Bersatu Melawan Kelaparan dan Kemiskinan

Oleh: Haryo Bagus Handoko

Sedih rasanya menyaksikan berita-berita di televisi yang menceritakan tentang kemiskinan, kematian akibat kelaparan, busung lapar, dan bunuh diri karena menanggung lapar.  Padahal bangsa ini katanya cukup kaya.  Kekayaan alamnya melimpah ruah, mutiara terbaik di negeri khatulistiwa.  Padahal baru beberapa tahun yang lalu, negara ini terkenal oleh swasembada berasnya.  Kini semuanya begitu mahal. Jangankan untuk kesempatan bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi, untuk makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, hampir sebagian masyarakat kita harus bekerja membanting tulang siang malam hanya untuk memperoleh gaji dan upah yang demikian kecil yang terkadang hanya cukup untuk membeli beras murah beberapa kilo dan cepat habis dalam beberapa hari saja.  Bahkan minyak goreng curah pun mahal dengan harga yang tidak terjangkau.  Belum lagi lauk tempe yang harganya melejit.  Sayur mayur di pasar tidak lagi murah, dan jangankan untuk membeli pakaian baru yang layak, membeli pakaian bekas pun, harganya masih terlalu mahal bagi sebagian besar masyarakat negeri ini.
Sungguh suatu kemunduran yang terjadi dalam waktu yang cukup singkat. Ngeri rasanya membayangkan nasib anak cucu kita beberapa puluh tahun ke depan, karena sekarang saja angka bunuh diri siswa-siswa SD jumlahnya sungguh mengejutkan.  Belum lagi tingkat keputusasaan para orang tua yang bingung mau memberi makan anak-anaknya dengan makanan apa.  Semua yang dulu murah, kita semakin sulit terjangkau.  Sebuah kabar yang cukup mengenaskan datang dari Sulawesi, seorang ibu dan putranya ditemukan mati karena kelaparan.  Di wilayah lain, seorang ibu tega menghabisi nyawa anak-anaknya dan kemudian membunuh dirinya sendiri, karena demikian putus asa menghadapi kehidupan yang demikian kejam di negeri kaya mutiara khatulistiwa ini.  Lalu kemanakah peran serta rumah-rumah ibadah, lembaga-lembaga amal, dan orang-orang kaya? Jangan pernah terlalu banyak berharap pada pemerintah, karena biasanya pertolongan mereka selalu datang terlambat. Mungkin karena jumlah dananya yang disalurkan masih sangat kurang, ataukah karena ketidakpedulian masyarakat kita terhadap saudara sebangsa dan setanah air?
Bila semua anak bangsa dari berbagai golongan, latar belakang sosial, agama, maupun suku yang berbeda, mau saling bahu membahu demi memberikan kepedulian untuk mencegah bahaya yang lebih besar yaitu kepunahan bangsa ini, maka sebaiknya mulai sekarang kita harus mulai merencanakan sebuah strategi dan usaha yang walau tampaknya sederhana, namun mungkin bisa membantu mengurangi angka kelaparan dan juga tingkat kejahatan di negeri ini.  Katakanlah, misalnya, rumah-rumah ibadah, seperti masjid, musholla, gereja, kapel, klenteng, vihara, maupun lembaga-lembaga amal, bank-bank, rumah-rumah makan, depot-depot, dan berbagai lembaga yang peduli terhadap kemanusiaan bersatu dan bersinergi – bekerja sama bahu membahu untuk menyediakan berbagai jasa layanan gratis pada masyarakat miskin, mungkin bahaya kelaparan dan kemiskinan sedikit demi sedikit dapat diatasi.
Contoh konkritnya, misalnya, pemerintah menetapkan sebuah undang-undang yang mengharuskan semua rumah makan dan depot menyediakan minimal tiga porsi makanan yang tidak mudah basi untuk diserahkan pada suatu lembaga pengelola distribusi makanan siap saji yang dikelola rumah-rumah ibadah atau lembaga sosial untuk dihantarkan ke rumah-rumah keluarga miskin, berapa juta perut kelaparan yang bisa diselamatkan.  Itu baru peran dari rumah makan dan depot-depot di seluruh Indonesia.  Belum lagi kalau misalnya seluruh lembaga amal dan derma dari berbagai rumah ibadah bersatu untuk membelanjakan uang derma untuk dibelikan bahan-bahan kebutuhan pokok makanan dan selanjutnya diserahkan pada lembaga sosial atau katering yang bersedia mengolah bahan-bahan tersebut untuk selanjutnya didistribusikan langsung ke rumah-rumah di pemukiman kumuh atau kantong-kantong kemiskinan setiap hari, mungkin akan begitu banyak nyawa anak-anak kecil, balita dan ibu-ibu hamil yang bisa diselamatkan dari kematian akibat kelaparan.  Ide lainnya, misalnya pemerintah menetapkan sebuah undang-undang yang mengharuskan pasar-pasar swalayan, toserba, dan grosir-grosir besar mengeluarkan voucher belanja kebutuhan pokok dalam jumlah tertentu yang diorganisir oleh sebuah lembaga sosial atau mungkin departemen sosial sehingga bisa didistribusikan kepada keluarga-keluarga kurang mampu lewat RT, RW atau kelurahan, tentu beban berat masyarakat miskin akan sedikit banyak bisa dikurangi.
Di Kanada, saya ambil contoh, dari sebuah artikel di majalah Readers Digest terbitan Kanada, saya pernah membaca, bahwa gereja-gereja di sana bahkan secara bergiliran menyediakan menu sarapan, makan siang, makan malam, dan tempat bernaung di malam hari dengan menyewa sebuah aula atau gedung besar yang dilengkapi dengan begitu banyak kamar mandi, handuk bersih, sabun, tempat-tempat tidur lipat dengan selimut dan seprai bersih, bagi para tunawisma, sehingga pada malam hari mereka tidak sampai berkeliaran di jalanan, tidak tidur dengan perut kosong, bisa selalu mandi minimal sehari sekali dan tidak meratapi nasib secara berlebihan.  Beberapa supermarket di sana bahkan menyediakan kupon voucher belanja peduli kemiskinan yang dibagikan secara gratis melalui departemen sosial yang ada di sana.  Hal itu tidak mustahil kita tiru di negeri ini.  Kalaulah setiap rumah ibadah yang mempunyai begitu banyak dana hasil derma mau sedikit bersusah payah bekerja sama dengan katering murah untuk menyediakan menu-menu makanan secara gratis untuk sarapan pagi, makan siang dan makan malam, tentu rumah-rumah ibadah itu akan berfungsi secara baik sebagai rumah Tuhan yang tidak hanya bisa berkhotbah, namun ada tindakan nyata dalam menolong setiap anak manusia tanpa memandang apa agama mereka.  Pertolongan yang baik adalah pertolongan yang diberikan secara sukarela tanpa maksud mempengaruhi agama atau keyakinan yang dianut oleh seseorang.
Dengan demikian jaring pengaman sosial utama adalah rumah-rumah ibadah, yang mungkin selanjutnya bisa diikuti oleh rumah-rumah makan, depot-depot, dan juga supermarket-supermarket.  Mungkin dalam jangka waktu ke depannya, sekolah-sekolah swasta, universitas-universitas juga mau berbaik hati memberikan beasiswa secara gratis..tis…dalam artian benar-benar gratis dan bukan sekedar pekan promosi sebagai strategi marketing dengan menawarkan program beasiswa yang ujung-ujungnya ternyata masih harus bayar lagi (he..he.. tertipu nih ye..!). Mungkin program hutang untuk kuliah (student loan) bisa diterapkan di negeri ini, walau akan lebih baik kalau memberikan beasiswa yang gratis daripada menawarkan hutang untuk kuliah seperti yang biasa ditawarkan oleh universitas-universitas di Amerika.
Departemen sosial dan lembaga-lembaga amal hendaknya tidak hanya berteori tentang statistik kemiskinan negeri ini, tapi harus mulai bergerak dengan tindakan nyata, misalnya dengan menyewa atau membangun rumah-rumah singgah bagi para gelandangan dan fakir miskin untuk tempat mereka bernaung saat malam hari dan saat musim hujan.  Hal ini juga harus didukung oleh penyediaan makanan secara gratis oleh rumah-rumah ibadah, lembaga sosial, depot atau restoran dan mungkin bisa dikoordinasi oleh Departemen Sosial, sehingga semuanya mempunyai fungsi dan tanggung jawab masing-masing dalam usaha mengentas kemiskinan ini.
Sumbangan masyarakat dalam bentuk barang akan lebih baik daripada dalam bentuk uang, karena tingkat ketidakjujuran dan korupsi di negeri ini masih demikian tinggi.  Para anggota dewan tidak hanya menuntut agenda perbaikan nasib mereka saja dengan gaji puluhan juta, namun sebaiknya mulai menoleh ke kehidupan nyata masyarakat negeri ini yang bergelimang kemiskinan.  Mulailah dari diri kita untuk peduli pada lingkungan.  Nasi dan lauk pauk yang tidak habis dimakan, janganlah dibuang.  Masih banyak saudara-saudara kita yang sangat membutuhkan.  Bahkan di lingkungan tempat tinggal saya,  para pedagang sayur keliling juga peduli pada kemiskinan (padahal mereka sendiri juga tergolong miskin).  Mereka dengan sukarela tanpa malu-malu, mau meminta kelebihan nasi maupun lauk yang tidak habis dimakan maupun pakaian-pakaian bekas layak pakai dari para pelanggan mereka di kompleks perumahan.  Nasi, lauk pauk dan pakaian bekas yang diperoleh dari para pelanggan mereka itu kemudian didistribusikan oleh mereka sendiri ke sanak saudara mereka, para tetangga atau penduduk kampung sebelah yang masyarakatnya masih kesulitan makan dan berada di bawah garis kemiskinan.  Senang rasanya bisa menolong orang, saat para pedagang sayur keliling itu bercerita bahwa para tetangga dan penghuni kampung sebelah tidak lagi memakan nasi aking akibat setiap harinya selalu mendapat pasokan nasi dan lauk pauk dari para ibu-ibu kompleks perumahan yang memiliki kelebihan nasi dan lauk pauk sisa makan malam kemarin yang masih baik dan belum basi.  Berbagi dengan sesama akan selalu terasa menyenangkan.  Semoga dengan adanya tulisan ini, pemerintah, masyarakat golongan kaya atau bahkan kita yang walau tidak kaya namun mempunyai sedikit saja kelebihan rejeki entah makanan, pakaian atau apa pun, mau peduli dengan lingkungan dan membantu mereka yang benar-benar membutuhkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: