda; Helen Santmyer sudah ada di panti jompo ketika dia menerbitkan….And Ladies of The Club. Frank McCourt masih relatif lebih muda daripada Helen ketika dia menerbitkan Angela’s Ashes, tetapi dia tidak termasuk muda lagi. Sebagai seorang anak muda yang mulai menerbitkan beberapa cerpen di majalah-majalah T&A, aku cukup optimis mengenai peluang penerbitan cerita-ceritaku; aku tahu, aku sedang turut dalam permainan, seperti yang dikatakan para pemain basket belakangan ini, dan aku juga merasa bahwa waktu sedang memihakku, cepat atau lambat, penulis buku terlaris pada tahun 1960-an atau 1970-an akan mati atau pikun sehingga membuka ruang bagi penulis pendatang baru sepertiku (penuturan Stephen King saat masih muda dulu).
Aku baru tahu belakangan bahwa tidak semua agen itu baik, dan agen yang baik biasanya bermanfaat dalam banyak hal selain mengusahakan editor fiksi di majalah Cosmopolitan (yang terkenal memberikan honor tinggi pada penulis cerpen) membaca cerpenmu. Kau harus punya agen dan jika karyamu punya  nilai jual, kau tidak akan kesulitan mendapatkannya. Kau mungkin juga akan dapat memperoleh agen bahkan jika karyamu tidak layak jual, tetapi menjanjikan. Agen-agen olah raga mewakili liga-liga kecil olahraga yang pada dasarnya bermain untuk mendapatkan uang banyak dengan harapan bahwa klien muda mereka akan sukses besar; alasan yangsama, agen penulis sering bersedia menangani penulis yang belum banyak menerbitkan buku. Kau akan menemukan orang yang dapat mengatasi masalahmu bahkan jika karyamu yang terbit sangat terbatas hanya di “majalah-majalah kecil” yang hanya membayar dalam bentuk eksemplar – para agen dan penerbit buku sering memandang majalah-majalah semacam itu sebagai batu loncatan bagi penulis baru berbakat. Kau harus mulai menjadi penasehat bagi dirimu sendiri, yang artinya membaca majalah yang menerbitkan cerita-cerita yang kautulis. Kau juga harus membeli jurnal-jurnal penulis dan membeli satu WRITER’S MARKET, alat paling berharga bagi penulis (di Amerika) yang baru memasuki pasar bursa buku. Kalau kau benar-benar miskin, mintalah seseorang untuk memberimu WRITER’s MARKET sebagai hadiah hari raya. Majalah dan WM (edisi khusus atau special edition, tetapi harganya rasional) memuat daftar penerbit buku dan majalah, termasuk deskripsi singkat cerpen-cerpen yang ada di tiap segmen pasar. Kau juga akan mendapatkan karya yang paling laris dan nama-nama para staf editor. Sebagai penulis pemula, kau akan tertarik sekali pada “majalah-majalah kecil” jika kau menulis cerpen. Jika sedang atau telah menulis novel, kau ingin mencatat daftar agen (literary agent) di majalah tentang menulis dan di WRITER’s MARKET. Kau mungkin juga ingin menambahkan satu eksemplar LMP (LITERARY MARKET PLACE) di rak buku referensimu. Kau perlu bersikap cerdik, berhat-hati, dan tekun dalam mencari agen atau penerbit, tetapi – ini wajib diulangi berkali-kali – hal terpenting yang dapat kau lakukan untuk dirimu sendiri adalah membaca pasar. Kau dapat memperhatikan petunjuk yang ada di WRITER’S DIGEST (“…penerbi cerita-cerita fiksi, 2000 – 4000 kata, tokoh stereotip yang jelas dan situasi roman yang usang”), tetapi petunjuk hanya sekedar petunjuk, menyerahkan naskah cerita tanpa lebih dahulu membaca pasarnya sama seperti melemparkan panah-panah kecil ke papan sasaran di ruang gelap – kau mungkin sesekali akan mendapatkan sasaranmu, tetapi bukan karena usahamu.
Kau harus waspada dengan agen yang berjanji membaca naskahmu asal mendapat bayaran. Ada beberapa agen semacam itu yang ternama, tetapi ada sangat banyak agen penipu. Kalau kau ingin menerbitkan novelmu, jangan lagi berburu mencari agen atau menulis surat ke penerbit. Pergilah langsung sendiri ke penerbit. Di sana, paling tidak, kau akan mendapatkan gambaran nyata berapa harga naskahmu. Nah, selamat berkarya dan semoga bisa menjadi penulis terkenal !

Leave a comment »

Potensi Bunga Mawar

Tinjauan Tentang Mawar Dari Segi Historis
“Katakanlah dengan bunga”, begitulah ungkapan yang sering kita dengar. Bunga yang biasanya dijumpai dalam bentuk rangkaian sering digunakan sebagai sarana untuk berkomunikasi antar manusia baik sebagai ungkapan rasa terima kasih, rasa sayang atau cinta, penyesalan atau permintaan maaf dan bahkan untuk merayakan suatu momen penting dalam kehidupan seperti ulang tahun, pernikahan, pindah rumah atau kantor maupun hanya sebagai asesoris penghias interior ruangan karena nilai estetisnya.
Tiap jenis bunga dan juga warnanya memiliki suatu pesan tersirat yang bisa dipahami oleh tiap orang menyesuaikan dengan kepentingan, momen acara atau peristiwa. Sebagai contoh, bunga lily putih memberikan kesan suci, damai dan kasih sayang sehingga banyak dipakai sebagai penghias interior gereja. Bunga anggrek berkesan elegan, aristokrat, meramaikan suasana sehingga banyak dijumpai dalam rangkaian bunga bercampur dengan bunga lain. Bunga mawar yang terdiri dari berbagai macam warna juga mempunyai pesan-pesan khusus yang tersirat. Misalnya, bunga mawar merah tua mengisyaratkan cinta yang membara, hasrat, nafsu dan berani. Itulah sebabnya bunga mawar merah tua banyak digemari dan dipakai untuk merayakan hari Valentine di bulan Februari (14 Februari), khususnya untuk kawula muda yang sedang jatuh cinta. Bunga mawar merah muda mengisyaratkan cinta dan kasih sayang yang lembut dan penuh penantian. Bunga mawar kuning mengisyaratkan persahabatan, kasih sayang, dan permohonan maaf, sedangkan bunga mawar putih mengisyaratkan kesucian, perdamaian, ketulusan hati dan persahabatan murni.
Banyak diantara kita yang tidak menyadari bahwa sebenarnya bunga mawar sudah ada sejak lama, bahkan jauh sebelum manusia membudidayakannya atau memperbanyaknya secara komersial. Fosil bunga mawar yang ditemukan di Colorado dan Oregon (Amerika Serikat) membuktikan bahwa bunga mawar liar sudah ada sejak empat puluh juta tahun yang lalu. Beberapa kelompok ilmuwan percaya bahwa bunga mawar berasal dari Asia Tengah dan menyebar melalui belahan bumi bagian utara. Namun ada pula yang berpedapat bahwa bunga mawar berasal dari belahan bumi bagian selatan, dari Amerika Selatan menyebar sampai Eropa, Cina, dan Jepang.
Bunga mawar liar dapat tumbuh hampir di semua tempat, bahkan di kondisi yang sulit sekali pun seperti iklim Arktik yang dingin di Alaska dan Siberia maupun di daerah yang beriklim panas seperti di India dan Afrika Utara. Bunga mawar bisa ditemukan hampir di semua negara di seluruh dunia, sehingga ia dijuluki sebagai “Ratu segala Bunga (Queen of Flower)”.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa mawar liar dibawa dan dikembangbiakkan di Cina sekitar 5000 tahun yang lalu. Hal ini dibuktikan bahwa pada masa dinasti Han di Cina (sebelum era Kristiani), taman bunga mawar menjadi sangat popular pada jaman itu dan sebagian besar taman di kerajaan Cina pada jaman itu adalah taman bunga mawar, tetapi karena lahan untuk pertanian pangan semakin terbatas maka Kaisar Cina (Emperor) akhirnya memerintahkan untuk merombak sebagian taman bunga mawar untuk dijadikan menjadi lahan pertanian tanaman pangan. Pada masa yang sama, bangsa Mesir kuno telah menanam mawar untuk kepentingan bangsa Romawi (jaman kekaisaran Nero) yang dibuktikan dengan beberapa catatan sejarah bahwa bangsa Mesir kuno telah mempelopori pengiriman bunga mawar potong ke Roma (ibukota kerajaan Romawi kuno yang sekarang adalah Italia). Bangsa Romawi kuno yang terkesan dengan keindahan mawar kemudian mendukung pendirian sejumlah rumah pembibitan mawar (nursery) di Italia Selatan khususnya di daerah Paestum (pada masa sekarang adalah dekat dengan kota Salerno). Berbeda dengan bangsa-bangsa lain pada masa itu, bangsa Yunani kuno lebih suka memanfaatkan bunga mawar bukan untuk dinikmati keindahannya tetapi untuk dimanfaatkan sebagai obat dalam pengobatan tradisional (ramuan tradisional).
Pada masa sekarang ini, bunga mawar dapat diproduksi sepanjang tahun di mana produsen terbesarnya adalah negara Belanda, Italia, Spanyol, Perancis dan Columbia. Beberapa negara di dunia bahkan ada yang menjadikan bunga mawar sebagai lambang kebanggaan atau identitas seperti Bulgaria, Cekoslowakia, Inggris, Irak, Iran, Korea dan Luxembourg. Bose (1989), mengemukakan bahwa perdagangan bunga potong ternyata mencapai 45% dari total perdagangan produk florikultura (bunga) di pasaran internasional. Bunga potong yang paling banyak digemari dalam perdagangan adalah mawar, anggrek, carnation, krisan (Chrysanthemum sp) dan gladiol, di mana bunga-bunga potong tersebut umumnya digunakan sebagai hiasan atau dekorasi rumah yang telah menyatu dengan keseharian kehidupan manusia di banyak negara.

Manfaat Bunga Mawar
Menurut manfaat penggunaannya, tanaman mawar sebagai salah satu komoditi hortikultura (florikultura) dapat dikelompokkan dalam enam manfaat penggunaan, antara lain :
1.Mawar untuk tanaman hias kebun atau taman (outdoor). Tanaman mawar untuk keperluan ini lebih diutamakan bau bunganya, bentuk bunga, warna serta bentuk kanopi pohonnya, dan untuk itu harus rajin dipangkas untuk mempertahankan keindahan bentuk pohonnya, selain juga untuk merangsang pembentukan bunga. Contohnya : beberapa kelompok dari mawar kuno (Old Roses), mawar pagar (Climbing Roses), mawar Hybrid Perpetual (Hybrid Perpetual Roses), mawar teh (Tea Roses), dan mawar semak (Shrub Roses).
2.Mawar untuk tanaman hias pot (outdoor and indoor). Tanaman mawar untuk keperluan ini umumnya lebih mengutamakan ukuran pohonnya yang tidak terlalu tinggi (sehingga bisa dipakai di dalam ruangan maupun di luar ruangan), bau bunganya, bentuk bunga dan warnanya serta ukuran besar bunganya. Contohnya : kelompok mawar Polyantha (Baby Roses), beberapa kelompok dari mawar kuno (Old Roses), mawar pohon (Tree Roses) dan mawar mini atau biasa disebut sebagai mawar bonsai (Miniature Roses).
3.Mawar sebagai bunga potong. Tanaman mawar untuk keperluan ini umumnya lebih diutamakan yang memiliki tangkai panjang dan tidak mudah patah, bentuk bunganya indah, ukuran bunga proporsional, helai mahkota bunganya rangkap (sehingga helai bunga atau petal tidak mudah rontok dan tahan lama kesegarannya), bunganya tidak terlalu cepat mekar (biasanya dipanen saat bunga setengah mekar dan bukan pada saat bunga sedang mekar penuh), frekuensi berbunga dalam satu tahun tinggi atau berbunga sepanjang tahun, warna bunga serta bau bunganya. Contohnya : kelompok mawar Holland (Rosa indica fragrans hybrids) atau mawar Hybrid Tea, kelompok mawar Floribunda, dan kelompok mawar Grandiflora. Beberapa ahli ada pula yang menganggap bahwa kelompok mawar Polyantha masih bisa dianggap sebagai bunga potong, namun ada pula yang beranggapan bahwa kelompok bunga tersebut tidak memenuhi syarat sebagai bunga potong.
4.Mawar sebagai bunga tabur. Semua kelompok tanaman mawar bisa digunakan sebagai bunga tabur asalkan memenuhi kriteria syarat utama, yaitu bunganya haruslah wangi dan berwarna indah atau cerah. Sebagai bunga tabur tidaklah diperlukan tangkai bunga. Seringkali dijumpai bahwa bunga mawar tabur sudah berupa helai-helai bunga saja (petal) dan tidak lagi berbentuk bunga utuh. Contohnya : kelompok mawar Polyantha, mawar pagar, mawar Hybrid Perpetual, mawar teh, kelompok mawar kuno (Old Roses), mawar pohon (Tree Roses), mawar semak (Shrub Roses), dan bahkan mawar mini (Miniature Roses).
5.Mawar sebagai bahan baku parfum dan bahan baku obat. Hampir semua kelompok tanaman mawar bisa digunakan untuk keperluan bahan baku parfum (yaitu dengan mengekstraksi minyak mawar) maupun untuk bahan baku obat, asalkan memenuhi syarat harus berbau wangi cukup kuat (untuk bahan baku parfum) dan mengandung zat antibiotika atau senyawa kimia penting yang dibutuhkan seperti sitral, sitronelol, geraniol, linalol, nerol, eugenol, fenil etil alkohol, farnesol, dan nonilaldehid (untuk bahan baku obat ataupun jamu tradisional). Untuk bahan baku parfum biasanya digunakan mawar jenis mawar teh (Tea Roses), sedangkan untuk bahan baku obat hampir semua jenis mawar bisa digunakan.
6.Mawar sebagai bahan makanan, miuman ataupun zat aditif bagi makanan olahan. Karena kandungan vitamin C-nya yang tidak kalah dengan kandungan vitamin C pada buah jeruk, kelopak atau helai bunga mawar (petal) bisa diolah menjadi sirup, selai ataupun unsur vitamin tambahan yang ditambahkan pada makanan olahan.

Daerah Penghasil Mawar di Indonesia
Pemerintah mulai memberikan perhatian yang lebih besar terhadap tanaman hias sejak tahun 1990 dalam rangka menyambut “Tahun Kunjungan Wisata Indonesia 1991”, sehingga konsumsi bunga dimaksudkan untuk meningkatkan daya tarik kepariwisataan di Indonesia. Bahkan untuk keperluan ini dalam bebrapa kali kesempatan bangsa Indonesia telah beberapa kali turut meramaikan pawai bunga “Tournament of Roses” di Pasadena, Amerika, dengan float atau mobil pawai yang dihias dengan bunga mawar, anggrek dan bunga-bunga lain yang mencerminkan corak budaya Indonesia. Walaupun sejak krisis moneter melanda Indonesia, Indonesia tidak lagi ikut berpartisipasi dalam pawai bunga di Pasadena tersebut, namun bisnis bunga potong di Indonesia tetap saja ramai dan menjadi primadona, terutama untuk merayakan momen-momen penting negara, hari-hari besar keagamaan maupun perayaan-perayaan yang diselenggarakan di negeri ini.
Sentra produksi bunga mawar potong di Indonesia terdapat di beberapa daerah produsen bunga-bungaan seperti Cipanas, Lembang (Jawa Barat), Brastagi (Sumatera Utara), Bandungan (Jawa Tengah), Kecamatan Bumiaji di wilayah Batu dan Kecamatan Pujon (Malang – Jawa Timur). Sementara bunga mawar tabur banyak diusahakan di daerah Ambarawa, Boyolali (Jawa Tengah), Bangil (Jawa Timur), Kebun Jeruk (Jakarta), Tangerang dan Bogor (Jawa Barat). Mawar pot banyak dikembangkan dan dibudidayakan di Bandung (Jawa Barat) dan Kecamatan Batu serta Kecamatan Pujon (Malang – Jawa Timur). Dari daerah-daerah sentra produksi bunga potong mawar kemudian menular dan ditiru oleh daerah-daerah lain yang cocok kondisi alamnya serta turut pula mengusahakan bisnis bunga potong. Sasaran pemasarannya terutama adalah kota-kota besar dan juga daerah-daerah wisata di Indonesia.

Comments (8) »

Seni Batik, Sebuah Warisan Kekayaan Budaya Bangsa

Asal Mula Batik
Kata batik berasal dari sebuah kata dalam bahasa Jawa yaitu ambatik yang artinya kurang lebih yaitu menuliskan atau menorehkan titik-titik.  Dalam proses pembuatan kain batik, seorang pengrajin batik menorehkan motif-motif indah ke selembar kain mori dengan menggunakan canthing yang berisi lilin panas. Proses membatik ini dilakukan secara hati-hati dan sering kali seorang pengrajin batik harus menorehkan serangkaian titik-titik demi memperoleh sebuah motif batik yang rumit. Alat untuk membatik ialah canting. Sebuah alat yang berbentuk seperti pulpen dan terbuat dari bambu, berkepala tembaga serta bermulut sempit pada bagian ujungnya. Canting ini dipakai untuk menyendok lilin cair yang panas, yang dipakai sebagai bahan penutup atau pelindung terhadap zat warna pada saat pewarnaan.  Pada proses awal pembuatan batik, seorang pembatik menorehkan lilin di kain putih dengan menggunakan canthing. Namun sebelum dilakukan penggambaran motif dengan menorehkan lilin panas, kain mori yang akan digunakan haruslah dicelup lebih dahulu ke dalam minyak tumbuh-tumbuhan serta larutan soda, guna memudahkan lilin melekat dan agar kain bisa lebih mudah menyerap zat warna. Setiap kali kain hendak diberi warna lain, bagian-bagian yang tidak boleh kena zat warna ditutup dengan lilin, sehingga makin banyak warna yang dipakai untuk menghias kain batik, makin lama juga pekerjaan menutup itu.  Pada taraf yang terakhir, lapisan lilin yang menutupi kain mori dihilangkan dengan merebus kain dalam air mendidih setelah sebelumnya direndam dalam larutan soda abu (sodium silikat) untuk mengekalkan warna pada batik.  Sebagai hasil akhir adalah selembar kain batik dengan motif-motif indah yang mempesona.
Tehnik membatik sebenarnya sudah berumur ribuan tahun.  Beberapa orang ahli bahkan menyebut bahwa tehnik membatik mungkin berasal dari kebudayaan kuno bangsa-bangsa di Afrika, Timur Tengah (bangsa Sumeria kuno) dan beberapa bangsa kuno di Asia yang  terus menyebar hingga sampai ke Indonesia. Penyebaran tehnik dan budaya membatik ini bisa sampai ke Indonesia, rupanya berkat jasa para pedagang dari India yang sempat mengunjungi daerah-daerah di Indonesia pada beberapa abad silam.  Pada awalnya kain batik hanya dikenal sebatas lingkungan keraton atau kerajaan di mana kain batik semula hanya dipakai oleh kalangan bangsawan dan raja-raja.  Namun seiring dengan perkembangan, maka kain batik selanjutnya dikenal luas di kalangan rakyat dan terus berkembang hingga masa sekarang.  Jumlah dan jenis motif kain batik yang mencapai ribuan jenis ini mempunyai ciri khas pada masing-masing daerah di Indonesia. Walaupun terdapat jenis batik cap, namun kain batik tulis yang dibuat dan dilukis dengan menggunakan canthing masih menduduki tingkat preferensi teratas dan masih begitu diminati oleh konsumen dalam negeri maupun luar negeri. Tingkat kesulitan dan kerumitan serta jenis kain yang digunakan turut mempengaruhi harga jual. Dewasa ini kain batik tidak saja berbahan kain mori, namun juga sudah banyak dijumpai kain batik yang berbahan kain poliester, rayon, hingga sutra. Bahkan kain batik yang terbuat dari bahan sutra harganya bisa mencapai jutaan rupiah.

Penyebaran Tehnik Membatik dan Seni Membatik
Kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal secara luas sejak jaman kerajaan Majapahit dan tampaknya terus berkembang dan menular kepada kerajaan-kerajaan lain di nusantara. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-20 dan batik cap dikenal baru setelah selesainya perang dunia I atau sekitar tahun 1920-an. Bahan yang digunakan dalam pembuatan kain batik secara tradisional antara lain bahan-bahan pewarna yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri seperti kayu pohon mengkudu, pace, kunyit, tinggi, soga, nila, sementara bahan sodanya dibuat dari soda abu, dan  garamnya dibuat dari tanah lumpur.
Batik yang telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majahit, dapat ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulung Agung. Mojokerto adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Mojokerto ada hubungannya dengan Majapahit. Pusat kerajinan batik di Mojokerto terdapat di Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo. Daerah kerajinan batik yang terdekat dengan Mojokerto adalah di Jombang. Pada sekitar akhir abad ke-19 di Mojokerto, sudah dipakai bahan-bahan utama kerajinan batik seperti, kain putih yang ditenun sendiri dan obat-obat batik dari soga jambal, mengkudu, nila tom, tinggi dan sebagainya. Bahan kimia impor untuk pewarna batik baru dikenal setelah masa perang dunia I yang umumnya dijual oleh para pedagang Cina di Mojokerto. Batik cap kemudian dikenal bersamaan dengan masuknya obat-obat batik buatan luar negeri. Cap atau stempel motif batik (pada jenis batik cap) dulu dibuat di Bangil dan pengusaha-pengusaha batik Mojokerto dapat membelinya di pasar Porong Sidoarjo. Pasar Porong dahulu dikenal sebagai pasar yang ramai, dimana hasil-hasil produksi batik Kedung cangkring dan Jetis Sidoarjo banyak dijual. Saat terjadi krisis ekonomi dunia sebelum jaman Jepang dan saat penjajahan Jepang, pengusaha batik Mojoketo ikut lumpuh. Kegiatan pembatikan muncul lagi sesudah revolusi dimana Mojokerto sudah menjadi daerah pendudukan Jepang. Ciri khas dari batik Kalangbret dari Mojokerto adalah hampir sama dengan batik-batik keluaran Yogyakarta, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya coklat muda dan biru tua. Sentra kerajinan batik yang dikenal sejak lebih dari seabad lalu adalah di desa Majan dan Simo.
Meskipun pembatikan dikenal sejak jaman Majapahit namun perkembangan seni batik mulai menyebar pesat di daerah Jawa Tengah Surakarta dan Yogyakarta. Hal itu tampak bahwa perkembangan batik di Mojokerto dan Tulung Agung berikutnya lebih dipengaruhi corak batik Solo dan Yogyakarta. Pembuatan batik Majan ini merupakan warisan seni sejak jaman perang Diponegoro. Warna babaran batik Majan dan Simo adalah unik karena warna babarannya merah menyala (terbuat dari kulit mengkudu) dan warna lainnya dari tom. Salah satu sentra batik sejak dahulu ada di daerah desa Sembung, dimana pada akhir abad ke-19 para pengusaha batik kebanyakan berasal dari Solo yang datang di Tulungagung. Hingga sekarang masih terdapat beberapa keluarga pengrajin batik dari Solo yang menetap di daerah Sembung. Terdapat pula daerah kerajinan batik di Trenggalek dan beberapa di Kediri, walau  sebagian berskala kerajinan rumah tangga dan termasuk kerajinan batik tulis.
Di wilayah Jawa Timur, riwayat seni batik di daerah Ponorogo erat hubungannya dengan perkembangan agama Islam. Di daerah Tegalsari, Ponorogo, ada sebuah pesantren yang diasuh Kyai Hasan Basri atau yang dikenal dengan sebutan Kyai Agung Tegalsari. Kyai Hasan Basri ini diambil menjadi menantu oleh raja Kraton Solo. Seni batik mulai menyebar ke Tegalsari seiring dengan diboyongnya putri kraton Solo ke Tegalsari oleh Kyai Hasan Basri. Di masa itu  banyak keluarga kraton Solo belajar di pesantren tersebut. Peristiwa inilah yang membawa seni batik keluar dari kraton menuju ke Ponorogo. Daerah perbatikan di Ponorogo yang bisa kita lihat hingga sekarang ialah daerah Kauman yaitu Kepatihan Wetan sekarang dan dari sini meluas ke desa-desa Ronowijoyo, Mangunsuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok, Banyudono dan Ngunut. Waktu itu bahan kain batik masih memakai buatan sendiri dari tenunan gendong. Kain putih impor baru dikenal di Indonesia sekitar akhir abad ke-19. Pembuatan batik cap di Ponorogo baru dikenal setelah perang dunia pertama yang dibawa oleh seorang Cina bernama Kwee Seng dari Banyumas.
Daerah Ponorogo awal abad ke-20 terkenal batiknya dalam pewarnaan nila yang tidak luntur dan itulah sebabnya pengusaha-pengusaha batik dari Banyumas dan Solo banyak memberikan pekerjaan kepada pengusaha-pengusaha batik di Ponorogo. Akibat dikenalnya batik cap maka produksi Ponorogo setelah perang dunia pertama sampai pecahnya perang dunia kedua terkenal dengan batik kasarnya yaitu batik cap mori biru. Pasaran batik cap kasar Ponorogo kemudian terkenal seluruh Indonesia. Batik Solo dan Yogyakarta pada sekitar abad 17,18 dan 19, semakin berkembang luas, khususnya di wilayah Pulau Jawa. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pewarnaan batik pada masa dahulu, masih memakai bahan-bahan dalam negeri seperti soga Jawa. Polanya tetap antara lain terkenal dengan “Sidomukti” dan “Sidoluruh”.
Asal-usul batik di daerah Yogyakarta dikenal semenjak kerajaan Mataram ke-I dengan rajanya Panembahan Senopati. Daerah sentra batik pertama ialah di desa Plered. Kerajinan batik pada masa itu terbatas dalam lingkungan keluarga kraton yang dikerjakan oleh wanita-wanita pembantu ratu dan kemudian meluas diikuti oleh istri dari abdi dalem dan tentara-tentara. Pada upacara resmi kerajaan keluarga kraton baik pria maupun wanita memakai pakaian dengan kombinasi batik dan lurik. Akibat dari peperangan pada jaman penjajahan Belanda, maka banyak keluarga-keluarga raja yang mengungsi dan menetap di daerah baru seperti Banyumas, Pekalongan, dan ke daerah timur Ponorogo, Tulungagung dan sebagainya. Keluarga-keluarga kraton yang mengungsi inilah yang mengembangkan pembatikan ke seluruh pelosok pulau Jawa yang ada sekarang dan terus berkembang menurut kreativitas dan kekhasan budaya lokal.
Kain batik khas Solo dan Yogyakarta yang mulai merambah wilayah Jawa Timur selanjutnya menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulung Agung. Terus menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura. Di wilayah Jawa Barat, batik berkembang di Banyumas, Pekalongan, Tegal, Cirebon. Perkembangan batik di Banyumas berpusat di daerah Sokaraja dibawa oleh pengikut-pengikut Pangeran Diponegoro setelah selesainya peperangan tahun 1830 yang kemudian  mengembangkan batik celup di Sokaraja. Bahan mori yang dipakai hasil tenunan sendiri dan obat pewarna dipakai pohon tom, pohon pace dan mengkudu yang memberi warna merah bersemu kuning. Tehnik membatik kemudian ditularkan pada rakyat Sokaraja dan pada sekitar akhir abad ke-19 para pembatik di wilayah ini sudah menjalin hubungan dagang dengan para pembatik dari daerah Solo dan Ponorogo. Setelah perang dunia kesatu pembatikan mulai pula dikerjakan oleh warga keturunan Cina yang juga berdagang batik. Selanjutnya seni batik mulai berkembang di daerah pesisir pantai, selain di daerah Pekalongan sendiri, yaitu tumbuh pesat di Buawaran, Pekajangan dan Wonopringgo. Adanya pembatikan di daerah-daerah ini hampir bersamaan dengan pembatikan daerah-daerah lainnya yaitu sekitar abad ke-19.
Perkembangan seni dan tehnik membatik keluar dari wilayah Yogyakarta dan Solo selanjutnya semakin meluas. Sampai awal abad ke-20 kegiatan seni batik yang dikenal ialah batik tulis dengan bahan morinya buatan dalam negeri dan juga sebagian impor. Batik cap baru dikenal setelah masa perang dunia I dan mulai banyak dipakai obat dan bahan kimia untuk batik buatan Jerman dan Inggris.
Pada sekitar awal abad ke-20, di Pekajangan terdapat usaha tenun yang menghasilkan stagen dan benangnya dipintal sendiri secara sederhana. Tak lama kemudian seni batik pun mulai dikerjakan oleh para pekerja yang semula bekerja  di sektor kerajinan tenun ini. Banyak tenaga kerja pabrik gula di Wonopringgo dan Tirto beralih pekerjaan ke perusahaan-perusahaan batik, karena upahnya lebih tinggi dari pabrik gula.  Seni batik mulai dikenal di Tegal pada akhir abad ke-19. Pewarna yang dipakai waktu itu buatan sendiri yang diambil dari tumbuh-tumbuhan pace/mengkudu, nila, soga kayu dan kainnya adalah hasil tenunan sendiri. Warna batik Tegal pertama kali ialah sogan dan babaran abu-abu setelah dikenal nila pabrik, dan kemudian berkembang menjadi warna merah-biru. Batik asal Tegal saat itu sudah mulai merambah Jawa Barat dan para pedagang inilah yang konon mengembangkan kerajinan batik di Tasik dan Ciamis. Pada awal abad ke-20 sudah dikenal mori impor dan bahan kimia impor untuk pembuatan batik.
Pengusaha-pengusaha batik di Tegal masa itu lemah dalam permodalan dan bahan baku didapat dari pedagang keturunan Cina di Pekalongan dengan cara kredit dan batiknya dijual pada yang memberikan kredit bahan baku tersebut. Perkembangan kerajinan batik di Kebumen lebih cepat daripada di Purworejo. Produksinya sama pula dengan Yogya dan daerah Banyumas lainnya. Sedangkan di daerah Bayat, Kecamatan Tembayat Kebumen, yang letaknya lebih kurang 21 Km sebelah Timur kota Klaten. Seni batik di desa Bayat sudah ada sejak jaman dahulu. Pengusaha-pengusaha batik di Bayat tadinya kebanyakan dari kerajinan dan buruh batik di Solo. Seni batik di Kebumen dikenal sekitar abad ke-19 dengan dibawa oleh pedagang Islam dari Yogya yang mengembangkan batik di Kebumen. Proses batik pertama di Kebumen dinamakan tengabang atau blambangan dan selanjutnya proses terakhir dikerjakan di Banyumas/Solo. Sekitar awal abad ke-20 untuk membuat polanya digunakan kunyit yang capnya terbuat dari kayu. Motif-motif Kebumen ialah pohon-pohon, burung-burungan. Bahan pewarna yang digunakan berasal dari pohon   mengkudu dan nila tom. Pemakaian bahan kimia impor untuk pembuatan batik di Kebumen dikenal sekitar tahun 1920 yang diperkenalkan oleh pegawai Bank Rakyat Indonesia. Pemakaian cap dari tembaga dikenal sekitar tahun 1930 yang dibawa oleh Purnomo dari Yogyakarta. Daerah pembatikan di Kebumen ialah desa: Watugarut, Tanurekso yang banyak dan ada beberapa desa lainnya.
Seni batik di daerah Tasikmalaya diduga dikenal sejak jaman kerajaan  “Tarumanagara” dimana peninggalan yang ada sekarang ialah banyaknya pohon tarum di sana yang berguna untuk pembuatan batik waktu itu. Desa peninggalan yang sekarang masih ada pembatikan ialah Wurug terkenal dengan batik kerajinannya, Sukapura, Mangunraja, Maronjaya dan Tasikmalaya kota. Dahulu pusat dari pemerintahan dan keramaian yang terkenal ialah desa Sukapura, Indihiang yang terletak di pinggir kota Tasikmalaya sekarang. Produksi batik Tasikmalaya sekarang adalah campuran dari batik-batik asal Pekalongan, Tegal, Banyumas, Kudus yang beraneka pola dan warna. Pembatikan dikenal di Ciamis sekitar abad ke-19 setelah selesainya peperangan Diponegoro, dimana pengikut-pengikut Diponegoro banyak yang meninggalkan Yogyakarta, menuju ke selatan. Sebagian ada yang menetap didaerah Banyumas dan sebagian ada yang meneruskan perjalanan ke selatan dan menetap di Ciamis dan Tasikmalaya sekarang.  Motif batik Ciamis adalah campuran dari batik Jawa Tengah dan pengaruh motif dan warna dari Garut. Sampai awal-awal abad ke-20 pembatikan di Ciamis berkembang sedikit demi sedikit, dari kebutuhan sendiri menjadi produksi pasaran. Sedang di daerah Cirebon batik ada kaitannya dengan kerajaan yang ada di daerah ini, yaitu Kanoman, Kasepuhan dan Keprabonan. Ciri khas batik Cirebon sebagaian besar bermotifkan gambar lambang hutan dan margasatwa. Motif laut yang kemudian muncul banyak dipengaruhi oleh budaya Cina, dimana kesultanan Cirebon dahulu pernah menyunting putri Cina. Batik Cirebonan yang bergambar garuda banyak dipengaruhi oleh motif batik Yogya dan Solo.
Di Jakarta, seni batik dikenal dan berkembang bersamaan dengan daerah-daerah sentra batik lainnya yaitu kira-kira akhir abad ke-19. Seni batik dibawa oleh pendatang-pendatang dari Jawa Tengah dan mereka bertempat tinggal di daerah sentra batik. Daerah sentra batik di Jakarta tersebar dekat Tanah Abang yaitu: Karet, Bendungan Hilir dan Udik, Kebayoran Lama, dan daerah Mampang Prapatan serta Tebet.  Jakarta sejak jaman sebelum perang dunia kesatu telah menjadi pusat perdagangan antar daerah Indonesia dengan pelabuhan Pasar Ikan sekarang. Setelah perang dunia kesatu selesai, produksi batik meningkat dan pedagang-pedagang batik mencari daerah pemasaran baru. Pedagang-pedagang batik yang banyak ialah bangsa warga keturunan Cina dan Arab, selain sejumlah kecil penduduk lokal. Batik Jakarta sebelum perang terkenal dengan batik kasarnya, dengan warnanya yang sama dengan batik Banyumas.
Batik kemudian berkembang ke seluruh penjuru kota-kota besar di Indonesia yang ada di luar Jawa, seperti daerah Sumatera Barat misalnya, khususnya daerah Padang. Sumatera Barat termasuk daerah konsumen batik sejak zaman sebelum perang dunia kesatu, terutama batik-batik produksi Pekalongan dan Solo serta Yogya. Di Sumatera Barat yang berkembang terlebih dahulu adalah industri tenun tangan yang terkenal “tenun Silungkang” dan “tenun plekat”. Batik cap mulai berkembang di jaman penjajahan Belanda saat jumlah permintaan akan batik tulis semakin meningkat dan cenderung kewalahan untuk dipenuhi. Bahan pewarna batik umumnya dari tumbuh-tumbuhan seperti mengkudu, kunyit, gambir, damar dan sebagainya. Bahan kain putihnya diambilkan dari kain putih bekas dan hasil tenun tangan. Perusahaan batik pertama muncul yaitu daerah Sampan Kabupaten Padang Pariaman tahun 1946 antara lain: Bagindo Idris, Sidi Ali, Sidi Zakaria, Sutan Salim, Sutan Sjamsudin dan di Payakumbuh sekitar 1948, yaitu Waslim (asal Pekalongan) dan Sutan Razab.  Warna batik tulis dari Padang kebanyakan hitam, kuning dan merah ungu serta polanya Banyumasan, Indramayu-an, Solo dan Yogya. Sekarang batik produksi Padang sudah berkembang lebih maju walau masih belum bersaing sebaik kain batik buatan Jawa. Batik cap yang ada kebanyakan berupa sarung. Seni batik dari waktu ke waktu terus menyebar ke berbagai pelosok daerah di Indonesia seperti Bali, dan banyak daerah lain dengan warna-warna beragam mulai dari warna hijau, kuning, merah, biru, putih dan coklat.

Melestarikan Seni Budaya Batik di Indonesia
Kain batik merupakan kekayaan budaya Indonesia yang tidak boleh ditinggalkan begitu saja.  Sebenarnya sangat disayangkan bahwa saat ini batik tradisional khas Indonesia masih sulit untuk dipatenkan, padahal jumlah dan jenis kain batik dari tiap daerah di Indonesia kalau dihitung bisa mencapai ribuan jenis. Ragam dan corak motif yang khas dari tiap daerah merupakan sebuah kekayaan budaya yang patut senantiasa dilestarikan.  Sebagai contoh, batik pesisir umumnya memiliki corak maskulin seperti pada corak “Mega Mendung”, karena di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.  Ragam corak dan warna batik sedikit banyak juga dipengaruhi pula oleh berbagai pengaruh asing. Misalnya saja pada daerah-daerah pesisir pantai, corak kain batik menyerap berbagai pengaruh budaya luar yang dibawa  para pedagang asing. Warna-warna cerah seperti merah yang mulanya dipopulerkan oleh orang Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak burung phoenix, akhirnya juga diadaptasi ke dalam motif dan corak batik pesisir, misalnya saja batik Madura, yang sering kali diwarnai dengan warna merah, hitam, hijau, dan putih serta dihiasi oleh berbagai motif bunga-bungaan dan motif gambar burung. Batik khas Madura umumnya banyak digunakan sebagai sarung, walaupun ada beberapa yang khusus didesain untuk kemeja resmi pesta. Pusat-pusat kerajinan batik dan perdagangan batik di Madura adalah di Pamekasan dan Bangkalan.  Pedagang batik di Madura umumnya adalah warga keturunan Arab selain warga lokal yang memegang teguh budaya Madura dalam kehidupan sehari-hari.
Bangsa penjajah Eropa yang juga mengambil minat kepada batik, memberikan pengaruh besar dalam motif dan corak batik khas Indonesia, seperti motif bunga-bungaan (bunga tulip) dan aneka motif benda lain, termasuk pula warna-warna asing seperti warna biru yang mulai banyak dijumpai dalam batik-batik Indonesia. Berbagai corak batik kuno khas era penjajahan Belanda maupun batik modern buatan Indonesia bisa disaksikan di Tropenmuseum, Amsterdam, Belanda. Tampaknya kekayaan intelektual bangsa Indonesia berupa motif-motif batik tradisional, yang ribuan macam dan jenisnya ini, hari demi hari semakin  banyak dijiplak dan ditiru oleh para pengrajin dari negara-negara lain demi kepentingan ekonomi.  Bila pemerintah dan para pengrajin batik mau berusaha bersama-sama untuk berusaha lebih keras mendaftar setiap jenis motif dan kekhasan batik tradisional untuk dipatenkan secara internasional, maka hal ini jelas akan merupakan sebuah peluang yang baik bagi berkembangnya bisnis batik berpangsa pasar internasional.
Museum batik yang ada di Belanda, yaitu Tropenmuseum yang mengkoleksi ribuan jenis kain batik, selalu saja dipadati oleh pengunjung, dan ini juga berarti sarana promosi yang efektif dalam mempopulerkan tradisi busana batik khas Indonesia di tingkat internasional. Pameran batik di luar negeri, terutama di negeri Belanda senantiasa banyak diminati pengunjung.  Bahkan publikasi pameran batik di Belanda sering dimuat di majalah-majalah seperti majalah Round About dan majalah Moesson, yang tidak hanya terbit di Belanda, namun juga terbit di seluruh Eropa, Amerika, dan Australia. Batik khas Indonesia bahkan pernah diliput oleh majalah Island, Amerika. Acara peragaan busana batik Indonesia juga pernah ditayangkan oleh Fashion TV, sebuah televisi Perancis yang mengkhususkan diri pada penayangan peragaan busana dari berbagai negara.  Sungguh sayang bila berbagai kesempatan yang ada kita lewatkan begitu saja. Mari kita giatkan industri batik di tanah air!

Comments (15) »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.