MENGKONSUMSI HIDANGAN LAUT DEMI KESEHATAN

Oleh : Haryo Bagus Handoko, SP

Ikan laut atau ikan air tawar memang lebih murah daripada daging.  Namun kandungan atau nilai gizinya tak kalah dengan daging.  Ikan sangat baik untuk anak-anak maupun remaja yang sedang tumbuh, juga untuk orang dewasa.  Sebagai sumber gizi keluarga, ikan sebaiknya paling sedikit sekali dalam seminggu dihidangkan.
Menurut Daftar Komposisi Bahan Makanan, 100 gram ikan segar mengandung 113 kalori, 19 gram protein atau zat putih telur, 4,5 gram lemak, 20 miligram kalsium, 200 miligram fosfor, 1 miligram besi, 150 S.I. vitamin A dan 1,05 miligram vitamin B1.  Bagian ikan yang terbuang atau tidak dapat dimakan diperkirakan sebanyak 30% pada ikan besar dan 50% pada ikan berukuran kecil.  Hal ini tidak berlaku pada ikan kecil yang memang biasa kita makan seluruhnya, seperti misalnya ikan teri.
Bagian ikan yang biasa dimakan adalah jaringan ototnya.  Antara jaringan otot daging dan jaringan otot ikan terdapat perbedaan yang menonjol.  Pada ikan, jaringan otot diliputi oleh selaput-selaput tipis terdiri dari jaringan ikat.  Sedangkan jaringan otot daging dibungkus oleh selaput jaringan ikat yang lebih tebal.  Itulah sebabnya ikan hanya memerlukan waktu sebentar saja jika dimasak.  Dalam saluran pencernaan kita, jaringan otot ikan akan cepat terpisah menjadi bagian-bagian kecil yang menyebabkan pembesaran permukaan, sehingga bagian-bagian sel jaringan otot ikan dapat mudah dicapai oleh getah-getah lambung pada proses pencernaan makanan.
Ikan tidak banyak mengandung lemak, sebaliknya dalam daging ikan terkandung protein sementara lemak hanya dijumpai dalam jumlah yang sedikit.  Kandungan air adalah yang terbanyak dalam daging ikan bila dibanding dengan daging sapi yang tidak berlemak misalnya.  Oleh karena tidak banyak mengandung lemak dan jaringan ikat yang dimiliki lebih tipis, maka ikan yang tidak banyak berlemak dapat lebih mudah dicerna daripada daging yang tidak berlemak sekalipun.  Jadi bagi seseorang yang memerlukan makanan yang mudah cerna, dianjurkan untuk menggunakan ikan sebagai pengganti daging.
Oleh karena ikan mudah dicerna, dan karena ikan tidak banyak mengandung zat-zat ekstraktif maka lain halnya dengan daging, ikan hanya memiliki daya kenyang yang rendah, sehingga tidak beberapa lama setelah makan ikan maka seseorang akan merasa lapar lagi.  Hal ini sangat menguntungkan dalam keadaan tiada nafsu makan, sedangkan seseorang harus banyak makan.  Sebaliknya daya kenyang yang rendah ini akan menjadi halangan bagi orang yang harus melakukan kegiatan fisik yang keras.  Kegiatannya akan menambah kegiatan saluran pencernaan sehingga makanan akan lebih cepat meninggalkan lambung dan rasa lapar akan lebih cepat dirasakan.  Dalam keadaan seperti ini, sebaiknya dipilih ikan yang mengandung lebih banyak lemak.  Jalan lain yang dapat ditempuh ialah, menggunakan lemak dalam bentuk lain.  Misalnya minyak goreng untuk memasak ikan tersebut.
Ikan baik untuk pertumbuhan.
Nilai biologis protein ikan tinggi.  Ini berarti, ikan sangat baik untuk anak yang sedang mengalami masa pertumbuhan ataupun bagi orang yang sedang dalam masa penyembuhan setelah sakit.  Lemak ikan berkisar antara 0 dan 27%.  0% untuk ikan beunteur, 13% untuk ikan tawes dan 27% untuk ikan belut.  Lemak ikan lebih mudah cerna karena tidak berselaput jaringan ikat dan karena memiliki titik leleh yang rendah.  Ikan mengandung banyak yodium dan fosfor. Lemak ikan banyak mengandung vitamin A dan vitamin D.  Juga jenis-jenis ikan yang murah mengandung vitamin-vitamin ini dalam jumlah yang menggembirakan.  Vitamin D ditemukan pada hati ikan dan pada daging ikan itu sendiri.  Hati dan telur ikan pun kaya akan vitamin B.
Ikan kurang baik bila direbus.
Seperti diketahui, vitamin-vitamin dan mineral kebanyakan larut dalam air.  Hal ini akan terjadi juga jika kita memasak ikan dengan air atau merebusnya.  Semakin lama dimasak, semakin banyak zat-zat berharga ini akan masuk dalam air pemasak.  Oleh karena itu, sebaiknya ikan dikukus, dipepes atau digoreng, agar zat-zat berharga ini tidak hilang begitu saja.  Tentu lain halnya jika kita masak gulai ikan atau sop ikan dimana air kuahnya juga kita konsumsi.  Mengingat bahwa ikan mengandung zat makanan yang berharga, maka sebaiknya kita mengkonsumsi ikan paling sedikit sekali seminggu.
Memilih ikan yang baik.
Dengan cara mencium, menjamah dan melihat, kita harus memeriksa ikan pada waktu membelinya.  Ikan yang segar seharusnya juga harus berbau segar, memiliki kulit yang mengkilap, warna insang harus merah segar, mata ikan harus bening, serta daging ikan yang kenyal, jika ditekan dengan jari makan daging harus segera kembali ke keadaan semula.  Pada hewan laut bercangkang seperti jenis udang dan kepiting, maka sebaiknya dibeli dalam keadaan hidup dan masih segar agar kualitasnya terjaga dengan baik.
Oleh karena jauhnya jarak antara tempat penangkapan ikan dan tempat penjualan untuk konsumsi, maka cara lama yang dipakai untuk mengawetkan ikan ialah dengan cara menjemur, tanpa atau dengan penambahan garam.  Ikan dapat diawetkan dengan tambahan sedikit garam saja, sehingga tidak rusak selama 1 atau 2 hari.  Akan tetapi ikan dapat juga dijemur dan diberi garam banyak agar bertahan lebih lama bila disimpan.  Cara pengawetan lain adalah dengan dibuat menjadi pindang ikan, yaitu ikan dimasak dengan garam dan bumbu.  Penambahan garam seringkali tidak harus diikuti dengan tindakan penjemuran.  Maka terkadang dijumpai ikan pindang asin (diberi garam namun tidak dijemur) yang berbeda dengan ikan asin (yang diberi garam lalu dijemur).
Cara pengawetan ikan yang umum adalah dengan cara pembekuan. Dengan cara ini, ikan segar dalam waktu singkat akan menjadi beku dengan bantuan penurunan suhu jauh di bawah nol derajat celcius.  Dalam keadaan tetap beku, ikan konon bahkan bisa disimpan selama 6 bulan!
Terasi dan kerupuk ikan bukanlah sumber protein.
Terasi merupakan hasil olahan ikan atau udang.  Kerupuk udang atau kerupuk ikan juga merupakan olahan ikan atau udang yang sering digunakan sebagai teman makan atau pun teman minum teh. Baik terasi dan kerupuk sebagai olahan ikan atau udang, keduanya bukanlah sumber protein. Terasi bukan sumber protein oleh karena pemakaiannya sedikit sekali, hanya sebagai penyedap saja, dan kerupuk bukan pula sumber protein karena bahan campurannya jauh melebihi jumlah ikan atau udang yang digunakan dalam proses pembuatannya.

1 Response so far »

  1. 1

    yunus said,

    terima kasih sekali informasinya…


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: