WANITA LEBIH RENTAN TERHADAP PENYAKIT ASMA

Asma dapat menyerang siapa saja pada berbagai tingkatan umur, tua maupun muda. Namun asma lebih banyak dan lebih mudah menyerang kaum wanita.  Gejala asma pada kaum wanita biasanya mulai tampak di usia awal 20-an. Namun demikian, penyakit asma bisa juga menyerang orang-orang dewasa yang sering merokok, menghirup asap rokok (perokok pasif), maupun orang-orang yang biasa bekerja di lingkungan yang udaranya terkontaminasi oleh zat-zat kimia (misalnya di perusahaan kimia, dan industri lainnya).  Begitu banyak pengidap asma yang bahkan tidak tahu bahwa dirinya mengidap asma. Oleh karena itu sebaiknya Anda mengetahui beberapa gejala tanda-tanda seorang pengidap asma. Siapa tahu Anda adalah salah satu diantaranya? Simak beberapa tanda-tanda gejala seseorang yang mengidap asma:
Sering menggigil kedinginan di daerah seputar bagian dada.
Sering terbangun di malam hari dalam keadaan sesak napas.
Sering mengalami berbagai gejala seperti sering bersin, sesak napas, dada sesak, napas pendek, batuk, rasa tersedak di tenggorokan
Temukan pemicu penyebab semua gejala tersebut, seperti apakah Anda mempunyai hewan peliharaan yang berbulu seperti kucing dan anjing, apakah Anda sering merokok, ataukah Anda sering menghirup udara terpolusi oleh asap, asap rokok, serbuk sari (bagi pekerja perkebunan), udara lembab dan berkabut, dan masih banyak lagi.
Mempunyai sejarah silsilah penyakit asma menurun dalam keluarga.
Bila semua gejala dan tanda-tanda tersebut di atas sangat sesuai dengan apa yang selama ini selalu Anda rasakan, maka sebaiknya segera bergegas ke dokter untuk memastikan apakah Anda termasuk orang sehat ataukah pengidap asma.
Penyakit asma sering dianggap sebagai penyakit yang umum menyerang anak-anak, khususnya anak laki-laki. Padahal, dalam kenyataannya, wanita lebih rentan terkena penyakit asma daripada pria.  Sebuah riset penelitian di Kanada menyebutkan bahwa 8,5% wanita di Kanada mengidap penyakit asma, sementara hanya 7,5% pria saja yang mengidap asma. Pada permulaan tahun 1990-an, para peneliti di seluruh dunia baru menyadari adanya pengaruh jender dalam hal ketahanan terhadap penyakit. Sebagai contoh, misalnya penyakit asma yang ternyata lebih rentan diidap oleh kaum wanita daripada pria. Selama ini terapi maupun teknik pengobatan yang ada terhadap segala jenis penyakit (termasuk asma) hanya bersifat secara umum dengan perlakuan pengobatan yang sama antara pasien pria maupun pasien wanita. Padahal, ternyata ditemukan bahwa faktor hormonal turut berpengaruh dalam pemilihan jenis terapi dan pengobatan yang seharusnya dijalani.  Menurut Dr. Anna Day, pakar respirologist (dokter ahli bidang organ pernapasan) yang juga merupakan pendiri dari Pusat Studi Kesehatan Wanita di Toronto (Toronto’s Sunnybrook & Women College Health Sciences Centre), dokter sering kali keliru dalam melakukan diagnose terhadap kasus-kasus penyakit karena menyamaratakan perlakuan terhadap pasien pria maupun pasien wanita.
Sebelumnya, dalam pengobatan setiap penyakit hampir tidak pernah dilakukan pertimbangan pengaruh hormonal wanita dalam hubungannya dengan efek pengobatan ataupun seberapa efektif pengobatan bisa dilakukan. Padahal secara biologis, efek yang ditimbulkan oleh suatu jenis pengobatan sangat berbeda hasilnya pada kasus pasien pria dan pasien wanita. Bahkan beberapa peneliti, dewasa ini tidak hanya menganggap faktor jender turut menentukan dalam keberhasilan pengobatan dan pemilihan jenis obat, namun juga faktor karakter DNA masing-masing manusia. Bahkan dua pasien yang memiliki jenis kelamin yang sama, umur yang sama, berat badan yang sama, bisa berbeda dalam hal teknik pengobatan maupun jenis obat yang dipilih, belum lagi bila turut mempertimbangkan masalah alergi yang mungkin dimiliki seorang pasien terhadap suatu jenis obat atau bahan kimia tertentu.
Serangan asma yang diidap wanita sering kali justru lebih parah bila dibanding dengan asma yang menimpa pria. Sebuah studi di tahun 1998 di Amerika dan Kanada menunjukkan bahwa kaum wanita pengidap asma memiliki peluang dirawat inap tiga kali lebih besar daripada kaum pria yang mengidap asma. Bahkan sebuah studi di Amerika dan Kanada di  tahun 1999 menyebutkan bahwa kaum wanita dua kali lipat lebih besar berpeluang masuk unit gawat darurat akibat asma akut yang diidapnya.  Gejala asma yang menyerang kaum wanita biasanya justru lebih parah sehingga menyebabkan penderitaan bagi pasien wanita pengidapnya, daripada gejala asma yang menyerang pria. Sebuah penelitian terhadap lebih dari 900 orang  yang dilakukan oleh American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine pada tahun 1998 menemukan bahwa kaum wanita terbukti mengalami gejala yang lebih parah, serta rasa sakit yang lebih parah daripada yang dialami oleh pasien pria pengidap asma.  Oleh adanya fakta ini, maka tidak mengherankan bahwa sebagian besar pasien yang berobat ke dokter akibat penyakit asma dan rasa sakit berlebihan yang timbul, adalah kaum wanita. Pemicu serangan asma pun cukup bervariasi. Sebagian besar asma akut yang menyerang kaum wanita dipicu oleh kebiasaan merokok, sementara pada pria, kebiasaan merokok tidak banyak berpengaruh terhadap timbulnya serangan asma.
Ternyata faktor hormonal dalam siklus bulanan menstruasi wanita turut berpengaruh dalam memicu seberapa parah asma yang diidap pasien.  Dari hasil riset terhadap para penderita asma di Amerika, diperoleh data bahwa 30% – 40% kasus asma yang terjadi pada kaum wanita adalah termasuk Pre-menstrual asthma (PMA). Pre-menstrual asthma (PMA) adalah serangan asma yang terjadi sebelum fase menstruasi.  Sebuah tulisan riset di tahun 1997 yang dimuat dalam majalah jurnal kesehatan Amerika, “Pharmacotherapy”, menyebutkan hasil penelitian Mary H.H. Ensom, seorang pakar bidang obat (farmasi), dari Universitas British Columbia yang telah meneliti sebanyak 14 orang pasien wanita yang menderita serangan asma. Dari hasil penelitian tersebut terungkap bahwa rasa sakit yang timbul dan tingkat keparahan asma yang menimpa wanita ternyata 20% lebih parah terjadi saat sebelum masa menstruasi.  Para pasien wanita yang diberikan suplemen hormon estrogen sebelum masa menstruasi dilaporkan bahwa fungsi pernapasan dan paru-paru mereka bekerja dengan lebih baik dan tidak mengalami gangguan asma yang berarti. Bahkan pada beberapa pasien, serangan asma sama sekali tidak terjadi, bila seorang pasien wanita pengidap asma menerima suplemen hormon estrogen secara teratur sebelum tiba masa menstruasinya.  Kasus yang sama juga terjadi pada para wanita yang mengkonsumsi pil kontrasepsi sebelum masa menstruasi. Dari hal ini bisa disimpulkan bahwa pengaruh hormonal (kecukupan ketersediaan hormon estrogen) sangat berpengaruh terhadap muncul tidaknya serangan asma pada kaum wanita.
Walau masih banyak kontroversi mengenai teori ini, namun banyak pakar kedokteran dan pakar farmasi di Amerika dan Kanada yang sebenarnya telah mengetahui sejak lama bahwa kasus kehamilan bisa cukup banyak berpengaruh terhadap seberapa parah serangan asma yang terjadi pada pasien wanita pengidap asma. Sebuah penelitian mengenai asma terhadap sejumlah wanita hamil yang sempat dimuat di majalah British Medical Journal di Inggris menyebutkan bahwa wanita hamil yang mengandung janin berjenis kelamin pria lebih tahan terhadap serangan asma, daripada wanita hamil yang mengandung janin berjenis kelamin perempuan.  Beberapa wanita hamil yang kebetulan mengandung janin berjenis kelamin perempuan mengaku bahwa rasa sakit yang dirasakan akibat serangan asma yang mereka idap jauh lebih parah dan lebih buruk daripada para wanita hamil yang kebetulan mengandung janin berjenis kelamin laki-laki.  Ternyata dari hasil penelitian tersebut diketahui bahwa hormon fetus janin berjenis kelamin laki-laki terbukti banyak membantu sang ibu dalam menghadapi serangan asma. Dalam banyak kasus, fase menopause pada wanita justru menguntungkan, karena serangan asma menjadi semakin jarang terjadi dan bahkan dalam beberapa kasus, seorang penderita bisa jadi tidak lagi mendapat serangan asma. Sebagai gantinya justru yang sering dialami adalah seringnya gejala bersin dan batuk-batuk.
Pengobatan asma pada kaum wanita sering kali menghadapi beberapa masalah. Penggunaan obat asma yang mengandung corticosteroid terkadang menimbulkan efek samping yang mengkhawatirkan. Pasien wanita pengidap asma yang secara rutin meminum pil tablet yang mengandung corticosteroid terbukti mengalami efek samping berupa keropos tulang sehingga sering dijumpai banyak kasus osteoporosis yang terjadi pada wanita pengidap asma ini.  Beberapa dokter ahli berusaha sedapat mungkin tidak terlalu sering meresepkan berbagai pil obat asma yang mengandung corticosteroid demi menghindarkan efek samping keropos tulang, namun demikian beberapa lainnya masih tetap meresepkan pil dengan kandungan zat tersebut khususnya untuk pasien-pasien asma yang cukup akut.  Mungkin alternatif lain yang bisa ditempuh oleh para dokter adalah meresepkan obat sedot (inhaler) untuk hidung yang mengandung corticosteroid bagi pengidap penyakit asma akut, karena efek samping yang ditimbulkan tidak sebesar bila mengkonsumsi pil yang mengandung zat ini. Ini terbukti pada kasus seorang wanita pengajar dari Toronto, Kanada, yang sudah mengidap asma sejak lama. Wanita ini menggunakan inhaler dengan dosis corticosteroid yang cukup tinggi yang digunakannya dengan periode pemakaian dua kali dalam sehari selama 15 tahun terakhir. Kini di usianya yang ke-53 tahun, dari hasil tes diketahui bahwa tingkat pengeroposan tulang yang terjadi tidaklah sebesar pada kasus-kasus pasien asma yang mengkonsumsi pil corticosteroid.  Dr. Kenneth Chapman, direktur rumah sakit Asthma Centre of Toronto Western Hospital (Kanada), menulis dalam majalah Journal of Allergy and Clinical Immunology bahwa ternyata terdapat korelasi positif (adanya hubungan) antara dosis steroid yang dihirup dari inhaler dengan berkurangnya resiko pengeroposan tulang (berkurangnya kerapatan partikel tulang), sehingga dapat disimpulkan bahwa mengurangi dosis pemakaian dapat menghindarkan seorang pasien asma dari resiko keropos tulang akut.
Serangan asma pada wanita hamil seringkali menimbulkan kekhawatiran dalam hal pengobatan. Banyak wanita yang khawatir bila pengobatan rutin terhadap penyakit asma yang diidapnya berpengaruh terhadap bayi yang akan dilahirkan. Beberapa bahkan sangat ketakutan bayinya akan lahir cacat akibat pengkonsumsian obat secara rutin.  “Anggapan ini sama sekali salah,” demikian menurut Dr. Caroline Despard, pendiri organisasi Family Physician Asthma Group of Canada (Persatuan Dokter Asma Kanada).  “Serangan asma selama masa kehamilan dapat menyebabkan berkurangnya asupan oksigen bagi sang jabang bayi, dimana hal ini tentu saja akan menimbulkan masalah dalam pertumbuhan janin, seringnya terjadi kasus kelahiran prematur dan segala konsekuensinya. Bila sang ibu membiarkan saja serangan asma menimpa dirinya tanpa pengobatan apapun, itu berarti sama saja dengan membiarkan bayinya lahir dengan tidak normal. Memang sebaiknya juga harus bijaksana dalam memilih dosis yang tepat sesuai dengan resep dokter. Gunakan seperlunya saja, sesuai dengan tingkat keparahan serangan asma yang terjadi. Sedapat mungkin tidak menggunakan dosis yang berlebihan bila serangan tidak terlalu parah. Untuk pasien asma yang sedang hamil disarankan untuk sering-sering berkonsultasi dengan dokter ahli mengenai langkah-langkah spesifik apa yang harus dilakukan dalam keadaan darurat. Tiap-tiap kasus berbeda antara satu pasien dengan pasien yang lain.”
Bagi para wanita pengidap asma memang sangat dianjurkan untuk selalu membawa obat hirup (inhaler) dengan takaran sesuai resep dokter ke mana pun ia pergi.  Selain itu hendaknya juga selalu rutin berolahraga minimal tiga kali seminggu dengan durasi kurang lebih 30 menit demi menguatkan fungsi organ jantung dan paru-paru. Olah raga yang dipilih sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter. Senam pernapasan, atau berbagai jenis senam seperti taichi, dan aneka senam sejenisnya perlu dilakukan, karena selain tidak terlalu banyak menguras tenaga dan pernapasan, senam jenis ini baik untuk kesehatan.

3 Tanggapan so far »

  1. 1

    Joanne said,

    apakah waktu terserang asma akan menyebabkan tubuh mengalami kesemutan,sulit bergerak,susah berbicara dan napas pendek?

  2. 2

    iman said,

    Saya mau tanya mengenai kondisi kesehatan anak saya. Anak saya perempuan, berumur 11 bulan. Setiap anak saya melakukan sedikit aktifitas, seperti menyusu, atau sedang tidur, meskipun di daerah asal saya termasuk daerah yang dingin apalagi pada waktu malam hari, tetapi anak saya sering berkeringat. Pada suatu waktu anak saya mengalami demam yang sangat tinggi ditambah dengan batuk-batuk, lalu saya bawa anak saya ke dokter anak, dan dokter tersebut memponis anak saya asma. Yang ingin saya tanyakan.
    1. Apakah gejala-gejala yang anak saya alami adalah sebagian dari gejala asma?
    2. Apakah mungkin anak saya mengidap asma, sedangkan dalam sejarah kesehatan keluarga saya dan istri saya tidak ada yang mengidap asma, sedangkan dokter tersebut menyatakan kalau asma adalah penyakit yang di tularkan dari keturunan. Saya sangat mengharapkan tanggapan dari saudara Haryo Bagus Handoko terimakasih.
    NB. tolong tanggapannya dikirimkan melalui email di atas.

  3. 3

    iman said,

    maaf, menyambung dari pertanyaan saya yang tadi di atas. Apakah penyakit asma bisa di sembuhkan? Bagai mana cara menyembuhkannya ?, apakah ada obat-obatan tertentu yang dapat di konsumsi secara aman untuk anak saya di usia yang sekarang ini. Dan berapa lamakah waktu penyembuhan tersebut?

    Terimakasih.


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: