Arsip untuk Wisdom - Kebijaksanaan

LISTRIK MURAH UNTUK RAKYAT

Di tengah berkecamuknya krisis ekonomi global yang mengguncang dunia dewasa ini, di dalam negeri juga tengah terjadi krisis energi listrik. Sungguh mengherankan, bahwa negeri kaya sumber daya alam seperti Indonesia tercinta ini sampai mengalami krisis energi kelistrikan. Padahal kalau kita amati, negeri kita tercinta ini sangat kaya akan kekayaan sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Hanya masalah manajemen, kekayaan intelektual dan ide kreatif saja yang mungkin masih kurang. Yang lebih mengherankan lagi, para wakil rakyat dan pengelola negeri ini yang katanya sering mengadakan studi banding ke luar negeri untuk mengadopsi teknologi tepat guna dari negara-negara maju tidak cukup kaya akan ide demi pemecahan masalah krisis energi.
Sebagai rakyat kecil yang hanya bisa mengamati dunia luar dari layar televisi, saya cukup banyak mengikuti berita perkembangan teknologi dari televisi-televisi asing. Dengan kemampuan bahasa asing yang saya miliki, sedikit banyak saya menjadi tahu bahwa sumber kekayaan alam Indonesia sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menghasilkan energi listrik dalam jumlah berlimpah dan pada gilirannya dapat menyediakan listrik murah bagi rakyat. Bila impian saya sebagai rakyat kecil ini bisa diwujudkan oleh pemerintah, tentu bukan hanya saya saja, namun juga berpuluh juta rakyat Indonesia akan mengenyam manfaat dari keberadaan listrik murah dalam jumlah berlimpah. Bayangkan, industri-industri kecil skala rumah tangga, para pekerja kantoran, penulis kreatif, perusahaan media, hingga perusahaan skala besar akan semakin produktif, dan tentu hal ini juga secara tidak langsung akan mengurangi tingkat pengangguran di negeri ini, karena semakin banyak industri yang akan tumbuh berkembang karena memanfaatkan fasilitas listrik murah.
Selama ini bangsa kita kurang berwawasan luas dalam menindaklanjuti masalah krisis listrik. Mengapa selama ini hanya mendayagunakan sumber energi dari minyak bumi, dan batubara saja. Padahal negeri kita ini kaya akan sinar matahari, tenaga angin, energi gelombang laut, energi aliran air sungai, dan bahkan energi panas bumi. Semua itu adalah sumber energi yang bisa diubah menjadi listrik!
Mengapa kita tidak berkaca dan mencontoh apa yang diterapkan negara-negara maju seperti Jerman, Swedia, Finlandia, Uni Emirat Arab, hingga Amerika Serikat dalam memanfaatkan sumber energi alam untuk diubah menjadi energi listrik? Sebagai contoh, di Jerman, Belanda, Swedia dan Finlandia, listrik murah bisa dihasilkan dengan memanfaatkan energi gelombang laut menjadi listrik dengan membangun turbin-turbin raksasa di lepas pantai. Mereka juga membangun kincir-kincir angin raksasa dengan tiang-tiang pancang yang ditanam di dasar laut atau samudera. Angin laut yang bertiup kencang akan memutar baling-baling kincir angin raksasa dan menggerakkan turbin pembangkit tenaga listrik. Kabel-kabel listrik yang tertanam di dasar laut dialirkan langsung ke pusat-pusat pembangkit tenaga listrik di daratan untuk kemudian didistribusikan sebagai listrik murah ke rumah-rumah penduduk, pabrik-pabrik dan perkantoran. Sementara di daratan, mereka juga membangun kincir-kincir angin raksasa di puncak-puncak bukit untuk memanfaatkan angin kencang yang bertiup demi menggerakkan turbin pembangkit tenaga listrik. Model pembangkit listrik tenaga angin ini juga mulai ditiru oleh negara-negara Arab, khususnya Uni Emirat Arab dan Saudi Arabia demi menyelenggarakan listrik murah bagi rakyat. Di negara-negara yang memiliki limpahan sinar matahari yang banyak, seperti di Uni Emirat Arab, Saudi Arabia dan Amerika Serikat, cahaya matahari bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik. Sebagai contoh, di gurun pasir Nevada yang terik dan tandus, dibangun pembangkit listrik tenaga matahari dengan berhektar-hektar ladang solar cell (semacam plat yang dimanfaatkan untuk menyerap energi panas matahari yang kemudian tersambung dengan kabel-kabel yang mengalirkan energi ke pusat pembangkit listrik tenaga matahari). Pusat pembangkit listrik tenaga matahari juga mulai ditiru oleh negara-negara Arab dengan berkaca pada keberhasilan Amerika Serikat dalam menghasilkan energi listrik dari tenaga matahari. Bahkan Uni Emirat Arab telah membangun pembangkit listrik tenaga matahari, pembangkit listrik tenaga angin dan pembangkit listrik tenaga panas bumi, demi menyuplai kebutuhan listrik negaranya. Energi aliran sungai juga sebenarnya telah lama kita kenal dapat menghasilkan listrik. Di Amerika, aliran deras air terjun niagara dimanfaatkan sebagai sumber tenaga listrik dengan membangun bendungan raksasa di sekitarnya. Bahkan di Jepang, sampah yang membusuk pun bisa dijadikan energi listrik. Jadi, bangsa Jepang telah menemukan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah. Bayangkan, sampah menggunung di Jakarta yang dalam sehari bila dikumpulkan bisa setinggi Candi Borobudur, tentu akan menghasilkan energi listrik yang luar biasa besarnya, belum lagi sumber-sumber alam Indonesia yang lain (sinar matahari, angin, gelombang laut, panas bumi, aliran sungai), yang cukup potensial untuk menghasilkan energi listrik yang bahkan tidak akan ada habisnya.
Bila permasalahannya adalah modal investasi pembangunan infrastruktur kelistrikan, seharusnya bukan menjadi hambatan demi menghadirkan listrik murah bagi rakyat. Banyak sekali kontraktor asing asal Jerman, Swedia, hingga yang berasal dari Uni Emirat Arab dan Amerika yang mampu membangun infrakstruktur kelistrikan dari sumber energi matahari, angin, gelombang laut dan panas bumi. Bahkan beberapa di antara perusahaan-perusahaan raksasa swasta asing tersebut juga berkemampuan untuk membangun dan mengelola listrik swasta di Indonesia. Bukankah dengan semakin banyak penyedia listrik swasta akan menghasilkan persaingan yang sehat yang pada gilirannya akan bersaing pula di tarif harga listrik. Masih ingatkah Anda, bahwa beberapa tahun yang lalu, saat operator telepon selular jumlahnya masih sangat sedikit, tarif pulsa telepon seluler masih dirasa cukup mahal? Coba bandingkan dengan kondisi sekarang, dimana persaingan demikian ketat antara provider-provider penyedia jasa telepon seluler yang bersaing dalam hal tarif dengan menghadirkan tarif-tarif murah dan terjangkau bagi konsumen (baca: rakyat). Dengan membuang jauh-jauh azas dan praktek monopoli, dan mengedepankan pasar persaingan sempurna, maka bisa jadi di masa mendatang energi listrik bukan lagi menjadi komoditi yang mahal, namun justru hadir dengan tarif yang cukup murah bagi rakyat. Bila tarif listrik cukup murah, maka tentunya akan mampu untuk mendorong bertumbuhnya pusat-pusat industri, usaha kecil rakyat dan juga usaha jasa yang mampu menciptakan pekerjaan dan mengurangi angka pengangguran negeri ini.
Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Obama, yang baru mencapai angka pengangguran 15 juta jiwa saja sudah sangat kebingungan dan terjadi unjuk rasa di mana-mana, sementara negeri kita tercinta, Indonesia dengan angka pengangguran lebih dari 40 juta jiwa, kok kelihatannya masih tenang-tenang saja? Belum lagi karena masalah krisis listrik yang terjadi akhir-akhir ini telah semakin banyak menambah deret angka pengangguran negeri ini, karena banyak perusahaan yang gulung tikar akibat produktivitasnya anjlok gara-gara sering mati listrik. Kalau sudah begini, maka negara kita bisa-bisa mengalami krisis yang lebih buruk dibanding yang pernah terjadi di tahun 1998. Sudah seharusnya masalah energi listrik murah menjadi perhatian serius dari pemerintah demi kesejahteraan rakyat, majunya pendidikan, dan tumbuhnya pusat-pusat industri dan usaha kecil yang mampu menyerap tenaga kerja. Semuanya ini memang bagai lingkaran setan yang tidak berujung. Semuanya saling terkait, dan harus segera ditindaklanjuti. Sudah seharusnya studi-studi banding yang dilakukan berbagai instansi pemerintah dan wakil rakyat benar-benar bisa menghasilkan sesuatu yang bisa ditiru dan diterapkan, dan bukan hanya sebagai ajang untuk memboroskan uang rakyat dan uang negara demi berwisata gratis dan berbelanja barang-barang buatan luar negeri. Sudah seharusnya studi banding ke luar negeri memang benar-benar studi banding dan bukan cuma manis di bibir tapi lain di hati. Studi banding ke luar negeri seharusnya dibarengi dengan tindak lanjut kerjasama dengan negara yang dituju untuk bisa menghasilkan nota kesepahaman dan kerjasama di bidang pembangunan kelistrikan di Indonesia. Kalau cuma studi banding tanpa tindak lanjut, mengapa harus repot-repot pergi ke luar negeri? Lewat internet, video conference atau pun nonton berita teknologi dari televisi asing sebenarnya sudah lebih dari cukup bila maksudnya hanya untuk menambah wawasan (tanpa rencana pengaplikasian dalam waktu dekat). Jadi, yang namanya studi banding ke luar negeri seharusnya bisa menghasilkan sesuatu yang riil dan dapat dinilai tingkat keberhasilan adopsi teknologinya dan bukan hanya sebagai alasan untuk rekreasi ke luar negeri dan penggelembungan dana anggaran untuk dikorupsi.
Suara rakyat hendaknya didengar dan diperhatikan oleh pemerintah dan instansi terkait, karena rakyat sekarang semakin pintar dan menuntut lebih banyak dari pemerintah dalam hal kesejahteraan, suatu hak yang pernah hilang dari kita sebagai rakyat sebelum era reformasi. Rakyat semakin tahu akan hak-haknya, dan sudah seharusnya pemerintah semakin sadar akan kewajiban-kewajibannya sebagai pengelola negara. Semoga tulisan ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah dan instansi terkait. Bukankah suara rakyat adalah suara Tuhan? Jadi dengarkan juga suara hati nurani rakyat, karena Indonesia adalah negara demokrasi !

Komentar bertahan »

Mencerdaskan Bangsa Melalui Pengembangan Perpustakaan Daerah

Oleh : Haryo Bagus Handoko, SP

Abstraksi
Perpustakaan umum yang diharapkan dapat meningkatkan minat baca tulis serta wawasan dan pengetahuan masyarakat saat ini tidak dipungkiri lagi sangat dibutuhkan demi pengembangan intelektual masyarakat.  Untuk memenuhi kebutuhan vital ini, maka konsep perpustakaan yang dahulu hanya tersedia ala kadarnya sekarang mulai dibenahi dengan serius.  Konsep perpustakaan masa depan yang mengusung teknologi tepat guna dan juga bahan-bahan bacaan bermutu serta konsep pengemasan ilmu pengetahuan dalam kemasan yang menarik sudah seharusnya mulai diterapkan di berbagai perpustakaan daerah. Konsep ini perlu lebih dikembangkan demi pengembangan literasi informasi masyarakat selain usaha pemberdayaan masyarakat melalui perjuangan mencerdaskan bangsa.

Perpustakaan kota Malang, sebuah konsep perpustakaan daerah yang multiguna.
Setelah mengalami renovasi gedung maupun sistem penataan buku dan keadministrasian, perpustakaan kota Malang hadir dalam wajah yang berbeda, wajah sebuah perpustakaan modern yang menarik untuk dikunjungi bukan hanya sebagai tempat dan sarana belajar namun lebih merupakan sebuah tempat wisata bagi keluarga yang mendidik serta menghibur.  Perpustakaan yang setiap harinya bisa dikunjungi oleh kurang lebih seribu lima ratus pengunjung ini dilengkapi dengan teknologi canggih sebagai sarana pembelajaran murah meriah bagi seluruh masyarakat warga Malang.  Untuk mengakses berbagai informasi dan berita terbaru, para pengunjung perpustakaan dimudahkan dengan adanya aneka bahan bacaan surat kabar dan juga sambungan internet gratis wi-fi yang tersedia di area ruang lobby Gedung Perpustakaan Kota Malang.
Untuk memperoleh informasi seputar tempat-tempat wisata yang tersebar di wilayah Malang Raya, tersedia sebuah monitor layar sentuh dilengkapi dengan aneka informasi profil tempat wisata dan rekaman video yang bisa dengan mudah digunakan.  Di lantai satu, gedung perpustakaan ini terdapat sebuah ruang galeri seni yang biasa digunakan untuk pameran buku, pameran foto dan bahkan pameran lukisan. Dengan hadirnya ruang galeri pameran maka diharapkan apresiasi seni masyarakat akan meningkat dan juga diharapkan bisa menginspirasi tumbuh dan berkembangnya kreativitas generasi muda melalui kesenian. Di lantai yang sama juga terdapat ruang bacaan anak, dan fasilitas ibadah berupa ruang mushola.  Untuk menjadi anggota perpustakaan (yang berarti juga memiliki hak untuk meminjam buku dan menggunakan seluruh fasilitas kemudahan yang tersedia), seseorang cukup mendaftar ke meja reservasi yang ada di lantai satu dan mengisi formulir pendaftaran.  Setelah itu ia akan dipanggil untuk difoto saat itu juga, sementara data-data dirinya akan segera dimasukkan ke database komputer.  Tidak sampai memakan waktu satu jam, maka kartu plastik yang dilengkapi dengan foto, keterangan si pemilik kartu keanggotaan perpustakaan, dan juga bar code (semacam garis-garis kode yang berisi data yang bisa dibaca oleh sensor infra merah yang terhubung ke sistem data di komputer) sudah jadi dan bisa langsung digunakan untuk memasuki ruang layanan peminjaman buku yang ada di lantai satu dan di lantai dua.
Saat memasuki area ruang koleksi buku, seorang pengunjung perpustakaan harus memindaikan kartu plastiknya itu ke sebuah alat pemindai yang memiliki sensor sinar infra merah, dan begitu alat sensor itu mendeteksi bar code yang tertera di kartu plastik itu, maka data lengkap si pemilik kartu akan segera tampil di sebuah monitor layar datar, lengkap dengan foto si pemilik kartu.  Setiap sudut gedung perpustakaan kota Malang dilengkapi dengan kamera CCTV yang mengawasi setiap gerak-gerik para pengunjung.  Untuk mencari dan menelusuri judul-judul buku koleksi perpustakaan, seorang pengunjung hanya perlu duduk di depan sebuah komputer yang merupakan katalog digital, ia hanya perlu mengetikkan judul buku, nama pengarang buku, atau pun topik yang sedang ia cari di kolom yang tersedia dan mengklik tombol pencari.  Tidak membutuhkan waktu lama untuk segera memunculkan daftar buku yang sesuai dengan kata kunci pencarian.  Bahkan seseorang bisa memeriksa buku apa saja yang sedang berada di rak koleksi buku saat ini, dan buku mana saja yang sedang dipinjam (keluar).  Seseorang bahkan bisa mengecek buku-buku apa saja yang sedang dipinjamnya saat ini dan kapan batas akhir peminjamannya, hanya dengan mengetikkan nomor keanggotaan kartu perpustakaan yang dimiliki di kolom formulir yang tersedia untuk login dan kemudian mengetikkan password untuk memasuki jaringan data yang ada di komputer.  Komputer-komputer katalog digital yang berlayar datar ini disusun dengan cantik secara melingkar di meja bundar dengan kursi-kursi yang tertata rapi dekat pintu masuk koleksi buku, sehingga memudahkan pengunjung yang masih bingung ke rak mana ia harus mencari buku yang dibutuhkannya.  Masing-masing rak di ruang koleksi buku ini dikelompokkan berdasarkan tema dan topik buku, dimana masing-masing rak bertuliskan judul topik dan juga kisaran nomor seri kode buku.  Seorang pengunjung yang telah mengakses komputer katalog digital untuk mencari buku yang dibutuhkannya tentunya akan segera mengetahui berapa nomor seri kode buku yang dicarinya tersebut dan di rak mana buku tersebut tersimpan.  Bila sekedar ingin membaca buku-buku dan tidak ingin meminjam untuk dibawa pulang, seorang pengunjung bisa memanfaatkan beberapa buah meja berukuran besar untuk para pembaca buku berkelompok, atau beberapa bangku bersekat untuk para pembaca serius yang ingin sedikit privasi.  Terdapat juga area baca santai di mana para pengunjung bisa duduk lesehan sambil membaca buku dengan santai di berbagai tempat yang telah disediakan.
Saat akan meminjam buku untuk dibawa pulang, seorang pengunjung perpustakaan yang memiliki kartu plastik keanggotaan, tinggal menyerahkan kartu plastiknya dan buku-buku yang akan dipinjamnya kepada petugas perpustakaan yang selanjutnya akan memindai kartu plastik tersebut dengan sebuah alat pemindai dengan teknologi sinar infra merah, dan juga memindai bar code yang tertera di setiap buku-buku yang akan dipinjam, dan secara otomatis data peminjam, judul buku yang akan dipinjam serta waktu pengembalian buku akan masuk ke dalam database komputer dan secara otomatis tercetak sebuah slip bukti peminjaman buku.  Petugas perpustakaan kini hanya tinggal menggesekkan buku-buku yang dipinjam tersebut ke sebuah alat untuk menonaktifkan alarm pengaman di pintu keluar yang dilengkapi dengan sensor infra merah juga.  Jadi bila seseorang tidak mematuhi atau mengabaikan prosedur peminjaman buku seperti yang sudah digariskan, dan diam-diam membawa keluar (mencuri) buku dari rak-rak buku dalam ruang area koleksi buku, maka tidak diragukan lagi, alarm akan segera berbunyi dengan keras saat si pengunjung perpustakaan itu keluar melalui pintu keluar yang dilengkapi dengan sensor infra merah.
Untuk para warga kota Malang di setiap akhir pekan selalu diputar aneka film secara gratis bertempat di ruang lobby Gedung Perpustakaan Kota Malang dengan menggunakan teknologi proyektor layar lebar.  Kursi-kursi yang sudah disediakan pun segera penuh terisi oleh begitu padatnya pengunjung.  Bagi para rombongan murid-murid sekolah, terkadang bisa menikmati fasilitas pemutaran film dokumenter dan juga yang bertema pendidikan di ruang audio visual yang ada di lantai dua.  Ruang audio visual ini juga berfungsi ganda untuk meningkatkan kemampuan berbahasa asing para warga kota Malang dengan hadirnya Malang English Fun Club. Untuk diskusi ilmiah atau pun untuk acara seminar tersedia ruang rapat di lantai satu.  Ruangan yang lain, yaitu ruang kearsipan gedung perpustakaan kota Malang juga berfungsi sebagai sebuah tempat berkumpulnya pecinta buku dan ajang diskusi para penulis buku dan wartawan di kota Malang, yang tergabung dalam sebuah komunitas yang bernama “Forum Penulis Kota Malang”.  Di era digital ini tampaknya kota Malang tidak ingin ketinggalan dalam pemanfaatan kemudahan di bidang teknologi informasi dengan munculnya berbagai situs di internet yang memang dirintis untuk membangun sebuah kota digital di internet, di mana aneka situs resmi pemerintah Kotamadya Malang, pemerintah Kabupaten Malang, universitas-universitas dan sekolah-sekolah di Malang, toko-toko buku, hotel-hotel, tempat wisata, bahkan organisasi atau komunitas hobi hampir semuanya bisa diakses di internet.
Di lantai tiga gedung perpustakaan kota Malang terdapat pula sebuah stasiun televisi lokal yang menyiarkan aneka ragam berita seputar Malang, ilmu pengetahuan, hiburan dan juga aneka acara talk show serta bedah buku para penulis buku.  Stasiun televisi lokal itu bernama Mahameru TV. Baru-baru ini diadakan sebuah acara peluncuran buku bertema gerakan penghijauan karya tulisan Walikota Malang yang juga dilaksanakan di studio televisi tersebut.  Acara peluncuran buku dan sekaligus acara bedah buku itu semarak dipenuhi para pecinta buku dan pemerhati lingkungan serta para praktisi akademisi kota Malang.  Tampaknya fungsi perpustakaan sebagai pusat informasi dan pengetahuan benar-benar diaplikasikan di kota Malang.
Konsep kota digital yang pernah dipopulerkan beberapa waktu lalu tampaknya juga tak sekedar janji belaka.  Saat ini usaha-usaha untuk membangun sebuah interkoneksi jaringan data antar lembaga pemerintah, lembaga pendidikan dan pusat-pusat penyebaran informasi mulai dilakukan.  Terbukti di beberapa tempat di kawasan Malang raya sudah menyediakan internet wi-fi (internet gratis berbasis gelombang radio) secara gratis.  Sebut saja Plaza Araya, Gedung Perpustakaan Kota Malang, Universitas Brawijaya Malang, Politeknik Universitas Brawijaya Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Negeri Malang, Malang Town Square, Kantor Kotamadya Malang, halaman belakang Kantor Kotamadya Malang, dan beberapa tempat lain sudah dilengkapi dengan gelombang  internet wi-fi gratis, sehingga bila seseorang memiliki sebuah laptop (komputer portabel), PDA atau pun pocket PC, orang tersebut sudah bisa mengakses internet secara gratis dari mana saja selama ia berada di wilayah-wilayah yang disebutkan tadi.  Perpustakaan-perpustakaan digital milik lembaga institusi pendidikan dan universitas di Malang kini pun sudah bisa diakses di dunia maya, sehingga konsep kota digital dalam bidang pendidikan pun tampaknya mulai terwujud walau masih membutuhkan beberapa pembenahan di sana-sini demi kesempurnaan penyebarluasan ilmu pengetahuan dan pengembangan literasi generasi muda demi masa depan bangsa ini.
Konsep perpustakaan daerah yang multiguna seperti yang telah dikembangkan oleh perpustakaan kota Malang hendaknya mulai diperkenalkan ke daerah-daerah lain demi upaya meningkatkan kecerdasan intelektual masyarakat, terutama para generasi muda.  Konsep perpustakaan yang mengemban misi pendidikan, keilmuwan serta dunia hiburan dan seni.  Konsep perpustakaan daerah yang menarik untuk dikunjungi sudah saatnya dikembangkan di berbagai daerah di Indonesia.  Perpustakaan daerah hendaknya secara aktif bekerja sama dengan berbagai lembaga pendidikan untuk sering mengadakan diskusi keilmuwan, bedah buku, dan acara apresiasi seni.  Perlu pula bagi perpustakaan daerah untuk membangun jaringan kerjasama dengan para penerbit buku, para penulis, toko buku serta para pecinta seni demi menyemarakkan tidak hanya dunia perbukuan namun juga membangkitkan gairah seni dan mengemas pendidikan dalam kemasan yang menarik sehingga bisa mendatangkan pengunjung demi menghidupkan suasana perpustakaan.  Lambat laun bila hal ini terus dikembangkan, maka bukan tidak mungkin kesadaran masyarakat untuk menimba ilmu dan mengembangkan wawasan pengetahuan serta bakat dan minat akan tumbuh dengan pesat tanpa harus dipaksa-paksa.  Bukankah kesadaran untuk menimba ilmu lebih baik berasal dari dorongan dan kesadaran diri sendiri ?  Mari ciptakan minat baca tulis dan apresiasi seni di kalangan generasi muda Indonesia.

Komentar bertahan »

Bersatu Melawan Kelaparan dan Kemiskinan

Oleh: Haryo Bagus Handoko

Sedih rasanya menyaksikan berita-berita di televisi yang menceritakan tentang kemiskinan, kematian akibat kelaparan, busung lapar, dan bunuh diri karena menanggung lapar.  Padahal bangsa ini katanya cukup kaya.  Kekayaan alamnya melimpah ruah, mutiara terbaik di negeri khatulistiwa.  Padahal baru beberapa tahun yang lalu, negara ini terkenal oleh swasembada berasnya.  Kini semuanya begitu mahal. Jangankan untuk kesempatan bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi, untuk makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, hampir sebagian masyarakat kita harus bekerja membanting tulang siang malam hanya untuk memperoleh gaji dan upah yang demikian kecil yang terkadang hanya cukup untuk membeli beras murah beberapa kilo dan cepat habis dalam beberapa hari saja.  Bahkan minyak goreng curah pun mahal dengan harga yang tidak terjangkau.  Belum lagi lauk tempe yang harganya melejit.  Sayur mayur di pasar tidak lagi murah, dan jangankan untuk membeli pakaian baru yang layak, membeli pakaian bekas pun, harganya masih terlalu mahal bagi sebagian besar masyarakat negeri ini.
Sungguh suatu kemunduran yang terjadi dalam waktu yang cukup singkat. Ngeri rasanya membayangkan nasib anak cucu kita beberapa puluh tahun ke depan, karena sekarang saja angka bunuh diri siswa-siswa SD jumlahnya sungguh mengejutkan.  Belum lagi tingkat keputusasaan para orang tua yang bingung mau memberi makan anak-anaknya dengan makanan apa.  Semua yang dulu murah, kita semakin sulit terjangkau.  Sebuah kabar yang cukup mengenaskan datang dari Sulawesi, seorang ibu dan putranya ditemukan mati karena kelaparan.  Di wilayah lain, seorang ibu tega menghabisi nyawa anak-anaknya dan kemudian membunuh dirinya sendiri, karena demikian putus asa menghadapi kehidupan yang demikian kejam di negeri kaya mutiara khatulistiwa ini.  Lalu kemanakah peran serta rumah-rumah ibadah, lembaga-lembaga amal, dan orang-orang kaya? Jangan pernah terlalu banyak berharap pada pemerintah, karena biasanya pertolongan mereka selalu datang terlambat. Mungkin karena jumlah dananya yang disalurkan masih sangat kurang, ataukah karena ketidakpedulian masyarakat kita terhadap saudara sebangsa dan setanah air?
Bila semua anak bangsa dari berbagai golongan, latar belakang sosial, agama, maupun suku yang berbeda, mau saling bahu membahu demi memberikan kepedulian untuk mencegah bahaya yang lebih besar yaitu kepunahan bangsa ini, maka sebaiknya mulai sekarang kita harus mulai merencanakan sebuah strategi dan usaha yang walau tampaknya sederhana, namun mungkin bisa membantu mengurangi angka kelaparan dan juga tingkat kejahatan di negeri ini.  Katakanlah, misalnya, rumah-rumah ibadah, seperti masjid, musholla, gereja, kapel, klenteng, vihara, maupun lembaga-lembaga amal, bank-bank, rumah-rumah makan, depot-depot, dan berbagai lembaga yang peduli terhadap kemanusiaan bersatu dan bersinergi – bekerja sama bahu membahu untuk menyediakan berbagai jasa layanan gratis pada masyarakat miskin, mungkin bahaya kelaparan dan kemiskinan sedikit demi sedikit dapat diatasi.
Contoh konkritnya, misalnya, pemerintah menetapkan sebuah undang-undang yang mengharuskan semua rumah makan dan depot menyediakan minimal tiga porsi makanan yang tidak mudah basi untuk diserahkan pada suatu lembaga pengelola distribusi makanan siap saji yang dikelola rumah-rumah ibadah atau lembaga sosial untuk dihantarkan ke rumah-rumah keluarga miskin, berapa juta perut kelaparan yang bisa diselamatkan.  Itu baru peran dari rumah makan dan depot-depot di seluruh Indonesia.  Belum lagi kalau misalnya seluruh lembaga amal dan derma dari berbagai rumah ibadah bersatu untuk membelanjakan uang derma untuk dibelikan bahan-bahan kebutuhan pokok makanan dan selanjutnya diserahkan pada lembaga sosial atau katering yang bersedia mengolah bahan-bahan tersebut untuk selanjutnya didistribusikan langsung ke rumah-rumah di pemukiman kumuh atau kantong-kantong kemiskinan setiap hari, mungkin akan begitu banyak nyawa anak-anak kecil, balita dan ibu-ibu hamil yang bisa diselamatkan dari kematian akibat kelaparan.  Ide lainnya, misalnya pemerintah menetapkan sebuah undang-undang yang mengharuskan pasar-pasar swalayan, toserba, dan grosir-grosir besar mengeluarkan voucher belanja kebutuhan pokok dalam jumlah tertentu yang diorganisir oleh sebuah lembaga sosial atau mungkin departemen sosial sehingga bisa didistribusikan kepada keluarga-keluarga kurang mampu lewat RT, RW atau kelurahan, tentu beban berat masyarakat miskin akan sedikit banyak bisa dikurangi.
Di Kanada, saya ambil contoh, dari sebuah artikel di majalah Readers Digest terbitan Kanada, saya pernah membaca, bahwa gereja-gereja di sana bahkan secara bergiliran menyediakan menu sarapan, makan siang, makan malam, dan tempat bernaung di malam hari dengan menyewa sebuah aula atau gedung besar yang dilengkapi dengan begitu banyak kamar mandi, handuk bersih, sabun, tempat-tempat tidur lipat dengan selimut dan seprai bersih, bagi para tunawisma, sehingga pada malam hari mereka tidak sampai berkeliaran di jalanan, tidak tidur dengan perut kosong, bisa selalu mandi minimal sehari sekali dan tidak meratapi nasib secara berlebihan.  Beberapa supermarket di sana bahkan menyediakan kupon voucher belanja peduli kemiskinan yang dibagikan secara gratis melalui departemen sosial yang ada di sana.  Hal itu tidak mustahil kita tiru di negeri ini.  Kalaulah setiap rumah ibadah yang mempunyai begitu banyak dana hasil derma mau sedikit bersusah payah bekerja sama dengan katering murah untuk menyediakan menu-menu makanan secara gratis untuk sarapan pagi, makan siang dan makan malam, tentu rumah-rumah ibadah itu akan berfungsi secara baik sebagai rumah Tuhan yang tidak hanya bisa berkhotbah, namun ada tindakan nyata dalam menolong setiap anak manusia tanpa memandang apa agama mereka.  Pertolongan yang baik adalah pertolongan yang diberikan secara sukarela tanpa maksud mempengaruhi agama atau keyakinan yang dianut oleh seseorang.
Dengan demikian jaring pengaman sosial utama adalah rumah-rumah ibadah, yang mungkin selanjutnya bisa diikuti oleh rumah-rumah makan, depot-depot, dan juga supermarket-supermarket.  Mungkin dalam jangka waktu ke depannya, sekolah-sekolah swasta, universitas-universitas juga mau berbaik hati memberikan beasiswa secara gratis..tis…dalam artian benar-benar gratis dan bukan sekedar pekan promosi sebagai strategi marketing dengan menawarkan program beasiswa yang ujung-ujungnya ternyata masih harus bayar lagi (he..he.. tertipu nih ye..!). Mungkin program hutang untuk kuliah (student loan) bisa diterapkan di negeri ini, walau akan lebih baik kalau memberikan beasiswa yang gratis daripada menawarkan hutang untuk kuliah seperti yang biasa ditawarkan oleh universitas-universitas di Amerika.
Departemen sosial dan lembaga-lembaga amal hendaknya tidak hanya berteori tentang statistik kemiskinan negeri ini, tapi harus mulai bergerak dengan tindakan nyata, misalnya dengan menyewa atau membangun rumah-rumah singgah bagi para gelandangan dan fakir miskin untuk tempat mereka bernaung saat malam hari dan saat musim hujan.  Hal ini juga harus didukung oleh penyediaan makanan secara gratis oleh rumah-rumah ibadah, lembaga sosial, depot atau restoran dan mungkin bisa dikoordinasi oleh Departemen Sosial, sehingga semuanya mempunyai fungsi dan tanggung jawab masing-masing dalam usaha mengentas kemiskinan ini.
Sumbangan masyarakat dalam bentuk barang akan lebih baik daripada dalam bentuk uang, karena tingkat ketidakjujuran dan korupsi di negeri ini masih demikian tinggi.  Para anggota dewan tidak hanya menuntut agenda perbaikan nasib mereka saja dengan gaji puluhan juta, namun sebaiknya mulai menoleh ke kehidupan nyata masyarakat negeri ini yang bergelimang kemiskinan.  Mulailah dari diri kita untuk peduli pada lingkungan.  Nasi dan lauk pauk yang tidak habis dimakan, janganlah dibuang.  Masih banyak saudara-saudara kita yang sangat membutuhkan.  Bahkan di lingkungan tempat tinggal saya,  para pedagang sayur keliling juga peduli pada kemiskinan (padahal mereka sendiri juga tergolong miskin).  Mereka dengan sukarela tanpa malu-malu, mau meminta kelebihan nasi maupun lauk yang tidak habis dimakan maupun pakaian-pakaian bekas layak pakai dari para pelanggan mereka di kompleks perumahan.  Nasi, lauk pauk dan pakaian bekas yang diperoleh dari para pelanggan mereka itu kemudian didistribusikan oleh mereka sendiri ke sanak saudara mereka, para tetangga atau penduduk kampung sebelah yang masyarakatnya masih kesulitan makan dan berada di bawah garis kemiskinan.  Senang rasanya bisa menolong orang, saat para pedagang sayur keliling itu bercerita bahwa para tetangga dan penghuni kampung sebelah tidak lagi memakan nasi aking akibat setiap harinya selalu mendapat pasokan nasi dan lauk pauk dari para ibu-ibu kompleks perumahan yang memiliki kelebihan nasi dan lauk pauk sisa makan malam kemarin yang masih baik dan belum basi.  Berbagi dengan sesama akan selalu terasa menyenangkan.  Semoga dengan adanya tulisan ini, pemerintah, masyarakat golongan kaya atau bahkan kita yang walau tidak kaya namun mempunyai sedikit saja kelebihan rejeki entah makanan, pakaian atau apa pun, mau peduli dengan lingkungan dan membantu mereka yang benar-benar membutuhkan.

Komentar bertahan »